Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan Keheningan
Laras duduk tegak, memastikan punggungnya sama sekali tidak menyentuh sandaran kursi kayu jati berukir di meja makan. Rok abu-abu seragamnya jatuh dengan rapi, tanpa satu pun lipatan yang salah. Di rumah ini, kerapian adalah bentuk penghormatan.
Mbak Ina menyiapkan menu sarapan dengan gerakan yang nyaris tanpa suara, seolah sudah hafal bahwa keributan adalah musuh di pagi hari. Makan pagi berlangsung dalam keheningan yang absolut. Tak ada denting sendok yang beradu dengan piring porselen, apalagi obrolan ringan tentang gosip sekolah. Di meja makan ini, bicara saat mengunyah adalah pelanggaran etiket yang berat. Semuanya tertata, Dari doa sebelum hingga sesudah makan.
"Ibu, saya pamit berangkat kerja dulu," ucap Bapak Widjaya memecah sunyi.
Ia membungkuk hormat, melakukan sungkem pada tangan ibunya—Eyang Putri.
"Iya, Nak. Hati-hati di jalan," balas Eyang dengan senyum teduh.
Bapak kemudian beralih ke arah Ibu.
"Sayang, saya berangkat dulu, ya."
Ibu menerima uluran tangan Bapak, menciumnya dengan takzim, yang kemudian dibalas Bapak dengan kecupan hangat di kening Ibu. Di tengah segala aturan yang kaku, kasih sayang di rumah ini tetap terasa nyata dan harmonis.
Laras pun bangkit dari kursinya. Ia melakukan hal yang sama—mencium tangan Eyang dan kedua orang tuanya dengan gerakan yang sangat halus. Sebab di rumah ini, Laras bukan sekadar remaja kota besar, ia adalah cermin dari martabat keluarganya.
"Laras," suara lembut namun tegas dari Ibunya memanggil Laras sebelum meninggalkan meja makan.
"Inggih, Ibu?"
"Nanti pulang sekolah, jangan mampir-mampir. Eyang Putri ingin kamu mencoba kebaya baru untuk acara peresmian yayasan minggu depan. Jangan sampai telat, ya."
Laras teringat notifikasi di group Whatsapp OSIS bahwa akan ada rapat setelah pulang sekolah.
Ingin rasanya Laras menjawab, “Bu, hari ini ada rapat OSIS sebentar,” tapi bibirnya justru mengukir senyum paling sopan yang ia punya.
"Sendika dawuh, Ibu. Laras akan langsung pulang setelah bel berbunyi."
Neneknya—Eyang Putri—tersenyum bangga sambil berkata, "Cucu Eyang memang paling mengerti unggah-ungguh. Tidak seperti anak-anak zaman sekarang yang sukanya keluyuran sepulang sekolah."
Laras tersenyum tipis.
"Laras berangkat dulu, Bu, Eyang. Assalamu’alaikum."
"Wa’alaikumsalam. Hati-hati, Nduk. Jalannya yang tegap, jangan diseret!" pesan Ibunya.
Begitu pintu jati ukir setinggi tiga meter itu tertutup di belakangnya, Laras menghela napas panjang yang tertahan sejak tadi. Ia berjalan menuju gerbang rumahnya yang megah di kawasan perumahan elit tersebut. Sopir pribadinya, Pak joko, sudah siap dengan mobil sedan hitam yang mengkilap.
"Pagi non Laras" sapa Pak Joko.
"Pagi pak" jawab lirih Laras.
Pak Joko bergegas mengantar Laras dengan kecepatan yang pelan tapi pasti.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Setelah sampai di gerbang sekolah, Laras keluar dari mobil dengan anggun.
Begitu kaki Laras memijak aspal parkiran sekolah, atmosfer di sekitarnya berubah drastis. Di mata semua orang, Laras adalah Si Sempurna yang memikul beban ekspektasi.
Laras berjalan menyusuri koridor dengan punggung tetap tegak—persis seperti instruksi Ibunya. Beberapa siswa menyapa, dan Laras membalasnya dengan anggukan kecil yang sopan. Tidak terlalu akrab, namun cukup ramah untuk menjaga citra keluarga Widjaya.
Di depan mading sekolah, langkahnya terhenti. Sebuah poster besar pengumuman Rapat Pleno OSIS: Persiapan Pensi terpampang nyata. Namanya tertulis di sana sebagai Sekretaris Umum.
"Laras!" sebuah tepukan di bahu mengejutkannya.
Itu Sekar, sahabatnya yang paling berisik sekaligus satu-satunya orang yang tahu bahwa Laras bisa tertawa lepas hingga tersedak. Sekar adalah antitesis dari segala aturan Eyang Putri.
"Nanti kamu ikut rapat, kan? Kita harus bahas line-up band. Jangan bilang kamu mau kabur lagi?"
Laras menggigit bibir bawahnya. Bayangan kebaya baru dan senyum bangga sang Eyang berkelebat, beradu dengan rasa tanggung jawabnya pada organisasi.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Di dalam kelas, pikiran Laras bercabang. Suara guru sejarah yang menerangkan tentang kejayaan Majapahit seolah menjadi latar suara bagi debat di kepalanya.
Pilihan A: Pulang tepat waktu, mencoba kebaya, dan menjadi Cucu Teladan.
Pilihan B: Menghadiri rapat, dicap pemberontak oleh rumah, tapi merasa hidup sebagai diri sendiri.
Ponsel di saku roknya bergetar. Sebuah pesan masuk di grup WhatsApp OSIS.
[Yudhis] (Ketua OSIS)
Ras, notulensi rapat minggu lalu bawa kan? Kita butuh itu buat mutusin anggaran hari ini. Jangan telat ya, ini krusial.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Di parkiran, mobil hitam Pak Joko sudah terlihat, menunggu tuannya seperti biasa. Pak Joko turun dan membukakan pintu dengan sigap.
Laras berdiri di lobi sekolah, memandang mobil itu, lalu beralih menatap ruang OSIS di lantai dua di mana teman-temannya sudah mulai berkumpul.
Ia mendekat ke arah Pak Joko, namun tidak masuk ke dalam mobil.
"Pak Joko," suara Laras terdengar sedikit bergetar, namun tegas.
"Iya, Non? Langsung pulang?"
Laras meremas tali tasnya.
"Pak, tolong sampaikan ke Ibu... Laras ada urusan sebentar yang menyangkut harga diri sekolah. Laras akan pulang satu jam lagi menggunakan taksi. Tolong sampaikan maaf saya ke Eyang."
Pak Joko tertegun. Selama tiga tahun mengantar jemput, ini adalah pertama kalinya Laras memberikan instruksi yang berbeda dari jadwal yang ditetapkan Ibu Widjaya.
"Tapi Non, Ibu pesan—"
"Saya yang akan bicara pada Ibu nanti, Pak. Tolong bantu saya kali ini," potong Laras halus, namun ada kilat pemberontakan yang pertama kali muncul di matanya.
Tanpa menunggu jawaban, Laras berbalik dan berlari kecil menuju ruangan OSIS.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Laras melangkah masuk tepat saat Yudhis sedang menggebrak meja dengan frustrasi. Peta konsep pensi (pentas seni) berserakan di atas meja panjang.
"Kita tidak bisa pakai guest star itu kalau sponsor utama belum cair, Dhis! Anggarannya minus sepuluh juta!" seru salah satu anggota divisi acara.
Laras segera mengambil posisi di sebelah Yudhis. Ia membuka laptopnya, jemarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tidak pernah ia tunjukkan di rumah.
"Tenang semuanya," suara Laras lembut, namun memiliki resonansi yang membuat kegaduhan mereda.
"Aku sudah buat simulasi anggaran alternatif. Yudhis, lihat ini."
Laras memutar layar laptopnya. Di sana terdapat tabel rapi yang membagi prioritas pengeluaran menjadi tiga skema.
Skema A (Ideal): Mengandalkan semua sponsor masuk.
Skema B (Rasional): Memotong biaya dekorasi panggung sebesar 30%.
Skema C (Darurat): Mengganti guest star nasional dengan talenta lokal yang sedang naik daun.
"Laras, kamu dapat angka ini dari mana?" tanya Yudhis takjub.
"Aku riset semalam," jawab Laras singkat.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Di tengah perdebatan sengit tentang vendor panggung, ponsel Laras yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama yang paling ia takuti, IBU.
Seluruh ruangan mendadak hening. Teman-temannya tahu siapa keluarga Laras. Getaran ponsel itu seolah menjadi detak jantung yang memacu adrenalin di ruangan tersebut.
"Angkat saja, Ras. Mungkin penting," bisik Sekar prihatin.
Laras melihat jam di dinding. Pukul 16:00. Ia menarik napas panjang, lalu melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya. Yaitu, menekan tombol merah (reject) dan membalikkan ponselnya menghadap ke bawah.
"Lanjut," ucap Laras datar, meski tangannya sedikit gemetar di bawah meja.
"Kita belum selesai membahas kontrak dengan vendor sound system. Kita butuh keputusan sekarang agar saya bisa kirim email konfirmasinya sore ini."
Satu jam berikutnya, Laras bukan lagi gadis penurut yang sendika dawuh. Ia menjadi moderator yang tajam. Ia memangkas ego teman-temannya, menyatukan pendapat yang berserakan, dan memastikan setiap poin rapat tercatat dengan presisi.
Bagi Laras, mengelola rapat OSIS jauh lebih mudah daripada mengelola keheningan di meja makan. Di sini, konflik adalah tanda kemajuan. Di rumah, konflik adalah aib.
"Oke, rapat selesai. Notulensi akan dikirim Laras malam ini," tutup Yudhis sambil bertepuk tangan.
Saat teman-temannya mulai berkemas dan bercanda, Sekar mendekati Laras yang masih menatap layar laptopnya dengan pandangan kosong.
"Kamu berani banget tadi, Ras. Tapi... kamu beneran oke pulang sekarang?" tanya Sekar ragu.
Laras menutup laptopnya dengan bunyi klik yang tegas. "Aku harus pulang, Kar. Menghadapi 'badai' di rumah jauh lebih melelahkan daripada rapat ini."
Laras bangkit, membenarkan letak roknya yang tetap rapi meski sudah duduk lama, dan berjalan keluar. Di luar, langit sudah mulai jingga, menandakan bahwa jamuan keheningan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Ijin mampir🙏