Di tengah kemegahan Klan Naga Api, Ren hanyalah aib dan sampah masyarakat. Dilahirkan dengan meridian yang tertutup rapat, ia dianggap tidak memiliki bakat sama sekali. Hinaan, pukulan, dan pengkhianatan menjadi makanan sehari-harinya, hingga akhirnya ia diusir dengan kejam dari klannya sendiri, dibiarkan mati di alam liar.
Namun, takdir memiliki rencana lain. Di ambang kematian, darah nenek moyang yang terpendam di dalam tubuhnya akhirnya berdenyut. Meridian yang dianggap cacat itu ternyata adalah Ruang Suci Naga, tempat bersemayamnya kekuatan purba yang telah tertidur ribuan tahun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Putusnya Jalan Kultivasi Pengusiran yang Memilukan
Angin musim gugur bertiup dingin, seolah ikut merasakan kepahitan yang sedang melanda Halaman Utama Klan Naga Api. Ribuan anggota klan berkumpul, namun bukan untuk merayakan sesuatu yang megah, melainkan untuk menyaksikan sebuah aib yang memalukan.
Di tengah lapangan batu hitam yang luas, berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar dua belas tahun. Namanya Ren. Tubuhnya kurus, pakaiannya lusuh, namun matanya tetap menatap lurus ke depan dengan sisa kebanggaan yang tersisa. Di hadapannya, duduk di atas singgasana tinggi, adalah para Tetua Klan dan Kepala Keluarga. Wajah mereka dipenuhi rasa jijik dan kekecewaan mendalam.
Di depannya, sebuah bola kristal berwarna biru tua—Alat Ukur Akar Roh—masih memancarkan cahaya redup yang hampir padam. Hasil tes hari ini sudah menjadi vonis mati bagi masa depannya.
"Ren..." Suara berat dan dingin itu menggema, berasal dari sosok tua berjubah merah menyala. Itu adalah Kakeknya sendiri, Tetua Agung Klan Naga Api. "Kau tahu apa arti hasil ini?"
Ren mengangguk pelan, suaranya bergetar namun tetap tegas. "Aku tahu, Kekek. Meridianku... meridianku tidak normal. Mereka menyebutnya cacat."
"Cacat?!" Teriak seorang pemuda gagah di barisan depan, sepupunya sendiri, Jin. "Bukan sekadar cacat, Ren! Itu adalah sampah! Seluruh anggota klan kita memiliki meridian yang kuat, jalan energi yang lebar seperti sungai! Tapi kau? Milikmu sempit seperti parit kering! Bahkan energi spiritual pun enggan masuk ke dalam tubuhmu!"
Tawa sinis terdengar dari sekeliling. Hinaan itu seperti jarum yang menusuk-nusuk hati Ren. Namun ia tetap diam, menggenggam kedua tangannya erat hingga kuku-kukunya memutih.
Tetua Agung menghela napas panjang, wajahnya tampak sangat lelah dan kecewa. "Selama ratusan tahun, Klan Naga Api melahirkan para jenius. Pendekar yang mampu menaklukkan langit. Tapi kau... kau adalah kesalahan alam. Darah Naga yang mengalir di tubuhmu telah ternoda."
"Kakek..." Ren mencoba berbicara, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku sudah berusaha. Setiap malam aku berlatih lebih keras dari yang lain. Aku meminum ramuan termahal, aku melakukan teknik pernapasan sampai paru-paruku sakit. Tapi kenapa? Kenapa energinya selalu bocor keluar?"
"Karena tubuhmu bukan wadah, tapi lubang tanpa dasar!" potong Tetua Agung dengan tegas. "Para tabib dan pendeta sudah memeriksamu. Meridianmu itu bukan cacat bawaan, tapi anomali yang menolak segala bentuk energi. Bersamamu, klan kita tidak akan memiliki masa depan. Keberadaanmu hanya akan menjadi bahan tertawaan bagi Klan lain."
Perlahan, Tetua Agung mengangkat tangannya yang gemetar. Di tangannya terdapat sebuah lempengan batu giok yang merupakan simbol identitas klan.
"Mulai detik ini..." suara Tetua Agung memecah keheningan yang mencekam, "...Ren, kau dikeluarkan secara resmi dari silsilah keluarga Klan Naga Api. Namaomu akan dihapus dari prasasti leluhur. Kau tidak lagi memiliki hubungan darah dengan kami."
Dunia seakan berhenti berputar. Ren terhuyung ke belakang, seolah dipukul palu raksasa di dadanya.
"Apa...?" bisiknya parau. "Kakek... aku cucumu. Ayahku adalah pahlawan klan yang gugur dalam pertempuran! Bagaimana bisa kalian membuang anaknya seperti ini?"
Seorang wanita di barisan belakang, ibu tirinya, tertawa dingin. "Anak pahlawan? Pahlawan tidak akan melahirkan monster seperti kau. Pergilah! Jangan mengotori tanah suci ini dengan keberadaanmu yang menyedihkan!"
"BASTIAN!" Ren berteriak memanggil nama ayahnya, seolah memohon kekuatan dari alam baka. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Kenapa dunia sekejam ini? Aku hanya ingin menjadi kuat! Aku hanya ingin membanggakan nama kalian!"
Jin melangkah maju, menendang sebuah tas berisi pakaian lusuh ke kaki Ren. "Berhenti berakting menyedihkan! Ambil barang sampahmu itu dan pergi sebelum kami berubah pikiran dan mengakhiri nyawamu di sini!"
Ren menatap wajah-wajah yang dulu ia panggil keluarga. Kini semua berubah menjadi iblis yang haus akan kesempurnaan. Tidak ada kasih sayang, tidak ada belas kasihan. Hanya ada standar kekuatan yang kejam.
Perlahan, Ren membungkuk dalam. Bukan karena takut, tapi sebagai tanda perpisahan terakhir untuk tanah tempat ia dilahirkan.
"Baik..." Suara Ren terdengar pelan, namun ada sesuatu yang berubah di dalamnya. Ada getaran dingin yang aneh. "Aku pergi. Tapi ingat kata-kataku hari ini..."
Ia mendongak, matanya yang sempat redup kini menyala dengan tekad yang membara.
"Kalian membuangku karena mengira aku sampah. Kalian menghinaku karena meridianku dianggap cacat. Tapi suatu hari nanti... aku akan kembali. Dan saat aku kembali, aku akan menjadi sosok yang bahkan kalian semua, seluruh klan ini, tidak akan pantas untuk melihat punggungku saja!"
"Berisik! Jangan Mimpi !" ejek Jin.
Tetua Agung melambaikan tangan. "Usir dia. Jangan biarkan dia menginjakkan kaki lagi di wilayah klan."
Dua anggota klan yang bertubuh kekar maju menyeret Ren. Anak itu tidak melawan, ia membiarkan dirinya diseret keluar dari gerbang utama yang megah itu. Pintu gerbang besi itu tertutup rapat dengan bunyi DUG!!! yang sangat keras, seolah menutup rapat masa lalunya selamanya.
Ren terduduk di tanah berdebu, di luar tembok tinggi Klan Naga Api. Angin sore semakin dingin menerpa tubuhnya yang hanya berbaju tipis. Di hadapannya terbentang jalan yang gelap dan tak berujung, hutan belantara yang penuh bahaya.
Ia sendirian. Benar-benar sendirian.
"Kenapa... kenapa harus aku?" Ren memukul tanah dengan keras, tangannya berdarah. "Apa dosaku? Hanya karena aku terlahir berbeda?!"
Dalam kepedihan yang mendalam, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya. Meridian yang selama ini dianggap rusak dan cacat itu tiba-tiba berdenyut kencang. Bukan sakit, tapi seperti ada sesuatu yang tidur pulas selama bertahun-tahun, kini terganggu oleh emosi yang meledak-ledak.
[Kau... menangis?]
Sebuah suara berat, kuno, dan bergema langsung terdengar di dalam kepala Ren. Suara itu bukan milik manusia, melainkan suara yang seolah berasal dari zaman purba.
Ren terkejut, ia melihat ke sekeliling. "Siapa?! Siapa yang bicara?!"
Jangan cari ke luar, bocah. Aku ada di dalam darahmu. Di dalam 'cacat' yang mereka banggakan itu.
Ren memegang dadanya erat-erat. "Kau... kau siapa?"
Aku adalah warisan yang mereka takuti. Aku adalah alasan kenapa meridianmu tidak bisa menampung energi biasa... karena mereka bukan dirancang untuk air sungai kecil, melainkan untuk samudra yang tak bertepi.
Suara itu meledak dalam benak Ren, disertai gambaran ribuan naga emas yang terbang mengelilingi matahari.
Mereka mengira kau sampah? Bodoh. Mereka membuang permata termahal di dunia karena mata mereka buta. Meridian cacat itu adalah Jalan Surgawi, jalan khusus yang diciptakan hanya untukku. Dan sekarang... karena kau sudah tidak terikat oleh aturan klan yang kaku itu... waktunya telah tiba.
"Bangkit..." bisik Ren, air matanya mengering, digantikan oleh cahaya harapan yang tak pernah ada sebelumnya.
"Aku akan bangkit." Ren berdiri perlahan, memandang ke arah tembok tinggi klan yang telah mengusirnya. "Tunggu aku. Suatu hari nanti, aku akan kembali bukan sebagai Ren yang menyedihkan, tapi sebagai penguasa yang akan membuat seluruh dunia berlutut!"
Langit di atasnya bergemuruh pelan, seolah menyambut kelahiran sebuah legenda baru yang kelak akan mengguncang semesta.
.🙏🏾🙏🏾🙏🏾 maafkan saya sedikit sok tau🤭