“Ya udah, kalau emang alasan kamu kayak begitu, aku akan nanya dulu sama kedua orang tua aku ya, Alia.”
“Oke, aku tunggu. Dan jangan lama-lama ya, kalau bisa secepatnya, biar aku bisa kasih tahu juga ke orang tuaku.”
“Baik kalau gitu, aku ke kelas aku dulu ya.”
Alia hanya menganggukkan kepalanya dan pergi, sedangkan jantung Arnold berdetak kencang. Ia malah merasa bingung harus bagaimana kalau seandainya yang menjadi istrinya itu adalah Alia.
Di Rumah Arnold
Suasana di rumah Arnold saat ini biasa-biasa saja dan tenang. Tidak ada hal yang mencurigakan atau membuat emosi.
Arnold mencoba mendekati kedua orang tuanya. Di sana juga ada adiknya yang bernama Tonton.
“Papa, Mama, Arnold mau bicara sesuatu. Apakah boleh?”
Papa dan Mama bingung melihat reaksi Arnold yang sangat serius. Tidak biasanya anak mereka bersikap seperti itu.
“Ada apa, Arnold? Bicara aja. Pasti kita akan mendengarkan kok,” ujar Mama dengan senyum lebar.
Arnold merasa tidak enak kepada mamanya, yang selama ini sudah menjadi ibu kandungnya. Tapi sekarang, dirinya harus menolong orang lain—wanita yang mungkin tergolong asing, tetapi memiliki perasaan pada wanita itu.
“Dalam waktu dekat ini, Arnold...”
Kedua orang tua Arnold menunggu apa yang ingin dibicarakan oleh anak lelaki mereka itu. Namun tak lama, Tonton datang dan menunjukkan nilai terbaiknya selama sekolah.
“Mama, Papa, lihat deh! Nilainya Tonton!”
Mama dan Papa langsung melihat ke arah Tonton, sedangkan Arnold seperti tidak dipedulikan oleh Papanya. Namun Mamanya tetap memberi perhatian pada Arnold.
“Sayang, tadi kamu mau bicara apa? Maaf ya tadi kepotong gara-gara adikmu, Tonton.”
Arnold hanya tersenyum kepada Mamanya dan menggelengkan kepala, seolah-olah ia tidak ingin melanjutkan pembicaraan tadi.
“Kalau gitu, Arnold ke kamar dulu ya, Mah.”
Mama hanya tersenyum kepada Arnold, tapi tetap merasa bingung. Ada apa dengan anaknya itu? Kenapa tiba-tiba menjadi pendiam dan tidak ingin banyak bicara?
Tok tok tok.
Suara pintu kamar Arnold diketuk.
“Arnold, ini Mama. Apakah Mama boleh masuk ke kamar kamu, sayang?”
“Boleh, Mah. Masuk aja.”
Mama masuk ke kamar Arnold. Arnold tersenyum kepada Mamanya, begitu juga dengan Mama.
“Sayang, tadi kamu mau cerita apa? Bilang aja, sayang.”
“Ma, aku suka sama seorang wanita di sekolah, dan aku mau menikah sama dia setelah kita lulus sekolah. Apa boleh, Ma?”
Mamanya yang mendengar itu awalnya ragu dan bingung. Mengapa Arnold bicara seperti itu? Tidak lama kemudian, Mama mendekap kedua pipi Arnold.
“Kamu nggak serius, kan, Nak, bicara seperti itu?”
Mama Arnold mencoba meyakinkan anaknya, meski tetap bersedia mendengar apa yang ingin Arnold katakan.
“Iya, Ma. Apa yang Mama dengar itu bener. Dan aku minta maaf ya, Ma, kalau misalnya aku udah buat Mama kecewa.”
“Mama nggak kecewa, sih. Cuma Mama kaget aja. Tapi boleh nggak Mama ketemu dulu sama wanita itu sebelum kamu menikahinya? Mama cuma mau kenal aja sama dia, lebih dekat.”
“Boleh, Mah. Kapan Mama bisa, nanti aku kasih tahu dia buat ketemu Mama.”
“Ya, tunggu nanti ya, pas Mama udah nggak terlalu sibuk. Nanti kalau Mama udah sempat, Mama kabarin kamu.”
Arnold hanya tersenyum kepada Mamanya. Tak lama kemudian, Mama keluar dari kamar Arnold.
Tanpa sadar, Mamanya bertabrakan dengan Papanya di lorong. Papanya bingung melihat istrinya seperti linglung.
“Mama kenapa, Ma? Ada masalah kok kayak linglung gitu?”
Papa mencoba menanyai Mama, agar Mama bisa lebih terbuka.
“Nggak ada apa-apa, Pa. Paling cuma ngantuk aja. Ya udah, yuk Pa, kita tidur aja.”
Papa masih merasa bingung, kenapa Mama tidak mau banyak cerita. Padahal Papa sudah berusaha agar Mama terbuka. Tapi Papa tidak memaksa. Mungkin Mama punya hal yang belum seharusnya Papa tahu. Nanti pasti ada saatnya Mama akan cerita.
Kamar Orang Tua Arnold
“Malam, Pa.”
“Iya, Ma. Malam.”
Akhirnya, kedua pasangan itu pun tertidur. Lalu cerita berpindah ke rumah Alia.
Tok tok tok.
“Al.”
“Ada apa, Ma?”
“Ada yang mau Mama bicarakan sama kamu.”
“Kamu udah yakin dengan keputusan kamu yang kemarin?”
Alia menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Mamanya. Tapi Mamanya masih ragu dengan keputusan yang diambil Alia.
“Kamu jangan sampai salah langkah ya, sayang. Mama cuma nggak mau kamu salah arah. Kamu harus pastikan ini keputusan dari hati kamu, bukan karena tekanan.”
“Nggak kok, Ma. Tenang aja. Ini keputusan aku sendiri. Lagian, aku nggak mungkin mikirin orang lain kalau aku sendiri nggak suka.”
Akhirnya, Mama pun percaya dengan perkataan anaknya. Tak lama kemudian, Mama keluar dari kamar Alia.
Di luar kamar, Papa menunggu. Ia melihat Mama yang baru saja keluar.
“Kamu bicara apa sama Alia? Kayaknya serius banget.”
“Soal... setelah lulus sekolah, dia mau menikah.”
“Kenapa kamu nggak yakin dengan keputusan dia? Walaupun dia ceroboh, aku penasaran siapa pasangannya dan darimana keluarganya. Kita lihat nanti aja, matanya jernih atau nggak.”
Papa pergi meninggalkan Mama. Mama hanya mendecak kesal mendengar perkataan Papa, seolah-olah Papa merendahkan anaknya sendiri dan tidak percaya pada Alia.
Mama yang mendengar ucapan Papa merasa kesal. Ia pun enggan bicara lagi pada Papa malam itu.
Di Kamar Alia
Alia masih memikirkan apakah Arnold benar-benar bersedia menjadi suami bohongan, seperti yang mereka rencanakan.
Di satu sisi, Arnold memang tipe pria yang Alia sukai. Tapi ia juga berpikir, apakah dirinya adalah tipe wanita yang Arnold sukai?
Alia selalu merasa minder. Ia bertanya-tanya, apakah dirinya memang sejelek itu di kehidupan nyata? Apa lebih baik hanya di kamera?
Alia berdiri di depan cermin, menatap dirinya dalam-dalam.
“Apa aku memang sejelek ini kalau nggak pakai makeup?”
Alia mencoba memakai makeup, tapi ia malah merasa aneh.
“Kenapa orang-orang kalau makeup jadi cakep, tapi kalau gue makeup malah jelek banget ya?”
Sontak, Alia menghapus makeup-nya. Tapi kemudian ia berpikir, tidak ada salahnya belajar makeup kalau itu bisa membuat Arnold menyukainya.
“Andai gue belajar makeup, tuh pria bakal suka gue nggak ya?”
Alia merasa kalau pria hanya menyukai wanita yang bermakeup. Tapi tidak ada salahnya mencoba.
Alia mencoba semalaman untuk makeup, tetapi tetap saja tidak ada yang cocok dengan dirinya. Akhirnya, ia pun menyerah dan bingung harus berbuat apa. Pantas saja, pikirnya, kalau tidak ada pria yang menyukainya.
Keesokan Harinya
Sebelum ke sekolah, Alia pergi lebih dulu ke salon yang buka pagi-pagi. Ia mencoba berdandan.
Setelah selesai, Alia tidak sempat melihat hasil makeup-nya. Ia buru-buru pergi ke sekolah karena takut terlambat.
Sesampainya di Sekolah
Semua orang memperhatikan Alia. Ia merasa dirinya hari ini benar-benar berbeda.
Tiba-tiba, ada seseorang yang menghampirinya dan berkata…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments