Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Malam itu suasana rumah Bu Suci masih ramai meskipun makan malam sudah selesai. Aroma telur dadar dan tumis kangkung masih samar-samar terasa dari dapur. Di meja makan, piring-piring bekas makan belum sepenuhnya dibereskan karena perdebatan kecil antara Clara dan Doni soal make up ternyata belum benar-benar selesai.
Clara berdiri sambil melipat kedua tangan di depan dada. Wajahnya masih menunjukkan kekesalan.
“Aku tetap tidak mengerti kenapa perempuan harus repot memakai make up setiap hari,” kata Doni sambil menyandarkan tubuh di kursi.
Clara langsung melotot. “Karena perempuan ingin terlihat rapi dan cantik.”
“Memangnya tanpa make up tidak cantik?”
“Bukan begitu maksudnya.”
“Berarti make up itu seperti topeng.”
Clara menghela napas panjang. “Cara bicaramu itu menyebalkan.”
Desti yang duduk di samping ibunya malah tertawa kecil. “Kak Doni memang aneh. Waktu aku pakai lip tint sedikit saja dia bilang seperti habis makan saus sambal.”
“Itu karena warna bibirmu merah menyala seperti lampu rem truk,” balas Doni datar.
“Kakak!”
Bu Suci sampai geleng-geleng kepala melihat mereka. “Sudah, kalian ini kalau berkumpul selalu saja ribut.”
Clara mengambil tasnya dari kursi lalu berdiri. “Aku pulang dulu, Bu. Terima kasih makan malamnya.”
Baru saja Clara mengeluarkan ponsel untuk memesan ojek online, Bu Suci langsung menahan tangannya.
“Tidak usah pesan ojek.”
“Tidak apa-apa, Bu. Dekat juga.”
“Sudah malam. Doni antar.”
Clara langsung menoleh cepat ke arah Doni yang tampak sama tidak antusiasnya.
“Aku bisa naik ojek sendiri,” kata Clara cepat.
Doni ikut menimpali, “Dia benar. Naik ojek juga bisa.”
Bu Suci langsung menatap putranya tajam. “Mobil dipakai buat apa kalau bukan mengantar orang malam-malam?”
Doni langsung diam. Wajahnya terlihat pasrah seperti tahanan yang baru menerima hukuman tambahan.
Belum selesai sampai di situ, Bu Suci berdiri lalu menunjuk rice cooker di dekat lemari.
“Sekalian bawa itu.”
Clara berkedip bingung. “Bu?”
“Kompor juga dibawa. Sama wajan dan pancinya.”
Desti langsung membantu mengambil beberapa peralatan dapur. “Nah, akhirnya kontrakan Kak Clara tidak makan mi instan terus.”
“Aku masih bisa beli makan di luar,” bela Clara.
“Dan menghabiskan uang untuk ojek online lagi?” sahut Doni.
Clara langsung menatap kesal. “Aku tidak meminta komentar.”
“Tapi kenyataannya begitu.”
Bu Suci memotong sebelum mereka kembali berdebat. “Sudah. Dibawa saja semuanya.”
Clara mulai terlihat tidak nyaman. “Tapi kontrakanku masih berantakan.”
Desti tertawa spontan. “Berantakan bagaimana? Memangnya habis kena razia?”
Clara langsung salah tingkah. “Pokoknya belum rapi.”
Bu Suci malah mengambil tasnya. “Kalau begitu sekalian kami bantu rapikan.”
“Tidak usah, Bu. Sungguh.”
“Tidak apa-apa. Daripada kamu tinggal di tempat seperti kapal pecah.”
Clara langsung mematung mendengar kalimat itu. Bahkan sebelum melihat keadaan kontrakannya, Bu Suci sudah bisa menebak kekacauannya. Tragis sekali hidup manusia modern. Punya ponsel mahal lebih dulu daripada kemampuan melipat baju.
Akhirnya mereka semua berangkat bersama. Doni memasukkan rice cooker, kompor, wajan, panci, dan beberapa perlengkapan lain ke bagasi mobil. Clara duduk diam sepanjang perjalanan sambil menahan malu.
Begitu mobil berhenti di depan kontrakan, Clara langsung turun lebih dulu.
Gang kecil itu cukup sepi malam hari. Lampu-lampu rumah menyala redup. Doni membuka bagasi mobil sementara Desti berdiri sambil melihat bangunan kontrakan Clara.
“Kecil juga,” gumamnya.
“Kontrakan, bukan hotel,” jawab Clara.
Mereka masuk ke dalam dan tepat saat pintu dibuka, suasana langsung hening beberapa detik.
Desti menatap ruangan itu dengan mata melebar.
Pakaian berserakan di kursi.
Kotak makanan masih ada di meja.
Botol minuman kosong berada di lantai.
Tas dan sepatu bercampur tanpa arah yang jelas.
Bahkan selimut di kasur terlihat kusut seperti habis dipakai bergulat melawan kehidupan.
Desti akhirnya bersuara pelan.
“Ini benar-benar seperti kapal pecah.”
“Desti,” tegur Doni cepat.
“Tapi memang iya.”
“Kamu dulu waktu pertama kali masuk asrama juga begini,” balas Doni.
Desti langsung diam sambil memalingkan wajah. “Itu fitnah.”
Bu Suci justru tertawa kecil. “Sudah, jangan diejek terus.”
Clara berdiri kaku sambil memegang tasnya erat-erat. “Aku memang belum sempat membereskan.”
“Karena tidak terbiasa mengurus sendiri,” kata Doni santai.
Clara ingin membantah, tetapi tidak bisa. Karena memang benar.
Bu Suci langsung mulai mengambil alih keadaan seperti komandan perang.
“Clara, kamu dan Desti lipat pakaian dulu.”
“Iya, Bu.”
“Doni, cari meja kecil buat tempat kompor dan rice cooker.”
“Di mana saya cari malam-malam begini?”
“Warung depan tadi masih buka.”
Doni menghela napas panjang. “Baik.”
“Sekalian beli paku.”
“Baik.”
“Dan sapu baru.”
Doni menatap ibunya tidak percaya. “Sekalian beli rumah saja?”
Bu Suci langsung menunjuk pintu. “Pergi sana.”
Desti tertawa terbahak-bahak sementara Doni keluar dengan wajah pasrah.
Di dalam kontrakan, Clara mulai melipat pakaian dengan canggung. Desti duduk di lantai sambil membantu memisahkan pakaian bersih dan kotor.
“Kak Clara ternyata benar-benar tidak bisa beres-beres,” katanya.
Clara menghela napas. “Aku biasanya tinggal taruh saja lalu nanti ada yang membereskan.”
“Anak orang kaya memang menyeramkan.”
“Aku sedang belajar.”
Desti tersenyum kecil. “Tapi sudah lebih bagus dari pertama kali aku lihat.”
Clara menoleh. “Maksudnya?”
“Dulu kata teman kakak wajah Kak Clara selalu galak.”
Clara langsung terdiam.
“Sekarang lebih normal,” lanjut Desti santai.
“Normal?”
“Iya. Lebih seperti manusia.”
Clara sampai tidak tahu harus tersinggung atau tertawa.
Sementara itu Bu Suci mulai memindahkan beberapa barang agar ruangan terasa lebih lega. Beliau mengatur posisi meja, melipat selimut, bahkan membersihkan meja makan kecil milik Clara.
Gerakannya cepat dan terbiasa. Sangat berbeda dengan Clara yang sejak tadi hanya kebingungan menentukan tempat gantungan baju.
Tak lama kemudian Doni kembali sambil membawa meja kecil kayu di satu tangan dan kantong plastik di tangan lainnya.
“Ada lagi yang perlu dibeli?” tanyanya datar.
“Ada,” jawab Bu Suci cepat.
Doni langsung memejamkan mata beberapa detik seperti orang yang kehilangan harapan hidup.
“Bercanda,” kata Bu Suci sambil tertawa.
Doni meletakkan meja di dekat dinding lalu mulai memasang beberapa paku untuk menggantung tas dan alat masak ringan.
Clara memperhatikan pria itu diam-diam.
Doni terlihat berbeda dibanding saat di kantor. Tidak ada wajah dingin atau nada formal. Dia bahkan rela jongkok memasang gantungan di tembok kontrakan sempit miliknya tanpa banyak mengeluh.
Walaupun mulutnya tetap menyebalkan.
“Panci ini taruh mana?” tanya Doni.
“Di mana saja,” jawab Clara.
“Kalau semua di mana saja, nanti kembali berantakan.”
Clara langsung diam lagi.
Setelah semuanya selesai ditata, kontrakan itu perlahan berubah jauh lebih rapi. Rice cooker berada di atas meja kecil dekat colokan listrik. Kompor tersusun rapi bersama wajan dan panci. Pakaian yang tadi berserakan sudah dilipat.
Ruangan kecil itu akhirnya terlihat nyaman ditempati manusia. Sebuah pencapaian besar bagi peradaban.
Doni kemudian keluar sebentar dan kembali membawa beberapa botol minuman dingin.
“Nih.”
Desti langsung mengambil satu botol. “Akhirnya hidup.”
“Kamu dari tadi juga hidup,” balas Doni.
Mereka duduk beristirahat sejenak di lantai beralaskan tikar tipis.
Clara memandang ruangan itu perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak pindah ke kontrakan itu, tempat tersebut terasa hangat.
Bukan karena barang-barangnya.
Tetapi karena ada orang lain di dalamnya.
Tak lama kemudian terdengar suara seseorang dari luar.
“Eh, Bu Suci?”
Seorang wanita paruh baya berdiri di depan pintu sambil tersenyum terkejut.
Bu Suci langsung berdiri cepat. “Bu Susi?”
“Kok bisa di sini?”
“Ternyata ini kontrakan milik Bu Susi?”
“Iya.”
Mereka langsung berbincang akrab seperti teman lama yang lama tidak bertemu.
“Tadi saya lihat ramai sekali jadi penasaran,” kata Bu Susi sambil tertawa kecil.
Bu Suci ikut tersenyum. “Sedang bantu membereskan kontrakan.”
Bu Susi kemudian melirik Clara. “Ini keponakannya?”
Clara yang mendengar itu langsung menoleh refleks.
Bu Suci menggeleng pelan. “Bukan. Kami kebetulan kenal karena Clara sedang kesulitan hidup mandiri.”
“Begitu.”
Bu Susi tersenyum penuh arti sambil melihat Clara lalu Doni bergantian.
“Saya kira calon menantu.”
Desti langsung menahan tawa.
Clara spontan menegang.
Sementara Doni malah meminum airnya dengan tenang seperti tidak peduli.
Bu Suci tertawa kecil. “Tidak mungkin.”
“Kenapa tidak mungkin?”
“Clara anak pemilik perusahaan tempat Doni bekerja.”
Bu Susi terlihat kaget. “Serius?”
“Iya. Dia hanya sedang belajar hidup mandiri.”
Clara menunduk pelan sambil memegang botol minumnya.
Entah kenapa dadanya terasa aneh.
Awalnya dia merasa lega karena salah paham itu langsung dijelaskan.
Tetapi saat Bu Suci mengatakan “tidak mungkin”, ada rasa kecil yang tiba-tiba mengganjal di dalam hatinya.
Perasaan yang bahkan Clara sendiri tidak mengerti.
Dan itu membuatnya semakin bingung.