NovelToon NovelToon
Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."

​Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.

​Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.

​Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tinta yang Menjadi Nyata

Dunia penulisan sering mengajarkan saya tentang konsep foreshadowing—memberikan petunjuk halus tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi, sehebat-hebatnya saya merangkai plot, tidak ada yang bisa menyiapkan saya untuk bab hidup yang satu ini. Kehamilan bukan cuma soal perut yang membuncit atau keinginan makan mangga muda di jam dua pagi. Bagi saya, ini adalah soal mendamaikan masa lalu dengan masa depan yang sedang berdenyut di dalam rahim saya.

Pagi ini, studio saya kedatangan tamu yang tidak biasa. Bukan Panji dengan laporan yayasannya, bukan juga Bimo dengan buah potongnya. Ayah Hendra datang membawa sebuah kardus tua yang sedikit berdebu. Beliau terlihat lebih bersemangat daripada biasanya, seolah-olah kabar tentang calon cucunya telah memberikan suplemen energi tambahan bagi kakinya yang mulai sering linu.

"Nara, Ayah simpan ini sudah lama sekali. Ayah rasa, sekarang waktu yang tepat untuk kamu membukanya," kata beliau sambil meletakkan kardus itu di atas karpet bulu di tengah studio.

Saya berjongkok, membuka lakban cokelat yang sudah mulai mengeras. Di dalamnya, ada tumpukan album foto tua, beberapa kliping koran yang sudah menguning, dan sebuah benda yang membuat napas saya tertahan: sebuah mesin tik portabel berwarna biru langit.

"Itu milik Adrian," bisik Ayah Hendra. "Dia membelinya saat tahu istrimu sedang mengandungmu dulu. Katanya, dia ingin menulis surat untukmu setiap malam sampai kamu lahir. Tapi... yah, takdir berkata lain."

Saya menyentuh tuts mesin tik itu. Terasa dingin, namun ada jejak sejarah yang kuat di sana. Saya mengambil secarik kertas yang masih terselip di rol mesin tik tersebut. Hanya ada satu baris kalimat yang belum selesai diketik: “Untuk putri kecilku, dunia ini mungkin luas, tapi jangan pernah takut karena...”

Kalimat itu terputus di sana. Mungkin saat itu ada ketukan di pintu, atau mungkin itu adalah hari di mana semuanya berubah menjadi gelap. Saya memeluk mesin tik itu, membiarkan air mata jatuh tanpa suara. Bimo, yang baru saja masuk untuk mengantarkan susu ibu hamil, langsung duduk di samping saya dan merangkul bahu saya erat.

Membangun Jembatan, Bukan Tembok

Kabar tentang kehamilan saya ternyata menyebar lebih cepat daripada gosip artis di media sosial. Meski kami mencoba menjaga privasi, lingkaran pertemanan lama Bimo di dunia bisnis mulai mengirimkan bunga dan kado. Menarik melihat bagaimana orang-orang yang dulu menjauh saat Bimo "jatuh" dari Wijaya Group, sekarang mencoba mendekat kembali.

"Kamu mau terima mereka?" tanya saya malam itu, menunjuk ke arah tumpukan keranjang bayi mewah di sudut ruang tamu.

Bimo menyesap tehnya, wajahnya tampak tenang. "Aku tidak akan menutup pintu, Nara. Tapi aku juga tidak akan membukanya lebar-lebar seperti dulu. Kehadiran anak ini membuatku sadar bahwa aku harus lebih selektif soal siapa yang boleh masuk ke lingkungan kita. Aku tidak mau dia tumbuh di tengah orang-orang yang hanya melihat angka, bukan manusia."

Sikap Bimo berubah drastis. Dia yang dulu sangat ambisius, kini lebih sering menghabiskan waktu mempelajari cara merakit boks bayi atau membaca buku tentang parenting. Dia bahkan mulai mengurangi jadwal pertemuannya di yayasan agar bisa menemani saya setiap kali jadwal kontrol ke dokter kandungan.

Perubahan ini juga membawa dampak pada cara kami mengelola yayasan. Kami memutuskan untuk menambahkan satu divisi baru: Literasi untuk Anak. Kami ingin menggunakan royalti dari teknologi Adrian untuk membangun perpustakaan-perpustakaan kecil di daerah terpencil.

"Aku mau anak kita nanti bangga, bahwa kakeknya bukan cuma seorang jurnalis yang berani, tapi juga seorang visioner yang namanya membantu ribuan anak lain untuk bisa membaca," ucap Bimo saat kami mendiskusikan rencana itu.

Gangguan dari Masa Lalu

Namun, hidup tidak akan menjadi cerita yang lengkap tanpa sedikit konflik. Di bulan keempat kehamilan saya, sebuah surat datang dari firma hukum yang mewakili keluarga besar Wijaya—bukan dari Ratih, tapi dari dewan komisaris yang masih tersisa. Mereka mencoba menuntut kembali sebagian dari dana perwalian Aethelred dengan alasan adanya "ketidakjelasan prosedural" saat penyerahan aset dulu.

"Mereka masih belum menyerah juga?" saya merasa geram. Rasa mual yang biasanya sudah hilang, tiba-tiba muncul lagi karena stres.

Bimo langsung mengambil surat itu dan merobeknya di depan mata saya. "Jangan dipikirkan, Nara. Biar Panji yang urus. Mereka cuma sedang mencoba menggertak karena tahu posisi keuangan Wijaya Group sedang goyah setelah skandal Ratih terbongkar sepenuhnya ke publik. Mereka butuh uang tunai, dan mereka pikir kita adalah sasaran empuk."

Tapi saya tidak bisa diam saja. Sebagai seorang penulis, saya tahu bahwa pertahanan terbaik adalah serangan yang cerdas. Saya meminta Panji untuk mengumpulkan semua bukti royalti Adrian yang belum dibayarkan selama tiga puluh tahun terakhir oleh perusahaan.

"Kalau mereka mau main hukum soal prosedur, kita akan main hukum soal pencurian hak intelektual," kata saya tegas. "Nilai royalti itu, ditambah bunga selama tiga dekade, jauh lebih besar daripada sisa dana Aethelred yang mereka tuntut."

Bimo menatap saya dengan senyum bangga. "Istriku ternyata bukan cuma pandai menulis fiksi, tapi juga pandai menyusun strategi perang."

"Ini bukan perang, Bim. Ini soal perlindungan. Aku sedang melindungi masa depan anak kita dan warisan ayahku," balas saya sambil mengusap perut yang mulai menonjol.

Suara yang Kembali Pulang

Minggu depannya, kami mengadakan acara syukuran sederhana di panti asuhan. Ayah Hendra terlihat paling sibuk, beliau yang memesan tumpeng dan memastikan semua anak panti mendapatkan bingkisan. Di tengah acara, saya mengajak Ayah Hendra bicara empat mata di bawah pohon mangga favorit kami.

"Yah, Nara mau tanya sesuatu," saya memulai dengan ragu. "Apa Ayah pernah merasa menyesal harus berbohong selama tiga puluh tahun demi Nara?"

Ayah Hendra menatap langit yang mulai jingga. Beliau tersenyum tipis. "Menyesal karena berbohong? Mungkin iya, di awal. Tapi setiap kali Ayah melihatmu tumbuh, melihatmu mulai menulis, dan melihatmu menjadi wanita yang kuat seperti sekarang, rasa sesal itu hilang. Kebohongan itu adalah pagar yang Ayah bangun untuk melindungimu dari serigala-serigala di luar sana. Dan sekarang, melihatmu bahagia bersama Bimo, Ayah tahu Adrian pasti sudah memaafkan Ayah di sana."

Beliau kemudian merogoh sakunya dan memberikan sebuah buku catatan kecil yang sampulnya sudah mengelupas. "Ini catatan harian Hendra... maksud Ayah, catatan Hendra yang asli tentang penelitiannya dengan Adrian. Simpanlah. Suatu hari nanti, ceritakan pada cucu Ayah bahwa kakek-kakeknya adalah orang yang ingin mengubah dunia dengan air bersih dan tulisan yang jujur."

Saya menerima buku itu dengan tangan gemetar. Di sana, tertulis rumus-rumus kimia yang rumit diselingi dengan curhatan lucu Adrian tentang betapa susahnya mengganti popok Nara saat masih bayi.

Malam itu, di apartemen, saya menunjukkan buku itu pada Bimo. Kami membacanya bersama di atas tempat tidur. Bimo tertawa saat membaca bagian di mana Adrian menulis bahwa dia hampir pingsan karena melihat darah saat proses persalinan ibu saya.

"Aku nggak akan pingsan nanti, Nara. Janji," kata Bimo sambil mengecup kening saya.

"Kita lihat saja nanti, Pak CEO," goda saya.

Menulis Bab Baru

Saya kembali ke meja kerja saya sebelum tidur. Mesin tik biru milik Adrian sekarang duduk manis di samping laptop modern saya. Saya memasukkan selembar kertas baru ke dalamnya. Saya ingin menyelesaikan kalimat yang terputus tiga puluh tahun lalu.

Terdengar bunyi cetak-cetak yang khas saat saya menekan tuts-tuts berat itu.

“Untuk putri kecilku, dunia ini mungkin luas, tapi jangan pernah takut karena... kamu membawa cinta dari dua dunia di dalam nadimu. Kamu adalah bukti bahwa kegelapan bisa dikalahkan oleh waktu, dan kebencian bisa luruh oleh pengampunan. Tumbuhlah dengan berani, karena tintamu adalah senjatamu, dan hatimu adalah kompasmu.”

Saya menarik kertas itu. Tulisannya tidak serapi hasil printer, ada beberapa huruf yang sedikit miring, tapi rasanya sangat nyata. Saya meletakkan kertas itu di dalam album foto keluarga kami yang baru.

Bimo mematikan lampu kamar, hanya menyisakan lampu meja yang temaram. Dia memeluk saya dari belakang, tangannya bertumpu di perut saya. Kami bisa merasakan tendangan kecil dari dalam. Sebuah tanda komunikasi pertama dari manusia baru yang akan mengubah hidup kami selamanya.

"Dia setuju dengan tulisanmu," bisik Bimo.

Saya tersenyum, memejamkan mata dengan perasaan damai yang tak terlukiskan. Hidup ini memang penuh dengan plot twist, tapi sejauh ini, bab ini adalah bab favorit saya. Bukan karena tidak ada masalah, tapi karena kami akhirnya tahu cara menghadapinya sebagai satu kesatuan.

Tinta hidup kami tidak lagi berwarna hitam pekat yang penuh rahasia. Sekarang, warnanya seperti pelangi setelah badai—penuh harapan, sedikit berantakan, tapi sangat indah untuk dijalani. dengan tangan yang saling menggenggam dan hati yang sudah menemukan rumahnya.

Pena saya masih bergerak, tapi malam ini, ia berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi detak jantung yang sedang tumbuh. Cerita ini belum selesai, tapi untuk saat ini, semuanya terasa sangat cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!