NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:576
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^10

Membiarkan diri kini yang mulai terlelap di bawah suasana sunyi tanpa adanya suara keras yang memenuhi ruang pendengaran. Benar-benar sangat cocok untuk para manusia introvert. Walau, bisikan-bisikan kecil itu masih ada. Tapi tidak menggangu para pengunjung yang menyukai aroma buku.

Tapi Anrey bukan seorang introvert ataupun gemar membaca kalimat di dalam lembaran-lembaran kertas yang di jilid menjadi satu itu. Anrey hanya berkunjung untuk mencari kenyaman pada dirinya, agar tidak ada satupun orang yang menawarkan diri menjadi pengganggu dalam tenangnya. Walau di sisi lain, Anrey ingin menjadi penggagu di kehidupan seseorang.

Sayangnya, keinginannya itu sangat mustahil dapat dilakukan Anrey setiap waktu. Karena, orang di seberang sana jarang sekali memainkan benda persegi yang dapat bertukar pesan. Dan, Anrey juga tidak ingin egois, karena semua tidak semua orang senang diganggu. Contohnya kesayangannya.

Tersenyum kecil saat mengingat moment sederhana bersama sang kekasih yang benar-benar membuat diri semakin merasa tenang dan damai.

"Oh, Anrey? Kau di sini?" Cetus seseorang yang entah sejak kapan berdiri di samping Destan dengan buku di tangannya.

Ampuh membuat sang empu menoleh ke sumber suara sembari menutup buku di tangannya, dengan merubah raut wajahnya menjadi datar. Sebelum membenarkan topi yang menutup kepalanya itu.

"Oh, aku di sini." Rendah Anrey sembari mengangguk kecil.

"Kau juga di sini?" Cepat Anrey yang begitu spontan saat melihat gerak-gerik sang gadis yang ingin memutar tumit tuk pergi dari hadapan Anrey.

"Ada buku yang ingin kucari." Tanggap sang gadis, mengurungkan niatnya untuk pergi.

Anrey menggangguk paham, tidak lupa dengan senyum kecil sebagai penghias wajahnya. "Ngomong-ngomong, kau ada waktu setelah pulang sekolah besok."

"Kau butuh bantuan ku?" Tanya sang gadis yang terselip keraguan tersendiri.

"Aku tidak memaksamu." Tak begitu cepat Anrey melontarkannya.

"Aku akan meluangkannya untukmu besok setelah pulang sekolah." Balas sang gadis, dengan senyumannya.

Seharusnya, dan memang seharusnya. Gadis itu tidak menerima tawaran dari Anrey. Karena, masalah besar akan terjadi pada hidupnya. Sayangnya, gadis itu melupakannya begiu saja, akan kesempatannya bersama dengan Anrey tidak akan terjadi untuk kedua kalinya. Tetapi, hal itu benar-benar tidak baik.

Dan seharusnya juga, Anrey tidak memberi tawaran sederhana yang begitu menarik perhatian sang lawan. Karena, satu nama sudah memenuhi ruang kehidupan Destan. Bagaimana jika orang itu mengetahuinya? Dan tidak lagi bisa menahan rasa sabarnya selama ini.

Apa gang akan terjadi?

Permusuhan?

Pertengkaran?

Atau, perselisihan?

Tidak ada yang tahu setelah itu. Karena semesta begitu senang mempermainkan para penghuni bentala yang sangat mudah tertipu daya akan untaian manis tanpa memiliki tanggung jawab.

Tanpa dua insan itu sadari, sepasang mata yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya bisa tersenyum masam, dengan layar handphone untuk memotret mereka tanpa ijin. Akan tetapi, sebuah tangan kekar milik seorang pemuda bernama Aldi merebutnya begitu saja dari belakang.

"Kau akan mendapat hukuman mengambil gambar mereka tanpa ijin. Bukankah itu tidak baik sama sekali?" Cetus Aldi sedikit menundukkan kepalanya untuk menatap lekat gadis di depan matanya saat ini.

"Itu bukan urusanmu." Mengambil alih kembali handphone putih uang berada ditangan Aldi.

"Dan, bukankah kau juga sudah tahu? Jika apa yang mereka lakukan itu tidak benar sama sekali. Kau tahu bukan jika Anrey itu milik siapa. Jadi untuk apa kita harus menutupinya? Bukankah itu akan semakin melukai perasaannya? Seharusnya kau mengatakan pada gadis itu, jika Anrey sudah memiliki kekasih. Apa itu sangat sulit bagimu?" Imbuh Austyn yang entah kenapa merasa kesal sendiri.

"Dari kalimat yang kau katakan, itu sangat terdengar jika kau menaruh kesalahan itu padanya. Akan tetapi kau lupa, jika tidak semua kesalahan ada pada gadis itu. Posisi Destan juga salah." Timpal Aldi yang bukan berarti berada di pihak sang gadis. Walau rasa ingin melindungi itu ada dalam diri Aldi.

"Kau_"

"Tidak seharusnya kita berdebat akan hal gang bukan menjadi urusan kita." Final Aldi, kini memilih pergi dari hadapan Austyn dengan api amarah yang masih sanggup Aldi tahan.

"Jika seperti itu, dia harus tetap tahu. Orang yang selama ini dia bela dari belakang telah mengkhianatinya." Rendah Austyn, kembali mengalihkan pandangannya kearah di mana dua insan gang masih bertukar argumen.

"Mereka benar-benar sangat menikmati." Sambung Austyn.

...ʚɞ...

Sebenarnya mengutamakan belajar dalam hidup bukan candu yang ada pada dirinya. Tetapi, sebuah peringatan rendah terus saja memenuhi ruang hidupnya. Mau tidak mau menuruti semua apa yang keluar dari mulu orang dewasa, tanpa adanya perlawanan. Dan, bukan berarti ketakutan ada di dalam diri Yuna.

Yaa Yuna, gadis cantik yang dilengkapi dengan kepintaran, kebaikan dalam diri, dan selalu bersikap sopan saat beradu mulut dengan orang gang jauh lebih dewasa darinya.

Kini gadis itu tengah berada di dalam sebuah ruangan yang dihadiri beberapa remaja seusianya. Fokus mendengarkan kalimat demi kalimat dari guru pembimbing di depan sana.

kau di rumah?

Satu pesan singkat yang sejak tadi Yuna kirim pada seseorang di seberang sana belum mendapat balasan. Dan entah kenapa itu membuat benak Anna merasa gelisah sendiri, walau hal seperti itu sering sekali terjadi pada dirinya.

Di mana pesan singkat dari Yuna yang tidak mendapat balasan dari orang itu.

Meniup udara, kembali fokus pada pelajaran tambahan yang setiap hari Yuna dapatkan. Sebelum beralih pada seorang pemuda yang baru saja masuk dengan sopan, mengangguk sekilas, dan melangkah masuk. Duduk sisi kiri Yuna.

"Kau sudah sejak tadi?" Tanya Aldi sekedar basa-basi. Mengeluarkan beberapa buku dari tasnya.

"Kau tidak bersama__" belum juga Yuna melanjutkan perkataannya, sebuah pesan masuk ke dalam handphone Yuna yang memilih mengeceknya terlebih dahulu.

Sebuah foto terlampir sangat jelas di layar handphone Yuna yang perlahan merubah raut wajahnya. Sulit diartikan, dan hal itu sangat disadari oleh Aldi.

"Apa yang kau lihat?" Tanya Aldi.

"Bukan apa-apa." Balas Yuna sembari menyimpan handphone kembali di atas meja.

Membuang napas berat, berusaha untuk tetap berpikir positif dan fokus pada materi yang tengah disampaikan. Akan tetapi, hal itu tidak mudah bagi Yuna yang harus melihatnya sendiri.

Semoga pertemuan itu hanya sebatas ketidak sengajaan, agar iblis dalam diri Yuna tidak keluar lagi untuk menarik apa yang telah Yuna genggam selama ini.

"Jika kau mendapat foto itu dari Austyn, tidak seharusnya kau percaya." Cetus Aldi, kini menoleh ke sisi kanannya untuk melihat raut wajah Yuna.

"Karena kau tahu sendiri bukan, seperti apa Austyn itu." Imbuh Aldi sangat tahu apa yang telah terjadi.

"Bagaimana dengan tugas kelompoknya? Kau sudah membaginya." Alih Yuna tanpa membalas tatapan dari Aldi.

"Kau tidak membaca apa yang aku katakan di grup chat?" Heran Aldi.

"Kau mengirim pesan di grup chat?" Bukannya memberi jawaban, Yuna malah membalikkan pertanyaan pada Aldi sembari membalas tatapan pemuda itu dengan alias terangkat sekilas.

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!