NovelToon NovelToon
Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Horor / Teen
Popularitas:37.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy_Ar

​"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
​Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
​Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
​Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
​Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Arash menyandarkan tubuh di kursi kantin. Dadanya masih berdegup kencang memikirkan segala teka-teki tentang Fira, Devano, dan rintihan misterius di ruang Kepala Sekolah tadi.

Dia memijat pelipisnya yang mendadak pening, mencoba menyusun potongan informasi itu di dalam kepalanya.

Namun, ketenangan singkat itu hancur berantakan dalam hitungan detik.

Wusshhh!

Tiba-tiba, tanpa ada tanda-tanda atau permisi gaib, Lala keluar dari bawah mejanya dengan kecepatan tinggi.

Gerakan melesat naik yang mendadak itu membuat wajah pucat Lala dengan rambut hitam panjangnya yang acak-acakan sempat melintas tepat di depan wajah Arash.

Jarak hidung mereka bahkan tidak sampai dua sentimeter, menyisakan embusan hawa sedingin es batu yang langsung menerpa permukaan kulit Arash.

"Allahuakbar!" jerit Arash spontan, tubuhnya menyentak ke belakang hingga kursi kantin yang didudukinya berderit keras menghantam lantai semen.

Setelah berhasil menguasai diri, Arash langsung menatap Lala dengan pandangan mata yang sangat tajam, penuh kilatan amarah yang tertahan.

‘’Hehehehe, kaget ya Mas ganteng?’’ tanya Lala polos.

Rasanya Arash ingin menjawab dan memaki nya. Tapi, suara para sahabat nya, membuat Arash sadar, ini di tempat umum.

"Kenapa, Rash?"

Semua sahabat Arash Reno, Alvaro, dan Mike serentak menghentikan aktivitas makan mereka.

Mereka bertiga menatap Arash dengan dahi berkerut, benar-benar bingung melihat reaksi heboh cowok itu yang mendadak berteriak histeris di tengah riuh rendahnya kantin.

"Kayak kaget banget gitu, ada apaan sih?" tanya Reno, mengedarkan pandangan ke sekeliling meja mereka, mencoba mencari tahu objek apa yang baru saja membuat Arash jantungan.

Namun tentu saja, sejauh mata Reno memandang, yang ada hanya mangkuk bakso kosong dan gelas es jeruk.

Arash menelan ludah dengan susah payah, otaknya berputar dengan kecepatan penuh untuk meracik alasan rasional berikutnya.

"Oh, ini... tadi ada kadal lewat di bawah meja, makanya gue kaget."

Sementara Arash sibuk mengarang alasan, Lala yang sedang duduk melayang di atas kepala Alvaro malah tertawa cekikikan tanpa suara.

Hantu cewek itu menopang dagunya, menjulurkan lidah ke arah Arash dengan tatapan meledek yang kelewat menyebalkan.

“Kadal dari mana coba? Muka secantik ini dibilang kadal!” kata Lala dengan nada cempreng yang hanya bisa menembus indera pendengaran indigo Arash.

"Rash, lo lagi sakit ya? Yang bener aja ada kadal di sini," Mike mendengus, menatap Arash dengan pandangan tidak percaya.

"Kadal siapa coba yang nyasar sampai kantin!"

"Tau ah, badmood gue tiba-tiba. Gue cabut dulu!" kata Arash ketus.

Rasa jengkel karena diganggu Lala, ditambah rasa pusing memikirkan konspirasi hilangnya Fira, membuat Arash benar-benar kehilangan selera makan.

Dia langsung bangkit berdiri dari kursi kantin, menyampirkan tas ranselnya di bahu kanan dengan sentakan kasar, lalu melangkah pergi meninggalkan area kantin tanpa menoleh lagi.

"Tuh anak kenapa sih? Sensi amat kayak cewek lagi pms," Reno heran, menatap punggung Arash yang kian menjauh membelah kerumunan murid.

"Gak tahu juga gue. Sejak malem itu, kayaknya dia berubah banget. Sering bengong, suka ngomong sendiri, terus gampang kaget," kata Alvaro sembari mengetuk-ngetuk dagunya dengan pulpen, mencoba mengingat kembali gerak-gerik aneh Arash selama beberapa hari terakhir.

"Apa dia kesambet kali ya?" sambung Mike dengan volume suara yang agak dikecilkan,

Mereka bertiga kompak menatap kepergian Arash hingga tubuh bongsor cowok itu benar-benar menghilang di balik belokan koridor menuju lantai dua.

Sementara itu, Arash berjalan menaiki tangga yang sepi menuju kelas. Langkah kakinya terdengar bergaung di sepanjang lorong tangga semen yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua gedung sekolah.

Karena sebagian besar murid masih asyik menghabiskan waktu istirahat di kantin atau lapangan basket, area tangga ini menjadi sangat lengang.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Keheningan koridor tangga tersebut langsung terusik oleh embusan angin sedingin es yang mendadak berputar di sekitar tubuh Arash.

"Mas ganteng, jangan marah dong!" kata Lala, mendadak melayang tepat di depan wajah Arash.

Wujudnya kini kembali normal, menampilkan visual cewek cantik berambut panjang hitam dengan gaun tanpa lengan.

Dia melayang mundur dengan santai, mengikuti ritme langkah Arash yang naik ke atas, sembari memasang wajah cemberut yang dibuat-buat agar terlihat menggemaskan.

Arash langsung menghentikan langkahnya di anak tangga tengah.

Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling sejenak, memastikan situasi benar-benar aman dan tidak ada guru atau murid lain yang mendadak muncul dari balik belokan lorong.

Setelah yakin mereka hanya berdua atau lebih tepatnya, dia sendiri bersama satu arwah Arash menatap Lala dengan pandangan frustrasi.

"Gue kan udah bilang, jangan suka muncul dadakan! Sadar diri dong, La, lo itu setan, bukan tahu bulat!" desis Arash dengan volume suara yang tertahan di tenggorokan, namun sarat akan penekanan emosi yang meluap-luap.

Lala menghentikan gerakannya di udara.

Dia mengedipkan matanya yang bulat besar beberapa kali, tampak tidak terima dengan perumpamaan kuliner yang diucapkan oleh cowok di depannya.

"Aku gak dadakan loh, Mas. Aku udah lama di bawah meja tadi," bela Lala polos, membantah tuduhan Arash tanpa rasa berdosa sedikit pun.

Arash menarik napas panjang, merasa pasokan oksigen di parunya mendadak menipis.

Dia bersedekap, menatap tajam pada Lala seolah sedang menginterogasi seorang terdakwa di ruang sidang.

"Harus banget gitu keluar depan gue pas?" tanya Arash, menekankan setiap kata dengan penuh kejengkelan.

"Ya gak harus sebenernya, cuman tadi tempat Mas ganteng doang yang kelihatan longgar, jadi aku lewat situ," jawab Lala sembari mengetuk-ngetuk kedua ujung jari telunjuknya di udara, memberikan alasan yang terdengar sangat logis dari sudut pandang dunia hantu.

"Astaghfirullah, Lala! Itu gak sopan! Walaupun lo udah mati, tapi itu cewek dan gak pantes!" potong Arash cepat, suaranya naik satu oktav saking gemasnya menghadapi logika ajaib sang hantu cegil.

Arash memejamkan matanya rapat-rapat, memijat pangkal hidungnya yang terasa semakin nyut-nyutan.

Bayangkan saja, dia anak cowok, duduk santai tiba tiba ada cewek muncul dari bawha meja nya dan wajahnya berhadapan dengannya.

Walaupun itu transparan tetap saja, wujud lala itu perempuan, dan mereka bukan mahram.

Arash membuka matanya kembali, menatap Lala yang kini melayang sedikit lebih rendah, seolah tahu kalau tarikan napas Arash menandakan kemarahan yang serius.

"Lagian ngapain sih lo ngumpet di kolong meja, hah?" imbuh Arash, melayangkan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di benaknya.

Untuk apa sesosok makhluk astral yang bisa melayang bebas di langit malah memilih berhimpit-himpitan di bawah sela-sela kaki manusia?

"Lah, kan kata kamu, aku gak boleh ngikutin," sahut Lala, mengerucutkan bibirnya makin maju. "Makanya aku gak ngikutin di samping kamu. Aku nungguin di bawah meja biar gak kelihatan sama kamu, Mas."

Arash langsung melongo jengah mendengar pembelaan diri itu. Dia menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi tidak habis pikir.

"Dengan lo di kolong meja, dan dengerin semua percakapan kami tadi, itu udah ngikutin namanya, Lala!" seru Arash, gemas dengan tingkat kedegilan roh cewek di depannya. "Itu namanya lo nguping! Menginvasi privasi orang lain!"

"Tapi, Mas—"

"Udah ah, banyak alasan kamu itu," potong Arash, sengaja mengubah gaya bicaranya menjadi lebih tegas seperti seorang kakak yang sedang mendisiplinkan adiknya.

"Pokoknya, gue gak mau kejadian kayak tadi terulang lagi. Mulai sekarang, jadilah hantu yang ngerti sopan santun dan harga diri, paham?"

Lala memanyunkan bibirnya, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga rambut panjangnya menjuntai menutupi sebagian wajah pucatnya.

Tubuh transparannya melayang turun hingga ujung kakinya menyentuh permukaan anak tangga, meskipun tidak menciptakan suara pijakan sama sekali.

"Iya, iya..." gumam Lala lirih, nadanya terdengar sangat lesu dan pasrah.

Arash melipat lengannya di dada, masih mempertahankan posisi menginterogasi.

"Iya apa?"

"Iya, Lala salah," ucap Lala pelan,

melirik Arash dari balik helaian rambutnya dengan pandangan sayu yang mendadak membuat rasa jengkel di dada Arash sedikit surut.

"Kalau salah bilang apa?" tuntut Arash lagi,

nadanya melunak satu tingkat, persis seperti cara Bundanya, Fatimah, kalau sedang menasihati Alin yang habis berbuat jahil.

Lala mengangkat wajahnya, menatap Arash dengan mata bulatnya yang besar, mencoba mengeluarkan jurus andalan mahluk halus spek cegil demi melunakkan hati si cowok indigo.

"Maaf, Mas ganteng... Lala gak akan gitu lagi. Udah ya, jangan galak-galak, nanti cepat tua loh," ucap Lala pelan, diakhiri dengan senyuman tipis yang memperlihatkan sepasang taring kecilnya yang kini tidak lagi terlihat mengerikan, melainkan justru tampak jenaka.

Arash menghela napas berat, menggeleng-gelengkan kepala melihat perubahan ekspresi Lala yang secepat kilat itu. Menghadapi setan amnesia yang satu ini ternyata membutuhkan stok kesabaran yang jauh lebih banyak daripada menyelesaikan soal kalkulus satu buku penuh.

"Ya udah, gue maafin. Tapi awas aja kalau lo melanggar janji lagi," ancam Arash menunjuk wajah Lala dengan jari telunjuknya, yang dibalas Lala dengan anggukan kepala yang heboh dan senyum penuh kemenangan.

Arash kembali melangkah menaiki sisa anak tangga menuju koridor lantai dua yang menuju ke kelasnya.

Otaknya kembali berputar, memikirkan rentetan informasi yang baru saja dia dapatkan dari kantin tentang Fira dan Devano.

**

Pulang sekolah, Arash sebenarnya berniat untuk langsung pulang ke rumah. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian memeras otak menghadapi ujian kalkulus dan menahan beban mental akibat ulah ajaib mahluk halus di sekitarnya.

Dengan motor *sport* hijau tua kesayangannya, dia mulai membelah panasnya kota Surabaya yang menyengat siang itu.

Angin jalanan yang menerpa jaket denimnya tidak terlalu menolong meredakan hawa gerah yang membakar aspal.

Namun, takdir tampaknya memiliki rencana lain untuk agenda istirahat Arash.

Saat motornya berhenti di sebuah persimpangan lampu merah yang padat, pandangan Arash secara tidak sengaja tertuju pada sebuah mobil sedan hitam yang berada dua baris di depan sebelah kanannya.

Kaca tengah mobil itu agak terbuka, dan dari posisi menguntungkan itu, mata indigo Arash yang tajam langsung menangkap siluet seorang cowok berkacamata yang sangat dia kenali.

‘Devano.’ Gumam Arash pelan.

‘’Devano siapa Mas?’’

‘’Yang tadi abis kita ghibahin,’’

‘’Ohh. Dia mau kemana?’’

‘’Mana aku tahu La,’’

‘’Ikutin aja Mas,’’ kata Lala.

Didorong rasa penasaran yang mendalam serta firasat spiritual yang mendadak berdenting kuat, Arash memutuskan untuk mengubah rute pulangnya.

Begitu lampu berubah hijau, dengan gerakan lincah dia memutar stang motornya, mulai membuntuti sedan hitam itu dari jarak aman agar tidak memancing kecurigaan.

Namun, jalur yang diambil oleh mobil Devano semakin lama semakin terasa asing dan ganjil.

Sedan hitam itu berbelok meninggalkan jalan protokol kota Surabaya yang mulus, masuk jauh ke pinggiran daerah yang sepi.

Semakin lama, jalanan yang mereka lewati menjadi semakin sulit diakses.

Aspal mulus berganti menjadi jalanan berbatu yang rusak parah, dipenuhi lubang-lubang besar, sebelum akhirnya memasuki kawasan jalanan sempit yang kanan kirinya ditumbuhi ilalang setinggi dada manusia.

Atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sunyi dan berhawa dingin, kontras dengan teriknya matahari Surabaya beberapa kilometer di belakang mereka.

"Mas ganteng, yakin mau ngikutin dia terus?" tanya Lala dari belakang, ‘’Kayaknya kita pulang aja deh Mas,’’

Hembusan angin sedingin es batu kembali menerpa tengkuk Arash, disusul sepasang lengan transparan yang melingkar erat di pinggangnya demi keselamatan berkendara di jalanan yang berguncang hebat.

Wajah pucat Lala mencuat di samping helm *full-face* Arash, menatap jalanan di depan mereka dengan raut wajah yang tidak lagi jenaka, melainkan dipenuhi kabut kecemasan.

"Gak tahu nih, menurutmu gimana?" balas Arash berbisik di balik kaca helmnya yang gelap.

Tangannya bekerja keras menyeimbangkan stang motor sport-nya agar tidak tergelincir di atas tanah kering berdebu.

"Perasaan aku gak enak banget, Mas. Aku takut kita ketemu hantu,” ungkap Lala, memperingatkan dengan insting supranaturalnya sebagai hantu.

‘’La, kamu itu juga hantu, masa hantu takut hantu sih ah!’’

‘’Ya juga sih, tapi kan aku masih new bie Mas,’’

1
🍎billaacha90🍎
banyak godaan yang menghantuinya, semoga Arash bisa lulus menghadapi ujian ini😁😁🤭
🍎billaacha90🍎
kamu harus bertahan Arash kamu pasti bisa. buktikan kepada orang tua mu kamu mampu
🍎billaacha90🍎
iyaaaaaa, jadi kamu harus berani dan kuat menjalaninya Arash😁😁🤭
Rosy
gemblengannya di mulai besok saja kyai.. sekarang Arash lagi di tungguin sama hantu cegil yg lagi mau curhat 🤭🤭
Rosy
kenapa pake di perjelas segala sih mom...ngeri banget bayanginnya 😭😭😭😭
Rosy
astaghfirullah ternyata Lala lagi ngobrol sama pocong 😭😭🤣🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
yah Arash mau belajar lagi, Lala pasti merasa dibohongi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
eh pocongnya kenapa gak bisa bebas ya 🤔
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Wah Lala nangkring sama mas pocong 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
La diajak jadian tuh 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kau sedang cemburu kah La 🤔🤣
Halimah
Siapa lg nih pocong...Kyk y perlu disekametin jg.
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
walaupun sama² hantu,,,
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅
Vike Kusumaningrum 💜
Siap² Rash, Lala ngambek nanti. pasti katanya kamu menghindar dan ingkar janji 🤭
Vike Kusumaningrum 💜
🤣🤣🤣 siapa nih dulunya 🤣🤔🤭🤭
Vike Kusumaningrum 💜
pocong 🤣🤣🤣🤣🤣😭
Vike Kusumaningrum 💜
Cemburu la ? 🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
heh Lala,,knp kamu ngagetin Arash🫵🫵🫵

bisa kan,,,sapa,,

Assalamualaikum dlu😅😅😅
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
ayooohh Arash,,,banguuunnnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!