Hujan tidak kunjung berhenti, seperti ingin menghapus semua jejak darah yang telah tertumpah malam itu. Namun sebesar apa pun derasnya hujan, ia tak sanggup membersihkan bau kematian yang memenuhi udara. Hutan di sekitar gua gelap gulita, hanya sesekali tersambar cahaya petir yang menyilaukan, memperlihatkan pepohonan basah yang berguncang ditiup angin kencang.
Di dalam gua yang baru saja menyaksikan pertempuran, Tetua Qingyun berdiri dengan tubuh lunglai. Tangannya masih bergetar setelah mengerahkan kekuatan terakhir untuk menyegel Pedang Naga Langit. Di pelukannya, bayi Lin Feng meringkuk, matanya merah karena terlalu lama menangis, namun suaranya perlahan melemah seakan kelelahan sendiri.
"Syukurlah kau masih hidup, Lin Feng…” bisik Tetua Qingyun.
Wajah renta itu penuh kelelahan, tapi sorot matanya tetap tajam, berisi tekad. Ia tahu, setelah pedang itu lenyap, para pengejar tidak akan berhenti hanya karena tujuan mereka menghilang. Mereka pasti akan mencari jawaban: ke mana perginya Pedang Naga Langit. Dan jika mereka tahu bayi ini adalah pewarisnya, maka bahaya yang lebih besar akan menanti.
Di luar gua, meski sebagian besar pengejar telah bubar karena panik, tidak semua pergi. Dua sosok berjubah hitam masih bertahan, bersembunyi di balik semak belukar yang terendam hujan. Mata mereka mengawasi gua dari kejauhan.
“Pedangnya menghilang…” bisik salah satu dari mereka, suaranya parau.
“Ya, tapi bayi itu…” yang lain menoleh, menatap samar bayangan Tetua Qingyun di mulut gua. “Aku mendengar rumor. Anak itu bukan bayi biasa. Ada darah istimewa mengalir di dalam tubuhnya. Jika pedang itu benar-benar memilih tuannya kelak, maka bayi itu adalah kuncinya.”
Keduanya saling berpandangan, lalu mengangguk. Meski mereka tak lagi bisa kembali ke tuannya dengan membawa pedang, setidaknya membawa bayi itu akan menjadi pengganti yang berharga.
Tetua Qingyun menatap jasad muridnya untuk terakhir kali. Ia tidak bisa membawa tubuh itu bersamanya, tidak dengan kondisinya yang sudah lemah. Ia hanya bisa menunduk hormat, lalu berbalik meninggalkan gua.
“Maafkan aku,” gumamnya lirih. “Aku tak mampu memberikan pemakaman yang layak. Namun aku berjanji, anakmu ini akan kubesarkan, meski harus mempertaruhkan nyawaku.”
Dengan gendongan bayi di dadanya, ia melangkah keluar gua. Rintik hujan langsung mengguyur tubuhnya, membasahi jubah abu-abunya hingga melekat di kulit. Namun ia tidak berhenti. Kakinya melangkah menuruni lereng licin, masuk ke hutan gelap.
Tangisan Lin Feng sudah berhenti. Bayi itu tertidur karena kelelahan, napasnya teratur, sesekali terdengar rengekan kecil. Tetua Qingyun menatap wajah mungil itu dan tersenyum tipis.
"Tidurlah, Nak. Kau harus tumbuh kuat. Dunia ini tak akan berbelas kasihan padamu.”
Baru saja ia melewati deretan pohon tinggi, seberkas cahaya merah menyambar dari arah kanan. Refleks, Tetua Qingyun melompat ke belakang. Cahaya itu menghantam tanah tepat di tempat ia berdiri tadi, membuat tanah berlubang dan air muncrat.
Dua sosok berjubah hitam muncul dari balik kegelapan. Salah satunya tertawa rendah.
“Orang tua, kau sudah terlalu lelah untuk melawan. Serahkan bayi itu pada kami, dan kami akan membiarkanmu mati dengan tenang.”
Tetua Qingyun menghela napas, menurunkan pandangan pada Lin Feng di dadanya. Kemudian ia mendongak, sorot matanya berkilat.
“Jika ingin menyentuhnya, melangkahlah di atas mayatku lebih dulu.”
Jubah abu-abunya berkibar meski hanya diterpa angin hujan. Aura yang tersisa dari dalam tubuhnya kembali meledak, meski tak sekuat sebelumnya. Tanah di sekitarnya bergetar, dedaunan berguguran.
Pertarungan kembali pecah.
Tetua Qingyun menangkis serangan dengan pedang yang ia cabut dari pinggangnya. Pedang itu tampak sederhana, tapi di tangannya, ia seperti hidup. Sabetannya mampu mematahkan serangan belati dan menghantam tubuh musuh hingga terpelanting.
Namun tubuh tua itu jelas sudah menurun. Nafasnya cepat, tangannya bergetar, dan setiap gerakan terasa lebih berat. Lawan-lawan itu menyadari hal ini, dan semakin gencar menyerang.
Di sela-sela pertempuran, pikiran Tetua Qingyun melayang pada masa mudanya. Ia teringat saat pertama kali melihat Pedang Naga Langit, saat pedang itu berkilau di bawah sinar matahari, dikelilingi pujian dan hormat dari semua orang.
Ia juga teringat pada muridnya—ibu Lin Feng. Gadis cerdas, penuh semangat, yang dulu bersumpah akan mengabdikan hidupnya untuk melindungi pedang itu. Namun kini ia telah tiada, jasadnya tertinggal di gua, dan hanya bayinya yang tersisa.
Hati Tetua Qingyun perih, tapi juga dipenuhi tekad. Aku tidak boleh mati di sini. Aku harus membawa anak ini pergi. Jika tidak, semua pengorbanan itu akan sia-sia.
Setelah beberapa kali bentrokan, Tetua Qingyun menyadari ia tidak bisa terus bertarung sambil membawa bayi. Bahu dan lengannya semakin lemah, dan bayi itu bisa saja terluka jika ia kehilangan kendali.
Dengan cepat ia melompat mundur, lalu mengarahkan serangan pedang ke tanah. Suara dentuman terdengar, dan kabut tipis mulai menyelimuti area pertarungan. Sebuah teknik ilusi sederhana, tapi cukup untuk membuyarkan pandangan musuh.
“Lin Feng…” bisiknya pelan sambil merapatkan bayi ke dadanya. “Mulai saat ini, jalan kita akan penuh bahaya. Tapi aku bersumpah, aku akan menjaga nyawamu, meski harus menukar nyawaku sendiri.”
Dengan langkah cepat, ia menerobos kabut, meninggalkan kedua musuh yang masih kebingungan.
***
Perjalanan panjang dimulai. Tetua Qingyun terus berjalan menembus hutan, melewati sungai kecil yang meluap, mendaki bukit berbatu, dan sesekali berhenti untuk menenangkan Lin Feng yang terbangun karena dingin.
Setiap kali bayi itu menangis, hatinya bergetar. Ia tahu tangisan itu bisa menarik perhatian musuh. Maka ia sering menyelubungi Lin Feng dengan jubahnya, mengayun-ayun pelan sambil menyenandungkan doa kuno. Entah karena suara itu, atau karena bayi itu kelelahan, tangisannya selalu mereda.
Beberapa kali, ia hampir terjatuh karena kakinya terpeleset lumpur. Tubuhnya tidak lagi sekuat dulu, dan hujan terus menguras tenaganya. Tapi setiap kali ia merasa akan tumbang, ia menatap wajah mungil itu—dan menemukan alasan untuk bangkit lagi.
Akhirnya, setelah berjam-jam berjalan, cahaya samar terlihat di kejauhan. Lampu minyak dari rumah-rumah sederhana di sebuah desa kecil yang tersembunyi di lembah.
Tetua Qingyun menarik napas lega. “Kita sudah hampir sampai, Lin Feng… Kau akan aman untuk sementara waktu.”
Namun bahkan saat ia akan melangkah memasuki desa itu, perasaan tidak enak menyelinap ke hatinya. Hujan memang telah mereda, tetapi udara di sekitar terasa berat. Burung-burung malam tak bersuara, dan kabut tipis menutupi jalan masuk desa.
Tetua Qingyun tahu, malam ini belum berakhir. Para pengejar tidak akan berhenti hanya karena pedang itu lenyap. Mereka akan terus mencari—dan cepat atau lambat, mereka akan menemukan bahwa bayi inilah pewaris sejati Pedang Naga Langit.
Ia menatap bayi di pelukannya sekali lagi, lalu menatap langit gelap di atas desa.
"Mulai dari malam ini, kau akan hidup dalam pelarian, Lin Feng. Dunia ini tidak akan memberimu kedamaian. Tapi suatu hari… saat kau dewasa, dunia akan mengenal namamu. Dan saat itu, pedang yang hilang akan kembali, bersama naga yang tertidur.”
Bayi itu menggeliat pelan, matanya yang bening menatap kosong ke arah hujan yang menetes dari atap rumah desa.
Tetua Qingyun tersenyum tipis, lalu melangkah masuk, membawa Lin Feng menuju takdir panjang yang sudah menantinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments