“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”
Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.
Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.
Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 - Pesan Lewat Tatapan
Mobil SUV hitam itu akhirnya memasuki gerbang kediaman keluarga Mahendra.
Begitu kendaraan berhenti di beranda depan, pintu rumah langsung dibanting terbuka. Diana dan Mahendra berlari keluar dengan wajah penuh kecemasan yang bercampur kemarahan. Para pembantu rumah tangga juga berdiri di belakang, tegang.
"Naura!" Diana berteriak, berlari mendekati mobil sambil memegang dadanya.
Naura menelan ludah. Ia tahu badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ia meletakkan tangannya di gagang pintu, tapi sebelum ia bisa membukanya, pintu di sisi pengemudi terbuka lebih dulu.
Azzam keluar.
Posturnya berubah drastis. Ia tidak lagi sekadar pria yang mengemudi di malam hujan. Ia kembali menjadi Gus Azzam Al-Farizi tegak, berwibawa, dengan aura ketenangan yang seketika memenuhi halaman rumah. Langkahnya membulatkan mobil menuju sisi penumpang, lalu ia membukakan pintu untuk Naura.
Naura melangkah keluar dengan kaki yang sedikit gemetar. Ia menunduk, tak berani menatap ibunya.
"Naura Aleesha!" Suara Mahendra menggema, keras dan tajam. Langkah ayahnya mendekat dengan cepat. "Kamu pikir ini permainan?! Kabur dari rumah saat keluarga pesantren akan datang! Kamu mau mempermalukan kita sampai—"
"Pak Mahendra."
Suara Azzam memotong tegang udara. Suaranya tidak tinggi, bahkan sangat tenang, tapi ada lapisan baja di dalamnya yang membuat Mahendra terhenti di tempat.
Azzam melangkah maju, menempatkan dirinya tepat di samping Naura, namun setengah langkah di depan seperti sebuah perisai yang menutupi sebagian tubuh gadis itu dari amarah ayahnya.
"Kiranya Bapak tidak perlu memarahi Naura sekarang," ucap Azzam, matanya menatap lurus ke arah Mahendra dengan hormat namun tak tergoyahkan. "Keadaan hari ini sangat menekan bagi semua orang. Naura hanya membutuhkan ruang untuk bernapas. Saya yang memintanya untuk pulang, dan beliau sudah bersedia menuruti. Itu sudah cukup bukti kebaikan hatinya."
Mahendra menatap Azzam dengan kebingungan yang perlahan berubah menjadi terkejut. Ia melihat pria muda itu basah kuyup, menutupi putrinya dengan jubah hujan, berdiri membela Naura atas kemarahannya sendiri.
Diana mendekat, memeluk Naura erat-erat. "Nak, kamu membuatku hampir gila ketakutan..." bisik Diana dengan suara bergetar, mengabaikan Azzam dan suaminya.
Naura membalas pelukan ibunya, matanya perih. "Maaf, Mama..."
Azzam mengambil satu langkah mundur, memberikan ruang bagi keluarga itu. Ia menatap Naura sekali lagi, dan sekali lagi, tatapan itu menghantam Naura dengan intensitas yang tak tertahankan.
Ada pesan diam di mata hitam itu. "Kamu sudah aman sekarang."
"Istirahat yang cukup, Naura," ucap Azzam pelan, hanya terdengar oleh Naura dan mungkin ibunya. Lalu ia menoleh pada Mahendra dan Diana, memberikan salam hormat. "Maaf mengganggu malam Bapak dan Ibu. Saya permisi, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Gus." Jawab mereka serantak
Ia tidak masuk ke dalam rumah. Ia kembali ke mobilnya, menyalakan mesin, dan pergi meninggalkan halaman rumah yang masih basah oleh hujan, seolah kehadirannya hanyalah bayangan yang datang untuk menyelamatkan dan menghilang.
Mahendra menatap jejak mobil itu yang menjauh, lalu menatap putrinya. Kemarahannya sudah menguap, digantikan oleh kebingungan yang dalam.
"Gus Azzam yang mencarimu?" tanya Maherna pelan, suaranya tak percaya.
Naura hanya mengangguk pelan. Ia baru saja diselamatkan oleh pria yang selama ini ia sebut kulkas berjalan.
.
.
.
Malam itu, Naura tidak bisa memejamkan mata. Ia sudah mandi air hangat, sudah meminum susu hangat yang dibuatkan oleh ibunya, dan sudah berbaring di atas kasurnya yang empuk. Tapi tubuhnya terjaga. Pikirannya berputar.
Ia menatap terrarium di meja nakasnya. Lalu matanya terjatuh pada baret pastel yang kini diletakkan di samping terrarium. Baret yang tadi siang ia lupa, yang ada di tangan Azzam, yang ternyata pria itu tidak kembalikan malam ini.
"Azzam sengaja menyimpan itu," bisik batin Naura. "Atau dia lupa? Tapi Gus Azzam nggak terlihat seperti orang pelupa."
Ponselnya bergeta. Pesan dari Cipa.
Cipa: NAURA! MAMA LO TELPON MAMA GUE! LO KABUR?! LO GILA?!
Cipa: Terus gue denger Gus Azzam yang nyari lo?! GUE TERIAK DEPAN MAMA GUE. MAMA GUE KIRA GUE KESURUPAN.
Naura: Gue pulang, Cip. Aman.
Cipa: CERITA SEKARANG. Detail! Subtle! Setiap tatapan. SETIAP SENTUHAN. GUE MAU SESUAI UNTUK FANFICTION GUE.
Naura tidak bisa menahan senyum kecil. Ia mengetik balasan pelan.
Naura: Dia nemuin gue di jalan. Hujan deras. Dia nggak bawa payung, Azzam kesel karena gue basah, bukan karena dia basah, ngomong sama Papa tadi. Belain gue.
Hening sejenak sebelum Cipa membalas dengan huruf kapital yang seolah berteriak.
Cipa: NAURA. ITU BUKAN GREEN FLAG. ITU SELURUH PADANG RUMPUT YANG DITANAMIN BENDERA HIJAU. LO JATUH CINTA LOH KALAU GUE.
Naura melempar ponselnya ke samping bantal, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Jatuh cinta?" Dua kata itu bergema di kepalanya. Naura menelan ludah. Ia tidak bisa jatuh cinta pada Gus Azzam. Jika ia jatuh cinta, dan nanti Azzam menyadari bahwa pernikahan ini hanya sekadar kewajiban baginya... Naura tak tahu apakah hatinya bisa menghadapi penolakan itu.
"Tapi caranya menatapku..." ingatnya lagi.
Tatapan itu bukan tatapan seorang pria yang terpaksa menikah. Tatapan itu adalah milik seseorang yang merasa bertanggung jawab, yang peduli, yang... mau memahami.
Dinding pertahanan yang selama ini Naura bangun dengan susah payah dengan amukan, penolakan, dan kabur, retak satu per satu dan yang lebih mengerikan, ia tak ingin memperbaikinya.
Naura memutar tubuhnya, mematikan lampu tidur, dan memejamkan mata.
Ia mencoba memikirkan hal lain, kampus, bunga, skripsi. Tapi di kegelapan di balik kelopak matanya, yang terlihat hanyalah sepasang mata hitam yang menatapnya di balik rintik hujan, dan suara bariton yang berbisik, "Kamu tidak harus menghadapi badai sendirian."
.
.
.