Bab 3 - Ratapan Terakhir Sang Ibu

Hujan tak kunjung reda malam itu. Setiap tetesnya jatuh seolah meratapi tanah yang sudah basah oleh darah. Suara gemuruh petir masih berulang, menerangi hutan sekejap demi sekejap, menyingkap bayangan-bayangan yang terus bersembunyi di antara pepohonan.

Di dalam gua kecil itu, bau anyir semakin pekat. Darah wanita muda yang baru saja melahirkan telah bercampur dengan lumpur dan air hujan, membentuk genangan merah yang perlahan merembes keluar.

Wanita muda itu masih terbaring, tubuhnya hampir kaku. Tangannya berlumuran darah, namun jemarinya masih berusaha meraih keranjang bambu yang berada di sampingnya. Bayi mungil itu masih menangis tanpa suara, terlindung oleh formasi isolasi yang ia buat dengan darah dan sisa kekuatannya.

“Lin Feng…” bisiknya parau, hampir tak terdengar. Napasnya berat, setiap tarikan dada seolah merobek paru-parunya. “Maafkan ibu nak, hanya ini yang bisa ibu lakukan untukmu.”

Matanya mulai buram, pandangan berkunang. Tapi saat ia menoleh ke arah pintu gua, sosok pria berjubah biru masih berdiri tegak di sana. Aura tenangnya bagaikan pilar di tengah badai.

“Guru…” bisiknya lirih, senyum samar muncul di wajah pucatnya, terpancar sebuah harapan dari raut wajahnya.

Pria berjubah biru itu, Tetua Qingyun, melangkah masuk. Setiap langkahnya mantap, tanah yang ia pijak seolah bergetar tipis oleh aura yang ia pancarkan. Sorot matanya menatap tajam ke arah tiga pria berjubah hitam yang kini terhuyung setelah terkena serangannya.

Salah satu pria berjubah hitam menggeram, darah menetes dari sudut bibirnya. “Tetua Qingyun, jangan campuri urusan ini! Pedang itu adalah milik sekte kami sejak lama! Kau tak berhak ikut—”

“Diam!” suara Tetua Qingyun bergemuruh seperti petir. Tatapannya menusuk, bagaikan mata naga yang marah. “Pedang itu bukan milik siapa pun selain pewarisnya yang sah. Kalian… Kalian hanya pencuri yang merusak keseimbangan dunia ini.”

Tangannya bergerak. Dengan cepat, ia menarik pedang panjang di punggungnya. Begitu bilah pedang itu keluar, udara di dalam gua berubah menjadi dingin, penuh tekanan. Cahaya kebiruan mengalir di sepanjang pedang, membuat tiga pria berjubah hitam itu tanpa sadar mundur beberapa langkah ke belakang.

Tetua Qingyun tidak memberi mereka jeda waktu untuk berfikir. Dalam sekejap, tubuhnya melesat bagaikan kilat. Pedangnya berayun, meninggalkan jejak cahaya biru yang melintang di udara.

Satu serangan.

Darah memercik ke sekitar.

Salah satu pria berjubah hitam terjatuh ke tanah, tubuhnya terbelah dari bahu ke pinggang. Jeritannya hanya bertahan sesaat sebelum lenyap ditelan suara badai.

Dua lainnya terkejut, wajah mereka pucat pasi. “Monster tua ini… kekuatannya masih sekuat itu!”

Namun Tetua Qingyun tidak berhenti. Dengan gerakan yang ringan, ia kembali menyerang. Tebasan berikutnya membuat udara bergema, seperti suara naga meraung. Pria kedua mencoba menangkis serangan dengan pedang hitamnya, tapi benturan keras itu membuat bilah pedangnya patah seketika, tubuhnya terpental menghantam dinding batu. Darah muncrat dari mulutnya, napasnya terputus di tempat.

Dan pria terakhir, yang tadi mengeluarkan pusaran energi hitam, mundur dengan panik. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya bergetar. “Tidak… aku tidak bisa mati di sini…”

Ia berusaha melarikan diri, melompat menjauh ke luar gua. Tapi Tetua Qingyun hanya mengangkat dua jarinya, mengarahkan pedangnya dari kejauhan. Cahaya biru melesat bagai kilat, menembus tubuh pria itu dari belakang.

Jeritan pilu terdengar singkat. Tubuhnya jatuh ke tanah, berlumuran darah, sebelum akhirnya tak bergerak lagi.

Sunyi.

Yang tersisa hanyalah suara hujan deras dan napas berat Tetua Qingyun.

Ia menghunus kembali pedangnya, lalu menoleh. Pandangannya jatuh pada wanita muda yang terbaring sekarat di lantai gua.

Ia segera bergegas menghampiri, berlutut di sampingnya. “Muridku…” suaranya berat, bercampur duka. “Kau… telah berjuang terlalu keras.”

Wanita itu tersenyum samar. Tangannya yang penuh darah berusaha terulur, menyentuh jubah gurunya. “Guru… maaf… aku tak bisa menjaga pedang itu… aku tak bisa melindungi… suamiku…”

Air hujan menetes dari rambut Tetua Qingyun yang basah, jatuh ke wajah wanita itu. Ia menggeleng pelan. “Jangan bicara lagi. Kau sudah melakukan lebih dari cukup. Kau telah melindungi bayi ini dengan seluruh hidupmu. Itu… jauh lebih berharga dari apa pun.”

Wanita itu menoleh pelan ke arah keranjang bambu. Matanya melembut, air mata kembali mengalir. “Lin Feng… dia… satu-satunya yang tersisa…”

Tangannya gemetar, berusaha meraih keranjang, tapi tak mampu. Tetua Qingyun dengan cepat membantu, mengangkat bayi mungil itu dari dalam formasi. Cahaya biru dari jimat pelindung masih menyelimuti tubuh kecil itu. Begitu ia disentuh, bayi itu menangis lebih keras, meski dunia luar baru mendengar suaranya kembali.

Wanita itu tersenyum, wajahnya penuh kebahagiaan meski tubuhnya remuk. “Lihatlah… betapa kuat tangisnya… dia… akan hidup… Guru… tolong… tolong lindungi dia…”

Suara itu semakin lirih, nyaris tak terdengar. Nafasnya terputus-putus, tubuhnya kejang sebentar lalu melemah.

“Jangan menyerah! Kau masih bisa bertahan!” Tetua Qingyun berusaha menyalurkan energi ke tubuhnya, telapak tangannya menempel di punggung wanita itu, mencoba menahan aliran darah yang terus keluar.

Namun wanita itu hanya menggeleng lemah. “Tidak… tubuhku… sudah hancur… tak ada yang bisa menahannya…”

Ia menatap bayi itu sekali lagi. Air matanya bercampur dengan darah yang mengalir di pipinya. “Lin Feng… anakku… maafkan ibu… karena tak bisa menemanimu… tumbuh besar…”

Tangannya terulur, menyentuh wajah mungil bayi itu. Sentuhan terakhir itu penuh kelembutan, penuh kasih, meski dingin kematian sudah merayapi kulitnya.

“Bahkan… meski ibu tak ada lagi… darah ibu akan selalu mengalir di tubuhmu… pedang itu… akan menjadi milikmu… suatu hari nanti…”

Suara terakhirnya pecah, berubah menjadi bisikan yang nyaris tak terdengar. Bibirnya bergerak pelan, mengucapkan doa terakhir untuk anaknya.

Kemudian, tubuhnya benar-benar lemas. Matanya perlahan menutup, senyum tipis masih tertinggal di wajahnya.

Sunyi.

Hanya suara bayi yang menangis keras di pelukan Tetua Qingyun, suaranya menusuk hati, seakan tahu bahwa pelukan hangat seorang ibu telah hilang untuk selamanya.

Tetua Qingyun menunduk dalam-dalam, hatinya perih. Ia menatap muridnya yang telah pergi, darahnya membasahi lantai batu, bercampur dengan hujan.

“Ratapanmu… malam ini… akan kuingat selamanya.” suaranya bergetar.

Ia lalu mengangkat Pedang Naga Langit dari tanah, menatap bilahnya yang berkilau pucat di bawah cahaya petir. Pedang itu bergetar samar, seolah merespons kematian pemilik terakhirnya.

“Aku bersumpah… Lin Feng akan ku jaga. Dengan pedang ini, aku akan pastikan darahmu tidak akan tumpah sia-sia.”

Di luar gua, badai masih menderu. Namun di dalam gua, malam itu menjadi saksi ratapan terakhir seorang ibu—ratapan yang menggema di hati anaknya, meski ia belum mampu mengerti.

Dan dari tangisan bayi itu, sebuah perjalanan panjang baru saja dimulai.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!