NovelToon NovelToon

Pria Manis Yang Ku Benci

BAB 1

“Al!”

Alia hanya merasa kesal mendengar suara yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Kevin, pria yang menyukainya selama tiga tahun lamanya.

“Al, kenapa sih kamu tidak terima aku jadi pacar kamu? Aku akan berhenti kok kalau kamu terima aku,” tanya Kevin dengan mata berbinar, berusaha meyakinkan Alia.

“Kamu tahu nggak, yang buat aku tidak tertarik sama kamu itu apa, Kev?”

Kevin tersenyum saat Alia mau berbicara kepadanya, walau wajah Alia tidak mencerminkan dirinya sedang bahagia.

“Apa, sayang?”

“Sifat kamu yang terlalu patuh membuat aku jijik, seperti pria gampangan! Maaf, kamu bukan selera aku. Kamu boleh meninggalkan aku secepatnya, dan aku sudah ada tunangan. Bentar lagi aku nikah.”

Kevin yang mendengar itu tidak jera sama sekali, sampai akhirnya Alia merasa muak dan meninggalkan Kevin begitu saja, menyerahkannya kepada bodyguard Alia.

“Tolong ya, Pak.”

“Baik, Non Alia.”

Alia pergi diantar oleh supir. Tak lama, sepanjang jalan, Alia hanya memikirkan pria yang sudah empat tahun lamanya terus terlintas di benaknya sambil menghela napas.

“Kenapa, Non Alia?”

“Hmm, tidak apa-apa, Pak. Maaf ya, Pak.”

“Ya, tidak apa-apa, Non. Kalau ada yang mau diceritakan, cerita aja, Non. Siapa tahu Bapak bisa bantu.”

Alia hanya tersenyum mendengar Pak Supir berkata demikian. Walau banyak pria yang menyukai Alia, satupun tak pernah membuat Alia gentar bersama mereka. Bagi Alia, mungkin ini hanya perasaan sementara yang tidak perlu diingat.

---

Kejadian 4 tahun sebelumnya.

Alia yang sedang membaca buku di bawah pohon sekolah menikmati indahnya pemandangan dengan angin sepoi-sepoi. Namun, langit tiba-tiba mendung.

“Yah, mau hujan ya. Padahal cuacanya enak banget buat belajar.”

Akhirnya, Alia pergi dengan kesal karena cuaca tidak mendukungnya untuk belajar di sana. Tak lama, Alia terdiam sambil memandang buku dan jalan.

Tanpa sadar, kelas Alia terlewat dan malah masuk ke kelas lain. Semua orang menatap Alia dengan tatapan menghina.

Alia tersadar melihat sekelilingnya, ternyata bukan kelasnya. Ia pun segera keluar dari kelas itu dan tidak sengaja menabrak tiang tinggi yang berbentuk seperti orang.

Alia menatap ke arah "tiang" itu, dan tak lama ia menyadari itu adalah seorang pria.

“Maaf, Kak. Saya tidak sengaja.”

Pria itu hanya diam dan pergi meninggalkan Alia. Bagi pria itu, Alia hanya orang asing yang tak perlu ia kenal lebih jauh, toh tidak ada hubungannya dengan dirinya sendiri.

Pria itu pergi tanpa banyak bicara. Entah kenapa, saat Alia bertemu pria itu, dunianya terasa berbeda.

Alia merasa ketika dirinya bertemu dengan pria itu, mungkin itu pertanda untuk menghilangkan hobinya mencoba hal baru seperti pacaran, seperti orang normal lainnya.

Alia merasa dirinya saat ini berada di fase tidak normal, karena bisa meninggalkan hobinya hanya demi seorang pria yang bahkan tidak meliriknya sama sekali.

---

Di kamar Alia.

Alia sedang merenung, apakah yang dipikirkannya ini benar atau salah. Ia merasa tidak tahu harus melangkah ke mana, mengapa seolah tidak ada jalan sama sekali selain tertuju kepada pria itu.

Tujuan Alia sekolah hanya untuk menempuh pendidikan. Kenapa sekarang bisa berbelok jauh dari yang diharapkan?

Tok tok tok.

“Alia, apa Mama boleh masuk ke kamar kamu?”

“Ya, Ma. Boleh.”

Mama masuk ke kamar Alia dan tersenyum kepadanya. Tak lama, Alia menatap ke arah mamanya dengan bingung.

“Ada apa, Ma? Tidak biasanya Mama nyari aku malam-malam.”

“Ada yang mau Mama bicarakan sama kamu, sayang.”

“Soal apa, Ma? Kalau soal pendidikan, kayaknya nggak ada yang salah, Ma. Emangnya nilai aku menurun atau ada apa?”

Mama hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa. Alia semakin bingung dengan maksud mamanya.

“Maksud Mama apa sih? Aku nggak ngerti. Kenapa Mama diam aja dan tidak bicara apa-apa?”

“Mama bicara begini demi kebaikan pendidikan kamu. Alia mau, kan, setelah lulus SMA, kuliah di luar negeri?”

Alia yang mendengar itu hanya diam dan tidak berbicara apa-apa. Tak lama, Alia hanya menggelengkan kepala tanpa jawaban pasti.

“Kenapa, sayang? Kamu tidak suka ya Mama suruh kuliah di luar negeri?” tanya Mama dengan nada rendah agar tidak menyakiti perasaan Alia.

“Bukan, Ma. Cuma aku lagi mikir... kenapa Mama bisa nyuruh aku ke luar negeri, sedangkan Mama tahu sendiri aku nggak pernah jauh dari Mama.”

“Mama cuma mikir masa depan kamu aja, sayang. Sayang banget kalau masa depan kamu terhambat karena pola pikir kamu yang terlalu lempeng. Benar nggak kata Mama?” tanya Mama dengan lembut sambil tersenyum.

Alia hanya diam. Baginya, apa yang Mama katakan tidak masuk akal. Ia sendiri bingung harus bagaimana, sementara kedua orang tuanya seolah mengambil keputusan sendiri.

Alia memikirkan semuanya semalaman. Ia tidak bisa tidur.

---

Keesokan paginya.

Hari sudah pagi. Alia melihat ke arah pintu kamarnya.

Ia bersiap-siap ke sekolah dan pergi ke meja makan dengan muka datar, tanpa berkata apa-apa.

Papa hanya menggeleng kepala melihat tingkah laku Alia yang tidak memberi respon apa-apa.

Alia tidak peduli. Ia pergi dari tempat itu dan tak memedulikan sekitar, walau Papa dan Mamanya pasti membicarakan dirinya.

Papa menatap Mama setelah Alia pergi. Mama hanya diam dan lanjut makan, seakan tidak terjadi apa-apa.

Selesai makan, Mama membantu Papa merapikan jasnya. Tak lama, Papa menatap ke arah Mama.

“Kamu bilang ya ke anak kamu itu, jangan merasa dunia selalu berpihak sama dia. Tidak semua orang yang memiliki ekonomi baik-baik saja, nantinya akan terus baik-baik saja. Suruh dia untuk mencoba keluar, agar dia tahu bagaimana sulitnya aku mencari uang untuk masa depannya nanti.”

Mama hanya diam dan menurut pada Papa, seakan ia juga lelah dengan apa yang Papa katakan.

---

Di sekolah.

Alia hanya diam dan menghela napas. Tak lama, ia menatap ke arah teman-temannya yang mungkin nasibnya lebih baik daripada dirinya.

Saat berjalan tanpa melihat ke depan, Alia hampir saja kembali menabrak pria tinggi berbadan bidang yang menyebalkan itu.

“Maaf, Kak. Saya tidak sengaja.”

Alia merasa tidak enak kepada pria itu. Tapi pria itu hanya diam dan tidak merespon. Alia pun hanya diam dan menatap pria tersebut.

“Dingin banget sih. Padahal niat aku baik, minta maaf. Kenapa dia kayak nggak respon dan malah kelihatan seperti alergi sama wanita?”

Alia tidak peduli dan tetap pergi, sedangkan pria itu hanya diam. Lalu, tanpa sadar, ia melihat ke arah belakang. Tak lama kemudian, pria itu mencoba membuka headset-nya.

“Apa yang wanita itu bicarakan, ya? Dirinya nggak dengar sama sekali.”

Pria itu hanya diam dan tidak berkata apa-apa. Sementara itu, Alia terus memikirkan bagaimana dirinya ke depannya.

Saat di kelas.

BAB 2

Untuk pertama kalinya, Alia diam tanpa kata. Seakan dirinya tidak ada dorongan untuk belajar karena merasa lelah dan bingung harus berbuat apa.

Sepulang sekolah.

Alia hanya diam dan tidak tahu apa yang guru terangkan hari itu. Baginya, mungkin semuanya akan sia-sia saja bila ia menjalaninya tanpa tujuan. Tak lama kemudian, Alia dipanggil ke ruang BK.

Alia pergi ke ruang BK dan mengetuk pintu ruangan itu. Tanpa sadar, ia berjalan tanpa memerhatikan siapa yang ada di sekelilingnya.

“Alia.”

“Ya, Bu. Kenapa?”

“Kamu tahu alasan kenapa kamu dipanggil ke sini, Alia?”

Alia hanya menggeleng kepala, menyadari bahwa ia memang tidak tahu. Ia hanya diam dan menatap ke arah guru BK.

“Maaf, Bu. Saya tidak dengar apa yang Ibu bicarakan. Sekali lagi, saya minta maaf.”

Pria yang sering bertabrakan dengannya membuat Alia tak gentar sama sekali, karena ia merasa mungkin butuh pelarian untuk sesaat.

Pria itu hanya diam dan mencoba menahan Alia, namun di sisi lain ia tidak tahu siapa nama wanita tersebut. Ia juga tidak ingin memberi harapan kepada wanita itu, karena sadar mereka tidak saling mengenal.

Mungkin, tidak saling kenal dan tidak mencampuri urusan orang lain adalah pilihan terbaik dibanding bersikap sok tahu dan ikut campur dalam masalah yang tidak ia pahami.

Alia menangis dengan kencang, seakan dunia tidak berpihak kepadanya. Pria itu bernama Arnold.

Arnold ingin menghampiri Alia, tapi ia bingung apakah boleh berpura-pura dekat seperti ini. Ia khawatir Alia malah semakin risih dengan sikapnya.

Namun, Arnold merasa bahwa tidak ada salahnya mencoba bersikap baik kepada orang lain.

Arnold mengulurkan saputangannya kepada Alia.

Alia bingung, tidak tahu dari siapa sapu tangan itu berasal. Ia menatap ke arah pemberinya, dan melihat Arnold. Alia langsung berdiri dari bangkunya dan menatap pria itu.

“Hmm, ini ambil. Saya masih sibuk dan ada urusan lain.”

Arnold mencoba bersikap dingin, seakan tidak ada urusan dengan Alia. Saat hendak pergi, Alia menahan tangannya.

Arnold bingung dengan tindakan Alia, dan bertanya-tanya untuk apa ia menahan tangannya.

Arnold hanya melihat ke arah Alia, dan Alia membalas tatapannya.

“Maaf, boleh kamu temani aku sebentar? Aku butuh kamu. Maaf kalau merepotkan, tapi aku butuh kamu.”

Arnold hanya diam mendengar itu, lalu mengangguk dan menuruti kemauan Alia.

Setelah duduk bersama, Alia menatap Arnold. Ia tidak menyangka betapa indahnya wajah Arnold jika dilihat dari dekat.

“Kamu ganteng, ya? Aku iri sama orang yang dari lahir udah cakep dan enak dipandang.”

Arnold hanya diam dan kaget. Sampai saat ini, sulit sekali melihat Arnold tersenyum, dan Alia berhasil membuatnya tersenyum.

Saat Arnold tersenyum, Alia tak menyangka betapa manisnya senyum pria itu.

“Emangnya di dunia ini ada ya orang seganteng ini?”

Tanpa sadar, saat Alia hendak mendekat ke Arnold, bel sekolah pun berdering. Alia langsung bergegas pergi tanpa sempat berpamitan.

Alia merasa dirinya sudah benar-benar tergila-gila pada pria itu. Ia bingung bagaimana jika bertemu lagi dengannya.

“Kenapa gue kayak tadi, ya? Nggak pernah-pernahnya gue kayak gitu. Dan kenapa harus pria itu, padahal gue nggak kenal dia.”

Alia memiliki ide gila: ia ingin membicarakan hal ini kepada kedua orang tuanya.

Di meja makan malam hari, bersama orang tua.

“Papa, Mama, Alia mau bicara sebentar. Boleh?”

Papa dan Mama merasa bingung dengan sikap Alia. Tidak biasanya Alia bersikap seperti ini. Pasti ada sesuatu yang ingin ia utarakan.

“Papa, Mama... boleh nggak Alia langsung menikah setelah lulus SMA nanti?”

Papa hanya menggeleng kepala, sedangkan Mama terdiam. Mereka merasa itu adalah keputusan yang sembrono.

“Kamu lihat anak kamu? Karena kamu selalu memanjakan dia, jadinya dia menganggap enteng kita sebagai orang tuanya.”

“Alia nggak menggampangkan Papa dan Mama kok. Alia cuma mau jelasin apa yang Alia rasakan.”

“Yang kamu mau itu tindakan sembrono, Alia! Dan kamu tahu, itu nggak bisa dinormalisasi. Tindakan kamu benar-benar bikin Papa dan Mama kecewa!”

Alia terus memandang ke arah Mamanya, berharap sang ibu bicara dan mendukung perasaannya.

“Mama, kok Mama nggak ngomong apa-apa sih? Alia berharap Mama bicara tentang Alia. Apa Mama juga kecewa sama Alia kayak Papa?”

Saat itu, suasana di rumah sangat tegang. Seolah-olah tidak ada lagi kehangatan keluarga seperti yang orang lain miliki.

Alia sadar kalau tindakannya mungkin salah dan sembrono seperti kata Papa. Tapi ia juga merasa berhak untuk memilih jalannya sendiri.

Alia capek selalu dituntut menjadi sempurna, sementara dirinya sendiri penuh kekurangan.

Arnold yang masih berada di sekolah, bingung harus berbuat apa. Ia tak menyangka bisa sedekat itu dengan Alia, padahal sebelumnya mereka tidak pernah benar-benar akrab.

Sesampainya di rumah.

Alia langsung masuk ke kamarnya tanpa bicara pada Papa dan Mama.

Mungkin rasa Alia terhadap orang tuanya sudah bukan lagi seperti anak kepada orang tua, melainkan rasa kecewa yang dalam.

Ia menangis di kamarnya. Sang Mama tak tega melihatnya seperti itu. Bagaimanapun juga, semua ini demi kebaikan Alia.

Alia merasa hidupnya tidak adil. Apa salahnya jika ia ingin menikah setelah lulus SMA? Apa itu pilihan yang benar-benar salah?

Pagi harinya, di meja makan.

“Alia, Papa mau bicara sama kamu. Tolong pikirkan dulu sebelum kamu menjawab,” kata Papa.

Alia hanya diam, mencoba mendengarkan. Mungkin ini pertanyaan yang ia tunggu-tunggu. Mungkin Papa dan Mama akan setuju.

“Kamu sudah yakin dengan keputusan kamu kemarin? Untuk menikah setelah lulus sekolah?”

Alia terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia hanya mengangguk, meyakinkan Papa bahwa ia tidak main-main.

Papa terdiam, menatap ke arah Alia. Ia tampak serius. Alia merasa sangat takut dengan apa yang akan Papa katakan selanjutnya.

Namun sebelum Papa sempat berkata apa-apa, ponselnya berdering. Telepon dari klien di tempat kerja.

Papa pun pergi meninggalkan meja makan. Alia menghela napas panjang. Ia takut akan kata-kata yang mungkin akan Papa lontarkan nanti.

“Al.”

“Ya, Ma?”

“Kamu yakin, Nak, dengan keputusan kamu?”

“Yakin, Ma. Kenapa, Ma? Mama ragu dengan keputusan yang Alia buat?”

Mama hanya tersenyum mendengar perkataan Alia. Alia semakin bingung, mengapa mamanya hanya bereaksi seperti itu.

Apa mamanya marah kepadanya, sehingga tak lagi peduli? Alia mencoba untuk tenang dan tidak terlalu berpikir yang tidak-tidak.

“Alia, Mama nggak marah kok, Nak. Jadi kamu jangan mikir yang macam-macam, ya.”

Alia kaget karena mamanya bisa tahu isi pikirannya, padahal ia sama sekali tidak memberitahukan apa yang ada di dalam hatinya.

Alia hanya tersenyum kepada mamanya. Tak lama, mamanya menatap ke arah Papa yang datang dari kejauhan.

“Papa kamu sudah mau datang. Kamu harus jaga sikap ya, sayang, supaya Papa kamu nggak marahin kamu. Oke? Paham, kan?”

“Ya, Ma. Paham kok. Makasih ya, Mama.”

“Ya, sayang. Sama-sama.”

Papa mendekat ke arah istri dan anak tercintanya. Ia tampak bingung, karena suasana tidak seperti biasanya. Ia merasa pasti ada sesuatu yang sedang disembunyikan Mama darinya.

“Mama, sembunyiin apa dari Papa? Hayo, ngaku, Ma.”

“Tidak ada kok, emang ada, Alia?”

“Tidak ada, Pa. Mama cuma nanya, nanti mau makan apa.”

“Masa, sih? Perkara makan aja Papa nggak boleh tahu? Padahal Papa juga pengin tahu. Ya udahlah, wanita juga punya rahasia ya.”

Mama dan Alia hanya tersenyum melihat Papa yang terus menggoda mereka tanpa henti. Tak lama kemudian, Papa kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda.

BAB 3

“Jadi gini, Al. Kamu kan tahu maksud Papa baik, mau kuliahin kamu di luar negeri.”

“Ya, Pa, benar.”

“Terus kenapa kamu lebih memilih untuk nikah? Dan Papa juga mau tahu siapa calonnya, Sayang. Kalau calonnya belum ada, Papa tidak bisa putuskan kamu akan nikah atau tidak.”

Alia mulai berpikir dari perkataan Papanya itu. Tidak lama, Alia melihat ke arah Mamanya, dan Mamanya mencoba menenangkan Alia.

“Tenang, Sayang. Papa kamu tidak akan marah kok. Papa kamu hanya mau tahu bagaimana baiknya calon suami kamu nanti.”

Papa hanya menganggukkan kepala dan merasa apa yang Mamanya bicarakan itu benar. Tidak lama, Alia jadi berpikir, pria yang mana yang mau dia minta bantuannya? Sedangkan dirinya sendiri saja tidak punya teman di sekolah.

Terkadang, Alia merasa kalau pilihan atau keputusannya selalu terburu-buru, sampai dirinya tidak bisa berpikir dengan benar. Tidak lama, Alia menatap ke arah Papa dan Mamanya.

“Nanti akan Alia kenalin, tapi tidak sekarang ya. Kan nikahnya masih tahun depan, jadi Alia masih punya waktu delapan bulan sebelum lulus. Benar, kan?”

“Kenapa harus tunggu delapan bulan, Nak?” tanya Papa dengan nada lembut.

Hari ini Papa mencoba sabar kepada Alia, karena tahu Alia tidak bisa dimarahi. Semakin dimarahi, pasti Alia tidak mau berbicara kepada Papanya.

Alia menatap ke arah Papanya. Tidak lama kemudian, Alia diam saja dan bingung harus berbuat apa. Tak lama, Alia bertanya kepada Papa dan Mamanya.

“Ya... karena Alia belum siap membawa dia, Pa. Takutnya Papa tidak suka sama dia.”

“Emang Papa bisa tidak suka sama anak yang sayang sama anak Papa?”

Alia jadi bingung mau tanya apa lagi. Akhirnya, Alia mencoba meminta bantuan kepada Mamanya. Tidak lama, Mamanya membantu Alia tanpa sadar.

“Pa, udah ah, jangan ditekan terus Alianya. Kasihan, Alia Papa tekan terus. Dia juga perlu waktu untuk mikir, Pa. Jadi Papa juga harus paham apa mau anak kita. Papa ingat, kan, janji Papa semalam ke Mama?”

Papa hanya menghela napas, seakan tidak mau kalah pada Mama. Walau Mama tidak banyak bicara, tapi Papa tahu kalau Mama selalu membela anaknya tanpa sebab, dan itu membuat anaknya jadi malas untuk mandiri.

“Kalau keputusan Alia ini udah benar, Papa tidak akan ikut campur lagi. Tapi kalau kamu masih nggak bisa mempertemukan Papa dengan pria yang kamu sebut ini, Papa akan tagih terus. Deal?”

Alia langsung menganggukkan kepala, dengan jawaban yang tanpa pikir panjang, karena Alia juga mau memberi penjelasan yang pasti untuk Papanya. Tapi dirinya sendiri juga bingung harus bagaimana.

---

Setelah di kamar,

Alia mulai merenung hal apa yang harus ia lakukan dengan persetujuan barusan dengan kedua orang tuanya.

Apa Alia salah melangkah sehingga tidak dipikir dengan matang-matang? Maka dari itu, Alia juga bingung harus berbuat apa.

---

Keesokan paginya di sekolah,

Alia berpapasan dengan pria kemarin, yaitu Arnold. Saat Alia mau buru-buru pergi, tangannya ditahan oleh pria itu.

Alia tidak mau melihat langsung kepada pria itu. Tidak lama, pria itu mencoba jalan ke depan Alia agar Alia mau melihat dirinya saat berbicara.

“Hei, saya mau bicara sama kamu soal kemarin. Saya mau tahu kepastian, apa yang harus kita lakukan dengan kejadian kemarin.”

“Maaf, Kak. Soal kemarin murni kecelakaan. Jadi, jangan ditanya lagi. Maaf sekali lagi, Kak. Kalau begitu, saya permisi ya, Kak.”

Arnold tetap menahan tangan Alia. Lalu, Alia mencoba untuk tidak melihat ke arah Arnold. Tidak lama, Arnold tetap mencoba untuk lembut kepada Alia. Mungkin cara Arnold ke Alia kasar, tapi bukan maksud Arnold seperti itu.

“Maaf, gue bukan maksud begitu.”

Alia diam saja dan bingung. Sepertinya dirinya yang salah, bukan pria itu. Tidak lama, pria itu diam saja, tidak berkata apa-apa.

Tidak lama, Alia menatap ke arah pria itu dengan perasaan tidak enak. Pria itu juga menatap Alia, tapi Alia tetap menunduk ke arah bawah.

“Ada apa? Bicara aja. Saya pasti dengar apa yang mau kamu bicarakan.”

Seketika Arnold merasa tidak enak kembali kepada Alia. Tapi dirinya harus bisa menyelesaikan tiap masalah yang ada.

Arnold selalu mencoba untuk berbicara kepada wanita ini, tetapi kenapa selalu susah banget untuk berbicara kepada wanita ini?

“Aku mau to the point aja sih sebenarnya sama kamu. Tapi kenapa ya, kalau kita mau bicara berdua, pasti ada aja kayaknya rintangannya.”

Di satu sisi, Alia juga bingung harus berbuat apa. Karena memang kejadian kemarin itu murni kesalahan dari dirinya sendiri, akibat banyaknya masalah dari rumah.

Tiba-tiba, Alia berpikir ide gila untuk menyelesaikan perjanjian kemarin antara dirinya dengan kedua orang tuanya.

“Soal kemarin, aku minta maaf. Tapi bisa nggak kamu bantuin aku sekali ini aja? Aku janji, aku nggak bakal bikin kamu salah paham lagi. Itu pun kalau kamu mau, ya.”

Awalnya Arnold ragu untuk memahami maksud perkataan wanita ini. Sebenarnya apa yang dimaksud oleh Alia? Kenapa dari wanita ini selalu membuat Arnold penasaran akan dirinya?

“Jadi kamu mau nggak berpura-pura menjadi suami aku? Maksudnya, kayak cuma kontrak aja. Nggak beneran nikah kok.”

Arnold yang mendengar perkataan Alia langsung kaget seketika dan tidak bisa berkata apa-apa.

“Maksud kamu bicara kayak gitu apa? Benaran? Ini nggak lucu. Dan kamu tahu nggak? Aku bicara sama kamu aja aku udah merasa kayak orang bodoh.”

“Aku serius. Aku janji, kita nggak akan tidur sekamar. Dan aku juga janji, setelah tiga tahun pernikahan kita selesai, ya udah, sampai situ aja. Kamu sanggup nggak sama aku selama tiga tahun?”

Sebenarnya Arnold malas mengiyakan ide gila yang direncanakan Alia. Tapi entah kenapa, Arnold juga penasaran apa maksud Alia sebenarnya.

Alia berharap Arnold mau dan tidak mikir panjang lagi, karena dirinya sudah benar-benar buntu dan bingung harus lari ke mana.

“Kalau andai aku iyakan ide gila kamu, apa yang aku dapat?”

“Kamu mau apa aja, aku turutin. Aku janji sama perkataan kamu.”

Muka Arnold memerah saat mendengar Alia berkata demikian. Apa Alia tidak sadar sedang bicara dengan pria?

Apa Alia selalu terbiasa berbicara dengan pria seperti ini? Sedangkan Arnold tidak terbiasa dengan cara bicara Alia kepadanya.

“Jadi gimana? Mau atau tidak? Kalau mau, ayo. Kalau nggak mau, ya sudah, aku cari pria lain. Gimana?”

Entah kenapa, saat Arnold mendengar Alia berkata demikian, itu membuatnya kesal. Tapi di satu sisi, kenapa Arnold harus kesal ya?

Arnold meninggalkan Alia dan tidak mau mengiyakan ide gila itu. Tapi Alia malah terpancing emosi dan mencoba untuk mendekati Arnold.

“Kamu benaran nggak setuju sama ide aku?”

Arnold diam saja dan membalas balik sikap Alia kepadanya. Tidak lama, Alia menatap ke arah Arnold.

“Arnold, ayolah. Hanya kamu satu-satunya yang bisa bantu aku. Kalau bukan kamu, siapa lagi?”

tanya Alia dengan jelas, sedangkan Arnold tidak peduli dengan alasan apa pun. Bagi Arnold, Alia hanya menggunakan dirinya di saat perlu.

“Nggak mau. Dan kalau misalkan kamu harus cari pria lain, aku juga nggak setuju.”

“Maunya apa sih? Bantuin nggak mau, tapi cari yang lain nggak boleh. Dasar egois.”

Arnold yang mendengar itu sangat marah kepada Alia. Dan Alia juga merasa dirinya ingin terus-terusan mencoba untuk membuat Arnold setuju dengan ide gilanya itu.

“Bukan egois, tapi itu adalah pemikiran yang nggak mateng. Jadi aku juga bingung harus kayak gimana kalau misalkan aku memilih dan membantu kamu.”

“Kan aku udah bilang, kita nggak ngapa-ngapain. Kita hanya pura-pura nikah kontrak aja. Emangnya susah?”

“Mungkin buat kamu nggak susah, tapi buat orang tuaku susah. Dan pasti orang tuaku juga kaget kalau dengar aku mau nikah muda.”

Alia sempat kepikiran dengan perkataan Arnold. Bagaimanapun, pasti kedua orang tua akan bingung kalau tiba-tiba anak-anak mereka ingin menikah. Pasti ada sesuatu hal yang tidak diinginkan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!