NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 23

***

Aroma kopi yang biasanya memenuhi rumah setiap pagi kini digantikan oleh bau minyak telon yang kuat dan aroma bubur instan yang sedikit gosong. Sesuai anjuran dari Bu Bidan, Laras benar-benar dikunci oleh perintah bedrest. Ranjang jati di kamar utama menjadi dunianya, sementara di luar pintu kamar, suara hiruk-pikuk Bagas yang mencoba menjinakkan dua balita terdengar seperti simfoni kekacauan yang tak kunjung usai.

Bagas baru saja selesai mengganti celana Arka yang belepotan cokelat ketika ponsel di saku celananya bergetar hebat. Itu adalah panggilan kesepuluh dari Sekretaris Desa.

"Halo, Pak Sekdes? Iya, Mas masih di rumah," ucap Bagas sambil menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya, sementara tangannya sibuk mengelap sisa makanan di lantai.

"Tapi Pak Kades, ini masalah mendesak! Perwakilan dari kabupaten sudah di Balai Desa soal sengketa batas tanah Dusun Dua. Warga sudah mulai berkumpul di depan kantor, mereka tidak mau bicara kalau bukan dengan Pak Kades langsung!" Suara di seberang telepon terdengar panik.

Bagas terdiam. Ia melirik ke arah pintu kamar yang terbuka sedikit. Di sana, Laras sedang berbaring miring, wajahnya masih pucat, tangannya terus mengusap perutnya yang kencang. Jika ia pergi sekarang, siapa yang akan menjaga anak-anak? Siapa yang akan membantu Laras jika kontraksi itu datang lagi?

"Beri saya waktu lima menit. Saya akan kabari lagi," jawab Bagas lalu mematikan sambungan.

Ia melangkah masuk ke kamar dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan beban pikirannya. Laras, yang sejak tadi mendengar percakapan itu, mencoba untuk duduk meski pinggangnya terasa panas.

"Mas... pergilah ke Balai Desa," bisik Laras parau. "Mas itu Kepala Desa, warga lebih butuh Mas di sana sekarang. Laras nggak apa-apa, Gilang sama Arka bisa Laras panggil ke sini kalau mereka nakal."

Bagas segera menghampiri Laras, menahan bahunya agar tetap berbaring. "Jangan bergerak dulu, Ras. Ingat kata Bu Siti, satu gerakan salah bisa bahaya."

"Tapi Mas... Laras merasa bersalah. Mas jadi berantakan begini karena Laras. Mas nggak masuk kantor, rumah jadi kacau... Laras merasa nggak berguna," air mata Laras mulai menggenang. Rasa bersalah sebagai istri yang tidak bisa menjalankan perannya kini menghantam lebih keras daripada rasa sakit fisiknya.

Bagas berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan Laras erat. "Jangan pernah bilang kamu nggak berguna. Hari ini Mas baru sadar, selama lima tahun ini kamu menanggung beban yang jauh lebih berat dari urusan sengketa tanah manapun. Dengar, Mas nggak akan pergi. Tapi Mas juga nggak akan membiarkan masalah desa terbengkalai."

**

Keputusan Bagas sudah bulat. Sepuluh menit kemudian, rumah pribadi miliknya itu kedatangan tamu. Pak Sekdes datang membawa tumpukan map besar dan sebuah laptop. Bagas menggelar karpet tipis di lantai kamar, tepat di samping ranjang tempat Laras berbaring.

"Maaf ya, Pak Sekdes. Kantor kita pindah ke sini sementara," ucap Bagas sambil memangku laptopnya.

Pemandangan di kamar itu sungguh tidak biasa. Bagas duduk bersila dengan kemeja dinas yang kerahnya sudah agak miring, di depannya ada peta desa dan dokumen hukum, sementara di pangkuannya duduk Arka yang sedang asyik memainkan pulpen ayahnya. Gilang duduk di sudut ranjang, mewarnai buku gambar sambil sesekali mengobrol dengan Mamahnya.

"Jadi begini Pak, warga Dusun Dua tetap menuntut..." Pak Sekdes mulai memaparkan masalah.

*****

Bersambung...

1
Paradina
😍
Heresnanaa_: Stay tune terus ya kak🙏😍
total 1 replies
arniya
mampir kak, bab pertama udh gereget sm Bagas
Heresnanaa_: Hai Kaka, terimakasih sudah mampir

happy reading yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!