“Heh, ada apa ini? Mengapa ibu harus menurunkannya? Selain menantu yang baik, dia sudah ibu anggap seperti anak sendiri.”
“Haaaah, aku tidak peduli!! Jika besok foto ini masih tergantung di sana, aku akan merusak dan memecahkannya di hadapan ibu.” Jia menunjuk dengan wajah yang kesal.
“Jangan membuat keributan!! Kamu tidak pernah menjengukku dan sekarang datang hanya untuk mencari masalah??”
“Ibu, aku—”
Nata memotong pembicaraan Jia dan ibunya, lalu segera berpamitan.
Jia bergumam tanpa henti. “Mengapa menahanku Nat? Apa kamu tidak tahu bahwa makeup ku di foto itu membuat wajahku terlihat seperti badut? Terlalu mencolok, berlebihan dan … ah sudahlah, aku selalu menyesali pernikahan sial4n itu!!!”
Kemudian Nata segera mendorong Jia untuk masuk ke kamar, berusaha menenangkan dan meredam kemarahan antara Jia dan ibunya agar tidak ada perkelahian.
Nata menutup pintu dan segera berbalik, menatap Jia. “Apa reonald masih mengganggumu sampai saat ini? Si pengecut itu dulu terlihat sangat mencintaimu saat melamarmu di depan kami!!!”
“Tidak, setelah dia menceraikan dan mengusirku dari rumahnya! Haaa … sudahlah … aku harus mencari sesuatu.”
Kemudian Jia melihat ke setiap sudut di ruang kamarnya. Dia berusaha mengingat letak “spy camera pen”. Jia mulai membongkar beberapa lemari, namun tidak ada di sana. Kemudian dia perlahan berjalan menuju laci meja belajarnya, dan disanalah dia menemukannya.
“Jia, sebenarnya untuk apa kamu mencari pulpen ini??”
“Kamu ingat dengan peristiwa kay yang melukai tangan kiriku ini?”
“Ya, aku tahu, tetapi … untuk apa kamu membahasnya lagi?”
“Karena pada saat kejadian tersebut, aku membawa salah satu pulpen ini dan menaruhnya di saku baju ku!! Namun aku ragu, sebab aku tidak menekan tombol on nya, jadi… aku hanya ingin memastikannya saja.”
Seketika Nata terkejut seraya menutup mulut dengan tangannya. Jia tidak merespon reaksi yang Nata tunjukkan padanya. Dia tetap fokus dan menyalakan komputernya. Satu persatu mencoba usb dari pulpen tersebut, berharap menemukan sebuah file. Namun ironisnya, dia tidak menemukan apapun.
Nata menepuk pelan bahunya seraya menguap. “Kamu benar Jia, kita sudah mencoba keempat pulpen ini dan tidak ada file yang tersimpan, lagipula kamu juga tidak tahu bahwa itu pulpen kamera, sangat wajar jika kamu tidak menekan tombolnya. Mari, kita akhiri saja, aku sudah sangat mengantuk.”
“Ya, dan ini pulpen terakhir, jika tidak ada apapun, mari kita lupakan dan lanjutkan hidup seperti biasa saja.”
Tanpa perlu berlama-lama, Jia mengkoneksikan kembali usb dari pulpen terakhir yang tersisa, kemudian membuka foldernya. Terlihat ada satu file video berada di sana, lengkap dengan tanggal, tahun dan jam berapa pada saat video tersebut dibuat. Jia dan Nata seketika berpandangan satu sama lain.
“Nat, buka lah videonya,” ucap Jia seraya berdiri dan menyuruh Nata untuk duduk di kursi komputernya.
“Kamu yakin tidak apa-apa melihat ini?” balas Nata dengan penuh rasa cemas.
Jia dengan kesadaran penuh mengangguk, membuat Nata tidak ragu untuk membuka file tersebut. Nata terlihat “shock”, mulutnya menganga lebar saat melihat isi video tersebut.
Bagaimana tidak, wajah dan kaki Kay terlihat jelas saat menginjak perut Jia, menyundut rokok, memukul wajahnya dan mengeluarkan pisau untuk melukainya. Semua percakapan dan perbuatannya telah terekam dengan jelas dalam video itu. (Beauty in the Struggle, Bab. 29)
Kemudian Nata menjeda video tersebut, lalu mengernyitkan dahi seraya meneteskan air mata. “Ma… maafkan aku Jia, ka… kamu pasti sangat kesakitan saat itu!! Andai aku ada di sana, perempuan gil4 itu pasti tidak akan berani menyerang mu!!!”
“Heii … lihatlah, sekarang aku baik-baik saja! Hm, sekarang lihatlah ke sini, aku mengerti mengapa kamera pada pulpen ini, saat itu menyala dan merekam semua kejadian.” Jia tersenyum sambil mengedipkan matanya kepada Nata.
“Mengapa Jia? Tolong jelaskan padaku!” Nata mengelap air mata dan membuang sisa ingusnya dengan tisu.
“Pen kamera ini pertama kali menyala saat kay mendorong badanku, sehingga aku terjatuh ke jalanan aspal. Kita anggap saja dia secara tidak sengaja menekan “ON” pada saat mendorongku.”
Nata memegang dan mengamati pulpen tersebut. “Astaga, tombol “ON” dan “OFF” layar sentuh!! Bahkan hantu sekalipun tidak dapat melihat ini!! Sepertinya pulpen ini di desain untuk para detektif atau FBI daripada untuk seorang pelajar sepertimu dulu.”
Jia menggeser Nata agar berdiri sehingga dia dapst duduk di kursi komputernya. “Hm, sebentar, aku akan mengembalikan videonya ke durasi awal. Ah, ya benar!! Lihatlah di bagian akhir video, sepertinya supir taksi ini tidak sengaja mematikan pulpen kamera, pada saat dia mengangkatku ke “bed mobile” menuju ruang IGD Rumah Sakit. Waaaaaaah, bagaimana bisa rekaman ini ada hanya karena unsur ketidaksengajaan??”
Nata terdiam mematung, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Jia. “Dua orang berbeda menyalakan dan mematikan “spy camera pen” milikmu? Bukan kamu, tetapi orang lain! Lebih anehnya lagi, pulpen tersebut tidak hilang selama peristiwa tersebut terjadi. Benar-benar tidak masuk akal.”
Jia menganggukkan kepalanya, menyetujui pendapat Nata. Dia sendiri pun masih tidak percaya dengan apa yang ditemukannya.
“Lantas … apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan melaporkannya kepada polisi dengan bukti dari 11 tahun yang lalu? Apakah bukti seperti ini masih bisa valid?” Sahut Nata seraya menarik lengan baju Jia.
Jia tersenyum miris seraya mengirim video tersebut ke ponselnya. “Mari kita pikirkan itu nanti. Pasti ada cara yang lebih baik daripada itu. Sekarang sudah pukul 23:20 WIB. kita harus segera pulang, aku akan mengantarmu sebelum kembali ke apartemenku.”
Mereka keluar dari kamar dengan langkah kaki yang tenang, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara karena tidak ingin membuat keributan.
Pada saat menyusuri ruang tamu, Jia mendapati ibunya tengah tertidur lelap di bangku sofa. Dia mengamati wajah ibunya yang tampak menua.
Jia tampak menahan air mata yang hampir keluar dari ekor matanya, terselip rindu sekaligus marah setiap Jia menatapnya.
Nata yang melihat hal itu segera menyadari kondisi Jia. Dia menepuk pelan pundak sahabatnya itu. “Kamu tidak apa-apa? Apa kamu ingin tidur di sini, menemani ibumu?”
“Entahlah … aku rasa beliau tidak menginginkanku di sini. Aku selalu bisa merasakan jejak kemarahan di setiap langkah di rumah ini. Bagaimana ayah, aku dan kakakku Jad diperlakukan buruk olehnya. Sebaiknya … kita pergi saja.”
“Aku akan selalu ada untukmu Jia!!” Nata mengusap air mata yang mengalir dengan kedua tangannya.
Meski begitu, Jia tidak tega membiarkan ibunya sendirian, merasakan hawa dingin yang menusuk tulang.
Pada akhirnya, Jia segera memerintahkan Bi Inah untuk membangunkan dan mengantarkan ibunya ke kamar. Kemudian, Jia dan Nata segera beranjak pergi dari rumah, sebelum ibunya terbangun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
🔥Cherry_15❄️
udah nikah lagi aja... keren
2025-08-15
1
🔥Cherry_15❄️
sedih banget, udah diceraikan, diusir pula.
2025-08-15
1
🌹Widianingsih,💐♥️
wihhhh.... ballpoint yang canggih, sebelas tahun masih menyimpan videonya?
ahh seandainya saja aku punya😁
2025-08-15
0