Prolog
Isi otaknya dengan cepat merangkai setiap memori yang paling ingin Jia hindari. Namun, entah bagaimana caranya, semua rekaman memori itu muncul kembali, menyelinap tanpa ampun, dan Jia, sangat membenci hal itu.
Tidak!! Ada apa ini?? Setelah sekian lama, Mengapa datang lagi?? Mari kita lupakan!!” Gumam Jia lirih sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
Kemudian, dengan gesit dia mengambil sebuah buku yang ada di ruangan kliniknya, berusaha menepis semua kenangan menyakitkan itu. Dia membuka sebuah buku motivasi dan menemukan sebuah kalimat yang menarik.
“Jangan biarkan masa lalu menentukan masa depanmu. Percayalah, kamu memiliki kekuatan untuk menciptakan kebahagiaanmu sendiri.”
...****************...
Sebelas tahun berlalu. Jia merasa saat ini adalah waktu yang terbaik dari segala tahun yang pernah ada. Setelah sebelumnya selalu bertarung dengan dirinya sendiri, membuang rasa trauma, yang terkadang masih membekas di benaknya.
Semua berawal dari perlakuan Kay dan seisi sekolah yang merundungnya, Jia didiagnosis mengalami gangguan mental, yaitu Depresi berat.
Dia selalu menyangkalnya, namun gejala tersebut kerap kali muncul pada saat semester genap, saat dia menduduki bangku kelas dua SMA.
Saat malam hari, Jia terbangun dengan keringat dingin dan jantung yang berdetak kencang. Dia bermimpi seolah-olah Kay datang, bersiap mencekik untuk membunuhnya. Mimpi buruk itu terus berulang sehingga mengganggu berbagai aktivitas di sekolahnya
Pada akhirnya, Jia memutuskan untuk melakukan terapi dan meminum obat-obatan secara teratur, tanpa seorangpun yang tahu, kecuali Nata.
Keyakinan untuk sembuh inilah yang mengantarkan Jia melanjutkan pendidikannya untuk belajar di sekolah kedokteran. jia dinyatakan lulus setelah berjuang dan belajar mati-matian mengambil profesi spesialis gangguan jiwa, yaitu menjadi seorang Psikiater.
Hal yang sepadan bukan? Belajar sambil mengobati dirinya sendiri dan menolong orang lain. Kemudian terdengar suara langkah kaki masuk ke ruang kliniknya, tanpa mengetuk pintu maupun mengatakan kata “permisi”, sehingga membuatnya harus menutup buku bacaannya.
Wanita dengan kemeja “oversize” warna biru abu dengan model lengan balon itu tampak sibuk dengan semua barang bawaannya.
“Taraaaaaaa!! Selamat ya, resmi jadi Dokter Jiwa!!” Nata menyodorkan kopi es americano kesukaannya.
Jia dengan nada datarnya, “Hanya ini? Aku perlu uang banyak Nat, untuk membayar sewa klinik ku.”
“Sialan! Jangan bercanda! Kamu bahkan lebih kaya dariku!” Nata dengan nada ketusnya menaruh buket bunga mawar putih di meja.
“Oh ya, bagaimana bisa seorang Asisten Manager berada disini? Bagaimana dengan bos mu? Dia tidak menyuruhmu lembur lagi bukan??” Sahut Jia sambil meminum es kopinya.
Nata terlihat kesal seraya merengek kepada Nata seperti anak kecil. “Lupakan, jangan tanya dia! Sekarang aku sedang kabur! Ayo makan malam denganku Jia, kumohon???”
...****************...
Jia mengiyakan kemauan Nata, untuk makan di restoran kesukaannya, yaitu “seafood restaurant”. Mereka menikmati makan malam dengan penuh canda tawa. Sampai suatu ketika, ponsel Jia berdering, Jad menghubunginya melalui “video call”.
Jad bertanya, hadiah natal apa yang Jia inginkan di akhir tahun ini. Sudah menjadi kebiasaan Jad dan ayahnya untuk mengirimkan banyak hadiah.
Mereka melakukan ini sejak Jia berumur 11 tahun. Jia berusaha menolak hadiah yang diberikan mereka, karena sudah terlalu banyak, sampai-sampai ada yang belum sempat dia buka.
“Lebih baik kamu dan ayah ke Indonesia, itu hadiah Natal terindah untukku.”
Jad terlihat kesal. “Tidak, selama bajing4n yang menyakitimu itu masih berada di sana!”
Mata Jia melebar, dia segera memarahi kakak laki-lakinya. “JAD!!! Jaga bicaramu, bukankah kita telah sepakat untuk tidak membahasnya lagi???”
“Baiklah, maaf! Jadi, hadiah apa yang kamu inginkan? Bagaimana jika sebuah pulpen biasa dan snack berasal dari negara ini?”
“Pulpen biasa? Memangnya ada pulpen luar biasa?” ucap Jia seraya tertawa ringan.
“Hei, pulpen hitam yang ayah hadiahkan di saat ulang tahunmu yang ke-15 dulu adalah “spy camera pen”. Apakah kamera nya berfungsi dengan baik?”
Jia terdiam sejenak, alisnya bertautan karena berusaha memanggil memorinya di masa lalu, “Jad, apa maksudmu?? Spy cam pen?? Untuk apa kamu memberikan pulpen seperti itu?”
*“*Untuk membantumu belajar Jia! Jika kamu melihat di bagian tengah “spy camera pen”, ada garis yang jika kamu membukanya, terdapat usb yang dapat menyimpan berbagai file dan dapat terkoneksi pada laptop atau komputer mu… 'Wait'!! Jangan bilang selama ini kamu tidak mengetahuinya??”
“Bagaimana aku bisa tahu jika kamu tidak pernah memberitahukannya?? Lagipula kelima pulpen yang kamu beri berwarna sama!! Tidak ada bedanya dengan pulpen biasa!”
“Hei kamu kan cerdas, apakah Jia ku telah menjadi bodoh?”
“Tutup mulutmu Jad!!!”bentak Jia kesal.
Otak Jia kembali bekerja keras, dia memaksanya untuk kembali mengingat waktu dimana dia masih berusia 15 tahun. Jad yang tidak sabar, memaksanya untuk berbicara seraya mengejeknya.
5 menit berlalu…
Kemudian Jia berdiri sambil menggebrak meja makan. Nata dan Jad pun terkejut. “ Ah, aku teringat sesuatu Jad, sudah dulu ya!”
“Hei, hei tunggu…” ucap Jad dengan suara terpotong akibat Jia mematikan “video call” secara mendadak.
Jia segera berdiri dan keluar dari restoran, memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Nata pun mengikutinya dengan langkah yang tergesa-gesa, kemudian menahan langkah Jia.
“Apa yang terjadi, mengapa wajahmu terlihat panik?”
“Aku harus segera pergi ke rumah orang tuaku.
Pulang lah, aku akan mengabarimu nanti.”
“Tidak, aku ikut denganmu! Kamu tidak terlihat baik Jia.”
Kemudian terlihat lampu mobil menyorot ke arah mereka, membuat mata mereka terpejam akibat silaunya cahaya tersebut. Terlihat seorang pria berotot keluar dari dalam mobil seraya menyapa Jia.
“Hai, selamat ya Jia. Hm … bolehkah aku mengambil sahabatmu dulu?” ucap Doris seraya memamerkan ototnya.
“Ambillah, sekalian nikahi dia, ” goda Jia seraya tertawa lebar.
Nata meringis, dia segera mengeleng-gelengkan kepalanya, pertanda tidak ingin bersama Doris. Namun dengan sekuat tenaga, Jia mendorongnya sehingga dia berhasil masuk ke dalam mobil. Kemudian Jia segera berlari meninggalkan mereka.
“HEI JIAAA, TUNGGUUU!!!! JANGAN TINGGALKAN AKU BERSAMA MONSTER BEROTOT INII!!! Nata menjerit seraya mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil.
Doris segera menarik pelan tangan Nata agar kepalanya menoleh kepadanya. Setelah kepalanya masuk ke dalam mobil, Doris segera menutup kaca mobil dan menguncinya.
Alis Doris segera bertautan. Ada rasa kesal yang muncul di dadanya. “Apa kamu gil4?? Orang-orang pikir aku akan menculikmu jika berteriak seperti itu!!!”
“Haaaa… memangnya kapan aku pernah waras jika berhadapan denganmu?? Sudahlah, cepat antarkan aku ke rumah ibunya dengan kecepatan penuh!!! Ayo cepat!!”
...****************...
Jia segera masuk ke mobil dan pergi ke rumah ibunya. Namun sesampainya di sana, ternyata Nata dan Doris sudah terlebih dahulu tiba di rumahnya.
“Apa-apaan ini? Sudah kukatakan untuk pulang saja, jangan mengikutiku!”
“Doris, pulanglah, aku tidak membutuhkanmu sekarang.” Nata mengusir Doris tanpa memperdulikan ucapan Jia.
Doris pun beranjak pergi dengan penuh kebingungan, dia melaju pesat dengan kecepatan penuh. Jia menatap tajam ke arah Nata, berharap dia sadar untuk pulang saja tanpa mencampuri urusannya.
“Ok, baiklah, aku akan pulang, namun akan aku pastikan dulu untuk mengetahui masalahmu, wajahmu terlihat pucat Jia, aku takut trauma yang kamu alami muncul…”
“Ssst, Diam!! Tidak ada yang boleh tahu masalah mentalku!! Baiklah, ayo masuk ke dalam rumah.” Jia membunyikan bel rumahnya.
Tidak berapa lama, Bi Inah dengan daster batik membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Dia memeluk Jia erat, melepas kerinduan. Wajah yang semakin tua dan keriput itu terlihat sedih bercampur haru dengan kedatangan Jia.
“Bibi senang mbak Jia akhirnya mau datang ke sini.” Bi Inah menahan isak tangis seraya membetulkan sanggul di rambutnya yang memutih karena uban.
“Tidak usah menangis bi, uhm… Ibu mana?”
“Aa … ada di ruang tamu mbak,” balas Bi Inah menunjuk ke arah ruang tamu.
Jia dan Nata pun berjalan menyusuri ruang tamu dan mendapati foto baj1ng4n itu masih terpampang di dinding, bersebelahan dengan foto keluarga mereka. Rasa marah Jia memuncak saat melihat foto tersebut.
“Ibu, turunkan foto bajingan itu, bukankah kami sudah lama bercerai.” ucap Jia memecah keheningan di ruang tamu dengan suara lantangnya.
“Heh, ada apa ini? Mengapa ibu harus menurunkannya? Selain menantu yang baik, dia sudah ibu anggap seperti anak sendiri.”
“Haaaah, aku tidak peduli!! Jika besok foto ini masih tergantung di sana, aku akan merusak dan memecahkannya di hadapan ibu.” Jia menunjuk dengan wajah yang kesal.
“Jangan membuat keributan!! Kamu tidak pernah menjengukku dan sekarang datang hanya untuk mencari masalah??”
“Ibu, aku—”
Nata memotong pembicaraan Jia dan ibunya, lalu segera berpamitan.
Jia bergumam tanpa henti. “Mengapa menahanku Nat? Apa kamu tidak tahu bahwa makeup ku di foto itu membuat wajahku terlihat seperti badut? Terlalu mencolok, berlebihan dan … ah sudahlah, aku selalu menyesali pernikahan sial4n itu!!!”
Kemudian Nata segera mendorong Jia untuk masuk ke kamar, berusaha menenangkan dan meredam kemarahan antara Jia dan ibunya agar tidak ada perkelahian.
Nata menutup pintu dan segera berbalik, menatap Jia. “Apa reonald masih mengganggumu sampai saat ini? Si pengecut itu dulu terlihat sangat mencintaimu saat melamarmu di depan kami!!!”
“Tidak, setelah dia menceraikan dan mengusirku dari rumahnya! Haaa … sudahlah … aku harus mencari sesuatu.”
Kemudian Jia melihat ke setiap sudut di ruang kamarnya. Dia berusaha mengingat letak “spy camera pen”. Jia mulai membongkar beberapa lemari, namun tidak ada di sana. Kemudian dia perlahan berjalan menuju laci meja belajarnya, dan disanalah dia menemukannya.
“Jia, sebenarnya untuk apa kamu mencari pulpen ini??”
“Kamu ingat dengan peristiwa kay yang melukai tangan kiriku ini?”
“Ya, aku tahu, tetapi … untuk apa kamu membahasnya lagi?”
“Karena pada saat kejadian tersebut, aku membawa salah satu pulpen ini dan menaruhnya di saku baju ku!! Namun aku ragu, sebab aku tidak menekan tombol on nya, jadi… aku hanya ingin memastikannya saja.”
Seketika Nata terkejut seraya menutup mulut dengan tangannya. Jia tidak merespon reaksi yang Nata tunjukkan padanya. Dia tetap fokus dan menyalakan komputernya. Satu persatu mencoba usb dari pulpen tersebut, berharap menemukan sebuah file. Namun ironisnya, dia tidak menemukan apapun.
Nata menepuk pelan bahunya seraya menguap. “Kamu benar Jia, kita sudah mencoba keempat pulpen ini dan tidak ada file yang tersimpan, lagipula kamu juga tidak tahu bahwa itu pulpen kamera, sangat wajar jika kamu tidak menekan tombolnya. Mari, kita akhiri saja, aku sudah sangat mengantuk.”
“Ya, dan ini pulpen terakhir, jika tidak ada apapun, mari kita lupakan dan lanjutkan hidup seperti biasa saja.”
Tanpa perlu berlama-lama, Jia mengkoneksikan kembali usb dari pulpen terakhir yang tersisa, kemudian membuka foldernya. Terlihat ada satu file video berada di sana, lengkap dengan tanggal, tahun dan jam berapa pada saat video tersebut dibuat. Jia dan Nata seketika berpandangan satu sama lain.
“Nat, buka lah videonya,” ucap Jia seraya berdiri dan menyuruh Nata untuk duduk di kursi komputernya.
“Kamu yakin tidak apa-apa melihat ini?” balas Nata dengan penuh rasa cemas.
Jia dengan kesadaran penuh mengangguk, membuat Nata tidak ragu untuk membuka file tersebut. Nata terlihat “shock”, mulutnya menganga lebar saat melihat isi video tersebut.
Bagaimana tidak, wajah dan kaki Kay terlihat jelas saat menginjak perut Jia, menyundut rokok, memukul wajahnya dan mengeluarkan pisau untuk melukainya. Semua percakapan dan perbuatannya telah terekam dengan jelas dalam video itu. (Beauty in the Struggle, Bab. 29)
Kemudian Nata menjeda video tersebut, lalu mengernyitkan dahi seraya meneteskan air mata. “Ma… maafkan aku Jia, ka… kamu pasti sangat kesakitan saat itu!! Andai aku ada di sana, perempuan gil4 itu pasti tidak akan berani menyerang mu!!!”
“Heii … lihatlah, sekarang aku baik-baik saja! Hm, sekarang lihatlah ke sini, aku mengerti mengapa kamera pada pulpen ini, saat itu menyala dan merekam semua kejadian.” Jia tersenyum sambil mengedipkan matanya kepada Nata.
“Mengapa Jia? Tolong jelaskan padaku!” Nata mengelap air mata dan membuang sisa ingusnya dengan tisu.
“Pen kamera ini pertama kali menyala saat kay mendorong badanku, sehingga aku terjatuh ke jalanan aspal. Kita anggap saja dia secara tidak sengaja menekan “ON” pada saat mendorongku.”
Nata memegang dan mengamati pulpen tersebut. “Astaga, tombol “ON” dan “OFF” layar sentuh!! Bahkan hantu sekalipun tidak dapat melihat ini!! Sepertinya pulpen ini di desain untuk para detektif atau FBI daripada untuk seorang pelajar sepertimu dulu.”
Jia menggeser Nata agar berdiri sehingga dia dapst duduk di kursi komputernya. “Hm, sebentar, aku akan mengembalikan videonya ke durasi awal. Ah, ya benar!! Lihatlah di bagian akhir video, sepertinya supir taksi ini tidak sengaja mematikan pulpen kamera, pada saat dia mengangkatku ke “bed mobile” menuju ruang IGD Rumah Sakit. Waaaaaaah, bagaimana bisa rekaman ini ada hanya karena unsur ketidaksengajaan??”
Nata terdiam mematung, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Jia. “Dua orang berbeda menyalakan dan mematikan “spy camera pen” milikmu? Bukan kamu, tetapi orang lain! Lebih anehnya lagi, pulpen tersebut tidak hilang selama peristiwa tersebut terjadi. Benar-benar tidak masuk akal.”
Jia menganggukkan kepalanya, menyetujui pendapat Nata. Dia sendiri pun masih tidak percaya dengan apa yang ditemukannya.
“Lantas … apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan melaporkannya kepada polisi dengan bukti dari 11 tahun yang lalu? Apakah bukti seperti ini masih bisa valid?” Sahut Nata seraya menarik lengan baju Jia.
Jia tersenyum miris seraya mengirim video tersebut ke ponselnya. “Mari kita pikirkan itu nanti. Pasti ada cara yang lebih baik daripada itu. Sekarang sudah pukul 23:20 WIB. kita harus segera pulang, aku akan mengantarmu sebelum kembali ke apartemenku.”
Mereka keluar dari kamar dengan langkah kaki yang tenang, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara karena tidak ingin membuat keributan.
Pada saat menyusuri ruang tamu, Jia mendapati ibunya tengah tertidur lelap di bangku sofa. Dia mengamati wajah ibunya yang tampak menua.
Jia tampak menahan air mata yang hampir keluar dari ekor matanya, terselip rindu sekaligus marah setiap Jia menatapnya.
Nata yang melihat hal itu segera menyadari kondisi Jia. Dia menepuk pelan pundak sahabatnya itu. “Kamu tidak apa-apa? Apa kamu ingin tidur di sini, menemani ibumu?”
“Entahlah … aku rasa beliau tidak menginginkanku di sini. Aku selalu bisa merasakan jejak kemarahan di setiap langkah di rumah ini. Bagaimana ayah, aku dan kakakku Jad diperlakukan buruk olehnya. Sebaiknya … kita pergi saja.”
“Aku akan selalu ada untukmu Jia!!” Nata mengusap air mata yang mengalir dengan kedua tangannya.
Meski begitu, Jia tidak tega membiarkan ibunya sendirian, merasakan hawa dingin yang menusuk tulang.
Pada akhirnya, Jia segera memerintahkan Bi Inah untuk membangunkan dan mengantarkan ibunya ke kamar. Kemudian, Jia dan Nata segera beranjak pergi dari rumah, sebelum ibunya terbangun.
Pria dengan sorot mata yang tajam itu terlihat sedang menatap jendela kaca pesawat. Dia masih tidak percaya, bahwa dirinya harus kembali ke Indonesia.
Jika dibandingkan dengan masalah percintaannya, ada perkara yang lebih besar dibandingkan itu. Akibat kelalaiannya terhadap perbuatan jahat Kay di masa lampau, membuat rasa bersalahnya kian merambat, bagaikan bunga mawar yang menancapkan durinya di hati.
Sejak saat itu, Liel bersumpah untuk menjaga jarak dan tidak memperdulikan Jia lagi. Dia hanya mampu mencintai Jia dalam diam. Bukan karena Liel menyerah, namun untuk menjaga agar cintanya tetap aman, jauh dari jangkauan Kay.
Namun, lamunannya harus terhenti, saat suara pramugari menyampaikan informasi penerbangan yang mendarat dengan sempurna melalui pengeras suara pesawat.
Liel dengan tinggi badannya yang ideal itu, segera keluar dari pesawat dan berjalan bak model, menyusuri area dalam terminal. Blazer coklat dan setelan kemeja berwarna hitam yang dikenakannya tampak sempurna melekat di tubuhnya. Gaya rambut yang dulu terlihat acak-acakan, kini tersisir rapi dan klimis.
Tanpa senyum, dingin dan angkuh. Itulah diri Liel yang terlihat saat ini. Namun, sikapnya yang seperti itu, justru malah menarik perhatian dari setiap orang yang melihatnya.
Liel tidak menggubris dan terus berjalan menghampiri Doris, yang melambaikan tangan serta menunggunya di luar ruangan penitipan bagasi.
Silau cahaya matahari membuat Liel harus memicingkan matanya, namun tidak mengurungkan niatnya untuk segera merangkul sahabat karibnya, dengan senyuman yang hampir tidak terlihat.
“Hi Dory, miss you so much! Where’s your uniform, inspector??”
(Hai Dory, aku sangat rindu padamu! Di mana seragammu, inspektur??”)
Wajah Doris menegang, menahan rasa kesal. “Menjijikan!! Berhenti memanggilku Dory … dan asal kamu tahu, ini hari 'weekend', tolong jangan terlalu kejam padaku.”
Liel tersenyum tipis. Doris segera mengajak Liel ke sebuah Restoran Nasi Padang, salah satu rumah makan yang terkenal enak di Jakarta Selatan.
Tidak banyak yang diceritakan oleh kedua pria dewasa tersebut, selain masalah pekerjaan dan kesibukan mereka sehari-hari.
“Kamu memang berhati dingin, 7 tahun yang lalu tiba-tiba menelponku hanya untuk mengucapkan selamat atas kelulusanku dari Akademi Kepolisian, kemudian menghilang lagi!! sekarang, tiba-tiba menelpon dan memintaku untuk menjemput…”
“Berisik!” ucap Liel datar.
Doris mulai menggoda Liel. “Ah, lalu, bagaimana dengan wanita di sana? Pasti banyak sekali yang cantik dan seksi.”
“Aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan wanita, Dory. Aku sedang berjuang naik ke atas, agar dapat mendorong mereka jatuh ke jurang.”
Doris terdiam sejenak, sebelum memulai pembicaraan kembali. “Hm… Sebenarnya, apa alasanmu membiarkan Kay berada di sisimu?” Ucap Doris seraya mengernyitkan dahinya.
Liel menghela napas panjang, dia terlihat ragu. Entah apa dirinya perlu menjelaskan atau tidak. Namun, Doris terus mendesak agar Liel membuka mulutnya.
Liel menatap Doris tajam. “Aku bisa menyingkirkan kay sejak SMA, namun perkara sebenarnya bukan hanya itu, pihak yang ada di belakang kay lah yang harus di hancurkan, dengan begitu, kay tidak bisa berkutik dan menghilang selamanya dari hadapanku.”
“Ternyata semua dugaanku benar!! Apakah ini terkait dengan ayahnya yang mengambil alih semua aset perusahaan sehingga menjadikannya pemilik saham tertinggi di perusahaan ayahmu sendiri? Liel, aku bisa membantumu menyelidikinya secara diam-diam.”
Liel mengangguk pelan. Wajahnya tampak tenang, tidak menunjukkan emosi apapun. Dia mampu menyembunyikan semuanya kegelisahannya dengan rapi.
“Jadi, itu sebabnya kamu kembali ke cabang utama di Jakarta dan meninggalkan anak perusahaanmu di Singapore?
“Begitulah, sementara wakil ku akan memimpin di sana, lagipula sudah saatnya aku menggantikan posisi ayahku bukan?”
“Wah, aku kira karena kamu memiliki tujuan lain.” Balas Doris dengan senyum meledek.
“Apa maksudmu???” ucap Liel penasaran.
“Ayolah Liel, IQ mu saja 142, jangan berlagak bodoh.”
Liel tetap diam, memilih untuk tidak ingin menjawab. Seketika Doris memasang wajah serius. Dia tahu resiko yang ditimbulkan jika ingin membahas masalah tersebut dengan Liel.
“Jia.” ucap Doris tanpa tersenyum.
Seketika Liel berdiri, pura-pura tidak mendengar. Dia berjalan cepat menuju bagian kasir, untuk membayar semua makanan dan minuman yang sudah mereka santap melalui QRIS, yaitu salah satu pembayaran digital Indonesia.
“Apa kamu tahu dia sekarang sudah menjadi Dokter Spesialis Kejiwaan? Jika kamu merindukannya aku bisa mengatur pertemuan kalian?” desak Doris seraya berjalan di belakangnya.
“Mari kita pergi, Dory, ” toleh Liel, kemudian menatap ke depan pintu keluar restoran.
“Jika kamu selalu menghindari pembicaraan ini, itu berarti benar kamu masih merindukannya.”
“Hei, bukan begitu, aku hanya tidak ingin menempatkannya dalam bahaya lagi … jadi berhenti membahasnya.” Liel membantah dengan cepat.
“Hahaha, berarti benar kamu tidak pernah melupakannya.”
“Diam! Cepat antarkan saja aku pulang.”
...****************...
Doris mengantar Liel tepat di depan rumahnya. Dia nyaris tidak percaya bahwa rumah modern yang megah dan estetik di kawasan elit ini harus ditempati Liel seorang diri.
“Ibu dan ayahmu tahu kamu sudah ada di Indonesia?”
“Tidak, tetapi aku yakin mereka akan segera tahu aku ada di Indonesia.”
“Hah, kamu gil4, apa—”
“Pulanglah!” potong Liel seraya menutup pintu mobil Doris
“Mengapa kamu mengusirku? Ingat!! Aku akan sering datang untuk menggangumu bocah arogan.” teriak Doris dari jendela kaca mobilnya, lalu segera beranjak pergi.
Liel tidak peduli dan segera masuk ke dalam rumahnya. Dia melihat setiap sudut ruangan dan mendongakkan kepalanya ke atas, ke arah lantai dua. Tidak butuh waktu lama baginya berjalan perlahan menaiki tangga, tampak seluruh isi ruangan terlihat oleh kedua matanya. Liel tersenyum, bangga dengan apa yang dicapainya.
Bagaimana tidak, semenjak memutuskan untuk menjauh dari Jia, diam-diam Liel membaca dan mempelajari tentang ilmu manajemen bisnis, manajemen sumber daya manusia, leadership, hukum dan etika bisnis pada saat dirinya masih kelas dua SMA.
Tanpa keraguan, Liel memilih jurusan Manajemen Bisnis dengan masuk ke universitas terbaik di London. Liel dan rencana besarnya memutuskan untuk bekerja di perusahaan milik ayahnya.
Bahkan saat dia masih menjadi manager dan diberi kepercayaan untuk memimpin anak cabang perusahaan di Singapore, dia tetap menyisihkan waktu, untuk menyisir setiap laporan transaksi keuangan.
Bahkan Liel secara perlahan membentuk aliansi dengan beberapa pemegang saham yang saat ini mulai gerah dengan kinerja Ravindra yang buruk.
Liel juga secara sembunyi membeli saham mayoritas melalui pasar sekunder, tujuannya tidak lain adalah untuk mengambil alih kembali perusahaan milik ayahnya, yang telah lama direbut oleh Ravindra sejak lama.
Kemudian, ponselnya berdering, membuat Liel segera mengangkat telepon dari asisten pribadi sekaligus 'bodyguard' nya itu. “Ya Tony, bicaralah.”
“Tidak banyak yang terjadi hari ini, Tuan! Pak Ravin menjalani aktivitasnya seperti biasa.”
“Pantau saja terus. Laporkan padaku jika menemukan kejanggalan sekecil apapun.”
“Baik Tuan!!”
“Ah, jangan lupa, beri perintah kepada Jenar untuk menyiapkan data presentasiku. Aku harus tampil baik pada acara pengangkatanku sebagai CEO besok pagi.”
“Siap Tuan! Oh iya, apa saya perlu melaporkan kegiatan nona Jia?”
Liel kembali menghela napas panjang. Dia bukan ingin menghindar membahas soal Jia, hanya saja, Liel takut jika Jia membencinya dan beranggapan bahwa dirinya adalah sumber masalah bagi Jia.
“Apa ada yang terjadi padanya?”
“Pada tanggal 25 November 2023, setelah mengantar temannya, Nona Jia berhenti dan menepi di pinggir jalan. Dia seperti menangis tanpa henti selama satu jam lamanya, dan ketika merasa lebih baik, dia pun beranjak pulang.”
“Baiklah, terima ka…”
“Apa perlu saya selidiki penyakit apa yang dialami nona Jia selain depresi berat? Atau tempat tinggal dan di mana dia beker…”
“Jangan lakukan apapun, aku ingin mengetahuinya sendiri. Lagipula, aku sudah ada di sini, biarkan dia menjadi urusanku.” Potong Liel yang mulai merasa risih.
Liel menutup telepon dari Tony. Kemudian dia perlahan menuruni anak tangga, lalu merebahkan dirinya di sofa yang empuk berwarna krim. Sambil memejamkan mata, ada kepedihan luar biasa yang tidak pernah mampu Liel ungkapkan, jika menyangkut tentang Jia.
Suda sejak lama dia berkutat dengan waktu tidak pernah berpihak padanya maupun Jia. Liel juga tidak pernah tahu, kapan janji yang dia ucapkan pada Jia akan terwujud.
Terlebih lagi, konflik antara dirinya dan ayahnya Kay, si Ravindra kian memanas dan belum terlihat ujungnya. Liel hanya berharap suatu hari nanti, semua akan berakhir baik, agar dia merasa pantas, untuk muncul di hadapan Jia.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!