NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Runtuhnya Langit

Langit malam itu tampak biasa saja. Bulan bersinar penuh di antara gumpalan awan tipis, seolah tak tahu bahwa di salah satu rumah mewah di kawasan permata hijau, Jakarta Selatan, sebuah langit keluarga sedang runtuh.

Aisha Prameswari berdiri di depan lemari dapurnya, kedua tangannya gemetar memegang cangkir kopi yang sudah dingin. Ia mendengar suara langkah kaki berat di lantai atas. Lalu suara itu berhenti. Sunyi yang menyusul justru lebih menakutkan daripada teriakan.

Ia menutup mata, mencoba mengingat bagaimana semuanya bisa sampai di titik ini.

Tiga jam sebelumnya, rumah ini dipenuhi tawa. Arka, suaminya, baru saja pulang dari proyek di Bali setelah dua minggu. Baskara, putra mereka yang berusia dua belas tahun, berlarian ke pintu begitu mendengar suara mobil masuk. Aisha memperhatikan dari ambang pintu dapur, tersenyum melihat pelukan hangat antara ayah dan anak itu.

“Ayah bawa oleh-oleh apa?” tanya Baskara dengan mata berbinar.

“Coba tebak,” Arka mengacak rambut anaknya, lalu menoleh pada Aisha. Matanya lembut, penuh rindu. “Istriku juga mau oleh-oleh?”

Aisha mendekat, membiarkan suaminya mengecup keningnya. “Yang penting kamu pulang dengan selamat.”

Mereka makan malam bersama seperti biasa. Arka bercerita tentang proyek vila di pinggir pantai yang sedang ia kerjakan. Baskara bercerita tentang nilai matematikanya yang sempurna. Aisha hanya tersenyum, kadang menimpali, namun ada sesuatu di matanya yang tak bisa dijelaskan. Sesuatu yang gelisah.

Setelah makan malam, Arka berkata ingin istirahat sebentar di kamar. “Lelah sekali perjalanannya,” ujarnya sambil menaiki tangga.

Baskara bersemangat ingin menunjukkan kepada ayahnya video drone yang baru ia rekam di sekolah. Ia mengambil tablet ayahnya yang tertinggal di meja ruang tamu. Tanpa sengaja, jarinya menyentuh notifikasi aplikasi CCTV yang masih aktif.

Aisha tidak tahu persis apa yang terjadi di ruang tamu setelah itu. Ia baru menyadari ada yang tidak beres ketika mendengar suara tablet terjatuh di lantai marmer. Bunyinya keras, memecah keheningan malam.

“Mas?” Aisha berjalan ke ruang tamu.

Yang ia lihat membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak.

Baskara berdiri di tengah ruangan, tablet tergeletak di kakinya, layarnya masih menampilkan rekaman CCTV. Wajah anak itu pucat pasi, matanya terbuka lebar dengan ekspresi yang tak pernah Aisha lihat sebelumnya—seperti orang yang baru saja menyaksikan kematian.

“Na... Nak,” Aisha merasakan ada yang salah. Ia melangkah mendekat.

“Jangan!” Baskara memekik. Suaranya melengking, penuh ketakutan dan kemarahan yang belum pernah ia tunjukkan seumur hidupnya. “Jangan dekati aku!”

Aisha membeku. Ia menunduk, melihat layar tablet yang masih menyala. Di sana, rekaman CCTV dari garasi rumah mereka, tanggal dua minggu lalu. Tampak jelas sosoknya sedang berpelukan dengan seorang pria. Bukan Arka. Bukan suaminya.

Wajah pria itu menghadap kamera sejenak. Ren Aldebaran.

Dunia Aisha berputar.

“Baskara...” suaranya hanya bisikan.

“IBU SELINGKUH!” teriak Baskara, suara anak laki-laki yang baru memasuki masa puber itu pecah, membawa beban yang terlalu berat untuk usianya. “IBU... dengan Om Ren... IBU!”

Tangisan Baskara pecah. Bukan tangisan biasa. Itu adalah tangisan kehancuran, tangisan seorang anak yang baru saja kehilangan seluruh dunianya dalam satu frame video.

Aisha berlutut. Ia tak tahu kapan lututnya menyentuh lantai. Air matanya jatuh, namun ia bahkan tak berani meraih anaknya.

“Baskara, dengarkan Ibu—”

“AKU TIDAK MAU MENDENGAR!” Baskara mundur, tubuhnya membentur meja. Vas bunga di atasnya bergoyang lalu jatuh, pecah berkepingan. “Ibu jahat! Ibu... Ibu...”

Tangisnya mereda bergantian dengan isakan sesak. Aisha melihat bagaimana tubuh kecil anaknya gemetar hebat. Baskara memegangi kepalanya sendiri seolah ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.

“Ibu bohong semua,” bisik Baskara. “Ibu bilang Ibu sayang Ayah... Ibu bilang keluarga kita sempurna... Ibu bilang...”

Aisha merasakan dadanya seperti ditusuk ribuan jarum. Setiap kata yang keluar dari mulut anaknya adalah pisau. Karena ia tahu, semuanya benar. Ia yang selama ini membangun istana dari kebohongan.

“Aku benci Ibu,” kata Baskara. Kali ini suaranya datar. Dingin. Lebih menakutkan dari teriakan.

Lalu anak itu berlari menaiki tangga, meninggalkan Aisha yang masih berlutut di antara pecahan kaca dan tablet dengan layar retak yang masih setia menayangkan aibnya.

Aisha mendengar suara pintu kamar Baskara dibanting. Lalu suara Arka yang kaget, bertanya apa yang terjadi. Suara Baskara yang kembali meninggi, meneriakkan sesuatu yang tak sanggup Aisha dengar dengan jelas.

Setelah itu, hanya ada keheningan yang panjang.

Kini Aisha berdiri di dapur. Cangkir kopi dingin di tangannya sudah tiga puluh menit tidak berpindah tempat. Ia mendengar langkah kaki Arka turun dari lantai atas.

Arka muncul di ambang pintu dapur.

Wajah suaminya tidak marah. Itu yang membuat Aisha lebih takut. Wajah Arka kosong, seperti rumah yang seluruh perabotnya telah diambil. Ia menatap Aisha dengan mata yang tak lagi memiliki cahaya yang Aisha kenali.

“Arka...” Aisha memulai, suaranya serak.

“Sudah berapa lama?” potong Arka. Suaranya tenang. Terlalu tenang.

Aisha menggigit bibirnya. “Enam bulan.”

Arka menghela napas panjang. Ia menutup matanya sejenak, dan untuk pertama kalinya Aisha melihat bahu pria yang selalu ia anggap kokoh itu bergetar.

“Enam bulan,” ulang Arka lirih. “Aku di Bali, bekerja membangun vila yang kusebut namanya dengan namamu, sementara kalian...”

“Arka, aku minta maaf—”

“Maaf?” Arka membuka mata. Masih tidak ada amarah, hanya kehampaan yang dalam. “Aisha, anak kita yang melihat. Anak kita yang berumur dua belas tahun yang harus melihat ibunya berselingkuh di CCTV rumahnya sendiri.”

Aisha merasakan lututnya kembali melemah. Ia menyandarkan tubuh ke meja dapur.

“Dia tidak mau keluar dari kamar,” Arka melanjutkan. “Dia membentakku ketika aku mencoba masuk. Dia bilang... dia bilang dia tidak ingin melihat siapapun dari keluarga ini.”

Kata-kata itu menghantam Aisha lebih keras daripada tamparan.

“Aku akan menginap di hotel malam ini,” kata Arka. “Aku tidak bisa... aku tidak bisa berada di rumah yang sama denganmu sekarang.”

“Arka, jangan pergi. Kita bicarakan—”

“Bicarakan apa?” Arka memotong, dan akhirnya nada marah mulai menyelinap. “Kau ingin bicara tentang bagaimana kau mengkhianati kami? Atau kau ingin bicara tentang bagaimana kau mempermalukan aku dengan pria yang kukira sahabatku sendiri?”

Nada suara Arka meninggi. Aisha mundur selangkah.

“Ren sudah kukenal sejak SMA. Dia yang membantuku mendapatkan proyek pertama. Dia yang menemani aku ketika ayahku meninggal. Dan kau...” Arka menggeleng, tertawa pahit. “Kau memilihnya. Di atas kami semua.”

“Bukan seperti itu,” Aisha berusaha. “Aku tidak pernah mencintainya. Itu hanya... aku merasa kesepian, Arka. Kau selalu pergi. Aku butuh seseorang yang—”

“Jangan,” Arka mengangkat tangan, menghentikannya. “Jangan jadikan aku alasan. Aku memang sering pergi karena aku bekerja untuk keluarga ini. Tapi aku tidak pernah, tidak SEKALI PUN, melirik wanita lain. Karena aku sudah punya yang terbaik di rumah. Atau setidaknya itu yang aku pikirkan.”

Aisha tak bisa menjawab. Karena Arka benar. Ini bukan tentang kepergiannya. Ini tentang kelemahannya sendiri.

“Aku akan mengurus proses perceraian besok,” kata Arka.

Aisha tersentak. “Apa?”

“Kau dengar.”

“Arka, jangan lakukan ini pada keluarga kita. Baskara masih kecil—”

“Kau seharusnya memikirkan itu enam bulan lalu, Aisha.” Arka sudah membalikkan badan. “Baskara sekarang lebih membutuhkan lingkungan yang sehat. Bukan lingkungan dengan kebohongan.”

“Kau tidak bisa mengambil Baskara dariku!” Aisha berlari menghadang pintu. “Dia anakku juga!”

Arka menatapnya lama. “Dia lebih dari itu. Dia adalah satu-satunya alasan aku tidak membanting wajahmu ke dinding sekarang. Tapi kau benar, dia juga anakmu. Jadi biar pengadilan yang memutuskan.”

Arka mendorong pintu dan keluar. Aisha mendengar suara mobil menyala, lalu perlahan menjauh.

Rumah itu kembali sunyi. Sunyi yang pekat, sunyi yang membuat Aisha bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu tidak karuan.

Ia menaiki tangga dengan langkah berat. Di lorong, ia mendengar suara tangis tertahan dari kamar Baskara. Tangis yang sengaja diredam, seolah anak itu tidak ingin siapapun mendengarnya.

Aisha berdiri di depan pintu kamar putranya. Ia mengangkat tangan, hendak mengetuk, tapi jari-jarinya hanya menggantung di udara.

“Baskara...” panggilnya lirih.

Tangis di dalam berhenti seketika. Lalu suara Baskara terdengar, lantang meski serak:

“PERGI! AKU TIDAK MAU LIHAT IBU! IBU BUKAN IBUKU LAGI!”

Aisha menekan telapak tangannya ke pintu. Air matanya jatuh tanpa henti.

“Nak, Ibu mohon...”

“KATA IBU IBU SAYANG AKU! TAPI IBU BOONG! IBU LEBIH MEMILIH OM REN! IBU MEMBOHONGI AKU DAN AYAH!”

Setiap kata adalah panah. Setiap teriakan Baskara menghancurkan sisa-sisa kekuatan yang masih Aisha miliki.

“Ibu tahu Ibu salah,” Aisha berbisik, tahu bahwa suaranya mungkin tak terdengar jelas di balik pintu. “Tapi Ibu mohon, jangan benci Ibu. Ibu tidak akan bisa hidup kalau kau membenciku.”

Diam.

Lalu suara Baskara terdengar lagi. Kali ini lebih tenang, namun justru lebih mematikan.

“Ibu memang tidak pantas hidup.”

Aisha merasakan kakinya kehilangan tenaga. Ia meluncur ke lantai, duduk bersandar pada pintu kamar putranya. Di sisi lain pintu, ia bisa mendengar Baskara juga duduk, bersandar di tempat yang sama—hanya terpisah setebal kayu dan jarak yang kini terasa seperti lautan tak bertepi.

“Aku akan membenci Ibu selamanya,” kata Baskara dari balik pintu. “Aku akan membuat Ibu menyesal. Sumpah.”

Aisha menutup matanya. Dalam gelap di balik kelopak matanya, ia melihat masa depan yang suram terbentang. Rumah yang dulu hangat kini menjadi penjara bagi mereka bertiga. Dan ia sendiri yang membangun penjara itu, bata demi bata, dengan kebohongan dan kelemahannya.

“Baskara,” ucapnya sekali lagi, hanya untuk menyebut nama anak yang sangat ia cintai itu.

Tidak ada jawaban.

Aisha mendengar langkah kaki kecil menjauh dari pintu. Lalu suara tempat tidur berderit pelan. Tangis Baskara kembali terdengar, namun kali ini seperti sengaja ditutup bantal.

Aisha tetap duduk di lorong itu. Ia mendengar jam dinding di ruang keluarga berdentang dua belas kali. Tengah malam telah tiba. Di rumah yang sama, di bawah atap yang sama, istri yang telah mengkhianat, suami yang pergi dengan hati hancur, dan anak yang kehilangan seluruh dunianya.

Ia melihat tangannya sendiri. Jari-jari yang dulu lembut mengusap rambut Baskara ketika demam, yang dulu menggenggam erat tangan Arka di hari pernikahan. Kini tangan itu gemetar, kotor oleh air mata dan debu lantai.

Telepon selulernya bergetar. Sebuah pesan masuk.

Aisha mengambil ponsel dengan harapan—mungkin Arka, mungkin Baskara yang meminjam ponsel ayahnya.

Tapi layar menunjukkan nama yang membuat perutnya mulas: Ren Aldebaran.

Pesan itu hanya berbunyi: “Aku dengar semuanya sudah terbongkar. Aku bisa menjemputmu jika kau mau.”

Aisha memegang ponsel itu, membaca ulang pesan yang sama. Orang yang menjadi awal dari kehancuran ini, orang yang ia biarkan merusak keluarganya sendiri, menawarkan pelarian.

Di balik pintu, tangis Baskara perlahan mereda, berganti dengan suara napas panjang yang menandakan anak itu akhirnya terlelap—terlelap dengan air mata yang masih basah di pipi dan hati yang mulai dipenuhi kebencian.

Aisha mengetik balasan untuk Ren.

Jarinya berhenti di atas tombol kirim.

Ia melihat pintu kamar Baskara. Di bawah celah pintu, ia bisa melihat lampu tidur anaknya masih menyala—lampu berbentuk bulan yang sejak Baskara berusia tiga tahun selalu ia nyalakan setiap malam karena anak itu takut gelap.

Malam ini, Baskara mungkin akan tidur dalam gelap karena ia lebih takut pada kenyataan daripada pada kegelapan.

Aisha menghapus pesan yang belum terkirim.

Ia mematikan ponselnya. Lalu ia membaringkan tubuhnya di lorong, di depan pintu kamar putranya, seperti anjing setia yang diusir majikannya namun tetap menjaga.

Di tengah malam yang sunyi, Aisha berbisik pada pintu:

“Ibu janji, Nak. Ibu akan memperbaiki semuanya. Ibu akan membuatmu bangga lagi. Ibu akan menebus semua kesalahan Ibu. Biar bagaimana pun caranya... Ibu akan membuatmu mencintai Ibu lagi.”

Tapi di dalam kamar, Baskara yang ternyata belum tidur mendengar setiap kata itu. Ia membalikkan badan, membelakangi pintu, dan berbisik pada bantalnya:

“Tidak akan, Bu. Tidak akan.”

Dan di sanalah kehancuran dimulai—bukan dengan pertengkaran besar, bukan dengan perceraian yang ramai, tapi dengan dua orang yang saling mencintai duduk terpisah oleh satu pintu, dengan jarak yang tidak akan pernah bisa diukur lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!