Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase Logistik
Kegelapan di distrik Rust terasa lebih pekat malam ini, seolah-olah awan jelaga dari pabrik tua sengaja turun untuk menyelimuti rencana V. Di dalam ruang kontrol yang tersembunyi, V menatap layar monitor yang menampilkan peta digital jalur distribusi utama Neovault. Bau mesin yang panas dan aroma sirkuit elektronik memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang mencekam.
Jari-jari V bergerak dengan ritme yang tenang namun mematikan di atas papan tik mekanik. Di layar, puluhan ikon truk logistik dan kapal kargo bergerak perlahan menuju pusat kota, membawa pasokan bahan baku vital bagi pabrik utama Arlan. V tahu bahwa denyut nadi perusahaan Arlan bergantung pada kelancaran alur yang ada di hadapannya sekarang.
"Semuanya sudah berada di posisi, Paman. Arlan tidak akan menyadari bahwa nadi perusahaannya sedang berada tepat di bawah pisauku," ujar V tanpa mengalihkan pandangan.
Nelayan tua yang berdiri di belakangnya hanya mengangguk pelan, matanya menatap layar dengan penuh kewaspadaan yang tinggi. "Satu kesalahan kecil dalam sinkronisasi sinyal ini, dan tim keamanan Arlan akan segera melacak lokasi kita. Kau sudah siap menghadapi badai yang akan datang, V?"
V memutar kursinya sedikit, menatap pria tua itu dengan tatapan yang nyaris tanpa emosi sama sekali. "Risiko terbesar dalam hidupku sudah aku lalui saat Arlan mendorongku ke sungai itu. Sekarang, hanya ada kalkulasi dingin dan eksekusi yang presisi. Nyalakan pemancar pengacak sinyal sekarang."
Nelayan itu menarik tuas pada perangkat manual di sudut ruangan dengan mantap. Seketika, indikator pada monitor V berkedip merah, menandakan bahwa sistem komunikasi di pabrik utama Neovault telah terputus dari satelit pusat. V segera menyusup ke dalam server manajemen gerbang logistik dan mulai mengubah otorisasi akses.
"Instruksi diterima. Menghapus protokol pengiriman otomatis dari basis data utama," gumam V pada dirinya sendiri.
Di layar pantauan CCTV yang berhasil diretas, V melihat kekacauan mulai terjadi di gerbang utama pabrik Arlan. Truk-truk besar yang mengangkut bahan kimia dan komponen mesin tiba-tiba berhenti karena gerbang elektronik menolak membaca kartu akses mereka. Para pengemudi keluar dari kabin dengan wajah bingung, mencoba menghubungi pusat kendali melalui radio.
"Lihat itu, Paman. Mereka seperti semut yang kehilangan jejak setelah aku mengacak-acak sarangnya," kata V sambil menunjuk ke arah monitor.
"Berapa lama kau bisa menahan sistem ini sebelum mereka menggunakan cara manual untuk membukanya?" tanya nelayan tua itu.
V kembali fokus pada layarnya, kali ini ia masuk ke dalam sistem pengatur suhu gudang penyimpanan bahan baku sensitif. "Manual butuh waktu setidaknya empat jam untuk menggerakkan ratusan kontainer itu. Aku hanya butuh satu jam untuk membuat bahan baku mereka tidak berguna."
Ia menaikkan suhu pada sistem pendingin gudang nomor lima dan tujuh, tempat Arlan menyimpan bahan kimia khusus untuk produksi semikonduktor. Bahan-bahan itu sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan akan rusak jika tidak dijaga dalam suhu yang sangat rendah. V melihat grafik suhu di layar mulai merangkak naik dengan sangat cepat.
"Suhu sudah mencapai ambang batas keamanan. Bahan baku di gudang tujuh mulai mengalami degradasi kimiawi secara total," lapor V.
"Arlan akan kehilangan jutaan dolar hanya dalam waktu satu malam jika ini terus berlanjut tanpa henti," nelayan itu bergumam.
V menyandarkan punggungnya di kursi, membiarkan cahaya merah dari monitor memantul di wajahnya yang tetap tenang. "Uang bisa dia cari lagi, tapi kepercayaan investor terhadap stabilitas logistiknya tidak akan pernah kembali. Ini adalah luka yang akan terus berdarah di laporan keuangan mereka."
Tiba-tiba, sebuah notifikasi darurat muncul di layar utama V dengan bunyi peringatan yang cukup nyaring. Tim keamanan siber Neovault mulai melakukan serangan balik dengan mencoba memulihkan kendali gerbang secara paksa melalui jalur cadangan. V melihat garis kode biru mulai bertarung dengan kodenya yang berwarna merah di layar.
"Mereka mulai melawan. Sepertinya Arlan sudah terbangun dari tidurnya dan mulai menyadari serangan ini," ujar V dengan senyum tipis.
"Bisakah kau bertahan, V? Mereka punya tim ahli siber terbaik di pusat kota Neovault," nelayan itu mulai tampak sedikit khawatir.
V tidak menjawab, ia justru mempercepat gerakan tangannya, memasukkan barisan kode enkripsi berlapis yang sangat rumit. "Mereka ahli dalam menjaga sistem yang stabil, tapi aku adalah badai yang tidak mereka pahami pola gerakannya. Aku akan mengalihkan fokus mereka sekarang."
Ia melakukan serangan pengalihan, membuat sistem keamanan Neovault mengira bahwa peretasan berasal dari kantor pusat pesaing bisnis mereka. Hal ini membuat tim siber Arlan terpecah fokusnya, memberikan V waktu tambahan untuk menyelesaikan penghancuran data logistik. Seluruh jadwal pengiriman untuk satu bulan ke depan kini terhapus total.
"Data logistik telah dimusnahkan. Sekarang, masuk ke bagian favoritku dalam rencana malam ini," bisik V.
Ia mengaktifkan sistem alarm kebakaran di seluruh area gudang utama, meskipun sebenarnya tidak ada api sama sekali. Prosedur standar keselamatan kerja Neovault akan memaksa seluruh operasional berhenti seketika dan mengunci semua pintu keluar secara otomatis. Suara sirene yang melengking terdengar melalui speaker kecil di meja kontrol.
"Sepertinya Arlan akan sangat sibuk malam ini. Dia pasti sedang panik luar biasa di rumahnya," kata V menatap monitor.
"Kau benar-benar tidak memberi mereka celah untuk bernapas sedikit pun," nelayan tua itu menggelengkan kepala.
V berdiri dari kursinya, mematikan monitor satu per satu hingga ruangan kembali tenggelam dalam kegelapan total. "Arlan merayakan kematianku dengan pesta, maka aku merayakan kegagalannya dengan kehancuran sistemnya. Ayo pergi, Paman. Kita harus segera membersihkan jejak kita."
Mereka meninggalkan ruangan itu dengan terburu-buru, membawa semua perangkat keras penting ke dalam mobil hitam yang terparkir di gang. V menoleh ke arah cahaya lampu kota yang jauh di cakrawala, di mana Menara Neovault berdiri angkuh. Ia tahu bahwa besok pagi, Arlan akan terbangun dengan berita kerugian jutaan dolar.
"Malam ini baru pemanasan, Arlan. Aku akan memastikan setiap dolar yang kau miliki terasa seperti bara api," batin V.
Di dalam kabin mobil yang sunyi, V merasakan denyut di bahunya, bekas luka bakar yang selalu mengingatkannya pada malam pengkhianatan. Rasa sakit itu kini berubah menjadi energi yang dingin dan sangat terkendali di dalam jiwanya. Ia tidak lagi merasa hancur; ia merasa seperti hakim yang sedang menjatuhkan vonis berat.
"Paman, hubungi Julian besok pagi. Katakan padanya untuk mulai menarik kontrak pengadaan energi di area pelabuhan logistik," perintah V.
"Kau ingin mematikan aliran listrik mereka juga setelah sabotase sistem ini?" tanya nelayan itu sambil menyetir.
V menatap lurus ke depan, ke arah kegelapan jalanan yang seolah menyambut kepulangannya ke distrik Rust. "Tidak perlu mematikan semuanya. Aku hanya ingin memutus pasokan yang membuat mesin mereka tetap berjalan. Tanpa energi dan bahan baku, Arlan hanyalah raja di atas takhta kosong."
Mobil itu menghilang di balik tikungan jalan, meninggalkan pabrik Neovault yang kini masih dilanda kekacauan besar dan sirene yang meraung. Di dalam ruang kendali pabrik yang penuh teknisi panik, Arlan mungkin akan segera datang dengan amarah yang meledak. Namun, ia tidak akan pernah menemukan siapa pelakunya di balik layar.
"Besok pagi, harga saham Neovault akan terjun bebas bersama dengan harga diri Arlan Valeska," gumam V pelan.
Kehancuran logistik ini hanyalah satu bidak catur yang ia gerakkan untuk mematikan pergerakan lawan dalam permainan panjang ini. Ia masih memiliki banyak bidak lain yang siap dikorbankan demi mencapai skakmat yang sempurna bagi Arlan dan Elena. Bagi V, malam ini adalah bukti bahwa harta Arlan tidak melindunginya.
"Dendam ini baru saja dimulai, Arlan. Kau akan merindukan masa-masa tenangmu," kata V sambil memejamkan mata.
Sekarang, setiap kerugian yang dialami Arlan adalah kemenangan kecil bagi nyawa Asha yang telah dikhianati dengan kejam. V membiarkan tubuhnya bersandar pada kursi penumpang, merasakan dinginnya AC mobil yang menyapu wajahnya. Ia sudah menyiapkan mental untuk menghadapi langkah besar selanjutnya yang jauh lebih berbahaya.
"Bagaimana dengan Elena? Apakah dia juga akan merasakan dampaknya malam ini?" tanya nelayan tua itu memecah keheningan.
V membuka matanya sedikit, kilatan tajam muncul di sana saat menyebut nama wanita yang merebut posisinya itu. "Elena akan merasakannya saat uang Arlan mulai mengering. Dia hanya mencintai harta Arlan, dan aku akan mengambil harta itu sampai habis tak tersisa."
Mobil terus melaju membelah malam, menjauh dari pusat kota yang mulai gempar karena kegagalan sistem logistik Neovault. Di balik wajah cantiknya yang baru, V menyimpan badai yang siap menghancurkan apa pun yang menghalangi jalannya. Sabotase malam ini hanyalah awal dari keruntuhan besar yang akan dicatat oleh sejarah kota.
"Istirahatlah, V. Besok akan menjadi hari yang sangat panjang bagi kita semua di distrik Rust," ujar nelayan itu.
V mengangguk singkat dan kembali memejamkan mata, membiarkan kegelapan malam memeluknya dengan erat sebelum pertarungan esok hari. Ia tahu bahwa Arlan tidak akan tinggal diam, tapi itulah yang ia harapkan agar permainan ini menjadi lebih menarik. Kehancuran Arlan Valeska adalah satu-satunya tujuan hidup yang tersisa bagi seorang V.