Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.
Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?
Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.
Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Setelah candaan itu mereda, suasana berangsur-angsur menjadi serius. Jevan menatap Yudha dan bertanya, "Yudha, kamu memanggil kami ke sini pasti ada sesuatu yang penting, kan?"
Yudha mengangguk, mengedarkan pandangannya, lalu berkata dengan nada berat, "Di sini bukan tempat yang pas untuk bicara. Ayo masuk ke ruang dalam!"
Melihat raut wajah Yudha yang mendadak serius, mereka semua mengangguk mantap. Mereka mencari ruangan yang cukup kedap dan duduk melingkar. Perhatian mereka kini sepenuhnya terpusat pada Yudha.
Yudha menatap Jevan terlebih dahulu dan bertanya dengan tenang, "Jevan, berapa banyak anak buah yang kita miliki di wilayah kekuasaan kita sekarang?"
Setelah menghitung sejenak, Jevan menjawab, "Sepertinya sudah ada sekitar 200 orang. Yudha, maksudmu..."
Yudha mengangguk, lalu berkata dengan suara tenang namun berwibawa, "Kita ingin mengembangkan industri hiburan sekarang, tapi bisnis ini sangat dekat dengan dunia bawah tanah. Kalau kita tidak punya kekuatan yang solid, mustahil kita bisa tumbuh besar dan menguasai pasar."
Jevan dan yang lainnya mengangguk setuju. Mereka sangat paham akan hal itu karena sudah cukup lama berkecimpung di bisnis ini. Industri hiburan malam memang selalu berdampingan dengan kekuatan otot.
"Oleh karena itu, aku berencana memberikan pelatihan keras kepada 200 anak buah kita. Tentu saja, sebelum itu, kita harus menyeleksi siapa saja yang tidak memiliki tekad kuat. Karena pekerjaan kita ini risikonya tinggi dan nyawa taruhannya. Tapi tentu saja, imbalan yang akan kita berikan juga akan sepadan," tegas Yudha.
"Yudha, kenapa tidak kamu jelaskan dulu rencana besarmu?" Jevan mengangguk tanpa banyak komentar.
Yudha berdiri, menautkan tangan di belakang punggung, lalu berjalan mondar-mandir di ruangan itu. "Aku berencana melebarkan pasar kita ke pusat Kota Bandung. Kota itu adalah pusat ekonomi, perputarannya jauh lebih gila daripada di Kabupaten Bandung sini. Menurutku, di sanalah tempat yang tepat bagi kita untuk berkembang."
Tak ada satu pun dari mereka yang menduga ucapan Yudha. Namun, Jevan menyipitkan matanya. "Yudha, aku setuju dengan idemu. Tapi pusat Kota Bandung itu beda dengan wilayah pinggiran. Kita belum kenal medannya, dan untuk ekspansi ke sana butuh modal yang sangat besar—bisa berkali-kali lipat dari modal kita di sini. Belakangan ini ekspansi kita di wilayah kabupaten sudah terlalu cepat; modal kita bahkan belum mulai balik!"
Yudha menoleh dan menatap Jevan dengan senyum tipis yang penuh percaya diri. "Soal pendanaan, kamu tidak perlu ambil pusing. Biar aku yang urus semuanya. Untuk urusan lainnya, bukankah itu cuma masalah koneksi? Kurasa itu bukan hal yang sulit bagi kita sekarang. Selama masalahnya bisa diselesaikan dengan uang, maka itu bukan masalah besar."
Saat ini, PT Titanium Medica sudah menyumbangkan keuntungan yang sangat besar bagi Yudha setiap bulannya. Padahal, itu baru dari lini bisnis awal, bahkan sebelum "Pil Kecantikan" yang legendaris itu resmi dilempar ke pasaran. Yudha yakin, seiring berjalannya waktu dan terbukanya akses pasar yang lebih luas, pundi-pundi rupiah yang masuk akan berkali-kali lipat lebih besar dari sekarang.
"Yudha, aku ikut apa katamu saja! Hidup ini singkat, kalau tidak berani bertaruh, kapan mau maju?" ujar Jevan sambil tertawa lebar.
Yudha menatap Jevan dan membalas senyumnya. "Dua ratus anak buah itu jumlah yang lumayan. Tapi kita hanya butuh kualitas, bukan sekadar kuantitas. Semua orang ini harus menjalani pelatihan terpadu. Mulai dari pertarungan jarak dekat sampai penggunaan senjata api, mereka harus mencapai standar tertentu."
Mendengar kata "senjata api", Jevan dan yang lainnya sontak saling pandang dengan raut terkejut. Di negara dengan aturan kepemilikan senjata yang sangat ketat seperti Indonesia, menyebut soal senjata api bukanlah perkara main-main.
Seolah menangkap keraguan di mata mereka, Yudha terkekeh pelan. "Ini sudah era baru. Main sabet pakai parang atau celurit sudah tidak efektif lagi. Kamu mungkin bisa habisi satu orang, tapi kalau musuhnya lusinan? Mereka tinggal mengejarmu pakai mobil. Jadi, memiliki sesuatu yang mudah disembunyikan seperti pistol tetap menjadi pilihan yang paling masuk akal untuk perlindungan diri."
Pendapat Yudha didukung oleh beberapa orang di sana; lagipula, hampir semua pria punya ketertarikan pada senjata. Namun, Jevan masih tampak ragu. "Tapi zaman sekarang, beli barang seperti itu butuh jalur khusus! Kita tidak punya kenalan di bidang itu."
Yudha mengangguk paham. "Itu memang masalah, tapi bukan berarti mustahil. Aku akan mulai memantau jalur-jalur potensial. Namun sebelum itu, kurasa kita perlu merekrut seseorang dengan pengalaman militer bertahun-tahun untuk melatih kita semua."
Setelah berpikir sejenak, Jevan berkata pada Yudha, "Kalau itu sih gampang. Aku punya teman, mantan sersan yang sudah mengabdi tujuh tahun. Dia dulu instruktur di barak yang melatih bintara baru dalam hal menembak dan bela diri taktis. Sekarang dia sudah pensiun dini dan belum punya pekerjaan tetap. Kurasa dia sangat cocok kalau kita undang bergabung."
Yudha merasa sangat senang mendengarnya. "Kalau begitu, segera hubungi dia! Selama dia mau bergabung, aku berani jamin akan memberinya gaji yang sangat tinggi."
Jevan mengangguk mantap. "Oke! Aku akan coba hubungi dia. Melihat kondisinya sekarang yang merasa kemampuannya tidak terpakai di sipil, kurasa dia tidak akan menolak."
Kelompok itu pun lanjut mendiskusikan detail-detail lainnya. Suasana semakin panas dan bersemangat. Pada dasarnya, ketujuh orang di sana, termasuk Yudha, adalah tipe pria yang memiliki jiwa petarung dan semangat perang yang tinggi. Mereka langsung berada di satu frekuensi yang sama, bahkan sesekali tawa pecah saat membahas strategi yang nekat.
Tak terasa, hari sudah beranjak sore. Yudha melangkah keluar dari Titanium Entertainment. Ia sempat bimbang apakah harus mengunjungi Gisel sore ini. Namun, mengingat ini masih jam kerja, ia mengurungkan niatnya. Meskipun ia bisa saja memanggil Gisel kapan saja, ia tidak ingin mengganggu profesionalitas wanita itu terus-menerus.
Tepat saat Yudha hendak memutuskan untuk kembali ke kampus, Oscar menghampirinya dari belakang dengan senyum ramah.
"Aku hampir lupa, adikku belakangan ini sering menanyakanmu! Dia bilang kalau kamu sudah kembali, kamu harus mampir menemuinya."
"Oh! Maksudmu Hana?" Yudha seketika teringat pada gadis desa yang manis itu. Sudah cukup lama ia tidak bertemu dengannya, dan jujur saja, Yudha merindukannya. Terakhir kali bertemu, Hayati masih di bangku akhir SMP. Apakah dia sudah masuk SMA sekarang? batin Yudha penasaran.
"Di mana Hana sekolah sekarang? Masih SMA?" tanya Yudha sambil menatap Oscar.
Oscar menggelengkan kepalanya. "Adikku sekarang sekolah di SMK Akuntansi! Kalau kamu ada waktu, mampirlah ke sana. Hehe, dia benar-benar mengagumi kamu, lho."