"Seharusnya mas Roki sudah pulang sejak kemarin, tapi sampai hari ini dia belum pulang juga."
Zahra bukan khawatir dengan suaminya, tapi dia sudah tidak sabar ingin menemukan bukti lain tentang perselingkuhan suaminya.
Tok..
Lamunan Zahra buyai, kala mendengar suara pintu di ketuk.
Lalu Zahra melangkah dengan pelan kearah suara ketukan pintu itu.
"Mas Roki," ucap Zahra, menatap sang suami dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Wanita ini kan selingkuhan mas Roki, kenapa dia membawa wanita ini ke rumahku," batin Zahra.
"Siapa wanita yang kamu bawa itu, mas?" tanya Zahra.
"Nanti akan aku jelaskan, sekarang kita masuk dulu," kata Roki.
Roki membawa wanita itu masuk kedalam rumahnya, terlihat senyum menyeringai dari bibir wanita itu.
"Ayo duduk dulu sayang," ucap Roki tersenyum.
Zahra duduk disebelah suaminya, menatap lekat kearah seorang wanita yang sedang melihat-lihat seisi rumah dengan tatapan kagum.
"Kenalkan dia Ningsih," ucap Roki,
Roki menatap kearah Ningsih, seolah memberikan kode agar mengenalkan dirinya.
"Saya Ningsih mbak, kebetulan saya masih saudara dari ibunya mas Roki," kata Ningsih tersenyum.
"Lalu, apa keperluanmu kesini?" tanya Zahra dengan raut wajah ketus.
"Ningsih akan menjadi asisten rumahtangga disini," ujar Roki.
"Kan sudah ada asisten rumahtangga disini mas, dan juga asisten rumahtangga yang lama juga masih sehat, bisa mengerjakan seisi rumah disini," kata Zahra.
"Mas tahu sayang, tapi sebentar lagi kamu akan melahirkan, dan kamu akan sangat kerepotan dengan bayi kita," ucap Roki.
"Jadi maksud kamu, dia akan mengurus kamu mas?" ujar Zahra.
"Bukan sayang, tapi Ningsih akan membantu pekerjaan bi Inah," jawab Roki terdengar gugup,
"Permainan seperti apa yang kamu mainkan, mas. Tapi, yasudah aku ikutin permainanmu," batin Zahra.
"Kenapa tidak memberitahu aku dulu kalo kamu akan menambah babu disini mas," ucap Zahra.
Mendengar kata 'babu' Ningsih menatap tajam kearah Roki, seolah-olah dia ingin menjadi nyonya dirumah tersebut.
"Karena mas pikir, kamu akan segera melahirkan, dan kebetulan Ningsih sedang membutuhkan pekerjaan," ucap Roki.
Zahra menghela napas, bukan saatnya dia marah-marah atau mencecar Roki dengan banyak pertanyaan.
"Yasudah, dia bisa kerja disini," ucap Zahra.
"Terima kasih sudah mengizinkan Ningsih bekerja disini sayang," kata Roki, wajahnya sumringah.
"Kita kan sudah di wajibkan membantu orang-orang miskin mas, jadi kenapa tidak," jawab Zahra.
Lagi-lagi jawaban Zahra membuat Ningsih kesal, ingin rasanya memaki Zahra, tapi dia tahan karena rencananya belum berjalan.
"Awas aja kamu mbak, kalo sudah aku dapatkan semua harta kekayaan mas Roki, aku akan mengusir kamu," batin Ningsih kesal.
"Dan satu hal yang harus kamu tahu, panggil saya nyonya, dan panggil suamiku tuan, bukan mas!" tegas Zahra,
"Kamu mengerti, Ningsih!"
"Baik nyonya," jawab Ningsih gugup.
"Sayang, anu.. Ada yang mau aku katakan lagi," ucap Roki dengan nada bicara gugup.
"Ada apa lagi, mas?" tanya Zahra.
"Ningsih biar tidur di kamar tamu saja ya, jangan dikamar belakang," pinta Roki.
"Jangan ngaco kamu mas, Ningsih disini cuman babu, kenapa harus tidur di kamar tamu," ujar Zahra kesal.
"Mas tahu, tapi Ningsih masih saudara aku, itu berarti saudara kamu juga, masa kamu tega," ujar Roki lagi.
"Saudaramu, bukan saudara aku, mas! Ingat itu. Dan Ningsih disini bekerja, bukan tamu," tegas Zahra lagi,
"Disini aku nyonya rumah, jadi aku yang berhak memutuskan sesuatu!"
Roki tercengang mendengar jawaban Zahra, selama ini Roki mengenal Zahra sebagai perempuan yang lemah lembut.
"Aku juga berhak atas keputusan dirumah ini, aku suami kamu, seharusnya seorang istri nurut dengan suaminya," geram Roki, nada suaranya sudah naik.
"Ya, seorang istri memang diwajibkan ta'at dengan suaminya, aku tahu, aku tidak bodoh. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, kalo rumah ini atas nama aku, pemberian orangtuaku, jadi kamu tidak berhak atas rumah ini," tegas Zahra,
"Jangan lupakan, siapa dirimu, dan berasal dari mana kamu, ingat, aku dan keluargaku yang mengangkat derajat kamu."
"Zahra!" bentak Roki.
"Kalo kamu tidak setuju dengan keputusanku, silahkan bawa babu ini kembali ke kampungnya," ujar Zahra.
"Sudah nyonya, tuan jangan bertengkar. Nyonya benar tuan, saya disini sebagai pembantu bukan tamu, jadi ngak apa-apa kalo saya di kamar belakang," sahut Ningsih.
"Ya, sudah seharusnya kamu sadar diri," kata Zahra kesal,
"Bi.. Bi Inah," panggil Zahra.
"Iya non ada apa?" tanya bi Inah, yang langsung menghampiri majikannya.
"Antarkan Ningsih ke kamarnya bi, dia akan membantu bibi melakukan pekerjaan rumah," ucap Zahra.
"Baik non," jawab bi Inah.
Ningsih langsung dibawa oleh bi Inah..
Setelah mengatakan itu, Zahra meninggalkan suaminya, dengan langkah pelan, dia masuk kamar.
Lalu, Zahra duduk diatas kasur empuknya, dan dia mengambil ponsel diatas meja, Zahra menelpon seseorang.
[Besok jam 11 siang, datang kerumahku, pasang CCTV disetiap sudut rumahku]
[Baik, saya akan kesana besok]
Setelah mengatakan itu, Zahra langsung menutup telponnya.
"Kita lihat, siapa yang akan menang dalam permainan ini mas," batin Zahra.
Ceklek..
Pintu kamar terbuka, terlihat Roki masuk dan mendekati Zahra.
"Maafkan aku sayang, tadi aku sudah kelewat batas," ucap Roki.
Tidak ada jawaban dari Zahra, dia langsung bangkit dari duduknya, lalu mengambil handuk, guna akan mandi.
"Tidak biasanya dia marah seperti ini, biasanya dia selalu meminta maaf duluan," batin Roki aneh.
Roki tidak terlalu mengambil pusing dengan sikap Zahra, karena Roki tahu kalo Zahra sangat mencintai dirinya..
Sedangkan Zahra, dia masuk kedalam toilet, bukan untuk mandi, tapi hanya ingin menenangkan pikirannya.
"Mas Roki sudah terang-terangan membawa selingkuhannya kedalam rumah ini, kemungkinan suatu saat nanti, dia akan mengatakan semuanya," batin Zahra,
"Selingkuhanmu dibawah diriku mas, dia hanya bermodal gatal saja denganmu, apa salahku sehingga kamu tega menduakan aku saat aku sedang hamil anak kita."
Zahra masih bertanya-tanya dimana letak kesalahannya, sehingga suaminya tega menduakan dirinya.
"Aku tidak boleh lemah, aku harus kuat demi diriku dan juga anak di dalam kandungan aku," ucap Zahra.
Zahra menyusut air matanya, lalu dia mencuci mukanya agar tidak kelihatan nangis.
Lalu Zahra keluar dari toilet.
"Kemana dia, apa dia menemui selingkuhannya," batin Zahra.
Zahra tidak mau ambil pusing, dia merebahkan tubuhnya, meskipun dia tidak kemana-mana tapi rasanya lelah.
"Semoga kelak, kamu tidak akan seperti ayah kamu ya nak." Zahra mengelus perutnya yang sudah besar.
"Bunda tahu kamu akan hidup tanpa sosok ayah, tapi bunda akan berusaha menjadi sosok ayah kamu."
Zahra sudah memutuskan akan berpisah dari suaminya, kalo semua bukti sudah ditangannya, sekarang dia akan mengumpulkan kebusukan suaminya.
"Tunggu pembalasanku!"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments
Noey Aprilia
Ya ampuuunnn.....
sgtu gtalnya kah smp d bwa k rmh istrinya???pdhl dia jg cma numpang....
ga sbr nunggu mreka d tendang,trs jd gmbel...😝😝😝
2025-08-06
0