DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: CAMELIA
Pagi itu, David duduk di pinggir kolam renang pribadi yang airnya biru jernih kayak di brosur hotel bintang lima, tapi dia cuma diem mandangin air itu doang, gak berenang, gak ngapa-ngapain, cuma duduk sambil mikir kenapa hidup di rumah segini mewah malah berasa kayak dikurung.
"Gue bukan dispenser yang harus standby terus di rumah," dia gerutu sendiri, kaki diayun-ayun nyentuh permukaan air, "supra bapak aja boleh keluyuran ke mana-mana tanpa takut di tilang polisi..lah gue yang manusia kenapa malah di rumah doang kayak galon aqua nungguin diisi ulang."
Dia ngeluarin ponsel, buka aplikasi dompet digital yang sejak kemarin dia pelajari pelan-pelan caranya, dan begitu angka di layar muncul, matanya melotot.
"Anjir... cok....ini... ini beneran segini?"
Dia ngitung nolnya dua kali, takut salah liat, terus bergumam sendiri, "Wow. Amazing. Banyak amat. Pantesan keluarga ini sombongnya kebangetan."
Dia berdiri, ngeliatin pantulan badannya sendiri di air kolam, ngeliatin rambut David yang model poni rapi kayak anak sekolahan minggu, kacamata bulat yang bikin muka makin culun, dan badan kurus yang katanya sih, kalau diisi otot, mestinya gak jelek-jelek juga.
"Anak ini sebenernya modal mukanya udah lumayan, cuma kelewat sibuk ngumpulin duit doang sampe lupa gaya. Coba diupgrade dikit, bisa-bisa mirip Verel Bramasta nih."
Dia langsung niat, jalan ke kamar, ganti baju, terus cari di internet, "salon rekomendasi cowok keren Jakarta", dan begitu nemu salah satu yang reviewnya banyak banget bintang lima, dia langsung berangkat naik mobil sendiri, walau nyetirnya masih agak kagok karena tubuh David belum pernah bawa mobil semahal itu sebelumnya.
***
Sampai di salon, pintu kaca kebuka otomatis, dan dari dalem, langsung nyambut beberapa pria dengan dandanan yang, ya ampun, lebih centil dari ibu-ibu arisan.
"Halooo sayang, mau perawatan apa hari ini?" salah satu dari mereka, badannya tinggi, suaranya melengking, langsung megang lengan David genit banget.
"Eh, eh, lepasin dulu, Kak," David mundur, badannya kaku, "gue cuma mau, eh, potong rambut doang, sama, sama mungkin perawatan muka."
"Aduh, ganteng gini kok malu-malu, ih gemes."
David ditarik duduk di kursi, dan di sekelilingnya, tiga orang lagi langsung ngumpul, megangin rambutnya, ngomentarin kulitnya, dan satu lagi malah nyolek pinggangnya.
"Kenapa gue harus terjebak di neraka kayak gini, anjing lah."
Dia gumam sendiri pelan, sambil matanya berkeliling panik, gak nyangka dunia salon seramai dan seseram ini buat orang yang sepanjang hidupnya cuma pernah cukur rambut di tukang cukur pinggir jalan deket padepokan.
Karena ini kali pertama David, eh, Dadang, masuk salon beneran, dia cuma modal denger-denger cerita orang doang soal gimana sebenernya proses di dalem, jadi pas ditanya mau model apa, dia jawab asal,
"Yang kayak di iklan sampo itu, yang rambutnya bisa kebanting-banting pas nengok."
Salah satu kapster ketawa kecil, "Maksudnya model layer gitu, Kak?"
"Pokoknya yang keren lah."
Setelah dua jam diperlakukan kayak boneka barbie hidup, dicukur, dikeramas pakai sampo yang baunya kayak taman bunga, di-masker pakai bahan yang bikin muka kayak ditempelin lumpur dingin, akhirnya David berdiri di depan cermin, dan hasilnya, anjir, beneran beda total.
Rambutnya jadi lebih tegas, poni dibelah samping, kulitnya kelihatan lebih cerah, dan kacamata yang sebelumnya nutupin mukanya, sekarang udah dilepas, diganti softlens yang katanya kapster bisa "membuka aura."
"WIH," salah satu kapster yang dari awal nyentuh-nyentuh David genit, sekarang malah mendadak diem, matanya berkedip-kedip, pipinya merona.
"Kak... Kakak ganteng banget sekarang. Boleh minta nomor WA?"
David, yang refleksnya masih jawara, langsung mundur defensif, "Eh, jangan deket-deket dulu, Kak, gue cowok, lo juga cowok, ini, ini gimana ceritanya?"
Kapster itu malah makin maju, David yang panik, refleks ngangkat tangan kayak posisi kuda-kuda silat.
"Lo mau gelud, Kak? Ayo, gue ladenin!"
Kapster itu mundur, ketakutan beneran, "Eh, anu, eh, enggak, Kak, saya, saya cuma mau minta nomor doang, gak usah sampe gelud."
David narik nafas, badannya rileks lagi, "Oh, yaudah, maaf, refleks."
***
Keluar dari salon dengan penampilan baru, David berasa kayak orang yang baru lahir ulang. Dia jalan di trotoar sambil narsis sendiri, ngeluarin ponsel, mulai selfie, gaya-gaya yang dia liat dari beberapa video, tapi karena ini juga pertama kalinya dia coba-coba selfie, hasilnya malah kebanyakan kelipet kena dagu sendiri atau ketutup jari.
Saking sibuknya selfie sambil jalan, dia gak sadar ada orang lain yang jalan dari arah berlawanan, dan,
"BRUK."
Dia nubruk seseorang, ponselnya jatuh, dan begitu dia nengok minta maaf, matanya bertemu dengan sosok perempuan, rambut panjang dikuncir tinggi, gaya pakaiannya simpel tapi elegan, dan matanya, anjir, tajem banget kayak lagi nilai orang dari atas ke bawah.
"David?"
"Eh... iya?" David jawab ragu, gak yakin kenal orang ini, tapi mukanya berusaha tetap tenang, pura-pura kenal aja biar gak ketauan bingung.
"Astaga, kamu ganti penampilan? Tumben banget, biasanya kamu, kamu kan..." perempuan itu berhenti sebentar, ngeliatin David dari atas ke bawah, alisnya naik sebelah, "biasanya kamu lebih, gimana ya, lebih kalem."
"Oh, iya, gue lagi pengen ganti gaya aja," David jawab santai, walau dalem hati panik banget mikir, "siapa ini, siapa ini, gue harus pura-pura kenal gimana caranya."
"Aku Camelia. Camelia Wijaya. Anaknya Pak Hendra, rekan bisnis papa kamu, masa kamu lupa? Kita ketemu beberapa kali di acara keluarga."
"Oh, Camelia! Iya, iya, gue, eh, aku ingat," David buru-buru benerin, soalnya dari tadi keceplosan pakai "gue" terus, "cuma lagi rada pusing abis dari salon."
Camelia ketawa kecil, "Kamu emang beda banget sekarang. Tapi, ya, lumayan, lebih, lebih segar lah dipandang."
David, dalam tubuh David, kayak David yang dulu kalau dipuji cewek pasti udah gugup setengah mati, tapi sekarang dia cuma nyengir santai, "Makasih."
"Kamu lagi sendirian? Yuk, aku traktir makan, kebetulan lagi laper banget."
Mereka jalan bareng ke restoran yang gak jauh dari situ, restoran bergaya Amerika dengan interior kayu gelap dan lampu temaram, dan begitu pelayan dateng nawarin menu, David, dengan pede luar biasa, langsung bilang,
"Pecel lele satu, sama es teh manis ya."
Pelayan itu diem sebentar, mukanya bingung, "Maaf, Kak, di sini gak ada menu itu."
Camelia ketawa ngakak, sampe nutupin mulut sendiri, "David, ini restoran steak, mana ada pecel lele."
"Oh," David garuk-garuk kepala, mukanya merah, "yaudah, terserah lo, eh, terserah kamu aja deh yang pesenin."
Camelia pesenin dua porsi steak medium, dan begitu makanan datang, David ngeliatin piring itu lama, ada sepotong daging gede dengan pisau dan garpu kecil di sampingnya, beda jauh sama biasanya dia makan pakai tangan langsung atau sendok seadanya.
Dia coba pegang pisau, tapi cara pegangnya salah, jarinya kelewat kebawah, dan pas coba motong daging, malah dagingnya geser kemana-mana di piring sampai hampir jatuh.
"Astaga, David, kamu motongnya kasar banget," Camelia ketawa lagi, "sini, aku bantu."
Dia ngambil pisau garpu itu, motongin daging David jadi potongan kecil-kecil, terus, dengan gerakan yang bikin David kaget, dia nyodorin satu potongan ke arah mulut David.
"Buka mulut."
"Eh, gue, eh, aku bisa sendiri kok."
"Udah, diem aja, biar lebih cepet, aku juga laper."
David, walau awalnya kikuk, akhirnya nurut, mulutnya kebuka, dan Camelia nyuapin potongan steak itu dengan tangannya sendiri, matanya menatap David dengan cara yang lembut, beda dari tatapan tegas yang biasa dia tunjukkan ke orang lain.
Suasana di meja itu jadi hangat, ada semburat merah tipis di pipi Camelia yang dia coba sembunyikan dengan cara cepat-cepat minum air, dan David, yang masih belajar baca situasi, cuma bisa ngerasa ada sesuatu yang aneh tapi nyaman di dadanya.
"David," Camelia berkata pelan, setelah beberapa saat diam, "kamu kenapa sih, beda banget sekarang. Bicaranya jadi gaul, lebih berani, lebih, lebih punya aura gitu. Tapi di sisi lain, kamu kayak, kayak gak tau apa-apa soal hal-hal dasar. Pesen di restoran aja salah, motong daging aja gak bisa."
Dia menyandarkan badan, menatap David dengan tatapan menyelidik, "Kamu ini sebenernya kenapa? Kamu udah berubah jadi cool, tapi kok di sisi lain malah jadi udik banget?"
David, yang ditanya begitu, cuma bisa tersenyum kikuk, jantungnya berdebar, mencoba mencari alasan yang masuk akal sambil dalam hati berdoa semoga Camelia gak terlalu curiga lebih jauh dari ini.
"Aku, eh, aku cuma, lagi nyari jati diri aja, Cam. Lagi proses, eh, transformasi."
Camelia menatapnya lama, alisnya masih sedikit berkerut, belum sepenuhnya percaya, tapi memilih untuk tidak mendesak lebih jauh, sambil dalam hatinya menyimpan satu pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya sepanjang sisa makan malam itu.
Siapa sebenarnya orang yang sedang duduk di depannya ini?
*(bersambung)*