NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

Aldrich sama sekali tidak memiliki niat sedikit pun untuk membayar sepeser koin kepada penguasa pos perbatasan yang tamak ini. Utusan ini secara khusus dikirim untuk membunuh Valerius sekaligus membungkam mulut Baron Kaelos untuk selamanya.

Kaelos yang sepenuhnya buta oleh ilusi keserakahan, pada akhirnya menganggukkan kepalanya dengan raut wajah sedikit lebih lega. Ia segera memerintahkan para prajurit penjaga untuk menyiapkan kamar tamu terbaik bagi rombongan pembunuh bayaran tersebut.

"Mari kita bicarakan detail penyerahan Tuan Muda Valerius di ruang kerjaku nanti malam," ajak Baron Kaelos mencoba mencari aman. Ia rupanya masih sangat berharap bisa menegosiasikan tambahan keuntungan politik sebelum menyerahkan tawanan berharganya.

Pria bermata satu itu hanya mengangguk singkat, lalu menyembunyikan tangan kanannya di balik jubah hitam secara mencurigakan. Valerius tahu persis bahwa pria kekar itu sedang mengukur ketebalan leher sang Baron untuk ditebas mati nanti malam.

Valerius mundur perlahan dari area jendelanya, berjalan kembali menuju ranjang pasiennya dengan senyum lebar yang mengerikan. Layar sistem holografik tiba-tiba menyala merah terang secara agresif di dalam pandangan matanya.

[Misi Darurat Baru Tersedia: 'Jamuan Darah di Balik Pintu Tertutup'.]

[Habisi seluruh utusan pembunuh bayaran tanpa membuat pasukan benteng menyadari keterlibatan Host secara langsung. Hadiah: +1000 Poin Dosa dan Senjata Iblis Tingkat Rendah.]

Misi dadakan ini ternyata memberikan hadiah kompensasi yang jauh lebih besar dari serangkaian misi sebelumnya. Valerius merasakan darah di dalam nadinya berdesir sangat kencang, merespons aroma pembantaian brutal yang sudah di depan mata.

Ia tentu saja tidak akan membiarkan Baron Kaelos mati konyol begitu saja di tangan para pembunuh murahan amatir itu. Sang Baron masih memiliki nilai terlalu berguna sebagai saksi hidup untuk membantu menciptakan kekacauan masif di ibu kota nanti.

Malam pekat perlahan turun secara pasti, menyelimuti seluruh area Benteng Besi Hitam dalam kegelapan yang sangat mencekam. Angin melolong keras dari arah celah lembah beracun, membawa hawa beku yang seolah sanggup menusuk sumsum tulang.

Valerius duduk bersila di atas ranjang kayunya, mulai memusatkan aliran Mana ke seluruh saraf penggerak tubuhnya. Ia mempertajam indra pendengarannya hingga batas maksimal, mencoba menangkap setiap suara gesekan langkah kaki di lorong batu benteng.

Pada saat tengah malam yang mematikan, ia akhirnya mendengar suara derit pelan dari arah sayap barat bangunan benteng. Itu adalah arah khusus di mana deretan kamar tamu tempat para utusan berjubah hitam itu menginap.

Valerius lekas membuka kelopak matanya yang kini memancarkan pendaran hitam kelam bak jurang tanpa dasar. Ia langsung mengaktifkan skill 'Langkah Bayangan' dan membiarkan tubuhnya melebur ke dalam kegelapan pekat di kamarnya.

Lorong utama benteng malam ini hanya diterangi oleh beberapa obor sisa yang cahayanya terus meredup dihembus angin malam. Lima belas pembunuh bayaran itu rupanya telah membagi diri mereka secara rapi menjadi dua kelompok kecil pembasmi.

Kelompok pertama yang terdiri dari sepuluh orang bersenjata lengkap bergerak sangat perlahan menuju area ruang kerja Baron Kaelos. Sementara lima orang sisanya terlihat mulai mengendap-endap menuju arah koridor ruang perawatan tempat Valerius dirawat.

Mereka bergerak sangat sinkron tanpa suara layaknya sekelompok hantu pencabut nyawa yang mencari tumbal. Pisau belati yang telah dilumuri pekatnya racun hitam terlihat berkilat mengerikan saat tertimpa sisa cahaya obor lorong.

Valerius dengan cepat memutuskan untuk menyambut lima orang tamu tak diundang yang menuju kamarnya ini terlebih dahulu. Ia melompat dan berdiri menempel terbalik di langit-langit koridor tepat di atas pintu masuk ruangannya sendiri.

Pembunuh yang berdiri paling depan memberi isyarat dengan lambaian tangannya untuk membongkar kunci pintu kayu itu secara diam-diam. Alat pencongkel besi tajam dimasukkan perlahan ke dalam lubang kunci, lalu berputar nyaris tanpa menimbulkan suara gesekan.

Saat daun pintu itu perlahan berderit terbuka, kelima pembunuh tersebut langsung merangsek masuk dengan belati terhunus siap membantai korban. Namun mereka hanya bisa berdiri kebingungan saat menemukan sebuah ranjang kosong melompong dengan selimut yang tersingkap acak-acakan.

Mata mereka seketika melebar penuh rasa kepanikan saat menyadari bahwa target utama mereka ternyata tidak ada di tempat. Sebelum otak mereka sempat memproses untuk meneriakkan peringatan bahaya, pintu kayu tebal di belakang mereka terbanting menutup dengan suara sangat keras.

Valerius menjatuhkan dirinya dari atas langit-langit, langsung mendarat tepat di tengah barisan mereka bagaikan jatuhnya sesosok malaikat maut. Pedang bajanya berkelebat tajam dalam satu ayunan tebasan horizontal yang sangat bertenaga dan mematikan.

Dua kepala manusia seketika terpenggal dan melayang ke udara, memuntahkan air mancur darah segar yang mengotori dinding batu ruangan. Tiga pembunuh sisanya tersentak mundur dengan hebat, tubuh mereka bergetar hebat merespons teror murni yang tiba-tiba menyergap.

Mereka dengan panik mencoba mengayunkan belati beracun mereka ke arah dada Valerius untuk melakukan serangan balasan dadakan. Namun kecepatan gerakan putus asa mereka terasa sangat lambat di mata pria yang telah terbiasa membantai monster perbatasan mematikan tersebut.

Valerius dengan sangat santai menangkap pergelangan tangan pembunuh ketiga menggunakan cengkeraman tangan kirinya yang sekuat jepitan baja. Ia lalu memelintirnya dengan kasar hingga tulang lengan pria malang itu patah menembus kulit, diiringi jeritan yang terpaksa tertahan.

Tanpa secercah belas kasihan pun, Valerius lekas merampas pisau belati beracun dari tangan yang baru saja ia patahkan itu. Ia langsung menusukkannya tepat ke dalam bola mata pembunuh keempat hingga menembus kerasnya tengkorak belakang.

Pembunuh terakhir yang tersisa, pria malang yang tadi sibuk mencongkel pintu, kini jatuh terduduk karena kedua kakinya tiba-tiba lemas tak bertulang. Ia menatap ke arah Valerius dengan pandangan penuh rasa ngeri, seolah baru saja melihat inkarnasi dewa iblis dari neraka terdalam.

Mulut pria itu terbuka lebar mencoba memohon setetes ampunan, namun rasa takut yang absolut telah mencekik paksa pita suaranya. Valerius berjalan sangat perlahan mendekatinya seraya menyeret pedang baja yang terus meneteskan darah panas ke lantai.

"Katakan padaku, berapa banyak keping koin yang ditawarkan kakakku yang terkasih untuk menebus kepalaku?" tanya Valerius dengan suara bernada sangat lembut dan menenangkan. Ia dengan sengaja mengelus bilah pedangnya yang berlumuran darah segar itu ke permukaan pipi pucat pria yang sedang gemetar tersebut.

"L-Lima ribu... koin emas murni..." gagap pria itu terbata-bata, sementara air mata ketakutan membasahi wajah kasarnya. Ia tampaknya sangat berharap kejujuran menyedihkan ini bisa digunakan untuk menukar dan menyelamatkan nyawanya malam ini.

Valerius tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya, merasa sedikit terhina dengan harga buronan yang dirasa terlalu murah untuk kepalanya. "Hanya lima ribu koin untuk mencoba membeli tiket ke neraka ini? Kakakku rupanya benar-benar seorang bangsawan yang sangat pelit."

Dengan satu gerakan tebasan elegan tanpa keraguan sedikit pun, Valerius menebas leher pria malang yang sedang terduduk itu hingga putus sempurna. Darah kembali menyembur deras mewarnai sepatu bot hitam Valerius, menambah satu lagi koleksi kematian tragis di bawah kakinya.

Layar merah sistem kembali berkedip-kedip cepat, menampilkan notifikasi pertambahan Poin Dosa yang terus mengalir deras seperti bendungan jebol. Valerius sama sekali tidak sudi memedulikan rentetan dering notifikasi itu untuk saat ini karena waktunya sangat mendesak.

Ia harus segera bergegas bergerak menuju area ruang kerja Baron Kaelos sebelum babi tambun yang berharga itu terbunuh konyol. Ia lekas menyeka pedangnya dengan kain bersih dan kembali mengaktifkan kemampuan pasif skill 'Langkah Bayangan'.

Ia melesat kilat keluar dari kamar berdarah tersebut bagaikan sebuah hembusan angin malam yang membawa petaka mematikan. Permainan utamanya pada malam pembantaian ini baru saja akan mencapai babak klimaks yang paling menyenangkan.

Koridor panjang yang mengarah menuju ruang kerja pribadi sang Baron terasa sangat sepi dan dingin menyerupai lorong sebuah kuburan raksasa. Para prajurit jaga malam di area ini nyatanya telah diam-diam dibunuh dengan rapi oleh sepuluh pembunuh profesional tersebut.

Valerius menemukan tiga tumpuk mayat prajurit benteng yang tergeletak mengenaskan dengan kondisi leher tergorok di dekat area tangga utama. Darah mereka yang berceceran masih mengalir hangat, menandakan secara pasti bahwa insiden pembantaian ini baru saja terjadi beberapa menit lalu.

Ia mengendap-endap dengan lincah menaiki anak tangga batu tersebut, dengan hati-hati menghindari genangan darah agar tidak meninggalkan jejak sepatu. Dari lantai atas, samar-samar ia bisa mendengar suara geraman marah yang tertahan dan suara bantingan kursi kayu dari arah ruang kerja.

Baron Kaelos tampaknya baru saja menyadari seluruh kebodohan dan pengkhianatan fatal yang kini menimpa nasibnya sendiri. Valerius mengintip dengan cermat dari balik celah pintu kayu jati berukir yang sengaja tidak tertutup rapat tersebut.

Di dalam ruangan mewah itu, sang Baron sedang meringkuk pasrah penuh ketakutan di sudut ruangan dekat perapian batu. Pemimpin bermata satu itu sedang menodongkan ujung bilah pedangnya tepat menyentuh leher Kaelos yang berlapis lemak kotor.

Sembilan anggota pembunuh lainnya berdiri angkuh mengelilingi ruangan, memastikan secara ketat tidak ada celah jalan keluar bagi penguasa benteng tersebut. Aura keputusasaan berwarna hijau pekat memancar sangat kuat meracuni udara dari tubuh Baron Kaelos yang menangis gemetar.

Ini adalah momen kritis yang paling Valerius nantikan dan rencanakan sejak awal tipu dayanya bergulir di gerbang benteng. Ia kini akan masuk berperan sebagai pahlawan penyelamat tepat di saat mental rapuh sang Baron sudah benar-benar hancur dan menjadi patuh tanpa syarat.

Valerius mengeratkan genggaman tangan kanannya pada gagang kulit pedang baja miliknya sambil menahan napas. Malam ini, darah segar mereka akan digunakan sebagai tinta abadi untuk melukis ketakutan di hati seluruh musuh-musuhnya.

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!