BAB 5 (Revisi)

Di ruang rias, suasana riuh penuh canda. Hana mendekat sambil mencubit pipi Vanka yang sudah didandani.

“Cantik banget temen gue!” katanya gemas.

“Iya nih, cantik banget! Gue nggak nyangka lo bakal nikah secepet ini,” timpal Sherly dengan nada setengah mencibir.

“Iri bilang bos,” balas Hana cepat. Mereka tertawa bersama, meski semua tahu di hati kecil Sherly ada rasa ingin berada di posisi Vanka.

Tak lama, sang perias akhirnya merapikan sentuhan terakhir. “Udah selesai, Mbak. Coba lihat kaca.”

Vanka menatap pantulan dirinya sendiri. Sejenak dia terdiam.

“Ini… aku?” gumamnya tak percaya.

Sherly nyengir, “Bukan, itu setan,” katanya asal. Semua orang di ruangan itu langsung pecah tertawa.

Tak ingin buang waktu, perias mengingatkan, “Ayo turun, mempelai prianya udah nunggu.”

Begitu keluar, Vanka berpapasan dengan Anggi dan Dina yang sudah siap menjemput. Mereka menggiring Vanka menuju aula utama. Setiap langkah yang diambil terasa berat karena gugup. Jantungnya berdegup kencang, sementara di sisi lain, Varo sudah menunggu dengan tatapan penuh arti.

Dengan kebaya penuh payet rancangan sang mama, Vanka terlihat mempesona. Varo bahkan sempat terpaku, hingga Andrean menyenggol bahunya sambil menggoda, “Sabar, bro. Abis ini lo udah sah.”

Penghulu kemudian memulai prosesi. “Saudara Varo, apakah sudah siap?”

Varo mengangguk mantap. Dengan lantang ia mengucapkan ijab kabul. Suara tegasnya membuat semua orang yang hadir terdiam, lalu lega saat kalimat terakhir terucap. Vanka menunduk haru, tak percaya kini statusnya sudah berubah.

“Sekarang, silakan pasangkan cincin,” ujar penghulu.

Varo menatap Vanka sejenak, lalu perlahan menyematkan cincin di jari manisnya. Giliran Vanka, tangannya sedikit bergetar, tapi akhirnya ia berhasil memasangkan cincin ke jari Varo. Tepuk tangan meriah langsung memenuhi ruangan, ucapan selamat bertubi-tubi dilontarkan.

Sebagai penutup, penghulu meminta, “Silakan, Mbak Vanka cium tangan Mas Varo, dan Mas Varo cium kening Mbak Vanka.”

Mereka melakukannya dengan canggung, tapi ada senyum tipis yang tak bisa disembunyikan.

---

Resepsi berlangsung setelah akad selesai. Varo dan Vanka duduk di pelaminan, menerima ucapan dari tamu. Meski tersenyum, Vanka jelas terlihat lelah. “Lo capek?” tanya Varo pelan.

“Menurut lo?” balas Vanka dengan nada ketus, meski sebenarnya dia benar-benar pegal. Heels yang dipakai sudah membuat pergelangan kakinya perih.

“Kalau capek, duduk aja. Nggak ada yang ngelarang,” kata Varo datar.

Vanka melirik sekilas ke arah bundanya yang terus memperhatikan. “Nggak bisa, tamu masih banyak. Nggak sopan kalo gue duduk seenaknya.”

Dalam hati ia menggerutu, Tuhan, kapan acara ini selesai? Gue cuma pengen tidur.

Varo memperhatikan wajah istrinya yang mulai kecut. Diam-diam ia pergi sebentar, lalu kembali dengan dua gelas sirup dan sepiring camilan. “Nih, makan.”

Vanka mengerutkan kening. “Apaan ini?”

“Makanan. Masa nggak liat,” jawab Varo singkat.

“Gue tahu ini makanan, maksud gue buat apa?”

“Ya buat lo makan lah. Gue tahu lo belum makan dari tadi.”

Vanka sempat terdiam, lalu tersenyum kecil. “Wah, tumben lo baik.” Ia pun menyantap makanan itu dengan lahap.

“Terima kasih, suami,” ucapnya spontan.

Deg. Jantung Varo berdetak kencang. Sekilas wajahnya berubah salah tingkah mendengar panggilan itu. Sementara Vanka terus makan, Varo hanya duduk menemani sambil sesekali menertawakannya.

---

Malam semakin larut, tamu undangan mulai berkurang. Tinggal sahabat-sahabat dekat mereka yang menghampiri.

“Lo nyari kita?” suara Sherly tiba-tiba muncul, membuat Vanka hampir terlonjak kaget. Hana menyusul di belakang dengan wajah datar.

“Gila, hampir aja gue kena serangan jantung!” keluh Vanka sambil menoyor mereka pelan.

“Peace, peace,” kata Sherly nyengir.

Hana lalu menyerahkan sebuah kado. “Selamat ya, Van. Semoga langgeng.” Mereka bergantian memeluk Vanka erat.

“Thanks ya, udah nemenin gue seharian ini,” balas Vanka terharu.

Sherly menepuk bahunya. “Santai aja, kalau Varo bikin lo sakit hati, bilang sama gue. Gue yang turun tangan.”

Ucapan itu bikin mereka bertiga tertawa bareng. Mereka nggak sadar kalau Kevin, Andrean, dan satu teman lain sudah berdiri di belakang, menatap dengan ekspresi geli.

“Serem banget sumpah,” komentar Kevin.

“Tau, gaya lo berdua kayak psikopat,” tambah Andrean, bikin semua orang di situ ketawa.

Kevin kemudian menepuk bahu Varo. “Congrats ya, bro. Abis ini lo susah diajak nongkrong.”

Varo hanya mengangguk tipis, “Makasih.”

Andrean malah iseng, “Ciee, bentar lagi malam pertama. Semangat, bestie!” Varo langsung melempar tatapan tajam, bikin Andrean pura-pura angkat tangan.

Hana dan Sherly kemudian berpamitan karena sudah larut. Vanka sempat protes, “Yaelah, jangan cepet-cepet pulang dong. Gue masih pengen sama kalian.”

“Tenang aja, Van. Nanti kita masih bisa hangout bareng,” ujar Sherly menenangkan.

Vanka tersenyum lega. “Oke deh. Hati-hati ya di jalan.”

Mereka pun melambaikan tangan, meninggalkan Varo dan Vanka yang kini resmi menyandang status sebagai pasangan suami-istri.

Terpopuler

Comments

ani nurhaeni

ani nurhaeni

next

2021-12-16

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!