Kevin mencoba menenangkan sahabatnya yang sedang bingung. Setelah berpikir cukup lama, ia pun akhirnya berpendapat dengan nada lembut.
“Menurutku, coba jalani dulu, Var. Siapa tahu hubungan ini membawa kebahagiaan untukmu. Mungkin juga bisa bertahan lama sampai kalian menua bersama.”
Mendengar saran itu, Varo hanya terdiam, seolah merenungkan kemungkinan yang sebelumnya tak terpikir olehnya.
Andrean yang sejak tadi ikut mendengarkan, menimpali dengan candaan. “Iya, bener tuh kata Kevin. Jalanin aja dulu. Siapa tahu calonmu benar-benar cantik. Lumayan kan, bisa bikin hati adem setiap hari.”
Kevin langsung menoleh sambil menggeleng, pura-pura kesal. Meski sempat berdebat ringan, suasana itu justru membuat Varo merasa sedikit lebih tenang. Ada senyum tipis yang terukir di wajahnya. Ia bersyukur masih memiliki dua sahabat yang peduli dengannya.
Obrolan mereka berlanjut, hingga tak terasa waktu bergulir cepat. Kopi di gelas telah habis, dan malam semakin larut. Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
---
Keesokan paginya, suasana di meja makan keluarga Varo begitu hening. Semua sedang sibuk menyantap sarapan masing-masing. Hingga akhirnya ibunya, Anggi, membuka suara.
“Varo, nanti pulang agak cepat ya. Kita akan makan malam bersama sahabat bunda, sekaligus kamu akan bertemu dengan calon yang sudah dipilih.”
Varo mengangguk singkat, meski hatinya sedikit gelisah. Setelah berpamitan, ia segera berangkat ke sekolah dengan motornya. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit. Setibanya di sana, ia memarkir kendaraan lalu menaiki tangga menuju kelas di lantai dua.
Di tengah perjalanan, Varo berpapasan dengan Vanka. Gadis itu segera membuang muka, seolah enggan bertemu dengannya. Dalam hati, Vanka mendengus kesal. Kenapa harus bertemu dia lagi? batinnya, sambil mempercepat langkah meninggalkan tempat itu.
---
Waktu istirahat tiba. Seperti biasa, Vanka bersama Hana dan Sherly menuju kantin sekolah. Suasana ramai, para siswa berbondong-bondong mencari tempat duduk.
“Aku yang pesenin makanan ya?” tawar Vanka tiba-tiba.
Hana dan Sherly spontan saling pandang dengan ekspresi terkejut. “Tumben banget kamu mau mesenin. Biasanya malas ngantri,” komentar Hana dengan nada heran.
Sherly ikut mengangguk setuju. Vanka hanya mendengus kecil lalu berkata, “Kalau nggak mau, ya sudah. Aku duduk lagi.” Ia bahkan sudah menarik kursinya hendak duduk kembali.
“Eh, jangan! Aku nasi goreng sama es jeruk!” sahut Sherly cepat, takut Vanka berubah pikiran.
Orang-orang di kantin sempat menoleh karena suara Sherly yang terlalu keras. Wajah Vanka sedikit memerah, tapi ia menahan diri. “Lain kali jangan teriak-teriak begitu, bikin malu,” ujarnya singkat.
Sherly hanya nyengir sambil mengangkat dua jarinya, “Hehe, refleks.”
Setelah mengangguk pada Hana yang memilih menu sederhana, Vanka pun pergi memesan. Sambil berlalu, ia bercanda, “Tenang aja, Vanka yang cantik dan baik hati ini siap ngantri!”
Sherly sampai meringis geli mendengarnya. Hana hanya tersenyum tipis, tetap fokus pada novel yang ia baca.
Di tengah obrolan santai mereka, Sherly tiba-tiba mengusulkan, “Eh, gimana kalau sore ini kita ke mall? Sudah lama banget kita nggak jalan bareng.”
Vanka menimbang sebentar sebelum menjawab, “Boleh aja, tapi jangan terlalu lama ya. Malam nanti aku ada acara.”
Hana pun akhirnya ikut menyetujui. Ia tak tega mengecewakan sahabat-sahabatnya.
---
Sepulang sekolah, mereka bertiga benar-benar pergi ke mall. Dengan penuh semangat, mereka mendorong troli dan mengambil berbagai barang, terutama yang sedang diskon. Waktu berjalan cepat, hingga troli mereka penuh dalam dua jam.
Setelah membayar, Vanka menelpon kakaknya, Satya, untuk menjemput. Hari ini ia memang tidak membawa motor karena sedang diservis di bengkel.
Sherly sempat khawatir, “Kamu nggak apa-apa kalau kita pulang duluan?”
Vanka tersenyum menenangkan. “Nggak apa-apa kok. Lagian abang sudah di jalan.”
Sherly akhirnya menurut, meski sempat ingin mengantarkan Vanka. Karena jarak rumah mereka jauh, Vanka menolak dengan tegas.
Tak lama kemudian, Satya datang. Begitu masuk ke mobil, Vanka langsung mengeluh manja karena merasa lama menunggu. Satya hanya tertawa, sambil beralasan bahwa jalanan macet.
Perjalanan mereka dipenuhi tawa dan candaan. Kedekatan keduanya memang erat, mengingat hanya mereka berdua yang menjadi anak di keluarga itu.
Sesampainya di rumah, Vanka segera merapikan barang belanjaannya. Saat itulah, Dina—ibunya—masuk ke kamar sambil membawa sebuah dress.
“Ini dipakai ya untuk acara nanti malam.”
Vanka mengernyit heran. “Kenapa harus pakai dress, Bun?”
“Supaya kamu terlihat lebih cantik, sayang,” jawab Dina tegas.
Vanka sempat bercanda bahwa ia tetap cantik meski memakai baju biasa. Dina hanya terkekeh lalu menegaskan bahwa anaknya harus memakai dress tersebut. Dengan sedikit helaan napas, Vanka akhirnya menuruti permintaan ibunya.
---
Malam harinya, Vanka tampil anggun dengan dress selutut berwarna lembut, dipadukan flat shoes senada. Riasan tipis membuat wajahnya kian manis. Dina langsung tersenyum puas melihat putrinya begitu menawan.
Mereka lalu berangkat bersama ayahnya, Danu, menuju restoran yang sudah dipesan. Vanka lebih banyak diam sepanjang perjalanan, hanya sesekali memainkan ponselnya.
Setibanya di sana, mereka masuk ke ruang privat. Vanka sempat menanyakan keberadaan kakaknya, tapi ibunya menjelaskan bahwa Satya sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah.
Tak lama, pasangan sahabat lama orang tuanya datang. Mereka membawa seorang anak kecil yang lucu, membuat suasana menjadi lebih hangat. Vanka pun menyapa dengan sopan dan mencium tangan mereka.
Namun, dari semua yang hadir, masih ada satu sosok yang belum terlihat. Hingga tiba-tiba terdengar suara dari pintu.
“Maaf, saya terlambat.”
Semua menoleh ke arah sumber suara. Vanka sendiri tidak mengangkat pandangannya karena terlalu sibuk dengan ponselnya.
Usai menikmati hidangan, akhirnya Danu membuka pembicaraan serius. Ia menatap Vanka dengan penuh pertimbangan.
“Sayang, ada hal penting yang harus Ayah sampaikan. Kami ingin menjodohkan kamu dengan anak temen ayah.”Danu memberi isyarat dengan matanya, menunjuk ke arah Varo.
Vanka sontak terperanjat. “Apa? Perjodohan?” serunya tak percaya.
makasih udah mau mampir kesini 🙏☺️
jangan lupa like,coment dan vote ya☺️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
U2N NAYAH
cemumut Thor,, 💪💪
2021-12-29
0
hiatus
aku lanjut baca thooor
2021-08-29
3