Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?
•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.
•karya original dari Nita Juwita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Between 16
**
Di Kelas dan Tertawa
**
"Bye Some!" ujar Dina ketika ia berpisah dengan Some di depan parkiran. Hampir satu jam lebih kumpulan OSIS memakan waktu Some. Dan seperti kebijakan OSIS yang berlaku, bubar sekitar pukul lima sore. Tapi dihabiskan untuk pembagian tugas bersama dan mereka baru bisa keluar ruang rapat sekitar jam setengah enam sore. Dan di pukul enam kurang dua puluh menit Some berpisah dengan Dina yang di jemput papanya.
Some menghembuskan nafas pasrah, ia melangkahkan kakinya lagi menuju mobilnya yang ada di deretan mobil lain. Sampai di depan mobil hitam itu Some melihat pak Supratman sedang berdiam diri sambil terus melihat jam tangannya. Tapi kemudian ia mendekati Some dengan perasaan yang khawatir.
"Aduh non kenapa lama dan ada acara apa sih?" tanya pak Supratman mendeskripsikan rasa khawatirnya. Itu terkesan jelas di wajahnya, dan Some tahu papa dan mamanya pasti menunggu di rumah.
"Bapak nggak tahu ya kalau Some sering latihan OSIS," jawab Some sambil menatap pak Supratman cuek. Dia juga merasa kesal karena pak Supratman tidak sama sekali menjemputnya ke ruang rapat, atau memberitahukan pada pimpinan OSIS kalau ia harus pulang lebih awal. Biasnya pak Supratman melakukan itu agar nona tidak sampai rumah pada malam hari.
"Tahu non, tapi kenapa hari ini pulangnya telat banget, sampai mau malam lho," kata pak Supratman sambil menunjuk langit yang mulai menghitam. Atau lebih tepatnya ada jingga cerah menghiasi langit.
"Biasnya juga sampai sore pak," balas Some, ia memegang kenop pintu mobil. Lalu membuka dan duduk manis di kursi mobil.
"Biasanya kan pukul empat sampai lima aja," jawab pak Supratman sambil menutup pintu yang di buka Some tadi dan segera menempati kursi kemudi untuk berangkat.
"Berangkat ya," ujar Supratman sambil mengendarai mobilnya keluar dari area sekolah. Dan membawa mobil itu ke jalan aspal.
"Iya pak," balas Some terdengar cuek lagi. Andai saja pak Supratman tidak menunggunya, mungkin ia bakalan kesusahan di sekolah untuk pulang. Apalagi angkot saja sudah jarang di pukul seperti itu.
"Tadi nyonya dan bapak nanyain non, katanya kenapa bisa belum pulang padahal mau malam," ucap Supratman memberitahukan.
"Terus bapak bilang apa?" tanya Some.
"Mereka sudah tahu kalau non kumpulan, takutnya non keluar malam sama saya," ucap Supratman sambil terkekeh. Some menggelengkan kepalanya, dan tidak menanggapi obrolan itu. Hari yang telah gelap membuat Some lelah dan tertidur di mobil.
**
Ketika mobil yang dikendarai Supratman menginjak pedal rem, Some membuka matanya perlahan. Cahaya dari lampu taman depan rumahnya membuat Some terbangun dan langsung melihat sekitar. Ia bersyukur karena bisa langsung mandi, dan mengganti pakaiannya untuk tidur. Ia buru - buru keluar mobil dan menginjakan kakinya di rumah secara tertatih - tatih.
"Duluan pak," pamit Some tanpa menoleh pada supirnya yang memperhatikannya seolah benda yang harus di jaga.
"Iya non," jawab Supratman sambil menundukkan kepalanya dengan kalem.
Ketika melihat pintu utama rumahnya Some langsung membukanya dengan sukarela. Ia bergitu terkaget ketika melihat di ruang tamu mama dan papanya, memperhatikannya yang baru datang.
"Ma, pa ada di rumah," pekik Some sambil memegang dadanya yang mau meloncat karena mama dan papa biasanya lagi kerja atau di ruang keluarga.
"Iya papa emang sengaja nungguin kamu, anak kesayangan papa," jawab papa sambil tersenyum manis. Some sudah terbiasa dengan sikap itu tapi ia merasa heran karena papanya tidak marah.
"Jawab Some kamu nggak ke mall dulu kan, buat beli buku atau nongkrong dulu di sana," ujar mama lebih ke intimidasi. Ia berdiri karena sehabis mondar - mandir mengkhawatirkannya.
"Enggak abis latihan OSIS ma dan pa," jawab Some sambil memelas.
"Bagus kalau buat kumpulan biasa, meskipun agak telat," kesal mama sambil duduk di dekat papa. Membuat Some menghembuskan nafas tenang, lalu hendak beranjak ke kamar.
"Some kita bicara dulu sebentar," instruksi papa melihat Some yang hampir saja meninggalkan ruang tamu. Sejujurnya bukan niat Some untuk meninggalkan mama dan papa tapi badannya nampak lengket.
Some membalikan badannya sambil memperlihatkan senyumnya. Tapi ia lalu duduk di sofa untuk mendengarkan papa dan mama.
"Apa karena pekerjaan yang tertunda untuk Some dan Ranu?" tanya Some mengingat hari itu mama dan papa batal kerja ke luar negeri.
"Iya hari itu papa dapat tawaran dari seseorang mengingat pewaris pekerja papa," jawab papa sambil melihat mama ragu - ragu.
"Sejak itu juga papa mencarikan kandidat terbaik untuk pendampingnya, setidaknya menjaga dia dan masa depannya," ujar mama dengan senyum tulus membuat Some tak kuasa menahan haru. Tapi masa depan apa, bukannya dia telah di dera penyakit berbahaya, pikir Some.
"Karena kamu juga mau melanjutkan study ke luar negeri dengan jurusan hukum, papa dukung Some," ujar papa sambil memegang tangan anaknya penuh harap. "Kamu harus menerima tawaran dan pilihan terbaik untuk mu," lanjutnya. Some hanya mengerutkan keningnya bingung.
"Itu memang rencana Some pak, dan merupakan pilihan terbaik. Memang ada apa?" tanya Some ingin tahu lebih lanjut.
"Papa udah pilihan beberapa pasangan kamu Some, untuk menjaga pertunangan dan kehidupan kalian ke depan," jawab papa tanpa ragu. Jelas Some sendiri bingung, ketika dirinya tidak punya harapan untuk berkata ada masa depan. Dan disaat itu pula papa merencanakan masa depan jauh dari hal yang belum tentu terjadi. Semuanya terasa hambar untuknya. Pernikahan dan universitas, itu adalah harapan terjauh untuk Some saat ini.
"Tapi pa," ucap Some memberitahu seolah enggan dengan semua itu. Meskipun semuanya tertelan di tenggorokan karena sejujurnya Some masih sedih menyadari semua impiannya.
"Kamu harus melakukannya Some, ingatlah papa punya pilihan terbaik untuk kamu, baik untuk pria itu," ucap mama seolah mendukung papa dan memojokkan Some yang tidak tahu harus berbuat apa.
Dengan tampang cemberut Some meninggalkan ruang tamu, rasanya kesal memikirkan semua rencana papa
**
Di sekolah Some datang lebih pagi dari biasanya. Tapi Some tidak menyadari kalau tadi di kamar mandi, Some menghabiskan waktu lebih lama. Tapi Some juga sadar kalau waktunya berangkat hanya lebih awal tiga menit. Makannya suasana sekolah saat ini masih sama dengan suasana sekolah pas ia berangkat kemarin. Tapi mood Some yang buruk karena pikirannya, membuat Some berjalan menuju kelasnya dengan wajah di tekuk.
Ia melangkahkan kaki berbalut Converse secara tertatih, di koridor sekolahnya. Beberapa siswa menatapnya seolah mencari gosip terbaru dari gadis bernama Something itu. Karena terakhir gosipnya adalah putus dari mantan dan dekat dengan berbagai seleb, yang membuat Some sendiri bete. Di tengah langkahnya dapat Some lihat dia gadis dengan rambut tergerai sedang bersandar gurau di depan kelas, yang biasa di sebut kelas tetangga, karena hanya terhalang dua kelas dari kelasnya Some.
"Some!" pekik Cassie ketika tidak sengaja pandangannya melihat seorang cewek cantik dengan tampilan mirip sekali dengan sahabatnya. Tak sadar dirinya berjingkrak antusias.
"Cas!" balas Some sambil melambai dan bersikap berlari, tapi ada siswa yang menabrak punggungnya dari belakang. Jadi Some menghentikan niatnya, dan memaki cowok itu dengan kesal.
"Ihs nyebelin," kata Some pelan untuk cowok yang terus berjalan santai itu. Dari gelagatnya Some tahu dia siapa, karena dulu sebelum berakhir Some bertemu dengan dia dengan cara seperti ini.
"Maaf," cowok itu berkata perlahan sambil melirik ke arahnya dengan cuek. Dia beneran Daniel, dan mengingatkan Some pada pertemuan dan pertengkaran aneh mereka. Bahkan di pagi hari begini Some masih sering mengejar cowok aneh itu.
Some segera mengalihkan tatapan karena tidak mau terkena rayuan yang mungkin sengaja. "Cassie Dina tungguin gue!" teriak Some ketika melihat Cassie dan Dina yang menatapnya ingin tahu.
"Ayok buruan kesini Some, nanti masuk kelas lho!" jawab Dina sambil memberi isyarat agar Some berlari saja. Mereka kayaknya udah kangen banget sama tingkah Some yang manja dan centil itu. Padahal baru kemarin berbarengan.
"Iya," jawab Some sambil berlari mendahului Daniel yang sedang mengobrol dengan teman sekelasnya. Ia mendatangi Dina dan Cassie, lalu mereka bertiga berpelukan seolah melepas rindu. Tak lupa saling tertawa merasa tingkah mereka kekanak - kanakan.
**