"Kenapa matamu sembab?" tanya Rika.
Rika sahabat Zahra, sekaligus pengacara hebat yang selalu menang saat di persidangan.
Rika terlihat sangat khawatir dengan Zahra.
"Lo kenapa, cerita sama gua," kata Rika, menatap Zahra.
"Bantu gua, supaya bisa cerai secepatnya dengan mas Roki," ujar Zahra, dengan tatapan kosongnya.
"Apa!"
"Lo bicara apa?" Rika kaget mendengar ucapan sahabatnya, karena dia tidak pernah mendengar gosip apapun tentang rumah tangga sahabatnya.
"Suami gua selingkuh," kata Zahra.
"Apa!" teriak Rika kaget, dia benar-benar syok mendengar ucapan sahabatnya.
"Jangan teriak-teriak, orang lain melihat kearah kita, Rika."
"Atur napasmu dulu," kata Zahra.
Rika mengatur napasnya.
"Oke, gua udah lumayan tenang, sekarang Lo cerita bagaimana kejadiannya," ujar Rika, dia memegang tangan Zahra seolah memberikan kekuatan kepada sang sahabat.
Zahra menarik napasnya, matanya menatap lekat kearah Rika.
"Gua juga belum tahu banyak, beberapa hari yang lalu, gua melihat suami gua bermesraan dengan wanita itu," kata Zahra.
Lalu Zahra memberikan sebuah rekaman di ponselnya kepada Rika.
"Wah gila, suami Lo brengsek, Lo lagi hami, dia malah asik dengan wanita lain," geram Rika.
"Tapi, satu hal yang akan membuat Lo syok, Rik," ujar Zahra.
Mata Rika menatap lekat kearah Zahra, seolah tatapan itu, tatapan penuh pertanyaan.
"Apa?" tanya Rika.
"Wanita itu ada di rumah gua," ucap Zahra.
"Apa!"
Lagi-lagi Rika syok mendengar ucapan sahabatnya.
"Dia namanya Ningsih, mas Roki membawanya ke rumah sebagai pembantu," ujar Zahra.
"Memang gila suami Lo, kita harus memberikan pelajaran," geram Rika.
"Gua pasti akan membalaskan perbuatan mereka, tapi ngak sekarang," kata Zahra.
"Maksud Lo, apa?" tanya Rika menatap aneh.
"Gua mau memberikan kesenangan buat mereka, setelah itu, gua akan menghancurkan mereka," jawab Zahra.
"Gua ngak ngerti, apa maksud Lo Zahra," kata Rika.
Kemudian, Zahra memberitahukan rencananya kepada Rika.
"Lo serius, itu akan membuang-buang waktu, dan Lo bakal lama melihat mereka berada di rumah," ucap Rika.
"Ngak masalah, gua aman," jawab zahra tersenyum manis.
Rika menatap sahabatnya, dia merasa kasihan dengan nasib tragis Zahra.
"Gua ngak tahu harus berkata apa. Tapi, gua akan membantu Lo, kapan pun Lo butuh," ucap Rika.
"Terima kasih Rik, untuk saat ini memang buat butuh suport dari orang tedekat gua," kata Zahra,
"Gua ngak tahu salah gua dimana, sampai suami gua tega selingkuh," lanjut Zahra.
Rasanya masih terasa sakit, saat mengingat pengkhianatan suaminya.
"Kenapa dia ngak melakukannya sedari dulu, kenapa harus sekarang, saat gua sedang hamil anak dia,"
Rika hanya bisa memeluk Zahra, dia memberikan kekuatan kepada sahabatnya.
"Benar kata orangtua gua, kalo mas Roki memang bukan laki-laki baik," ucap Zahra.
Zahra langsung mengingat beberapa tahun kebelakang saat keluarganya menentang hubungan mereka, tapi Zahra meyakinkan keluarganya kalo Roki laki-laki baik yang akan menjaga dirinya.
"Gua salah, gua ngak mendengarkan omongan keluarga gua Rik," ucap Zahra, dengan suara tangis sesegukan.
"Lo ngak salah, Zahra. Yang salah itu laki-laki bajingan itu yang ngak bersyukur dapat istri seperti Lo," kata Rika mengelus punggung Zahra.
Zahra menangis di dalam pelukan Rika, menumpahkan rasa sakit yang tidak bisa dia bicarakan selain menangis.
"Gua akan selalu ada buat Lo," ucap Rika.
Zahra menyusut air matanya, lalu melepaskan tubuhnya dari dekapan Rika.
"Maaf, gua nangis," ucap Zahra.
Rika menggelengkan kepala, "Ngak apa-apa."
"Gua harus pulang Rik, sudah sore," kata Zahra.
"Gua antar, kebetulan arah kita sama, gua ada klien di daerah sana," ujar Rika.
"Yasudah kalo tidak merepotkan," ucap Zahra.
"Tidak sama sekali," jawab Rika.
Lalu keduanya meninggalkan caffe, dan bergegas masuk kedalam mobil.
"Gua ngak tahu bagaimana reaksi keluarga gua, kalo tahu mas Roki selingkuh," ujar Zahra.
"Gua yakin, mereka akan lebih syok dari gua," kata Rika.
"Apa gua ngak usah cerita ya?" sahut Zahra.
"Bagaimana pun keadaan Lo, Lo harus cerita sama mereka, karena Lo akan pulang ke keluarga Lo, kalo ada apa-apa," ujar Rika.
Zahra menghela napas, rasanya masih berat untuk cerita kepada keluarganya, tentang masalah rumahtangganya.
"Tapi kan Rik, ini masalah rumahtangga gua," ucap Zahra.
"Gua tahu, tapi ini bukan masalah sepele Zah, kecuali Lo mau maafin suami Lo, dan lupain kalo suami Lo pernah menduakan Lo," ujar Rika,
"Selingkuh itu penyakit ngak ada obatnya, kecuali mati," lanjut Rika.
"Lo benar, seharunya gua ngak ada pikiran kesana," kata Zahra.
"Lo tahu kan, siapa gua," ucap Rika,
"Seorang pengacara hebat, yang selalu menang saat persidangan," lanjur Rika.
"Iya deh," jawab Zahra tertawa.
Rika senang, akhirnya Zahra bisa tersenyum lagi, setidaknya dia melupakan rasa sedihnya, walapun cuman sebentar.
Zahra turun dari mobil Rika, karena dia sudah sampai di depan rumahnya.
"Mobil mas Roki, tumben dia pulang masih sore, biasanya suka pulang malam," batin Zahra penuh penasaran.
Zahra masuk kedalam rumahnya.
"Sepi, bi Inah kemana?" batin Zahra,
"Bi, bi Inah.." Panggil Zahra.
Namun, bi Inah tidak menyahut panggilan dirinya.
"Ngak biasanya bi Inah keluar rumah, kalo bukan aku yang menyuruh," batin Zahra.
Zahra masuk kedalam kamarnya yang sepi tidak ada suaminya.
"Kemana mas Roki, dia tidak ada di dalam kamar," gumam Zahra.
Zahra langsung melangkah kearah belakang, dimana tempat khusus kamar pembantu.
"Mas Roki, kamu habis ngapain dari belakang?" tanya Zahra, saat dia melihat suaminya dari arah kamar Ningsih.
"Em a-anu sayang.." ujar Roki gugup.
"Anu apa mas, kenapa nada bicaramu seperti sedang ketakutan?" tanya Zahra.
"Tadi tuan membantu saya, karena di kamar saya ada kecoa nyonya," sahut Ningsih, yang keluar dari kamarnya.
"Kecoa? Rumah ini bersih dari berbagai hewan, bahkan semut pun tidak berani masuk," ujar Zahra.
"Saya serius nyonya, tadi ada kecoa di kamar saya," sahut Ningsih lagi, dia seolah membela dirinya agar tidak di curigai.
"Ningsih benar, tadi aku membantunya," kata Roki,
"Kamu jangan mikir aneh-aneh, Ningsih ini saudara aku," lanjut Roki membela dirinya.
"Memangnya kamu tahu apa dengan pikiran aku mas?" tanya Zahra, menatap tajam kearah suaminya.
Roki tidak menjawab, dia hanya melirik kearah Ningsih.
"Ah yasudahlah lupakan itu," kata Zahra,
"Kemana bi Inah, tidak biasanya beliau keluar tanpa sepengetahuan saya?" tanya Zahra lagi.
"Tadi bi Inah pamit keluar, katanya ada barang yang mau dibeli," sahut Ningsih.
Setelah mendengar jawaban Ningsih, Zahra langsung meninggalkan mereka.
"Kalian pikir aku bodoh, kalian pasti melakukan hal menjijikan saat aku tidak ada dirumah," batin Zahra,
"Untung di dalam kamar dia sudah dipasang CCTV, jadi aku akan melihatnya sekarang."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Noey Aprilia
Gmes kl istri sah yg msih mau main2 sm psangn durjana ky mreka,buang2 wktu plus bkin skit hti mkin lma....tp mngkn ada kpuasan trsndri sih kl bkin mreka hncur pelan2.....
2025-08-07
0