NovelToon NovelToon
Teratai Pedang Sembilan Kematian

Teratai Pedang Sembilan Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
​Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Penawar Matahari

​Turun kembali melalui lorong ventilasi pembuangan panas terasa jauh lebih menyiksa daripada saat memanjat naik. Tenaga fisik Lin Tian telah terkuras oleh pertempuran singkat di Apotek Sembilan Tungku dan efek penyegelan Kristal Tulang Naga yang terus menggerogoti stamina lengan kanannya.

​Ia membiarkan gravitasi membantunya meluncur turun, menahan gesekan dinding besi panas itu dengan punggung kirinya. Ketika ia akhirnya mendarat kembali di tumpukan karung goni di sudut Geladak D, napasnya tersengal parah. Keringat yang bercampur dengan jelaga hitam membuatnya benar-benar terlihat seperti iblis dari kerak neraka.

​"Kak Tian!" Lin Chen langsung menghampirinya, wajahnya pucat pasi mendengar suara lonceng alarm yang mulai sayup-sayup terdengar dari geladak atas. "Alarm berbunyi. Apa yang terjadi di atas?"

​"Aku mendapatkannya," jawab Lin Tian terengah-engah. Ia mengabaikan luka bakar melepuh di kulitnya dan segera merogoh sakunya dengan tangan kiri, mengeluarkan sebuah pil berwarna merah keemasan yang memancarkan hawa panas murni.

​Lin Tian menoleh ke arah Lin Xue. Gadis kecil itu sudah tidak sadarkan diri. Uap es yang memancar dari tubuhnya kini telah membekukan jerami di sekitarnya. Jika dibiarkan setengah jam lagi, meridian jantungnya akan membeku total.

​Tanpa membuang waktu, Lin Tian memasukkan Pil Naga Matahari itu ke dalam mulut Lin Xue, lalu menepuk pelan dada adiknya untuk memaksa pil itu tertelan.

​Seketika, reaksi yang sangat ekstrem terjadi.

​Tubuh mungil Lin Xue tersentak hebat. Cahaya merah menyala dari bawah kulit dadanya, tempat pil itu mulai mencair. Hawa panas dari elemen Yang murni berbenturan keras dengan hawa dingin dari Tubuh Roh Es bawaannya.

​ZSSSS!

​Uap putih tebal mengepul dari tubuh Lin Xue, melelehkan es di sekitarnya dalam sekejap. Gadis itu mengerang kesakitan dalam tidurnya, wajahnya berubah merah padam seperti sedang direbus hidup-hidup.

​"K-Kak! Dia kepanasan!" seru Lin Chen panik, hendak memeluk adiknya.

​"Jangan sentuh dia!" tahan Lin Tian tegas, menahan bahu Lin Chen dengan tangan kirinya. "Ini adalah proses penyeimbangan meridian. Pil Naga Matahari sedang membakar sisa racun es yang menyumbat jalur Qi-nya. Jika dia berhasil melewatinya, Tubuh Roh Es-nya akan tertidur pulas setidaknya selama dua hingga tiga tahun ke depan tanpa butuh obat lagi."

​Lin Tian mengawasi dengan saksama. Tangannya bersiap menyalurkan Niat Ketiadaan jika energi pil itu tidak terkendali, namun secara ajaib, fisik Lin Xue mulai menyesuaikan diri. Cahaya merah di dadanya perlahan meredup, menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Keringat hitam berbau busuk—kotoran dari dalam meridiannya—merembes keluar dari pori-porinya.

​Napas Lin Xue yang tadinya putus-putus kini menjadi panjang, teratur, dan hangat. Rona kemerahan yang sehat kembali menghiasi pipinya.

​Lin Chen jatuh terduduk, menangis lega tanpa suara. Beban terberat di hatinya akhirnya terangkat.

​Namun, kelegaan mereka hanya berlangsung sesaat.

​TENG! TENG! TENG!

​Suara lonceng alarm dari geladak atas kini bergema keras di seluruh Area D. Pintu baja raksasa yang menghubungkan Geladak Bumi dan Geladak Neraka ini terbuka dengan suara derit memekakkan telinga.

​"Semua pekerja, berhenti bekerja! Berbaris di tengah lorong sekarang juga! Yang berani bergerak akan dibunuh di tempat!"

​Suara auman yang diperkuat dengan Qi menyapu seluruh lambung kapal. Sekitar dua puluh penjaga berpakaian zirah perak dari Persekutuan Seratus Harta turun dengan pedang terhunus dan busur silang bersiap. Mereka memancarkan aura Pembangunan Pondasi yang membuat ratusan budak batu bara menggigil ketakutan.

​Di depan barisan penjaga, berjalan seorang kultivator pria bermata satu yang memegang sebuah kompas spiritual yang menyala merah. Di sebelahnya, Mandor Zhou berjalan merunduk-runduk seperti anjing ketakutan.

​"Tuan Kapten, s-sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa pasukan elit turun ke tempat kotor ini?" tanya Mandor Zhou gemetar.

​"Apotek Sembilan Tungku di Geladak Bumi baru saja dirampok!" bentak Kapten bermata satu itu. "Dua orang penyusup. Salah satunya mencuri Pil Naga Matahari dan merusak formasi tingkat tinggi dengan kekuatan fisik. Kompas pelacakku menunjukkan sisa fluktuasi energi kabur ke arah geladak bawah ini!"

​Wajah Mandor Zhou memucat. Jika ada pencuri bersembunyi di wilayahnya, kepalanya yang akan dipenggal.

​Di sudut ruangan, Lin Tian dengan cepat menendang sisa-sisa jerami yang membeku ke dalam tungku api untuk menghilangkan bukti. Ia menutupi tubuh Lin Xue yang masih tidur dengan karung kotor, lalu menyandarkan dirinya ke dinding.

​"Chen, gosokkan abu batu bara ke wajahmu. Menunduk. Biarkan aku yang menjadi pusat perhatian jika mereka mendekat," bisik Lin Tian cepat. Ia melumuri rambut dan wajahnya dengan jelaga hitam tebal, lalu membiarkan lengan kanannya yang membengkak parah terlihat dari balik jubah robeknya.

​Para penjaga sekte mulai memeriksa barisan pekerja budak satu per satu, menendang dan memukul siapa saja yang gerak-geriknya mencurigakan. Kompas spiritual di tangan Kapten terus berkedip, namun karena debu batu bara dan panas tungku yang ekstrem, sinyalnya menjadi sangat kacau.

​"Tuan Kapten! Di sudut sana ada tiga orang budak baru yang kubeli minggu lalu!" tunjuk Mandor Zhou, mencoba mencari kambing hitam untuk meredakan kemarahan penjaga. "Salah satunya adalah orang cacat! Mungkin dia—"

​Kapten bermata satu dan tiga penjaga elit berjalan tegap menghampiri sudut Lin Tian.

​Lin Chen langsung bersujud di tanah, bergetar ketakutan sebagian akting, sebagian karena tekanan aura Pembangunan Pondasi.A-Ampun, Tuan! Kami hanya pekerja kasar! Tolong jangan hukum kami!"

​Kapten itu tidak mempedulikan Lin Chen. Matanya tertuju pada Lin Tian yang sedang duduk menyender lemah di dinding. Penampilan Lin Tian saat ini benar-benar mengerikan. Wajahnya tertutup kotoran, napasnya pendek, dan di sekujur punggung serta bahu kirinya terdapat luka bakar parah yang melepuh akibat memanjat lorong ventilasi panas.

​Yang paling menjijikkan adalah lengan kanannya. Lengan itu membengkak sebesar paha orang dewasa, berwarna hitam keunguan, dengan urat-urat menonjol seperti cacing mati akibat segel Kristal Tulang Naga.

​"Angkat kepalamu, sampah!" bentak salah satu penjaga, menendang tulang kering Lin Tian.

​Lin Tian tidak melawan. Ia hanya mengerang pelan, menatap penjaga itu dengan mata kosong dan sayu.

​Kapten bermata satu itu mendekatkan kompas spiritualnya ke arah Lin Tian. Jarum kompas itu bahkan tidak bergetar. Tidak ada secercah pun Qi di dalam tubuh pemuda ini, apalagi aura spiritual dari Pil Naga Matahari tingkat tinggi yang telah ditelan Lin Xue dan disamarkan oleh konstitusi es-nya.

​"Luka bakar ini... dan lengan yang membusuk ini..." Kapten itu menutup hidungnya dengan jijik. "Ini penyakit kutukan darah kotor. Mandor Zhou! Kau membawa budak berpenyakit menular ke dalam kapalku?!"

​Mandor Zhou langsung berlutut, wajahnya pucat pasi. "A-Ampun, Kapten! S-Saya ditipu oleh pedagang budak di Kota Batu Darah! Saya kira dia hanya cacat biasa!"

​"Buang mereka ke lubang pembuangan besok pagi! Jika penyakitnya menyebar ke pekerja lain dan produksi batu bara melambat, kucambuk kau sampai mati!" ludah sang Kapten. Ia membalikkan badan, sama sekali tidak curiga bahwa "gelandangan penyakitan" berlengan lumpuh di depannya ini adalah monster yang meremukkan tengkorak kepala penjaganya lima belas menit yang lalu.

​"Cari di blok lain! Pencuri itu pasti menggunakan sihir penyamar aura!" perintah Kapten itu, memimpin pasukannya pergi menjauhi Area D.

​Setelah derap langkah pasukan penjaga menghilang di balik pintu baja, Lin Chen menghela napas yang sedari tadi ia tahan. Kakinya lemas.

​"Kita selamat... kali ini," bisik Lin Chen, menatap kakak sepupunya dengan rasa hormat yang semakin dalam. Akting Lin Tian, dipadukan dengan penderitaan fisiknya yang nyata, menciptakan alibi yang tak bisa ditembus.

​Lin Tian tidak menjawab. Ia menatap ke arah langit-langit baja lambung kapal. Tujuannya untuk menyembuhkan Lin Xue telah tercapai. Sekarang, yang ia butuhkan hanyalah waktu. Waktu untuk membiarkan tubuhnya secara perlahan mencerna segel Kristal Tulang Naga di lengan kanannya.

​Satu bulan, batin Lin Tian, matanya menyipit dalam kegelapan. Saat kapal ini berlabuh di pelabuhan utama Benua Tengah bulan depan, lenganku akan siap digunakan. Dan saat itu... tidak ada yang bisa menghentikanku.

​Sementara itu, di Geladak Surga, di dalam sebuah kamar mewah yang dilapisi permadani sutra dan pualam.

​Seorang wanita muda berparas sangat cantik sedang duduk di depan meja rias. Ia melepaskan topeng gagak dari wajahnya, memperlihatkan mata tajam berwarna ungu dan bibir merah yang menawan. Di atas mejanya, tergeletak sepotong gagang pedang tipis yang telah hancur menjadi debu logam.

​Wanita itu, Mu Nianxue, adalah putri dari Klan Mu yang merupakan salah satu bangsawan di Ibu Kota Benua Tengah. Namun, ia memiliki hobi eksentrik: mencuri barang-barang langka untuk menantang batas kemampuannya.

​Malam ini, harga dirinya sebagai pencuri jenius telah dihancurkan oleh seorang pengemis berlengan satu.

​"Satu tebasan... membelah formasi penjara dan menghancurkan pedang perak spiritualku menjadi debu," gumam Mu Nianxue, mengelus sisa debu pedangnya. Matanya memancarkan ketertarikan yang luar biasa berbahaya.

​"Niat Pedang tanpa sepercik pun energi Qi. Dan dia sengaja melompat turun menuju geladak bawah, bukan kabur ke luar kapal."

​Bibir Mu Nianxue melengkung membentuk senyum tipis.

​"Ternyata ada naga yang bersembunyi di tumpukan batu bara.

1
Luthfi Afifzaidan
lg
Duan Iwan
Mantaaaaaap lanjooooootken ceritamu Thor
Duan Iwan
Lanjooooooooot
Luthfi Afifzaidan
lg thor
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan lagi thor
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!