Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinteksis Mesin dan Metafora
Keputusan rektorat untuk menggabungkan mahasiswa lintas fakultas dalam proyek "Digitalisasi Profil Laboratorium" benar-benar menjadi mimpi buruk bagi Kirana. Bagaimana tidak? Ia, yang biasanya berkutat dengan majas, diksi, dan estetika bahasa, kini harus duduk satu meja dengan seorang praktisi mesin yang hanya mengenal variabel angka dan fungsi statis.
Dan sialnya, praktisi itu adalah Bima.
"Gue nggak butuh deskripsi yang bilang kalau mesin bubut ini 'menari dengan irama industri'. Itu berlebihan, Ra," ucap Bima tanpa menoleh dari layar laptopnya.
Mereka sudah berada di Perpustakaan Pusat selama tiga jam. Suasana sudah sepi, hanya ada beberapa mahasiswa tingkat akhir yang terjebak dalam skripsi mereka. Di atas meja kayu panjang itu, tumpukan diktat teknik beradu dengan kumpulan esai sastra milik Kirana.
Kirana menghela napas panjang, meletakkan pulpennya dengan sedikit tekanan ke atas meja. "Bim, ini profil untuk publik dan calon investor. Mereka nggak mau baca kalau isinya cuma 'mesin ini punya torsi sekian dan kecepatan potong sekian'. Mereka butuh narasi. Mereka butuh sesuatu yang hidup."
"Tapi mesin itu benda mati, Kirana. Fungsinya jelas. Kalau lo kasih bahasa metafora kayak gitu, orang malah bingung ini alat manufaktur atau pertunjukan seni," balas Bima tetap pada pendiriannya. Suaranya rendah tapi tegas, tipe suara yang tidak menerima bantahan di bengkel.
"Bahasa itu jembatan, Bima! Kalau jembatan lo cuma kaku tanpa estetika, orang nggak bakal mau lewat!"
"Kalau jembatan lo terlalu banyak hiasan tapi struktur bawahnya nggak kuat, orang bakal jatuh lalu mati," skakmat Bima.
Kirana terbungkam. Ia menatap Bima dengan sisa-sisa kekesalan. Bima masih fokus mengetik poin-poin teknis di file dokumen mereka. Laki-laki itu terlihat sangat serius; kacamata bacanya yang jarang ia pakai kini bertengger di hidungnya, menambah kesan intelek yang selama ini tertutup oleh debu bengkel.
Keheningan yang menyesakkan menyelimuti mereka selama lima belas menit berikutnya. Kirana mulai merasa pening. Bau buku tua di perpustakaan digabungkan dengan stres karena harus menyatukan dua isi kepala yang bertolak belakang membuatnya lelah. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, memijat pelipisnya perlahan.
Tiba-tiba, sebuah gelas plastik berisi kopi susu dingin mendarat pelan di hadapannya.
Kirana tersentak dan mendongak. Bima sudah berdiri di sampingnya, memegang gelas serupa untuk dirinya sendiri. Ekspresinya masih tetap datar, seolah-olah ia baru saja memberikan kunci pas, bukan sebuah perhatian kecil.
"Gue nggak pesen kopi," ucap Kirana pelan, sedikit bingung.
"Tadi ada promo di kantin bawah. Buy one get one," sahut Bima cepat, pandangannya langsung beralih kembali ke laptop. "Daripada mubazir gue buang atau gue minum dua-duanya terus jantung gue berdebar nggak jelas, mending buat lo."
Kirana menatap gelas kopi itu. Esnya mulai mencair, meninggalkan embun di dinding plastik. Ia tahu betul kedai di bawah sedang tidak ada promo apa pun, karena Sari baru saja dari sana satu jam lalu. Namun, Kirana memilih untuk tidak mendebatnya. Ia mengambil kopi itu, merasakan dingin yang merambat ke telapak tangannya.
"Makasih," gumam Kirana.
Bima hanya berdehem singkat sebagai jawaban.
Mereka kembali bekerja. Namun, atmosfer di antara mereka entah kenapa sedikit melunak setelah kopi itu hadir. Bima mulai mau mendengarkan penjelasan Kirana tentang mengapa 'pemilihan kata' itu penting, sementara Kirana mulai mencoba memahami mengapa 'akurasi data' tidak bisa diganggu gugat.
"Oke, gimana kalau begini," ucap Kirana setelah beberapa saat. "Kita tulis: 'Dengan presisi mikron yang menjadi jantungnya, mesin ini memastikan setiap potongan logam bertransformasi menjadi komponen yang sempurna'. Teknisnya ada, tapi narasinya dapet."
Bima terdiam sejenak, membaca kalimat di layar laptop Kirana berulang kali. Ia tampak menimbang-nimbang, seolah sedang menghitung beban statis dalam kalimat tersebut.
"Presisi mikron... transform menjadi komponen sempurna..." Bima menggumamkan kata-kata itu. "Oke. Itu masuk akal. Lo boleh pake kalimat itu."
Kirana tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik napas lega. "Akhirnya. Lo keras kepala banget ya kalau soal istilah."
"Gue nggak keras kepala. Gue cuma teliti," ralat Bima. Ia melirik Kirana sekilas dari balik kacamatanya. "Lo sendiri juga sama. Lo bakal terus debat sampe titik terakhir cuma demi satu kata 'estetik' itu."
"Itu namanya dedikasi terhadap karya, Bima."
"Terserah lo."
Malam semakin larut. Lampu-lampu di sudut perpustakaan mulai dimatikan oleh petugas. Mereka mulai merapikan barang-barang masing-masing. Saat Kirana memasukkan buku tebalnya ke dalam tas, ia melihat Bima sedang memperhatikan tangannya sendiri yang masih memiliki bekas oli tipis di kuku.
"Bim," panggil Kirana.
Bima menoleh. "Apa?"
"Besok... kita lanjutin di mana?" tanya Kirana. Suaranya tidak sedingin biasanya, meski masih ada jarak yang ia jaga.
Bima terdiam cukup lama, menatap Kirana yang berdiri di bawah cahaya lampu neon yang mulai berkedip. "Di kafe deket gerbang aja. Di sini terlalu sepi, lo nanti malah ketiduran pas gue ngejelasin soal turbin."
Kirana mendengus, mencoba menyembunyikan rasa geli. "Gue nggak bakal ketiduran. Teori sastra jauh lebih berat daripada turbin lo."
"Kita liat besok," balas Bima. Ia menyampirkan tas punggungnya yang berat. "Ayo balik. Gue anter sampe depan kosan. Udah malem, nggak aman anak Sastra jalan sendiri jam segini."
"Gue bawa motor sendiri, Bima. Lupa ya?"
Bima berhenti melangkah, lalu menepuk jidatnya pelan—sebuah gestur manusiawi yang jarang ia tunjukkan. "Oh iya. Lupa kalau motor lo udah gue servis rantainya."
"Makanya, nggak usah sok jadi pelindung," ucap Kirana sambil berjalan mendahuluinya.
Bima mengikuti dari belakang dengan langkah tenang. Meskipun Kirana terus menolak dan bersikap dingin, Bima tahu satu hal; malam ini, melalui debat panjang soal mesin dan metafora, satu lagi 'baut' dalam hubungan mereka telah terpasang. Tidak erat, belum sempurna, tapi cukup untuk menahan beban kebersamaan mereka besok sore.
"Nanti bales WA guanya agak cepet ya, ada beberapa file yang harus lu kaji dulu buat memperhalus bahasanya" Ucap Bima dan Kirana menuju parkiran
Kirana hanya membalas singkat "Ya"
Sebenarnya ada kemenangan di dalam hati Bima setelah dia mengucap hal itu kepada Kirana, karena dia fikir dia bisa menyuruh nyurh Kirana utuk membalas pesannya secara cepat. Dan.... tentu saja karena bisa chatan dengan Kirana lagi
Bima tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Kirana tentang pikiran dia barusan.
Setelah sampai di parkiran, mereka pun menyalakan mesin motor dan mulai melaju ke jalan. Saat motor mereka masing-masing membelah kegelapan kampus menuju gerbang keluar, Bima sempat melirik spionnya, memastikan lampu motor matic krem di belakangnya tetap menyala.
Di bawah helmnya, ia tidak tersenyum lebar, tapi ada rasa puas yang berbeda. Bukan karena proyeknya berjalan lancar, ia ingat bahwa Kirana tidak menolak kopi 'promo' yang ia berikan tadi.
Bagi Bima, keduanya adalah progres yang lebih presisi daripada hitungan mesin mana pun.