Sheza diculik ketika usianya 7 tahun, dan bibinya meninggal diduga karena telah menyelamatkannya saat itu. Karena dianggap berhutang nyawa, dia benar-benar harus merelakan tempat dan posisinya digantikan sang sepupu Karen. Kedua orang tuanya mengabaikannya, memprioritaskan Karen.
Bahkan tunangannya Alex, juga melakukan hal yang sama. Hingga malam itu, satu minggu sebelum bertunangan, Sheza melihat Alex dan Karen berciuman di villa mereka, villa yang katanya dibeli Alex untuk Sheza.
Sejak saat itu, Sheza sudah tak berharap lagi pada keluarga dan tunangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Mengalah
Suara tepuk tangan terdengar begitu bergemuruh di sebuah aula seni. Seorang gadis cantik berambut hitam panjang, tengah menari dengan begitu anggun dengan gaun putihnya. Usianya baru 15 tahun, tapi dia benar-benar terlihat mampu dan berbakat.
"Pemenang penari terbaik tahun ini adalah Sheza Hadiwinata"
Prokk
Prokk
Prokk
Wajah gadis cantik itu berseri. Senyuman lebar dan begitu ceria. Dia menatap orang-orang yang memberinya tepuk tangan dari kursi penonton. Meski tak ada yang dia kenal, tapi dia tetap merasa senang, dia bangga pada dirinya.
Sampai di rumah besar ayahnya, Sheza turun dari dalam taksi karena mobilnya sudah pergi lebih dulu. Sheza sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Toh dia masih bisa naik taksi. Dia berlari dengan piala cantik di tangannya.
"Ayah, ibu, aku memang lomba tari...."
Prangg
Senyum itu langsung pudar, semangat dan wajah ceria itu segera hilang dari wajah Sheza.
Tatapannya tertuju pada piala indah yang dia perjuangkan dengan latihan menari selama 1 tahun. Piala itu hancur berkeping-keping seperti hatinya saat ini.
Karena yang memukul piala itu sampai jatuh dari tangannya adalah ayahnya sendiri.
"Ayah sudah bilang, biarkan Karen yang menang. Kamu masih tidak paham? lihat Karen sekarang, dia menangis! dia merasa tidak senang dan tidak pantas menari lagi katanya. Kamu benar-benar keterlaluan Sheza. Ibunya sudah tiada, hidup kamu ini diberikan oleh ibunya Karen. Setidaknya mengalah lah satu kali saja!"
Kata-kata itu menusuk sedikit demi sedikit ke dalam hati Sheza. Ayahnya mengatakan agar dia mengalah satu kali saja. Satu kali saja itu seperti apa sebenarnya? ulang tahunnya bahkan tidak pernah dirayakan, karena Karen tidak mau merayakan ulang tahunnya yang bertepatan dengan hari kematian ibunya.
Kamar di rumah ini, kamar kedua paling besar. Yang tadinya adalah kamar Sheza, sudah jadi milik Karen selama 8 tahun ini. Atau mengalah satu kali saja itu, ketika dia harus sengaja menyalahkan jawaban ujiannya sendiri setiap tahun, agar Karen yang menjadi siswi terbaik di sekolah. Sebenarnya mengalah satu kali yang di bicarakan oleh ayahnya itu yang mana? Sheza bahkan mulai ragu, apakah orang tua yang ada di depannya itu orang tua kandungnya.
"Paman, bibi. Tidak apa-apa, aku memang tidak pantas menang. Aku tidak apa-apa..."
Karen yang sengaja terisak berlari ke arah kamarnya. Dan dengan cepat ayah dan ibu Sheza mengejar gadis itu.
Sheza tak bisa menahan air matanya lagi. Air mata itu menetes ke lantai dimana piala itu patah jadi tiga bagian.
Duk
Lutut Sheza membentur lantai, ketika dia merasa kakinya begitu lemas. Usahanya selama satu tahun ini, patah di depannya.
Di rumah, dia sudah banyak mengalah. Di sekolah, dia bahkan sengaja menulis jawaban salah, supaya nilainya tidak sempurna dan Karen jadi juara. Tapi menari, menari adalah impiannya. Apa dia juga harus menghancurkan mimpinya untuk hutang budi yang dia bahkan tidak ingat sama sekali.
Air mata Sheza tak terbendung lagi, gadis 15 tahun itu terisak. Dadanya sakit sekali, rasanya sesak. Apa hutang budi itu tidak cukup dibayar dengan merawat Karen seperti anak sendiri. Semua barang-barang Karen bahkan lebih bagus dari milik Sheza. Kemana-mana orang tua Sheza juga lebih mengutamakan membawa Karen daripada Sheza. Apa semua itu belum cukup? tinggal di rumah, di beri saham perusahaan yang lebih besar daripada Sheza, lalu disekolahkan di tempat yang sama, semua fasilitas utama di berikan pada Karen, bukan pada Sheza, uang bulanan yang lebih besar Karen daripada Sheza, apa itu semua belum cukup?
Gadis remaja itu sungguh tak tahan lagi. Dia meraih tiga potongan pialanya dan berlari keluar rumah.
"Non... mau kemana?" tanya bibi Tari khawatir.
Tapi Sheza sama sekali tidak menoleh ke belakang. Dia hanya terus berlari dan berlari saja, meninggalkan rumah kedua orang tuanya, tapi meski dia anak tunggal, anak kandung, dia malah merasa seperti anak pungut.
Di dekat sekolah, ada sebuah kebun. Sebenarnya Sheza hanya butuh tempat untuk menangis. Hanya butuh itu saja. Kalau di rumah, Karen pasti akan memulai drama. Pura-pura menghibur, meminta maaf, tapi pada akhirnya akan ada drama jika orang tuanya datang. Hasil akhirnya sama seperti 8 tahun ini. Sheza di anggap anak nakal, dan Karen adalah anak baik yang tak berdosa.
Sheza duduk di bawah pohon, memeluk kedua lututnya dan patahan piala yang ada di tangannya. Dia menangis sejadi-jadinya.
Hingga dia melihat orang berlari kencang ke arahnya. Seorang pria muda, dengan luka di lengannya.
Brukk
Pria itu jatuh di depannya. Gadis remaja yang usianya baru 15 tahun itu tentu saja terkejut.
Berikutnya terdengar suara langkah kaki yang lebih banyak.
"Tolong... tolong aku!"
Pria itu mengulurkan tangannya. Wajahnya penuh luka dan berdarahh, sampai tak jelas rupa yang sebenarnya seperti apa.
"Cari dia! pasti tidak bisa lari jauh. Dia sudah terluka!"
Sheza mendengar suara teriakan orang-orang itu. Sheza segera meletakkan patahan pialanya di tanah. Dan menghampiri pria itu.
"Kakak... kakak masih bisa bangun?" tanya Sheza.
Tatapan Sheza tadi memang sempat terkejut, tapi dia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
Baginya lebih menakutkan wajah bermuka dua Karen, daripada wajah babak belur pria di depannya itu.
Sheza membantu pria itu bangun, dan membantunya lewat jalan pintas menuju jalan ke sekolah. Sheza meraih ponsel di tas dan memesan taksi. Tak lama kemudian taksi datang.
"Sudah, sudah... kamu pergi saja. Di rumah sakit, nanti akan ada yang menjemput ku!" kata pria itu yang tidak mau Sheza dapat masalah karenanya.
"Baiklah, paman supir. Tolong antar ke rumah sakit. Aku sudah bayar lewat aplikasi!"
"Baiklah"
Sheza mengangguk setelah mendengar jawaban si supir. Sudah hampir gelap, Sheza berpikir kalau dia harus pulang.
"Tunggu, gadis kecil, siapa namamu?" tanya pria itu terbata-bata menahan sakit.
"Namaku Sheza, Sheza Hadiwinata!"
"Aku akan mengingat mu!"
Sheza tersenyum lirih. Rasanya mendengar seseorang berkata seperti itu padanya adalah sebuah hal yang lucu. Orang tuanya saja, mungkin tidak ingat kalau saat ini dia tidak ada di rumah.
Sheza melangkah pergi. Sedangkan pria itu terus menatap Sheza sampai mobil itu semakin menjauh.
'Sheza Hadiwinata, aku akan mengingat mu!' batin pria itu.
Begitu sampai di depan rumah. Sheza menghela nafas panjang. Dia membuka pintu, dan pemandangan pahit lagi-lagi harus dia lihat. Kedua orang tuanya, bersenda gurau dengan Karen di ruang tamu. Mereka sepertinya membujuk Karen dengan banyak hadiah. Ada banyak paper bag di meja, dan ibunya sedang mencocokkan sebuah gaun di tubuh Karen.
'Kadang aku berpikir, mungkin yang anak kandung kalian itu Karen, bukan aku!' lirih Sheza dalam hatinya.
***
Bersambung...
sana ikut pergi 🤣
Bukan kah itu kenyataan yg menyakitkan Pras..? Nella..? 😏
Sekarang, masih kah kau berkelit dengan fakta yg ada..? Masih mau denial..?
Jika itu terjadi, benar lah yg dikatakan Jendra, bahwa kalian sangat bodoh sebagai orang tua.. 😏
Kira² siapa yg menabrak itu bibi yaa..?
Kenapa kelihatan nya ada unsur kesengajaan dalam kecelakaan yg di alami si bibi..? 🤔
Terkejut dong pasti nya..
Bener² kejutan.. Mantap..👍🏻🤣
Apakah setelah ini Pras & Ninda sebagai orang tua tetep kekeh dengan pendirian nya terhadap Alex sebagai calon menantu..?🤣🤣
Atas justru berubah drastis & mengemis perhatian karena ada maunya..? 🤣