NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU

Ruang tamu rumah besar milik Lukas dan Adelia pagi itu terasa teduh. Tirai putih bergoyang pelan tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka. Aroma kayu manis dari lilin aromaterapi buatan Adelia menyatu dengan wangi kopi yang baru diseduh.

Di tengah ruangan, Bastian Erlangga duduk dengan posisi santai di sofa kulit abu-abu, tangannya menggenggam ponsel yang tadi ia letakkan di meja.

Matanya menatap sekeliling dengan penuh penilaian-dinding dengan pajangan foto pernikahan Lukas dan Adelia, vas bunga di pojok ruangan, dan detail-detail kecil yang menggambarkan suasana rumah tangga muda yang damai.

Tak lama, langkah lembut terdengar dari arah dapur.

Adelia muncul dengan nampan berisi dua cangkir teh hangat dan beberapa kue kering buatan Bik Vivi. Senyum kecil menghiasi wajahnya meski sebenarnya hatinya masih diliputi rasa canggung.

"Ini, Pa, tehnya! Diminum dulu selagi masih hangat," ucapnya sopan sambil meletakkan nampan di atas meja.

Bastian menatap menantunya itu dengan pandangan hangat, senyum tipis muncul di wajahnya yang masih terlihat tampan di usia empat puluh lima tahun itu.

"Terima kasih, Adel. Kamu memang selalu tahu bagaimana caranya membuat orang betah," ucap Bastian.

Adelia tersenyum kikuk. "Ah, Papa bisa saja. Saya cuma... ya, berusaha jadi tuan rumah yang baik."

Saat ia hendak duduk di kursi seberang, Bastian tiba-tiba bergeser sedikit ke samping, memberi ruang di sisi sofa yang ia duduki. "Duduk di sini aja, Del! Biar enak ngobrolnya."

Adelia sempat ragu. Ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa tidak nyaman, tapi ia tidak ingin membuat papa mertuanya tersinggung. Akhirnya, ia menuruti permintaan itu dan duduk menjaga jarak secukupnya.

Bastian mengambil cangkirnya, meniup permukaannya sebentar, lalu menyesap perlahan. "Kamu tahu, Del," katanya pelan. "Akhir-akhir ini Papa sering ngerasa rumah Papa terlalu sepi."

Adelia menoleh, mendengarkan dengan sopan.

"Sepi gimana maksudnya, Pa?"

Bastian menarik napas dalam, pandangannya menerawang ke arah jendela. "Setiap sudut rumah itu masih menyimpan kenangan sama mamanya Lukas... sama almarhumah. Setiap pagi Papa bangun, yang Papa lihat cuma foto-foto dia. Kadang Papa pikir, mungkin Papa harus mulai hidup di tempat baru."

Nada suaranya berat, dan untuk pertama kalinya, Adelia melihat sisi rapuh dari sosok mertua yang selama ini dikenal tenang dan berwibawa itu. Wajah Bastian tampak berubah sendu, matanya memerah menahan emosi.

"Papa kangen banget sama dia, Del..." ucap Bastian, suaranya bergetar. "Papa pikir Papa udah kuat. Tapi, ternyata nggak. Semakin tua, semakin susah buat Papa ngelupain dia."

Adelia terdiam, ikut merasakan kesedihan itu. Ia tahu kehilangan orang yang dicintai memang bukan hal yang mudah.

"Papa... saya turut berduka, ya. Tapi, Mamanya mas Lukas pasti pengin lihat Papa bahagia, bukan terus bersedih kayak gini," katanya lembut.

Bastian mengusap ujung matanya. "Mungkin kamu benar. Tapi, Papa nggak kuat kalau harus terus tinggal di rumah itu."

Ia menatap Adelia, senyumnya kembali muncul, kali ini sedikit samar. "Itu sebabnya Papa ke sini. Papa pengin ngomong sama kalian berdua."

Adelia menatapnya penuh tanya. "Ngomong apa, Pa?"

"Papa pengin tinggal di sini aja."

Suara itu keluar begitu tenang, tapi membuat Adelia nyaris menjatuhkan cangkir di tangannya.

"Di... di sini? Maksud Papa, di rumah saya sama mas Lukas?" Wajahnya berubah kaget.

Bastian mengangguk pelan. "Iya. Kalau Lukas setuju, Papa pengin gabung di sini. Papa janji nggak akan ganggu kalian. Papa cuma pengin suasana yang baru, pengin dekat juga sama keluarga Papa."

Adelia terdiam lama. Otaknya berusaha menimbang. Rumah ini memang besar, tapi keputusan sebesar itu seharusnya dibicarakan dengan Lukas. Ia tahu suaminya sangat menghormati Bastain, tapi juga sangat menjaga privasi rumah tangganya.

"Papa..." akhirnya Adelia bicara. "Saya senang Papa mau dekat sama kami, tapi sebaiknya saya bicarakan ini dulu sama mas Lukas, ya? Biar kami bisa pertimbangkan semuanya."

Bastian tersenyum, anggukannya pelan. "Tentu, Papa ngerti. Papa cuma... pengin kamu tahu dulu aja." Ia menatap Adelia dalam, pandangan itu lembut tapi entah kenapa terasa terlalu lama.

Adelia mencoba mengalihkan topik, meraih cangkir tehnya dan menyesap sedikit. Tapi saat ia melakukannya, Bastian bersandar sedikit lebih dekat.

"Kamu tahu, Del," katanya tiba-tiba, "Mamanya Lukas dulu sering bilang kamu itu perempuan yang spesial. Sekarang Papa ngerti maksudnya."

Adelia menoleh, keningnya berkerut. "Maksud Papa?"

"Ya lihat aja," Bastian tersenyum, kali ini dengan nada yang sulit diartikan. "Kamu cantik, lembut, sabar. Lukas beruntung banget punya istri kayak kamu."

Wajah Adelia mulai memanas. Ia merasa canggung, tak tahu harus menjawab apa. "Terima kasih, Pa... tapi, saya rasa Papa terlalu berlebihan."

"Enggak kok, Papa cuma jujur," jawab Bastian santai. "Kecantikan kamu itu bukan cuma di luar. Papa bisa lihat dari caramu ngomong, caramu memperhatikan orang. Ada sesuatu yang menenangkan di situ."

Adelia tertawa kecil, gugup. "Papa bisa aja..."

Bastian ikut tertawa pelan. Tapi di balik tawa itu, matanya tetap terpaku pada wajah menantunya.

Keheningan mendadak menyelimuti ruangan. Hanya suara jam dinding yang terdengar.

Saat Adelia hendak mengambil kue dari meja, tiba-tiba jari Bastian bergerak-menyentuh punggung tangan Adelia secara tak sengaja... atau mungkin sengaja.

Gerakan itu cepat, tapi cukup untuk membuat Adelia membeku. Ia menarik tangannya perlahan, menatap Bastian dengan mata membesar.

"Oh, maaf..." ucap Bastian, pura-pura tersenyum canggung. "Nggak sengaja."

Adelia hanya bisa mengangguk pelan, meski hatinya berdebar keras. Ada sesuatu yang berubah di udara. Sesuatu yang tidak ia mengerti-tapi membuatnya merasa tak nyaman.

Dari luar, suara Pak Sukir yang sedang berbicara dengan Mbak Sisil terdengar samar, seolah menjadi pengingat bahwa rumah itu tidak sepenuhnya sepi. Namun di ruang tamu, suasana justru terasa terlalu sunyi, terlalu dekat, terlalu berbahaya.

Adelia tersenyum paksa. "Saya ke dapur dulu, Pa. Mau ambilkan buah."

Bastian hanya mengangguk, matanya mengikuti langkah Adelia yang berjalan menjauh.

Ketika pintu dapur tertutup, senyum samar muncul di bibir Bastian. Entah kenapa, pagi itu, rasa sepinya seolah menghilang begitu saja.

÷÷÷

Suasana kantor Vander Group pagi menjelang siang

itu terasa berbeda. Setelah dua jam penuh presentasi dan negosiasi, akhirnya Lukas Ivander bisa bernapas lega. Klien dari Tokyo yang sempat hampir batal bertransaksi, akhirnya menyetujui kerja sama baru dengan nilai kontrak besar. Sebuah pencapaian penting bagi Lukas dan timnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!