Bab 4

Disisi lain Syara yang keluar dari kelas langsung menuju ke parkiran mobil. Untuk pulang ke rumah

" Syara....!!" panggil sebuah suara membuat Syara berhenti melangkah dan menoleh

" Mini ada apa ?" tanya Syara. Karena seharusnya Mini sudah pulang sedari siang tadi

" Huh......huh....." Nafas mini terengah karna berlari mengejar Syara. " Aku numpang pulang ya Sya, tadi aku mengulang tugas. Jadi terlambat pulang. Padahal hari ini ada kerjaan mendesak," kata Mini yang bekerja paruh waktu di sebuah cafe

" Ya ayo sudah naik," kata Syara memencet remote kontrol mobil. Lalu masuk dan duduk di belakang setir. Begitu juga dengan Mini yang ikut duduk di sebelah Syara

" Lagian kenapa ngak fokus sih," kata Syara sambil menghidupkan mesin mobil

" Itu karna kemaren aku salah catat," kata Mini memberi alasan.

" Dasar pikun, jangan di pelihara," kata Syara Sembari menjalankan mobilnya keluar dari kampus.

" Hehehe ya sya, maklum aku ngak fokus. Oh ya, aku dengar kelas mu tadi di ajar sama dosen cogan?" kata Mini yang sempat mendengar trending gosip terupdate

" Halah....urusan gitu cepat nyatel di otak mu ya Min. Ngapain kepo coba. Aku sibuk mikir buat belajar. Mana sempat ngurusin yang begituan," Syara melirik Mini dengan nada sewot.

" Hehehe buat penyemangat, apa karna kelas kedokteran mu lagi banyak tugas?" tanya Mini yang tahu Syara mengambil dua jurusan sekaligus.

" Ya begitulah, kelas bisnis juga. Tadi aku sempat terlambat malah. Tapi untung dosennya ngak killer," kata Syara.

" Hahaha......itu bukan cerita baru, lagian siapa suruh loe ambil dua jurusan sekaligus. Aku yang nyambi kerja aja pusing," kata Mini yang berteman dengan Syara mulai dari SMA

" Kedokteran itu pilihanku Min, sedangkan bisnis itu untuk menyenangkan papi dan mamiku. Sebenarnya ini sulit, tapi aku tidak mau mengecewakan mereka. Tapi nyatanya masih ada saja tuntutan mereka. Pake kawin paksa lagi," kata Syara menggerutu.

" Yah ...namanya orang tua sya, kadang kita tidak mengerti cara mereka berpikir. Tapi menurutku itu sudah yang terbaik. Mungkin kita juga akan seperti mereka nanti," kata Mini sambil melirik Syara.

" Tapi ngak sampai begitu juga kali," kata Syara manyun.

" Lalu apa kamu sudah bertemu tuh calon pak suami Sya?" tanya Mini

" Belum, ngak ada waktu. Sebab itulah aku malas pulang. Kepalaku pusing memikirkan semua masalah hidupku," kata Syara seraya fokus melihat jalan.

" Sabar .....sya. Jangan sampai ini membuat diri mu tertekan. Bicara baik baik sama mami mu. Siapa tahu ada jalan keluar. Lagi pula, kenapa kamu ngak buat janji bertemu sama tuh calon pak suami. Kalian kan bisa saling bicara, agar bisa menunda pernikahan sementara sampai kamu lulus," kata Mini memberi saran

" Loe benar juga Min, nanti aku akan bicara sama mami. Atau kak Farah saja yang di jodohkan sama tuh orang," kata Syara yang belum bisa membayangkan bagaimana sosok calon suaminya.

" Itu Ide belian beb, nah sekarang sudah sedikit lega kan?" kata Mini

" Belum sepenuhnya Min, ini baru perkataan bukan tindakan," kata Syara karna tidak menutupi kemungkinan sang kakak menolak. Atau dari pihak suaminya.

" Yah....payah," kata Mini hanya membuang nafas kasarnya. Lalu keduanya saling tersenyum. sambil menatap hari yang semakin gelap.

**************

Dirumah keluarga Kusuma. Ken baru saja keluar dari kamar menuju ruang keluarga. Terlihat bundanya sedang asyik menonton drama cina seorang diri.

" Ayah mana bun?" tanya Ken seraya duduk di samping bundanya.

" Lagi ketemu partner bisnisnya. Oh ya apa kau sudah bertemu Syara. Kapan kalian fitting baju pengantin," tanya bunda.

" Entahlah, belum ada kabar. aku sudah mengirim pesan ke ponselnya tapi belum di balas," jawab Ken santai.

" Astaga...lalu bagaimana, kalian ini akan menikah. Bahkan jadwalnya sudah ditentukan sama ayah dan papi Syara nak," kata bunda.

" Santai saja bun, yang mau menikah saja lagi sibuk kuliah," kata Ken

" Kalian sudah bertemu?" tanya bunda penuh selidik menatap Ken

" Aku sudah tahu, tapi sepertinya dia belum," jawab Ken tersenyum.

" Ken ....jangan bilang kau bersikap dingin padanya. Dia itu calon istrimu. Usahakan untuk mengajaknya bicara supaya kalian bisa saling mengenal dan memahami satu sama lain," kata bunda menyarankan.

" Ya bun, Ken akan lakukan itu. Bunda tenang saja," kata Ken tersenyum pada bunda.

" Kau ini, ingat kau sudah dewasa Ken, harus banyak mengalah dan berusaha mengerti calon istrimu itu besok, Apalagi dia anak bungsu, walau masih muda. Tapi dia cukup pintar dan cantik menurut bunda. Sekalipun bunda belum pernah bertemu Syara.Tapi menurut bunda, pilihan mu itu tidak akan salah," kata bunda yakin.

" Hmm ....firasat seorang ibu itu memang tak pernah salah bun. Doakan saja yang terbaik buat Ken. Karna ini perjodohan dari dua keluarga. Kita harus saling menerima," kata Ken yang mulai ingin tahu banyak tentang Syara. Dan kebetulan sekali hari ini ia bisa bertemu gadis itu di kampus.Walau tanpa sengaja. Tapi Ken tahu Syara gadis yang baik

" Apa dia cantik?" kata bunda sembari melirik Ken sambil tersenyum.

" Seperti di fotonya bun, namun sedikit jutek," kata Ken

" Hah.....bagaimana bisa ?" tanya bunda kaget

" Hahaha...sudahlah bun, nanti jika bertemu orangnya bunda akan tahu sendiri," kata Ken saat teringat tadi malam ia bertemu gadis yang ternyata Syara calon istrinya.

" Ya ya...baiklah, kau urus sendiri masalah calon istrimu itu," kata bunda tersenyum sembari mengambil cemilan di meja. Lalu fokus melanjutkan tontonan nya.

Sedangkan Ken hanya tersenyum tipis karna teringat Syara yang terlambat datang berjalan dengan mengendap endap. Namun saat itu Ken pura pura tak melihatnya. Padahal ujung matanya mengawasi gerak gerik gadis itu.

" Anak itu...bagaimana dia bisa terlambat, apa yang dia lakukan sampai terlambat masuk kelas," kata Ken penasaran dengan Syara.

***************

Di rumah besar keluarga Narenda papi Syara sedang membaca koran sore. Ketika Syara melewati pria paruh baya itu

" Syara dari mana kok baru pulang?" tegur papinya saat Syara ingin masuk kamar

" Lagi banyak tugas pi, Syara ke perpus dulu tadi," Jawab Syara memberi alasan yang masuk akal. Karna papinya sudah tahu, jika Syara sudah berkuliah di semester 6. Lalu kembali melanjutkan langkahnya. Namun....

" Ya sudah, apa kau sudah buat janji bertemu dengan tuan muda Ken?" tanya papi melirik Syara sekilas.

" Belum minggu depan pi," jawab Syara

" Astaga ..pernikahan mu sudah dekat nak. Usahakan kalian bertemu sebelum akad," kata papi mengingatkan

" Aish...orang tua ini ngak bisa di lunakkan," batin Syara mengomel dalam hati. " Ya pi nanti Syara atur pertemuannya," kata Syara cepat melangkah pergi. Karna tak ingin di dikte papinya terus menerus. Lalu bergegas masuk ke kamarnya.

" Huh...aku harus cepat bawa semua buku buku ku besok. Biar papi tidak curiga. Lagi pula di kost sederhana paling aman buatku bersembunyi," kata Syara yang bermonolog sendiri pada dirinya. Karna ia sudah merencanakan semuanya. Sebelum papi nya tahu dan memblokir semua fasilitasnya. Dan ketika waktunya sudah tepat, Syara akan menghilang.

" Syara....." sebuah suara terdengar bersamaan pintu kamar Syara terbuka

" Kak Farah .....kakak sudah pulang...hore..." kata Syara senang. Karna ini kesempatannya untuk merayu sang kakak. Untuk menjadi pengantin penganti dirinya.

" Sini kak duduk sini" kata Syara menarik masuk Farah yang membuat Farah bingung

" Eits ...ada apa?" kata Farah kaget saat Syara menyeretnya tiba tiba.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!