NovelToon NovelToon
TEMAN SEKAMAR

TEMAN SEKAMAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Losmen Pantura

Sebuah bangunan dua lantai berarsitektur lawas peninggalan Belanda berdiri di seberang jalan, dengan papan nama neon yang berkedip-kedip hurufnya: LOSMEN MAWAR.

Bangunan itu tampak suram. Cat putihnya sudah kusam dan dipenuhi lumut di bagian bawahnya. Tanaman merambat menutupi sebagian jendelanya yang berteralis besi karatan. Begitu Luna melangkah masuk ke area lobi yang hanya diterangi lampu pijar kuning lima watt, bau kapur barus dan kayu lapuk langsung menusuk hidung.

"Ini bukan penginapan," komentar Nando, hidungnya berkerut jijik saat ia melihat sofa kulit sintetis di lobi yang busanya sudah keluar. "Ini lokasi syuting film horor murahan. Luna, tolong katakan padaku kita tidak akan tidur di tempat yang bahkan kecoak pun mungkin ragu untuk tinggal."

"Ssst! Diamlah, Nando," desis Luna pelan. "Uangku hanya cukup untuk menyewa kamar di sini dan menyewa mobil besok. Kau pikir aku mau tidur di sini?"

Di meja resepsionis, duduk seorang pria tua berkacamata tebal yang sedang mendengarkan radio transistor butut yang menyiarkan tembang campursari. Pria itu memberikan kunci bernomor 13 pada Luna setelah Luna membayar dengan beberapa lembar uang lima puluh ribuan yang sudah lecek.

"Kamar di pojok lantai dua, Neng," ucap bapak itu dengan suara serak. "Jangan lupa kunci pintu rapat-rapat. Dan kalau dengar suara orang mandi jam dua pagi, jangan diintip."

Luna menelan ludah. "Baik, Pak."

Tangga kayu menuju lantai dua berderit panjang setiap kali Luna menginjakkan kakinya, seolah memprotes kehadiran makhluk hidup. Lorong lantai dua sangat panjang dan temaram. Pintunya berderet saling berhadapan. Suasana di sini sangat sunyi, anehnya tidak terdengar suara televisi atau obrolan dari kamar lain. Seakan-akan hanya Luna tamu di losmen ini.

Ketika Luna berhenti di depan pintu nomor 13, Nando yang sedari tadi terdiam tiba-tiba melayang menembus pintu kayu tersebut. Hanya butuh waktu dua detik sebelum kepala pria itu muncul kembali dari balik pintu.

"Luna, kamar ini sudah ada yang menempati," lapor Nando dengan wajah datar.

"Hah? Maksudmu bapak tadi salah kasih kunci? Ada orang di dalam?" Luna bersiap turun lagi untuk protes.

"Bukan orang," ralat Nando. "Seorang kakek tua tanpa kaki bagian bawah, sedang duduk di atas lemari sambil mengisap cerutu gaib yang baunya seperti daun kering terbakar. Dia menatapku seolah aku ini penyusup."

Luna memejamkan mata dan memijat pangkal hidungnya. Sakit kepalanya mulai kambuh. "Luar biasa. Paket komplit. Losmen murah dan bonus penunggu."

"Tenang saja, biar aku yang urus," Nando menyeringai congkak. Tubuhnya seketika berpendar dengan cahaya biru citrus yang sangat terang, menyilaukan mata. Bau wangi parfum mahalnya langsung menelan bau kapur barus di lorong itu. Pria itu kembali menembus masuk ke dalam kamar.

Luna menempelkan telinganya ke daun pintu. Dari dalam, ia tidak mendengar suara Nando, namun ia bisa merasakan perubahan tekanan energi yang ekstrem. Udara di sekitarnya menghangat tiba-tiba, diikuti oleh suara pekikan serak yang terdengar sangat ketakutan, seperti suara kucing yang ekornya terinjak.

Satu detik kemudian, pintu kayu itu bergetar hebat. Dari celah bawah pintu, asap kelabu melesat keluar dengan kecepatan kilat, merayap di lantai lorong, menabrak tembok, dan menghilang ke arah tangga seolah sedang dikejar oleh malaikat maut. Bau cerutu daun kering itu lenyap seketika.

Pintu nomor 13 dibuka dari dalam oleh Luna (karena Nando tidak bisa memutar kenopnya). Di tengah ruangan yang sempit dan berdebu itu, Nando berdiri tegak sambil menepuk-nepuk tangannya yang transparan, seolah baru saja membersihkan debu.

"Masalah selesai," ucap Nando bangga, mengangkat dagunya. "Aku memberitahunya bahwa ini adalah kamar kelas Executive Suite sekarang, dan staf yang tidak memiliki kaki tidak diperbolehkan berada di ruanganku. Dia sangat kooperatif setelah aku membakar sedikit ujung cerutunya dengan auraku."

Luna tidak bisa menahan tawa kecilnya. Tawanya renyah, meski tertahan oleh kelelahan. Kepribadian Nando yang luar biasa arogan namun mematikan bagi makhluk halus ini benar-benar hiburan tersendiri di tengah kengerian yang mengincar nyawa mereka.

"Terima kasih, Pak Satpam," Luna masuk, mengunci pintu dari dalam, dan segera melakukan rutinitas barunya. Ia membuka plastik garam krosok dan mulai menaburkannya di sepanjang celah pintu serta jendela kamar yang menghadap ke jalanan sepi. Setelah itu, ia meletakkan ranselnya di atas meja rias kayu yang kacanya sudah kusam dan retak.

Kamar itu hanya berisi satu ranjang pegas yang sprainya sudah menguning, lemari kayu kecil, dan sebuah kipas angin yang menempel di dinding. Luna menjatuhkan dirinya ke atas kasur. Debu halus beterbangan saat tubuhnya menghantam pegas yang berderit nyaring. Ia tidak peduli. Seluruh ototnya berteriak menuntut istirahat.

Nando melayang mendekat, mengambil tempat duduk di tepi kasur. Ia tidak menekan kasur itu sama sekali, namun Luna bisa merasakan hawa dingin yang nyaman dari tubuh astralnya, seperti berada di dekat pendingin ruangan bertenaga tinggi.

Keheningan perlahan menyelimuti ruangan bernomor 13 itu. Hanya terdengar suara dengungan kipas angin yang berputar lambat.

Luna memiringkan tubuhnya, menatap profil samping wajah Nando. Fitur wajah pria itu sangat sempurna; rahang yang tegas, hidung mancung, dan bulu mata yang tebal. Namun, pendar biru di tubuhnya semakin memudar dibandingkan saat pertama kali mereka bertemu di gang Jakarta. Pria ini sedang kehabisan waktu.

"Nando..." panggil Luna pelan, suaranya nyaris seperti bisikan.

"Hm?" Nando menoleh. Tatapannya yang tajam kini melembut saat bersitatap dengan mata lelah Luna.

"Menurutmu... apa yang akan terjadi kalau kita berhasil menghancurkan altar itu besok?" Luna bertanya, menyuarakan ketakutan terbesar yang diam-diam menggerogoti hatinya sejak mereka naik kereta.

Nando mengerutkan keningnya. "Tentu saja ikatan Rantai Sukma itu akan hancur. Dukun keparat itu akan terkena serangan balik dari ilmu hitamnya sendiri, Bara akan kehilangan kekuatan pelindungnya dan bisa kita jebloskan ke penjara dengan bukti dokumen ini. Dan aku... aku akan kembali ke tubuhku."

Luna menelan ludah. Ada rasa sesak yang tiba-tiba bersarang di dadanya. "Dan setelah kau bangun... apakah kau akan mengingat semua ini?"

Pertanyaan itu membuat Nando terdiam. Ruangan itu terasa semakin hening.

"Ki Ardi bilang padaku saat kau sedang memeriksa halaman belakang rumahnya," lanjut Luna, menundukkan pandangannya ke sprei yang menguning, "bahwa roh yang terpisah dari raganya karena koma... sering kali menganggap perjalanan astralnya hanyalah sebuah mimpi panjang. Saat mereka bangun, memori manusia mereka akan mengambil alih. Kebanyakan dari mereka... melupakan segalanya. Melupakan apa yang terjadi selama mereka menjadi roh. Melupakan siapa yang mereka temui."

Nando menatap Luna dengan mata membelalak. Ia baru mengetahui hal ini. "Maksudmu... aku akan melupakan pengkhianatan Bara? Melupakan pencarian ini?"

"Mungkin," Luna mengangguk pelan. "Atau kau hanya akan mengingatnya samar-samar, seperti potongan mimpi yang aneh. Dan yang paling penting... kau mungkin akan melupakan aku, Nando."

Kata-kata itu meluncur begitu saja, membawa serta kegetiran yang tak bisa disembunyikan. Luna baru menyadari betapa ia sudah sangat terbiasa dengan kehadiran pria arogan ini. Selama belasan tahun, Luna selalu menjadi pihak yang menatap, bersembunyi, dan berlari dari dunia gaib sendirian. Nando adalah entitas pertama yang berdiri di depannya, melindunginya, dan tidak menganggapnya gila. Pikiran bahwa Nando akan terbangun sebagai CEO kaya raya dan melupakannya, membuatnya merasa seperti kembali dilempar ke dalam jurang kesepian yang gelap.

Mendengar itu, rahang Nando mengeras. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Luna. Mata pria itu menyala oleh tekad yang membara.

"Dengarkan aku, Luna," suara Nando bergema, rendah dan penuh dengan sumpah. "Otak fisikku di rumah sakit itu mungkin akan kebingungan, tapi jiwaku tidak akan pernah lupa. Aku bukan pria yang mudah melupakan utang budi. Dan aku tidak akan melupakan gadis yang berlari menuruni empat puluh lima lantai hanya untuk menyelamatkan hidupku."

Perlahan, Nando mengulurkan tangannya yang tembus pandang. Ia menempelkan telapak tangannya ke pipi Luna. Tentu saja, tidak ada sentuhan kulit yang terjadi. Hanya hawa dingin yang luar biasa yang menyapu pipi Luna, namun entah mengapa, itu terasa lebih intim daripada pelukan fisik mana pun.

"Jika aku melupakanmu saat aku bangun nanti," lanjut Nando, matanya mengunci pandangan Luna, "maka kau harus datang ke rumah sakit. Kau tampar wajahku keras-keras. Kau teriakkan namaku. Bawa aku kembali pada kenyataan bahwa aku berutang nyawa padamu. Tapi aku berjanji padamu, Luna... aku akan mengingat setiap omelanmu, setiap mangkuk mi instan murahmu, dan setiap garis ketakutan di wajahmu yang berubah menjadi keberanian."

Tanpa sadar, setetes air mata jatuh dari sudut mata Luna. Ia tidak tahu apakah itu karena kelelahan, rasa takut akan hari esok, atau karena janji manis dari seorang hantu yang tidak memiliki masa depan pasti. Luna mengangkat tangannya, menempelkannya di atas tangan Nando yang berada di pipinya.

Dan untuk kedua kalinya, keajaiban aneh itu terjadi.

Selama satu detak jantung, tangan Luna tidak menembus aura Nando. Ia bisa merasakan tekstur kasar dan dingin dari buku-buku jari Nando. Resonansi Jiwa. Frekuensi mereka bertemu pada titik emosi terdalam. Nando pun merasakan hangatnya kulit Luna. Mata keduanya membelalak tak percaya.

Namun sensasi fisik itu lenyap sama cepatnya dengan saat ia datang. Tangan Luna kembali menembus udara, jatuh ke pangkuannya.

"Kita terhubung, Luna," bisik Nando takjub, menatap tangannya sendiri. "Bahkan kematian tidak bisa menghalangi resonansi kita. Jangan pernah meragukan ingatanku lagi."

Luna tersenyum, senyum paling tulus dan lepas yang pernah ia tunjukkan. Rasa sesak di dadanya menguap. "Baiklah, Tuan CEO. Jika kau lupa padaku, aku pastikan aku akan menagih biaya perlindungan gaib dengan tarif per jam."

Nando terkekeh pelan. "Itu baru semangat kapitalis yang aku suka."

Kelegaan yang manis itu merilekskan otot-otot Luna. Rasa kantuk yang sangat berat akhirnya menyerang. "Tidurlah, Luna," ucap Nando lembut. "Besok kita akan masuk ke neraka Alas Roban. Malam ini, biar aku yang berjaga. Tidak ada satu pun kecoak gaib yang akan menembus kamar ini."

Luna mengangguk. Ia memejamkan matanya, dan dalam hitungan menit, napasnya menjadi teratur. Ia jatuh ke dalam tidur yang dalam dan tanpa mimpi, dijaga oleh ksatria berpendar biru di sisinya.

Namun, kedamaian di Losmen Mawar itu hanya berlangsung beberapa jam.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖......

...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...

...****************...

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
syukurlah Nando ingat, walupun tipis tipis
Ai Emy Ningrum: jabatan yg sangat krusial 😽😽😽 sampe2 melekat ,ga didunia nyata dan dunia gaib jg itu yg terngiang 😙😗
total 3 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
yaaah Luna sendirian, gimana pulangnya weh /Shy//Slight/
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Lg dong Thor, 😭🤗🤗tanggung bngt.
nayla tsaqif
Nando punya keluarga gk thorr,,??
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Sangat menarik dan menghibur, tidak membosankan smoga tidak cpt tamat. 😃
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut kan thor
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Allhamdulillah akhirnya Luna tidak kesulitan melawan dukun itu, sya kira dukun itu sulit dikalahkan, scara td sangat sombongnya pd Luna, akhirnya mampus juga iblis itu. 😠😠

Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
nayla tsaqif
Ayo nando,, cepat sadar dan temukan luna,,! Ato pk tarjo balik lg, untuk nolongin luna,, 😭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Syukur deh Nando kembali.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut Thor.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤩🤩🤭🤭😆😆Ke nya bakal tumbuh nih benih2 ❤❤💘💘💘diantara mereka.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Apa kh yg mmbunuh orangtua Luna adalah dukun yg sama yg dipakai oleh Bara ya.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Teka teki nya mulai terkuak 1 per 1.
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Musuh dlm selimut ini namanya, tega bener ya teman ko jahat banget, mungkin ingin mngambil posisi Nando mungkin.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Jelas kan nanti ya thor, sebabnya Nando jd dtakuti oleh MEREKA. 😃😃😆😆
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Sakita perut q lihat kelakuan Nando, ke lg nonton drakor aja. 🤭🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Mereka berdua saling mmbutuhkan, mungkin juga kalian jodoh. 😆🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Udah sadar bukan manusia lg, baru diemm, td cerewet bngt. 🤣🤣🤣hadeh.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Biasanya arogan diawal, tp bucin diakhir, 😆😆semakin mnarik thor.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Menarik, syng nya baru nemu, dan baru bacanya, penasaran sm judulnya. 😁😁

Semangat Thor. 😃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!