Roki membuka amplop berwarna coklat itu, Roki penasaran dengan isi suratnya.
Lalu Roki membukanya, betapa terkejut saat Roki membaca itu surat undangan untuk Roki.
"Ternyata Zahra benar-benar melakukannya, aku kira dia hanya bercanda saja," ucap Roki.
"Mas, ada apa?" tanya Ningsih mendekat kearah Roki.
"Zahra menggugat aku, dia benar-benar menginginkan perceraian ini," jawab Roki.
"Bagus dong mas, itu berarti kita tidak harus sembunyi-sembunyi lagi," ujar Ningsih tidak tahu malu,
"Cepat nikahi aku secara negara mas, aku sudah tidak sabar," lanjut Ningsih.
"Tapi ini masalah besar Ningsih," ucap Roki.
"Masalah apa mas? Mbak Zahra sudah meninggalkan rumah ini, berarti rumah ini akan menjadi milik kita," ujar Ningsih tidak tahu diri.
"Rumah ini atas nama Zahra, dan aku tahu bagaimana sikap Zahra, dia tidak akan memberikannya begitu saja," kata Roki.
"Maksud mas apa?" tanya Ningsih.
"Semua harta yang aku miliki ini bukan milikku sepenuhnya, aku tidak mempunyai apapun Ningsih, kalo sampai aku bercerai dengan Zahra, aku akan kehilangan semuanya," jawab Roki.
"Apa mas, jadi kamu tidak mempunyai apa-apa?" tanya Ningsih.
Roki mengangguk, "Makanya aku tutupi dulu pernikahan kita, karena aku belum mendapatkan apa-apa."
Ningsih terkejut mendengar ucapan Roki, karena selama ini dia mengira kalo Roki sudah sukses di kota.
"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Ningsih.
"Kamu harus membantu aku, supaya bisa membujuk Zahra, agar tidak menceraikan aku," jawab Roki.
"Tapi aku juga tidak rela kalo kamu kembali dengan mbak Zahra mas," ucap Ningsih bingung, satu sisi dia tidak mau hidup susah, satu sisi dia tidak mau melihat suaminya dengan perempuan lain.
"Kali ini saja, ini juga buat kebaikan kamu," pinta Roki.
Dengan terpaksa, Ningsih meng iyakan keinginan suaminya.
"Terima kasih sayang, kamu bisa di andalkan," ucap Roki, mencium Ningsih.
Namun, kesenangan keduanya buyar, saat mendengar ketukan pintu.
"Ya sebentar, sabar napa," teriak Roki.
Lalu Roki membuka pintu.
"Ada apa pagi-pagi sekali bertamu, tidak punya sopan santun," kesal Roki.
"Kemasi baju-baju anda, rumah ini akan kami ambil alih," ucapnya.
"Apa maksud kalian, ini rumahku!" ujar Roki kesal.
"Nona Zahra sudah menjual rumah ini serta isinya, jadi kalian jangan membawa apa-apa dari rumah ini, kecuali baju kalian," katanya.
"Kalian berbohong, karena istri saya tidak mengatakan apapun," ucap Roki.
"Itu diluar kuasa kami, yang penting nona Zahra sudah menjual rumah ini kepada kami," jawabnya.
"Tidak, saya tidak akan meninggalkan rumah ini," kekeh Roki.
"Mas, ada apa ini?" tanya Ningsih yang penasaran.
"Rumah ini sudah dijual, jadi kalian harus mengemasi baju-baju kalian," katanya.
"Apa!" kaget Ningsih.
"Mas, kenapa bisa rumah ini di jual?" tanya Ningsih.
"Aku tidak tahu, mungkin Zahra yang menjual rumah ini" jawab Roki.
"Kok bisa, kenapa mbak Zahra tidak memberitahunya mas," ujar Ningsih.
"Cepat kalian bereskan baju-baju kalian, dan tinggalkan rumah ini," usirnya,
"Atau kami usir secara paksa."
"Oke beri kami waktu untuk mengemasi barang-barang kami," ujar Roki yang pasrah.
Roki menarik tangan Ningsih.
"Mas, kenapa ini bisa terjadi?" tanya Ningsih.
"Aku jiga tidak tahu, kenapa Zahra senekat ini," jawab Roki.
"Aku tidak mau tinggal di kontrakan kecil mas, minimal kamu nyewa apartemen," kesal Ningsih.
"Kemasi bajumu, nanti akan aku pikirkan kita akan tinggal dimana," ujar Roki.
Ningsih membereskan bajunya kedalam koper, dengan perasan kesalnya, karena Ningsih sudah betah tinggal dirumah Zahra.
"Ayo kita tinggalkan rumah ini," ajal Roki.
Ningsih mengikuti langkah suaminya. Lalu, Roki memesan taxi online, guna akan mengantarkannya ke tempat yang akan dia tuju.
"Kita akan kemana mas?" tanya Ningsih.
"Ke rumah Zahra, aku mau memastikan kalo memang Zahra yang menjual rumah itu," jawab Roki.
"Istrimu benar-benar tidak tahu diri," kesal Ningsih.
Roki tidak menjawab apapun ucapan Ningsih, karena pikirannya sudah setres.
"Bagaimana kalo mamah dan papah sudah tahu kalo aku selingkuh, mereka akan sangat membenci aku," batin Roki.
Setelah menempuh satu jam lamanya, akhirnya Roki sampai di tempat yang dia tuju.
"Mas, ini rumah siapa?" tanya Ningsih, menatap rumah itu dengan tatapan kagum,
"Besar, dan juga sangat mewah," lanjut Ningsih.
"Ini rumah orangtua Zahra," jawab Roki.
Ningsih kaget mendengar jawaban Roki, karena ternyata kakak madunya itu bukan orang biasa.
Roki memberanikan memencet bel rumah orangtua Zahra.
"Ada apa kamu kesini?" tanya Zahra, saat dia membuka pintu rumahnya.
"Sayang maafkan aku, jangan hukum aku dengan semua ini," ucap Roki, yang bersimpuh dibawah kaki Zahra.
"Sekali pun kamu mencium kakiku, aku tidak akan pernah memaafkan kalian," tegas Zahra.
Rasanya Roki ingin memaki Zahra, karena dia merasa sudah di rendahkan, tapi Roki tidak mau mengambil keputusan yang beresiko.
"Aku akan berubah, tapi kembalilah denganku," pinta Roki.
"Kenapa kamu selingkuh dengan wanita yang levelnya dibawah aku mas?" tanya Zahra,
"Aku lebih dari jalang itu, kenapa kamu menikahi dia."
"Mbak, kamu..." Sahut Ningsih, tapi ucapannya terpotong.
"Aku khilaf sayang, maafkan aku," ucap Roki.
"Bukannya kamu tidak mencintai aku selama ini, lalu kenapa kamu meminta aku untuk kembali?" tanya Zahra.
Dam! Roki tidak bisa menjawab pertanyaan Zahra.
"Sudahlah, aku sudah muak dengan drama yang kalian lakukan," kata Zahra,
"Aku tahu, kami ingin kembali denganku bukan kamu mencintai aku, tapi kamu tidak mau hidup miskin," lanjut Zahra.
"Sial, kenapa dia tahu apa yang aku rencanakan," batin Roki.
"Kamu jangan so bingung begitu mas, aku tahu apa yang kalian rencanakan," ujar Zahra,
"Kalian memang cocok, sama-sama matre, dan tidak mempunyai hati," lanjut Zahra.
"Tidak, aku benar-benar ingin berubah, semua yang kamu katakan itu tidak benar," jawab Roki.
Zahra menatap Roki dengan Ningsih, lalu Zahra tertawa kecil.
"Aku akui kalo akting kalian memang bagus," puji Zahra.
"Maksud kamu apa sayang?" tanya Roki.
Tanpa menjawab apapun, Zahra memperlihatkan sebuah rekaman, yang memperlihatkan Roki dengan Ningsih, sedang menyusun rencana.
"Dari mana kamu dapatkan rekaman itu?" tanya Roki, dengan perasaan geram.
"Tidak perlu aku katakan, aku dapat dari mana rekaman ini," jawab Zahra,
"Tapi, yang pastinya aku tahu apa yang akan kalian lakukan," lanjut Zahra.
"Itu semua tidak benar," ujar Roki mengelak.
"Bukti sudah jelas, tapi kamu masih mengelak mas!" Bentak Zahra.
"Pergi kalian dari sini, dan jangan menganggu adikku lagi," usir Irpan, yang tidak suka dengan Roki.
"Harusnya kamu sebagai kakak bisa menyatukan kembali rumahtangga adik kakak, tapi ini malah jadi kompor," ujar Roki tidak tahu diri.
"Dasar bajingan!"
Irpan memukul wajah Roki, sampai Roki terjatuh.
"Nikmati saja hasil perselingkuhanmu, Roki. Jangan menganggu aku lagi."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Noey Aprilia
Diihhhh....
kere aja belagu....ksian bgt sih tu nnek shir kna tipu....krain lakinya holang kaya,taunya......😝😝😝
2025-08-09
0