Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Hari pun berganti...
Hari itu, matahari bersinar hangat di kampus. Alya berjalan menyusuri lorong gedung fakultas dengan langkah tenang, namun pikirannya sibuk memikirkan pertemuan siang tadi dengan Arka dan orang tuanya. Setiap kali mengingat percakapan mereka, hatinya terasa hangat, tapi juga sedikit cemas.
Arka sudah menunggu di depan kelas, menatap Alya dengan mata lembut yang membuatnya sedikit tersipu.
“Alya, kau terlihat lebih ceria hari ini,” kata Arka sambil tersenyum tipis.
“Pak… aku rasa aku mulai merasa nyaman, meski masih banyak hal yang harus kubiasakan,” jawab Alya, sedikit menunduk.
Setelah kelas selesai, mereka berjalan bersama menuju taman kampus. Di sana, mereka bisa duduk dengan tenang, jauh dari keramaian mahasiswa lain. Suasana sore yang hangat dan teduh membuat percakapan mereka lebih rileks.
“Alya, aku senang kau mulai merasa nyaman. Tapi aku ingin kita tetap jujur satu sama lain. Jika ada hal yang membuatmu tidak nyaman atau ragu, katakan padaku,” kata Arka serius.
Alya menghela napas, mencoba meredakan kegugupannya. “Pak… aku kadang masih merasa ragu. Aku takut kalau perasaan ini hanya karena Bapak perhatian, bukan karena aku benar-benar menyukai Bapak. Tapi aku juga mulai menyadari… aku ingin mencoba memahami Bapak lebih dalam.”
Arka menatap Alya dengan lembut, lalu menepuk bahunya sebentar. “Aku mengerti, Alya. Aku juga ingin kau melangkah perlahan tanpa merasa terpaksa. Aku ingin perhatian yang kuberikan benar-benar membuatmu merasa aman dan dihargai.”
Mereka duduk di bangku taman, berbicara panjang tentang kehidupan kampus, tugas, dan hal-hal sederhana yang membuat mereka tersenyum. Alya merasa perlahan hatinya mulai terbuka. Ia menyadari, meski awalnya hubungan ini terasa dipaksakan, ada perhatian dan ketulusan yang membuatnya merasa dihargai.
##
Beberapa hari kemudian, Alya mengajak Arka ke rumahnya. Orang tua Alya tampak senang melihat putrinya mulai nyaman dengan Arka.
“Alya, Nak… senang melihat kalian berdua lebih dekat sekarang,” kata ibu Alya sambil tersenyum hangat.
Bapak Alya menatap Arka serius namun tidak menakutkan. “Pak Arka, aku berharap kau benar-benar menjaga hati Alya. Kami tahu ini awalnya perjodohan, tapi kami ingin hubungan ini bisa berkembang secara sehat.”
Arka menunduk sebentar, kemudian menatap bapak Alya. “Pak, saya menyadari tanggung jawab ini. Aku ingin Alya merasa aman, dihargai, dan nyaman. Saya tidak ingin ia merasa terpaksa dalam hal apa pun.”
Makan siang itu berlangsung hangat. Mereka berbicara tentang hobi Alya, pengalaman Arka saat kuliah, dan hal-hal ringan yang membuat suasana menjadi akrab. Alya mulai merasa bahwa kedekatan dengan Arka bukan sekadar kewajiban, tapi juga membuatnya bahagia.
Sore harinya, mereka kembali ke kampus. Alya menatap Arka dengan sedikit senyum.
“Pak… terima kasih sudah sabar dan memperhatikan aku. Aku merasa lebih tenang sekarang,” kata Alya.
Arka tersenyum, menepuk bahu Alya perlahan. “Aku senang mendengar itu, Alya. Aku juga merasa nyaman ketika kau mulai terbuka. Aku yakin, dengan saling pengertian, hubungan kita bisa tumbuh perlahan tapi pasti.”
Malam itu, Alya duduk di kamarnya, merenung tentang perjalanan beberapa minggu terakhir. Ia menyadari bahwa perjodohan ini ternyata memberi ruang untuk memahami satu sama lain, membangun kepercayaan, dan menumbuhkan perasaan tulus meski awalnya dipaksakan.
Arka, di sisi lain, menatap langit malam dari balkon rumahnya, tersenyum pelan. Ia sadar perjalanan mereka masih panjang, namun setiap langkah kecil percakapan hangat, perhatian diam-diam, dan pengertian menjadi pondasi kuat untuk hubungan yang tulus dan bahagia di masa depan.
Malam itu, Alya menutup buku catatannya dan tersenyum. Hatinya mulai yakin bahwa meski perjalanan ini dimulai dari keterpaksaan, ada kemungkinan perasaan yang tulus akan tumbuh di antara mereka, perlahan tapi pasti.
maaf lancang🙏🙏🙏