Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Satu minggu telah berlalu sejak insiden di ruang loker dan pengakuan serius Logan di dalam mobil. Bagi Logan Enver-Valerio, dunia seolah baru saja berganti warna. Jika sebelumnya hidupnya hanya berisi rutinitas kampus yang membosankan dan pelarian dari rasa sakit masa lalu, kini hidupnya berpusat pada satu poros tunggal: Vivian Wheeler.
Namun, bagi Vivian, perubahan ini mulai terasa seperti badai yang tak kunjung reda.
Di ruang kantornya yang minimalis dan elegan, Vivian sedang menatap tumpukan cetak biru untuk proyek renovasi hotel di pusat kota. Konsentrasinya sedang berada di titik puncak, hingga sebuah getaran panjang di atas meja kayu eknya memecah keheningan.
Logan is calling...
Vivian menghela napas, melirik jam di dinding. Pukul 10.15 pagi. Ini adalah panggilan ketiga sejak ia menginjakkan kaki di kantor dua jam yang lalu. Ia mengabaikannya, mencoba kembali fokus pada garis-garis arsitektural di depannya.
Lima menit kemudian, ponselnya berdenting bertubi-tubi.
Logan: “Sayang, kenapa tidak diangkat? Kau sibuk?”
Logan: “Aku sedang di kelas sejarah, dosennya sangat membosankan. Aku hanya memikirkanmu.”
Logan: “Apa kau sudah minum kopi? Jangan terlalu banyak kafein, ingat 'bayi' kita, haha.”
Logan: “Vivian... aku rindu.”
Vivian memijat pangkal hidungnya. Ia meraih ponselnya dengan gerakan cepat, jemarinya menari di atas layar dengan sedikit tekanan.
Vivian: “Logan, aku sedang rapat penting sebentar lagi. Berhenti mengirim pesan setiap lima menit. Kau membuat ponselku panas.”
Logan: “Galak sekali. Aku hanya rindu, Vivian. Apa itu dilarang?”
Vivian: “Kita baru bertemu semalam, Logan. Kau bahkan mengantarku sampai depan pintu jam 11 malam. Rindu apa yang kau maksud?”
Logan: “Rindu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Baiklah, bekerja yang rajin, Calon Istriku. I love you.”
Vivian tidak membalas. Ia meletakkan ponselnya dengan layar menghadap ke bawah, mencoba mengusir rasa hangat yang sempat menyelinap di hatinya, namun segera digantikan oleh rasa lelah yang nyata.
Sebagai wanita berusia 27 tahun yang telah membangun kariernya dari nol, Vivian sangat menghargai efisiensi dan ruang pribadi.
Baginya, intensitas Logan yang meluap-luap mulai terasa seperti belenggu manis yang menyesakkan.
...****************...
Vivian baru saja menyelesaikan presentasi maraton dengan investor asing dan merasa sangat lelah secara mental. Ia hanya ingin pulang, berendam di air hangat, dan tidur tanpa gangguan.
Namun, begitu ia keluar dari lobi kantor, ia melihat motor Ducati hitam yang sangat ia kenali terparkir di depan. Logan berdiri di sana, bersandar pada tangki motornya, terlihat sangat tampan dengan jaket denim dan kacamata hitam. Ia membawa sebuket bunga matahari yang cerah.
"Kejutan!" seru Logan begitu melihat Vivian.
Vivian tidak tersenyum. Ia justru berhenti beberapa langkah di depan Logan, menatap pria itu dengan pandangan datar. "Apa yang kau lakukan di sini, Logan? Aku tidak memintamu menjemput."
Senyum Logan sedikit memudar. "Aku hanya ingin memberimu kejutan. Aku tahu kau hari ini lelah karena presentasi itu. Aku ingin mengajakmu makan malam di tempat baru yang—"
"Aku ingin pulang, Logan," potong Vivian tegas. "Aku ingin sendiri. Aku lelah."
"Hanya satu jam, Vivian. Aku sudah memesan tempatnya," bujuk Logan, melangkah maju mencoba meraih tangan Vivian.
Vivian menarik tangannya menjauh. "Inilah masalahnya, Logan. Kau tidak pernah bertanya. Kau selalu berasumsi bahwa aku ingin menghabiskan setiap detik waktuku bersamamu. Kau mengirim pesan setiap jam, menelpon ku saat aku sedang bekerja, dan sekarang muncul tanpa kabar. Ini melelahkan!"
Beberapa staf kantor Vivian yang lewat mulai melirik ke arah mereka. Logan terdiam, rahangnya mengeras. Rasa bangganya sebagai pria yang selama ini dipuja-puja di kampus kini berbenturan dengan kenyataan bahwa ia sedang ditolak mentah-mentah oleh wanita yang ia cintai.
"Melelahkan?" ulang Logan dengan suara rendah. "Maksudmu, perhatianku padamu itu beban?"
"Intensitas mu, Logan! Kau terlalu... kau terlalu bucin, kalau itu istilah anak zaman sekarang," ucap Vivian, suaranya sedikit meninggi.
"Aku wanita dewasa, aku punya kehidupan, pekerjaan, dan tanggung jawab. Aku bukan remaja yang harus bertukar kabar setiap kali aku bernapas. Kita baru bertemu kemarin, dan kau sudah bicara soal rindu? Itu berlebihan."
Logan menatap buket bunga matahari di tangannya, lalu menatap Vivian dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilatan luka di matanya, mengingatkannya pada betapa mudahnya ia memberikan seluruh hatinya dan betapa mudahnya itu dianggap tidak berarti.
"Jadi itu pendapatmu," ucap Logan dingin. "Maaf jika kerinduanku mengganggumu, Nona Wheeler. Aku lupa kalau aku berhadapan dengan wanita hebat yang tidak butuh siapa-siapa."
Logan meletakkan bunga matahari itu di atas kap mobil yang terparkir di dekatnya, lalu memakai helmnya tanpa melihat Vivian lagi.
Suara mesin Ducati-nya menggeram keras, membelah kesunyian parkiran sore itu saat ia melesat pergi tanpa menoleh ke belakang.
Vivian berdiri mematung. Angin sore meniup rambutnya, meninggalkannya dalam kesunyian yang tiba-tiba terasa sangat pahit. Ia menginginkan ketenangan, ia menginginkan ruang napas, namun melihat punggung Logan yang menjauh dengan kemarahan, hatinya justru terasa kosong.
.
.
Malam itu, apartemen Vivian terasa luar biasa sepi. Tidak ada deting ponsel setiap sepuluh menit. Tidak ada panggilan video yang memintanya menunjukkan wajahnya "agar semangat". Tidak ada godaan mesum yang biasanya membuatnya kesal sekaligus tersipu.
Ia mencoba berendam di bathtub, namun pikirannya justru melayang pada kata-kata tajam yang ia lontarkan tadi sore. 'Kau membuat ponselku panas', 'Intensitas mu melelahkan'.
Vivian menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja wastafel. Tidak ada satu pun pesan dari Logan selama empat jam terakhir. Biasanya, Logan akan mengirimkan pesan "Selamat tidur, Sayang" atau "Jangan lupa bermimpi tentangku".
Ia menyadari sesuatu. Logan, dengan segala sikap playboy-nya yang dulu, sebenarnya sedang belajar bagaimana mencintai kembali setelah hancur karena Elena.
Caranya yang berlebihan, telponnya yang intens, dan kerinduannya yang konyol... itu adalah bentuk perlindungan Logan agar ia tidak merasa kehilangan lagi. Sedangkan Vivian, dengan segala kematangannya, justru memperlakukan kasih sayang itu seperti sebuah gangguan administratif.
"Apa aku terlalu keras padanya?" gumam Vivian, menenggelamkan wajahnya di dalam air hangat.
Ia teringat betapa manisnya Logan saat menjaganya dari George, betapa tulusnya dia saat mengatakan siap menjadi ayah untuk bayinya—meski itu hanya bohong. Logan mungkin baru berusia 20 tahun, namun hatinya yang menggebu-gebu itulah yang selama ini menghangatkan hidup Vivian yang kaku.
Vivian keluar dari air, meraih handuknya, dan segera mengambil ponsel. Ia ragu-ragu sejenak, jemarinya berada di atas nama Logan. Ia ingin menelepon, namun ego kedewasaannya menahan. Namun, saat ia melihat bunga matahari yang tadi sempat ia ambil dari parkiran dan kini ia letakkan di vas bunga meja makan, pertahanannya runtuh.
Ia mengetik sebuah pesan.
Vivian: “Logan... maafkan aku soal tadi sore. Aku hanya sedang stres dengan pekerjaan.”
Satu menit. Lima menit. Sepuluh menit. Tidak ada balasan. Status Logan di aplikasi pesan menunjukkan online, namun ia tidak membuka pesan dari Vivian.
Vivian mulai merasa cemas. Rasa tenang yang ia inginkan kini berubah menjadi kegelisahan yang menyiksa. Ia menyadari bahwa ia lebih suka ponselnya "panas" karena pesan-pesan konyol Logan daripada dingin dan bisu seperti ini.
Konflik perbedaan usia dan cara mencintai ini baru saja dimulai, dan Vivian sadar, kedewasaan bukan berarti selalu benar, kadang kedewasaan adalah tentang belajar menurunkan ego demi seseorang yang memberikan hatinya tanpa syarat.
gimana bisa ada gunung Argopuro ya