NovelToon NovelToon
Dunia Angkasa

Dunia Angkasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.

Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.

Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?

Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Angin bulan April terasa lembut menyapa pipi Nia, gadis berusia sembilan belas tahun, mahasiswi semester dua, jurusan seni murni di sebuah perguruan tinggi negeri favorit di kotanya.

Nia berjalan menyusuri jalanan kampus yang basah sisa hujan semalam. Awan mendung pun masih setia menggantung, menaungi tubuh ramping Nia yang dibalut dengan kaos oversize putih dan celana panjang kulot warna denim. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, membuatnya terkesan tidak terlalu tomboy.

Dunia Damai Sentosa. Nama yang membuat siapa saja yang mendengarnya pasti merasa tentram. Nia sendiri selalu takjub dengan nama pemberian ibunya, membuatnya bertanya-tanya seperti apa sosok yang menyematkan nama seindah itu padanya saat dia lahir ke dunia ini.

Meskipun pada akhirnya, dia ditelantarkan di depan pintu sebuah panti asuhan, Nia tetap ingin bertemu sosok ibunya. Dari nama yang diberikan padanya, Nia selalu membayangkan ibunya adalah sosok wanita yang lembut dan berhati baik. Karena keadaan lah yang membuat dirinya menelantarkan bayi kecilnya. Nia selalu yakin, bahwa ibunya selalu merindukannya.

Nia menghabiskan masa kecilnya di sebuah panti asuhan. Meski tinggal di panti asuhan, Nia tak pernah sekali pun terlihat murung. Dia selalu ceria membuatnya disukai anak-anak panti yang lain.

"Aang, apa kabar kamu? Kamu dimana sekarang?" gumam Nia sambil berhenti, menatap langit yang masih kelabu.

Aang, teman masa kecil Nia waktu tumbuh di panti, adalah bocah laki-laki yang penuh semangat dan berjiwa petualang. Dia selalu mengajak Nia menyusuri sungai dan perbukitan tak jauh dari panti.

Kedekatan keduanya harus terpisah saat Aang diasuh oleh sepasang pasangan yang baru saja kehilangan putera semata wayang mereka. Dengan berat hati, Aang meninggalkan Nia. Meskipun begitu, Nia bahagia, akhirnya Aang mendapatkan keluarga yang selama ini dia rindukan.

Nia dan Aang masih sering berkomunikasi via telepon dan pesan singkat kala itu. Namun, setelah tiga tahun, tiba-tiba saja Aang tak lagi membalas pesan singkat dari Nia. Nia tak bisa terhubung dengan Aang setiap kali Nia menelepon nomornya.

Nia masih berdiri diam, menatap langit mendung yang semakin gelap.

'Aku jadi ingat kamu setiap kali hari mendung, Ang,'

***

Di gerbang kedatangan penumpang, seorang pemuda tampan tengah berjalan sambil menarik kopernya, mencari seseorang yang membawa papan nama bertuliskan 'Angkasa'.

"Den! Den Angkasa!" teriak pria paruh baya yang membawa papan bertuliskan 'Angkasa' sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Angkasa.

Angkasa berjalan menuju pria paruh baya, yang tak lain adalah Pak Ujang, sopir pribadinya dari saat dia diangkat menjadi bagian keluarga Mahendra.

"Wah! Den Angkasa tambah ganteng aja," puji Pak Ujang sambil menatap Angkasa dari ujung kaki ke ujung kepala berkali-kali.

"Namanya juga cowok, Pak. Wajar kalo tambah ganteng. Kalo saya jadi tambah cantik, ntar Pak Ujang pingsan pas jemput saya," kata Angkasa sambil tersenyum. Pak Ujang terkekeh mendengar candaan Angkasa.

"Mari, Den. Udah ditunggu Nyonya," kata Pak Ujang.

Wajah Angkasa yang semula ramah seketika berubah mendung mendengar kata 'Nyonya'. Pak Ujang yang tahu perubahan mimik Angkasa seketika mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Ehem... Bawaan Den Angkasa cuma satu koper ini? Nggak ada oleh-oleh buat saya?" tanya Pak Ujang sambil mencari-cari barang bawaan Angkasa yang lain. Angkasa tersenyum.

"Saya paketin, besok paling datengnya," kata Angkasa. Pak Ujang manggut-manggut sambil tersenyum.

"Mari, Den," kata Pak Ujang sambil hendak mengambil alih koper Angkasa.

"Udah, saya aja, Pak. Pak Ujang jalan aja," kata Angkasa.

"Eh? Tapi, Den..."

"Udaaah... Katanya ada yang udah nungguin saya di rumah? Keburu jadi nenek sihir ntar," kata Angkasa sambil berjalan menuju pintu keluar bandara. Pak Ujang dengan cepat mengikuti langkah kaki Angkasa yang panjang-panjang.

"Den Angkasa nggak mau mampir kemana dulu gitu?" tanya Pak Ujang sambil menatap kaca spion dalam mobil.

Angkasa terdiam. Ada satu tempat yang sangat ingin dia kunjungi sejak delapan tahun yang lalu, sebelum keberangkatannya ke Jepang. Namun, mamanya tak pernah mengijinkannya kesana.

"Langsung ke rumah aja, Pak," kata Angkasa akhirnya. Pak Ujang perlahan melajukan mobil keluar dari kawasan area parkir bandara.

Angkasa menatap langit mendung yang menitikkan titik-titik kecil gerimis. Ingatannya kembali ke masa empat belas tahun yang lalu, saat dirinya pertama kali tiba di sebuah panti asuhan. Angkasa yang saat itu merasa aneh karena ibunya tiba-tiba membawanya kesana melihat sesosok gadis kecil seusianya yang sangat ceria.

"Ibu, kenapa Ibu bawa Aang kesini? Aang kan masih punya Ibu?" tanya Angkasa dengan nada polos, tanpa tahu apa yang sedang direncanakan ibunya.

"Aang, Aang tunggu Ibu disini ya. Disini aman. Banyak makanan, banyak temen, banyak mainan. Aang boleh main sepuasnya disini," kata ibunya dengan wajah ceria.

"Boleh main sepuasnya?" tanya Aang tanpa menghiraukan kenapa ibunya menyuruhnya menunggu disana. Ibunya mengangguk sambil tersenyum. Aang seketika berlari menuju gadis kecil yang tampak ceria bermain bersama teman-temannya.

Hari itu, adalah hari terakhir Angkasa melihat ibunya. Ibunya tak pernah lagi datang. Ibu panti baru mengatakan yang sebenarnya pada Angkasa saat pasangan suami isteri Mahendra menginginkan Angkasa untuk menjadi bagian dari keluarga mereka.

Angkasa masih teringat, setiap kali langit mendung, dia selalu menatap jauh ke langit. Dan gadis kecil yang selalu ceria itu —Nia namanya— selalu berkata, " Wajah mu sama mendungnya dengan langit itu,"

Angkasa selalu diam jika Nia mengatakan kalimat itu. Karena dia selalu ingin mendengar kalimat selanjutnya.

"Aku akan selalu menjadi matahari yang bersinar sekuat tenaga agar dapat mengembalikan senyum di wajah mu," gumam Angkasa sambil menatap langit mendung dari balik kaca jendela mobil. Pak Ujang melirik ke kaca spion dalam, menatap wajah muram tuan mudanya.

"Ceprot!"

Mobil melindas genangan air yang cukup banyak membuat baju seorang gadis berpayung yang sedang berdiri di tepi jalan basah kuyup. Pak Ujang menyadarinya dan kemudian menepikan mobil untuk meminta maaf. Angkasa melongok ke belakang, melihat apa yang dilakukan sopir pribadinya.

"Aduuuh, maaf, Non! Saya tidak memperhatikan jalan," kata Pak Ujang saat berada di samping gadis yang sibuk mengelap baju basahnya dengan tisu —sebuah tindakan yang sia-sia, tentu saja.

"Eh? Oh... Nggak, apa-apa, Pak. Saya yang terlalu maju berdirinya," kata gadis itu ramah.

"Duuuh... Baju Non jadi basah semua, mana kotor lagi," kata Pak Ujang panik.

"Nggak apa-apa, Pak. Saya cuma tinggal pulang ke kos aja, kok. Kos saya cuma di gang situ," kata gadis itu sambil menunjuk gang di seberang jalan.

"Kenapa, Pak?" tanya Angkasa pada Pak Ujang.

"Ini, Den, tadi saya nyetirnya nggak liat jalan jadi ban mobilnya nginjek genangan trus airnya..."

"Ini buat ganti rugi," kata Angkasa sambil mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari dompetnya.

"Aang?" tanya gadis itu. Angkasa berhenti menghitung uang. Kepalanya bergerak berat menoleh ke arah gadis yang tadi belum sempat dia perhatikan.

"Kamu Aang kan? Angkasa? Angkasa Biru Cakrawala? Iya kan? Ini aku! Kamu inget? Nia! Inget kan?" cerca gadis itu pada Angkasa.

Angkasa mematung. Wajahnya mengeras. Matanya terpaku.

'Dunia Damai Sentosa. Gimana aku bisa lupa nama seindah itu?'

***

1
Nanaiko
Yaa Allah.. ada-ada aja cobaan hidup..
Vivi Zenidar
semoga Nia ada yg menolong... jangan sampai ternodai
Vivi Zenidar
kasihan nasib anak anak panti
Vivi Zenidar
sedihh
Purnamanisa: disclaimer: ini memang kisahnya agak2 sedih gt kak 😅😅
total 1 replies
Vivi Zenidar
Baru baca langsung suka
Purnamanisa: makasih kakak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Nah.. mungkin itu yang dinamakan jodoh, Ang..
Nanaiko
Cowok emang kek gitu, Nia.. nih disini juga ada. Katanya suruh jangan nunggu, suruh cari yang lain.. giliran nomor WA nya diblok, eh malah dilamar. 😅
Purnamanisa: ditarik ulur kek layang-layang ya kak? 😅😅
total 1 replies
Wawan
Hadir
Purnamanisa: makasih kak 😊😊
total 1 replies
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi
Nanaiko
ihiiiiiiirrrr🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!