Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.
Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sholat Pertama Di kontrak 5x4***
Azan Subuh dari masjid. _Allahu Akbar... Allahu Akbar..._ Suaranya serak, ketutup suara kereta lewat.
Kirana kebangun jam 04.30. Nggak pake alarm. 20 tahun ia terbiasa dengan sholat malam. Hari ini ia terlewat waktu tahajud. Mungkin kelelahan fisik dan jiwa karena peristiwa kemarin. Walau semalem basah kuyup + digendong Saqira, walau tidurnya di kasur busa tipis seprei Hello Kitty... begitu adzan, matanya kebuka sendiri.
Dia duduk. Napasnya masih sesak. Mimpi buruk kejar-kejaran sama Bibi + Ustadz Yusuf masih nyangkut. Ia melihat kemeja rias. Tangannya langsung ngeraba daster biru + kerudung krem yang udah disiapin Saqira di meja rias.
Kirana senyum tipis. "Mas Saqira... baik banget..." bisiknya. Dia cium dasternya pelan. Bau bedak bayi + bau bedak Saqira. Wangi orang yang nerima dia tanpa nanya KTP.
Ke kamar mandi 1x1 meter. Wudhu. Air dingin. Tiap basuh tangan dia baca bismillah. Nggak keras. Tapi pasti. 12 tahun tinggal dipondok, dibilang anak sial tapi sholatnya nggak pernah putus.
"Ya Allah... terima kasih... Engkau masih kasih Kirana waktu buat sujud... walau di kontrakan 5x4 meter... Trimakasih sudah mempertemukan Kirana dengan Orang baik Mas Saqira "
Keluar kamar mandi, dia lewatin ruang tamu. Saqira masih merem di sofa. Selimut pink nutup sampe hidung. Ngorok pelan. Lipstik merah luntur di sudut bibir. Tangan megang bantal guling kayak bocah.
Kirana diem. Nggak berisik. Dia tau rasanya dibangunin paksa. Dulu di pondok, Bibi bangunin pake gayung. Sekarang dia cuma bisik: "Mas... maaf ya... gue sholat dulu..."
Saqira nggak jawab. Tapi alisnya gerak dikit. Kayak denger.
Sajadah digelar. Sajadahnya tipis, bekas Saqira. Ada tulisan spidol di ujung: "Buat yang mau pulang". Kirana elus tulisan itu.
_Allahu Akbar..._
Rakaat pertama. Kirana baca Al-Fatihah pelan. Rakaat kedua, dia baca Al-Mulk. Dari ayat 1 sampe ayat 4. Suaranya nggak merdu kayak penyanyi. Suaranya serak. Tapi tiap hurufnya keluar dari hati yang 20 tahun dijaga. Sholat 5 waktu nggak pernah bolong, walau Bibi bilang "Sholat lu nggak diterima, anak durhaka".
_"Tabarakalladzi biyadihil mulku wahuwa 'ala kulli syai-in qadir..."_
Baru ayat 2, Saqira kebangun. Bukan karena berisik. Karena anget. Anget yang nggak biasa ada di kontrakan ini. Kontrakan ini 3 tahun cuma ada bau mie rebus + bau belzer bekas MC. Pagi ini ada bau... bau orang sujud.
Saqira duduk di sofa. Selimut melorot. Dia ngeliatin Kirana dari jauh. Nggak berani deket. Takut ganggu. Takut dosanya 30 tahun bikin sajadahnya gosong.
Kirana sujud. Jidat nempel ke lantai. Lantai yang semalem dipel Saqira sampe kinclong. "Ya Allah... Mas Saqira tidur di sofa. Dan membiarkan Kirana di kasur... Mas Saqira kasih daster biar Kirana nggak kedinginan... Balas kebaikan Mas 1000x lipat, Ya Allah..."
Salam. Kirana usap muka. Nggak nangis. Rajin sholat nggak berarti nggak sedih. Tapi sedihnya dia titip ke sujud, bukan ke orang.
Dia beresin sajadah. Lipet rapi. Terus buka mushaf kecil di meja rias. Bukan buka acak. Dia lanjut murojaah. Kemaren sampe ayat 4 Al-Mulk. Hari ini ayat 5.
_"Walaqad zayyannas samaa-a dunya bimasabiha..."_
"Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang..."
Saqira masih merem. Tapi kupingnya dengerin. 30 tahun hidup, dia nggak pernah denger ngaji sedeket ini. MC nikahan dia ngomong "Bismillah", tapi itu script. Ini beda. Ini Kirana ngaji karena emang ngaji. Nggak pake bayaran.
Kirana selesai. Dia noleh. Liat Saqira udah duduk.
Kirana kaget. "Mas... udah bangun? Maaf ya, berisik..."
Saqira geleng. Dia berdiri. Kaki kapalan nginjak lantai dingin. Jalan ke kamar pelan. Duduk di lantai, sejajar Kirana. Jarak 1 jengkal. Nggak berani lebih.
"Kirana... gue nggak berisik kan? Gue nggak ganggu kan?" tanya Saqira. Suaranya serak. Mata panda. Lipstik luntur.
Kirana senyum. Senyum anak pondok yang tulus. "Mas nggak ganggu. Mas malah jadi saksi Kirana sholat. Mas tau nggak, Mas... 20 tahun Kirana sholat sendiri. Baru pagi ini Kirana sholat ada yang jagain."
Saqira nunduk. Jempolnya ngutik-ngutik ujung daster Kirana. "Kirana... gue malu. Gue 30 tahun nggak pernah sholat. Gue MC bilang 'Sakinah Mawaddah Warahmah', tapi gue nggak tau rasanya sujud. Lu tiap hari sujud... tapi lu yang diusir dari masjid."
Kirana narik napas. "Mas, masjid ngusir badan Kirana. Tapi nggak bisa ngusir kiblat Kirana. Kiblat Kirana tetep ke Ka'bah. Sholat Kirana tetep ke Allah. Bibi bilang doa anak durhaka nggak nyampe. Tapi Kirana buktiin. Tiap sujud, Kirana masih bisa ngerasain anget. Anget itu dari Allah, Mas. Bukan dari manusia."
Saqira diem lama. Terus dia bisik: "Ajarin gue, Ra..."
Kirana kaget. "Ajarin apa, Mas?"
"Wudhu. Sholat. Ngaji. Gue mau. Gue nggak mau 30 tahun jadi bencong yang cuma bisa bilang 'Bismillah' di panggung. Gue mau 1 hari jadi bencong yang beneran bismillah di sajadah."
Kirana megang tangan Saqira. Kali ini dia yang pegang duluan. "Mas nggak kotor. Tangan Mas yang ngangkat Kirana dari lumpur semalem. Tangan itu lebih bersih dari tangan Ustadz Yusuf yang megang mic ceramah tapi ngusir jamaah."
Saqira angguk. Air matanya nggak jatuh. Laki-laki. Tapi bibirnya gemeter. "Gue takut, Ra. Takut Allah nggak mau terima gue. Gue bencong. Gue MC kondangan. Gue pake lipstik."
Kirana ketawa kecil. Ketawa yang nggak ngeledek. "Mas, Allah nggak nanya Mas bencong apa nggak. Allah nanya: 'Saqira, lu mau pulang nggak?' Mas jawab 'mau', udah. Itu aja."
Jam 05.30. Saqira ambil wudhu. Belepotan. Air netes ke mana-mana. Kirana ajarin pelan: "Basuh muka 3x, Mas. Sambil baca bismillah. Niatnya di hati aja."
Saqira wudhu. Sujud pertama kaku banget. Jidatnya nggak nempel. Dengkulnya sakit karena kapalan. Tapi dia nangis di sujud. Nggak kedengeran. Bahunya doang yang guncang.
Kirana di sampingnya. Jadi imam. Suaranya pelan tapi tegas. "Allahu Akbar".
Rakaat pertama beres. Rakaat kedua beres. Salam.
Mereka diem. Nggak pelukan. Nggak ada kata-kata lebay. Cuma dua orang duduk di lantai kontrakan, sama-sama ngerasain lantai dingin + dada anget.
Saqira ngusap muka pake ujung selimut pink. "Ra... gue baru ngerti. Kenapa lu nggak pernah bilang 'gue sial'. Lu bilang 'gue diuji'. Ternyata rasanya kayak gini. Sakit... tapi anget."
Kirana ngangguk. "Iya, Mas. Sholat itu kayak minum air pas haus 20 tahun. Awalnya seret. Lama-lama lega."
Saqira berdiri. Jalan ke dapur. Nyalain kompor. "Gue masak, Ra. Lu abis sholat pasti laper. Gue bikin nasi goreng. Nggak enak, tapi halal."
Kirana ngikut. Nyuci piring semalem. "Mas, besok kita tahajud ya? Jam 3. Gue bangunin Mas."
Saqira noleh, kedip. "Deal. Tapi besok Mas yang adzanin lu pake suara MC. Biar tetangga pada bangun semua."
Mereka ketawa. Ketawa pelan. Nggak keras. Takut bangunin tetangga yang masih ngatain "bencong" + "anak durhaka".
Pagi itu kontrakan 5x4 meter nggak jadi tempat numpang. Jadi mushola. Mushola 2 jamaah. Imamnya anak yang 20 tahun diusir. Makmumnya bencong yang 30 tahun nggak sholat.
Azan Subuh selesai. Matahari naik. Cahayanya masuk dari seng bolong, nyorot sajadah basah + mushaf lecek + dua orang yang sama-sama "telat", tapi sama-sama "nyampe".
Saqira nyuapin Kirana nasi goreng pertama. "Bismillah, Ra."
Kirana jawab: "Bismillah, Mas."
Dua kata. Tapi nancep. Karena 20 tahun + 30 tahun mereka baru berani ngomong "Bismillah" tanpa takut diusir.
---