Sinopsis:
Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.
Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.
"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."
Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: POV DANENDRA ADITAMA
Aku menyandarkan punggung di kap mobil, membiarkan udara pagi Kota K yang dingin menerpa wajahku yang kuyu. Mataku tak lepas dari pintu kayu jati di depan sana. Begitu sosok Azzalia muncul di teras, ada desah lega yang keluar dari dadaku—sebuah beban berat yang seolah terangkat seketika. Dia ada di sana. Nyata. Bukan lagi bayangan yang hilang di tengah kabut Kota J.
Namun, kelegaan itu hanya bertahan sedetik. Begitu mata kami beradu, aku kembali disambut oleh tatapan dingin dan datar yang menjadi ciri khasnya. Suaranya yang ketus saat mengusirku tadi masih terngiang, seolah-olah perjalanan lima jam yang kutempuh di tengah malam tidak berarti apa-apa baginya. Ia bahkan sengaja membuang muka, menghindari tatapanku seolah aku adalah polusi yang merusak pemandangan paginya.
"Kamu benar-benar keras kepala, Zal," batinku getir saat melihatnya melangkah masuk kembali ke dalam rumah dengan bahu yang menegang.
"Masuk dulu, Nen. Jangan diambil hati sikapnya," suara Om Angga membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh, mendapati Om Angga, Tante Anin, dan Tante Nita berdiri menatapku dengan sorot mata yang penuh simpati. Mereka seolah bisa membaca badai yang sedang mengamuk di dalam hatiku.
"Azzalia memang seperti itu, Nak. Kamu harus lebih bersabar," ucap Tante Nita lembut sambil menepuk pundakku saat aku melangkah masuk ke ruang tamu. "Sejak kecil, dunianya sudah terlalu berat. Mulai dari merawat ibunya yang sakit-sakitan bertahun-tahun, sampai kehilangan beliau delapan tahun lalu. Belum sempat dia bernapas lega, cobaan ayahnya datang."
"Dia belajar untuk menjadi dingin supaya nggak hancur, Nen," tambah Om Angga sambil menarikkan kursi untukku di meja makan. "Bagi Azzalia, menunjukkan perasaan adalah tanda kelemahan. Dia menutup diri bukan karena benci padamu, tapi karena dia nggak tahu lagi gimana cara menghadapi kasih sayang tanpa rasa takut akan kehilangan."
Aku menatap pintu kamar Azzalia yang tertutup rapat. Penjelasan mereka membuat dadaku sesak. Selama ini aku hanya tahu dia pergi, tanpa benar-benar menyelami sedalam apa luka yang ia jahit sendiri tanpa bantuan siapa pun.
"Saya nggak akan menyerah, Om, Tante," jawabku mantap, suaraku rendah namun penuh keyakinan. "Kalau dia butuh waktu seribu tahun lagi untuk mencair, saya akan tetap di sini menjadi matahari untuknya. Saya sudah kehilangan dia sekali, dan saya nggak akan membiarkan kebodohan yang sama terulang lagi."
Aku tahu, di balik pintu kamar itu, Azzalia mungkin sedang sibuk mengemasi barang-barangnya untuk melarikan diri kembali ke Kota J sore nanti. Tapi kali ini, aku tidak akan membiarkannya lari sendirian. Jika dia ingin kembali ke kesibukan kantor untuk bersembunyi, maka aku akan memastikan bahwa di kantor itu pun, dia tetap akan menemukan pelabuhan yang sama.
"Lanjutkan makanannya, Nen. Habiskan, mumpung masih hangat," ujar Om Angga sambil menyodorkan piring berisi lauk tambahan. Aku tersenyum tipis dan kembali menyuap nasi goreng buatan Tante Nita yang memang tidak pernah gagal.
"Papa sama Mama sehat, Nen?" tanya Om Angga kemudian, membuka percakapan yang lebih santai.
"Mereka sehat, Om. Kemarin baru saja pulang dari perjalanan bisnis di Thailand," jawabku sopan. Aku memang jarang bertemu orang tuaku akhir-akhir ini karena kesibukan masing-masing, tapi komunikasi kami tetap terjaga.
"Syukurlah kalau begitu," Om Angga manggut-manggut. Ia menyesap tehnya sejenak sebelum melontarkan pertanyaan yang sering kudengar dari kolega Papa. "Tapi Om penasaran, kamu kenapa kok nggak lanjutin usaha papamu saja? Padahal cabangnya sudah di mana-mana."
Aku terkekeh pelan, meletakkan sendokku. "Enggak dulu, Om. Saya lebih suka bekerja di luar, mencari tantangan sendiri tanpa bayang-bayang nama besar Papa. Rasanya lebih puas kalau berhasil karena kaki sendiri."
"Wah, tipikal kamu sekali ya, mandiri dan keras kepala," gurau Om Angga yang disambut tawa oleh Tante Anin dan Tante Nita.
Suasana di meja makan mendadak semakin ramai ketika Valerie muncul dari arah kamar Azzalia dengan wajah sedikit ditekuk, namun langsung ikut bergabung.
"Keras kepalanya nurun ke siapa ya, Pa? Kayaknya ada yang setipe nih di rumah ini," celetuk Valerie sambil melirik ke arah kamar Azzalia, lalu beralih menatapku dengan jahil. "Nen, lo beneran mau nungguin 'si kura-kura' itu keluar? Dia lagi sibuk packing, katanya mau kabur sore ini karena ada 'gangguan keamanan' di Kota K."
Aku hanya tersenyum simpul menanggapi lelucon Valerie. Kami pun larut dalam perbincangan seru. Om Angga mulai mengeluarkan koleksi lelucon bapak-bapaknya yang garing namun entah kenapa selalu berhasil membuat kami tertawa. Untuk sejenak, aku merasa bukan sedang berada di rumah rekan bisnis atau atasan, melainkan di tengah keluarga yang sudah lama tidak kukunjungi.
Namun, meski aku tertawa dan membalas candaan mereka, fokusku tidak pernah benar-benar lepas dari daun pintu kamar yang tertutup rapat itu. Aku tahu Azzalia sedang mendengarkan dari balik sana. Aku ingin dia tahu bahwa kehadiranku di sini bukan untuk merusak dunianya, melainkan untuk menunjukkan bahwa di dunia yang ia anggap kejam ini, masih ada tawa yang menunggunya jika ia mau keluar.
"Biarkan saja dia packing, Val," ujarku cukup keras agar suaraku menembus dinding kamar. "Sore nanti aku juga balik ke Kota J. Jadi kalau ada yang butuh 'pengawalan keamanan' biar nggak nyetir motor lima jam sendirian saat lelah, aku siap sedia."