Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Si Peti es
"Bagaimana Qiuye? Apa kau menemukan sesuatu mengenai orang tua kandungmu?" tanya Nona Huang.
Aku menggeleng. "Tidak ada, hamba sama sekali tidak menemukan apapun di dalam sana," jawabku lemas.
"Apa kau sudah mencari semua arsipnya dengan benar?"
"Sudah Nona, tapi tidak ada satu pun informasi mengenai dayang atau pelayan istana yang sesuai dengan peristiwa selama musim gugur," jawabku.
"Begitu ya. Apa ada kesalahan?"
"Kesalahan apa Nona?"
"Ya mungkin saja kau salah mendengar perkataan ayah dan ibumu sewaktu menguping perbincangan mereka dulu. Atau mungkin saja orang tuamu bukan berasal dari dalam istana," balas Nona Huang.
"Entahlah, Nona. Hamba juga tidak tahu," balasku semakin lemas saja.
"Sudahlah jangan dipikirkan, lagipula tabib Jiang sangat menyayangimu. Kalau menurutku, lebih baik kau lupakan saja niat mencari orang tua aslimu. Kau seharusnya bersyukur punya ayah seperti tabib Jiang," ucap Nona Huang memberi nasihat.
Aku terdiam sesaat, ada benarnya perkataan Nona Huang saat ini. Kenapa aku harus peduli pada orang tua kandung yang telah membuangku? Harusnya aku lebih peduli pada mereka yang sudah menjaga dan membesarkanku selama ini.
"Anda benar Nona, daripada membuang waktu mencari keberadaan keluarga asli hamba, sebaiknya hamba berbakti saja kepada mereka yang sudah menyayangi hamba," balasku menyetujui.
"Nah begitukan lebih baik, kau bisa berbakti pada ayah dan ibumu saat ini dan lupakan saja masa lalumu."
Aku mengangguk setuju.
"Sudah Qiuye, ayo kita berkemas dan pergi ke pesta rakyat."
"Baik Nona," patuhku semangat.
...----------------...
Sementara itu, setelah nona Huang pergi meninggalkan ruangannya, Putra Mahkota kembali memikirkan ucapan Nona Huang sebelum kembali ke tempatnya.
Walau hamba tidak bisa memberikanmu jawaban yang jujur, tapi sekali ini hamba mohon bantulah Qiuye. Dia membutuhkan informasi mengenai salah satu dayang di istana ini.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa Yao Er bersikeras membuatku agar membantu tabib kecil itu? Apakah ada sesuatu yang penting?"
Dia lahir di musim gugur, maka itulah namanya Qiuye. Kemarin adalah ulang tahunnya, dan anggaplah bantuan anda sebagai hadiah untuknya.
Lahir di hari yang sama serta ada kemiripan dengan ibunda permaisuri, akhirnya Putra Mahkota memerintahkan kasim untuk memanggil seseorang.
"Panggil jenderal muda Guan Yu ke ruanganku," ucapnya kasim.
"Baik Yang Mulia," patuh kasim lalu menjalankan perintah Putra Mahkota.
Tidak membutuhkan waktu lama, si peti es itu telah tiba di ruangan Putra Mahkota. Entah bagaimana caranya pria itu bisa begitu cepat tiba, namun sepertinya hal itu sudah biasa terjadi.
"Hamba Guan Yu memberi hormat kepada Putra Mahkota," ucap Guan Yu.
"Guan Yu, duduklah."
"Baik," patuh Guan Yu lalu duduk. "Kali ini ada apa?" tanyanya tanpa basa basi sambil menuang anggur dalam cawan.
"Guan Yu, bisakah kau membantuku mencari tahu informasi tentang seseorang?"
"Siapa?"
"Tabib Qiuye," balas Putra Mahkota membuat Guan Yu seketika berhenti menuang anggur.
"Kenapa anda ingin tahu tabib kecil itu?" tanya Guan Yu.
"Hanya ingin tahu saja," balas Putra Mahkota enggan memberitahu.
"Tabib Qiuye lahir di musim gugur, usianya kini lima belas tahun dan dia adalah putri tabib Jiang," jawab Guan Yu.
Putra Mahkota terperangah dengan jawaban cepat Guan Yu dan merasa takjub karena tahu segalanya. "Dia adalah putri tabib Jiang? Kau tahu tentang dia apa kau memata-matainya juga."
Guan Yu menghela nafasnya panjang dan menatap Putra Mahkota, bukan hanya memata-matai tapi dia juga tahu segalanya tentang Qiuye. Akan tetapi Guan Yu memilih untuk tidak menceritakannya sebelum ia mengumpulkan bukti kuat siapa dalang dibalik pembuangan Qiuye lima belas tahun yang lalu.
"Di negara ini, daerah mana yang tidak kutaruh anak buahku?"
"Ya kau benar, kau memang pantas menyabet gelar sebagai ketua mata-mata. Baiklah kembali lagi ke pertanyaanku. Jadi dia adalah putri Tabib Jiang? Tapi bukankah tabib Jiang tidak punya seorang putri?"
"Hmm.. Entahlah," jawab Guan Yu pendek.
"Baru saja kau berlagak sombong, tapi diberi pertanyaan mudah seperti itu kau tidak bisa menjawabnya."
"Pertama aku tidak sombong, kaulah yang menganggapku seperti itu. Yang kedua aku tidak tertarik dengan urusan rumah tangga orang lain, jadi mengapa tabib Jiang tiba-tiba punya seorang putri, ya kau tanyakan saja padanya langsung."
Putra Mahkota mendengus kesal. "Guan Yu, aku mengaku kalah jika berdebat denganmu. Tapi kali ini aku mohon bantulah aku," ucapnya lalu menceritakan kejadian yang baru saja terjadi.
Dimana nona Huang bersama dengan Qiuye datang menemuinya dan meminta ijin untuk masuk ke ruang arsip istana agar bisa mencari keberadaan seorang dayang.
"Benarkah tabib Qiuye melakukan itu? Untuk apa?" tanyanya tidak menyangka jika wanita itu berbuat demikian.
"Benar, dia berkata ingin mencari keberadaan teman lama ibunya yang sebelumnya pernah bekerja menjadi dayang di istana ini. Tapi entah perkataannya itu benar atau tidak, namun aku merasa aneh karena dia tidak menemukan satu pun nama dayang yang ia cari. Apalagi saat kau bilang dia adalah putri tabib Jiang, kenapa tidak tanyakan langsung saja pada ibunya dimana keberadaan teman ibunya itu."
Tentu saja dia tidak akan menemukan apapun didalam ruangan itu, karena itu adalah ruangan khusus yang menyimpan data-data dan berbagai informasi mengenai para dayang dan juga pelayan istana.
Jelas dia telah membohongi putra mahkota, dia bukan mencari keberadaan dayang teman ibunya itu, melainkan menginginkan informasi yang lain.
Seperti informasi mengenai dirinya sendiri.
Dan kalau pun dia ingin mencari informasi tentang dirinya sendiri, maka orang pertama yang harus dia cari adalah kaisar.
Tapi tunggu dulu!
Untuk apa dia mencari semua itu? Apakah dia sudah tahu kalau dia bukanlah putri tabib Jiang? Tapi ayah berkata tabib Jiang merahasiakan ini darinya dan Qiuye sama sekali tidak mengetahui kebenarannya.
Lalu? Itu berarti dia sudah mengetahui kalau dirinya bukanlah putri kandung tabib Jiang dan dia sedang berusaha mencari informasi tentang keluarga kandungnya.
Ini bahaya! Bagaimana kalau dia sampai mencari sendiri siapa keluarga kandungnya yang asli dan bagaimana jika Kaisar sampai tahu kalau putri kandungnya itu ternyata masih hidup.
Bukan hanya Qiuye saja yang dalam bahaya, tapi semua orang yang terlibat akan celaka, termasuk ayahku.
"Guan Yu," ucap Putra Mahkota membuyarkan lamunan Guan Yu. "Kau sedang memikirkan apa?" tanyanya kemudian.
"Maaf Yang Mulia, aku rasa aku harus segera pergi."
"Eh eh urusan kita belum selesai, kau belum menjawab pertanyaanku." Putra Mahkota menghadang Guan Yu. Namun dengan mudah Guan Yu meloloskan diri.
"Dasar pria itu, benar-benar si peti es!" oceh Putra Mahkota kesal dan merasa sia-sia memanggilnya kesini.
Setelah Guan Yu pergi, ia menanyakan Xin mengenai keberadaan Qiuye.
"Hamba dengar, dia sedang bersama dengan nona Huang menuju pesta rakyat."
"Pesta rakyat? Ini benar-benar gawat, hari ini kaisar Song pulang dari perbatasan utara dan rombongan kaisar akan melewati jalan itu. Xin pergi ikuti rombongan keluarga Huang dan pastikan kaisar tidak sampai bertemu dengan Qiuye," ucap Guan Yu memberi perintah.
"Baik," patuh Xin lalu pergi.
Sementara itu, langkah Guan Yu terhenti ketika Putri Xu menahannya.
...Bersambung....