BAB 4 (Revisi)

“Apa? Perjodohan?” Vanka terbelalak tak percaya. Kata-kata itu terasa bagai petir yang menyambar di siang bolong. Ia masih duduk di bangku kelas tiga SMA, usianya pun bahkan belum genap delapan belas tahun.

“Benarkah, Yah?” tanyanya lirih, berharap semua ini hanya gurauan. Namun bukan hanya ayahnya yang mengangguk, melainkan juga Johan, Anggi, dan Dina yang duduk di hadapannya.

Dengan hati yang gelisah, Vanka menoleh ke samping. Betapa terkejutnya ia ketika menyadari sosok pemuda yang selama ini paling tidak disukainya ikut duduk di ruangan itu.

“Kamu?!” serunya, tak mampu menutupi keterkejutannya. Rasanya tidak masuk akal jika dirinya harus dijodohkan dengan pemuda yang selama ini ia anggap menyebalkan itu.

Anggi tersenyum lebar, mencoba mencairkan suasana. “Bagus sekali! Kalian kan sudah saling kenal, jadi tidak perlu lagi repot-repot pendekatan. Tinggal langsung menuju pelaminan.”

Vanka hampir tak percaya dengan semua ini. Baru semalam ia berdoa agar diberi seorang kekasih, dan kini tiba-tiba ia “dihadiahi” seorang calon suami. Betapa ironisnya hidup.

“Sudah tentu mereka saling mengenal. Mereka kan satu sekolah,” sahut sang bunda dengan nada tenang.

Namun Vanka tidak bisa menerima begitu saja. “Ibu, Vanka sama sekali tidak mengenalnya dekat. Lagipula, kenapa harus ada acara perjodohan seperti ini? Seolah-olah Vanka tidak bisa memilih sendiri.”

Ayah Vanka menatap istrinya, seakan memberi kode agar mulai menjelaskan. Dina menarik napas panjang, lalu dengan hati-hati menceritakan perjanjian yang pernah mereka buat saat masih kuliah. Perjanjian itu ternyata berkaitan dengan masa depan anak-anak mereka.

“Sayang, tolong pertimbangkan ya…” pinta Dina lembut, nyaris seperti memohon. Namun Vanka hanya menundukkan kepala, menahan perasaan yang kian sesak. Air matanya hampir tumpah.

Tiba-tiba, pemuda yang sejak tadi duduk diam angkat bicara. “Tante, boleh saya bicara sebentar dengan Vanka?” tanyanya sopan. Dina mengangguk memberi izin.

Varo menggenggam pergelangan tangan Vanka dan membawanya keluar menuju taman belakang restoran. Malam itu sunyi, hawa dingin menyelimuti, hanya ada cahaya lampu taman yang redup menemani.

“Kenapa kamu mau menerima perjodohan ini?” Vanka menghentakkan tangannya, enggan disentuh olehnya.

“Aku tidak mau menikah muda. Aku masih ingin merasakan masa remaja tanpa ikatan yang mengekang.” lanjutnya

Varo menghela napas berat sebelum menjawab. “Kamu pikir aku mau? Tidak. Aku hanya menurut karena ini permintaan ibuku.”

“Kalau begitu mari kita kembali dan katakan bahwa kita menolak,” ajak Vanka cepat, berharap masalah selesai.

Namun Varo menatapnya tajam. “Kalau kamu mau mengecewakan orang tuamu, silakan. Tapi aku tidak bisa. Coba pikirkan, bagaimana perasaan mereka jika harapan kecilnya ditolak begitu saja?”

Langkah Vanka terhenti. Kata-kata itu menohok hatinya. Ia sadar, di balik kekerasan hatinya, ia masih tak sanggup melihat kedua orang tuanya kecewa.

“Aku tidak memaksa. Tapi kalau kamu setuju, aku tidak akan melarang mu tetap bergaul dengan teman-temanmu. Asalkan kamu tahu batas waktu,” tambah Varo.

“Tapi kita tidak saling mencintai,” suara Vanka nyaris berbisik.

Varo menatapnya lama, lalu mendekat. Dengan nada yakin ia berkata, “Cinta bisa tumbuh sering dengan waktu.”

---

Malam itu menjadi awal dari lamunan panjang Vanka. Sejak perjodohan ditetapkan, pikirannya tidak tenang. Bayangan tentang pernikahan yang begitu dekat membuatnya resah.

Di sekolah, sahabatnya Sherly dan Hana segera menyadari perubahan sikapnya. “Kenapa dari tadi diam saja, Van? Kalau ada masalah, ceritakan. Jangan dipendam sendiri,” ujar Sherly cemas.

Vanka hanya melempar tatapan, enggan menjawab.

“Eh, kalau ditanya ya jawab, dong. Jangan cuma menatap begitu,” kesal Sherly, membuat Hana terkekeh kecil melihat ulahnya.

Akhirnya Vanka membuka suara. “Aku… dijodohkan.”

Keduanya terdiam, seolah menunggu kelanjutan. Sherly bahkan sempat mengira itu hanya lelucon. Namun ekspresi Vanka sama sekali tidak bercanda.

“Bagaimana bisa?” tanya Hana penasaran.

“Orang tuaku dan orang tua Varo punya perjanjian lama. Katanya agar persahabatan mereka bisa berlanjut menjadi hubungan keluarga,” jelas Vanka.

Sherly terperanjat. “Varo? Kamu serius?”

“Ya, Varo,” jawab Vanka santai meski hatinya masih kacau.

Sekejap kemudian, tawa Sherly dan Hana pecah. Mereka sulit membayangkan bagaimana Vanka yang selalu berdebat dengan Varo harus menikah dengannya.

“Terus, kapan acaranya?” tanya Hana.

“Satu minggu lagi.”

“Cepat sekali!” seru Sherly. Vanka hanya mengangguk pasrah, seakan menyerahkan segalanya pada takdir.

---

Hari Minggu pagi, Vanka masih bermalas-malasan di tempat tidur ketika ibunya masuk. “Vanka, ayo bangun. Varo sudah menunggu di bawah. Kalian harus mencari cincin dan fitting baju pengantin.”

Dengan malas Vanka bergumam, “Kenapa harus mengganggu akhir pekanku…” Meski begitu, ia akhirnya menyeret langkah ke kamar mandi.

Setelah bersiap, ia turun dan mendapati Varo sudah menunggu dengan rapi. Mereka berpamitan, lalu berangkat bersama.

Di dalam mobil, suasana canggung menyelimuti. Tidak ada percakapan berarti, hanya keheningan yang memisahkan. Vanka memilih menatap keluar jendela, memperhatikan jalanan kota yang ramai.

Mereka akhirnya tiba di butik besar tempat segala persiapan telah disiapkan. Anggi, ibu Varo, langsung menyambut dengan hangat.

“Syukurlah kalian datang. Vanka, ini ada beberapa gaun dan kebaya. Silakan coba satu per satu,” ucapnya antusias.

Mau tak mau, Vanka mengikuti. Hampir satu jam ia mencoba berbagai gaun, sementara pandangan Varo sesekali tertuju padanya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Setelah itu, Anggi menunjukkan sebuah kotak berisi cincin emas putih berhiaskan berlian. “Ini cincin pernikahan kalian. Mama sendiri yang mendesainnya. Semoga kalian suka.”

Vanka menelan ludah. Cincin itu terlalu mewah, membuatnya takut. Namun ia tak kuasa menolak. “Indah sekali, Tante,” jawabnya pelan.

Anggi tersenyum lembut. “Jangan panggil tante lagi. Sebentar lagi kamu akan menjadi bagian dari keluarga ini. Panggil aku Mama, ya?”

Vanka terdiam, wajahnya memerah. Dengan malu-malu ia mengangguk. “Baik… Ma.”

Varo hanya tersenyum tipis, namun sorot matanya menyiratkan sesuatu yang berbeda.

makasih udah mampir 🙏☺️

jangan lupa like, komen dan vote ya☺️

Terpopuler

Comments

Shahnaz

Shahnaz

Eseh

2022-03-28

0

Niken Saskia

Niken Saskia

ker3eeen bgt critana

2022-02-09

0

Tasya

Tasya

kenapa kata katanya kasar banget,kurang suka aku

2021-08-30

8

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!