NovelToon NovelToon
Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.

​Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Posko sederhana

Perjalanan mereka menyusuri jalanan desa yang teduh memakan waktu sekitar delapan menit, hingga akhirnya Pak Kades menghentikan langkahnya di depan sebuah halaman rumah. "Nah, Adik-adik, ini posko kalian selama sebulan ke depan," ujar Pak Kades sambil tersenyum ramah.

​Bangunan itu adalah sebuah rumah sederhana bergaya khas pedesaan dengan dinding beton berbalut cat putih yang mulai memudar, namun halamannya cukup luas dan bersih. Begitu pintu depan dibuka oleh staf desa, hawa adem langsung menyambut mereka. Rumah ini ternyata memiliki tata ruang yang sangat pas untuk menampung rombongan mereka: terdapat empat kamar tidur berukuran cukup besar dan dua kamar mandi.

​Wisnu segera mengumpulkan seluruh anggota di ruang tengah yang beralaskan karpet jemuran untuk membagi kamar. Mengingat jumlah anggota mereka genap—enam laki-laki dan enam perempuan—pembagian pun menjadi sangat adil dan mudah.

​"Oke teman-teman, karena kamarnya ada empat dan ukurannya besar-besar, kita bagi rata ya. Satu kamar diisi tiga orang. Dua kamar di sisi kiri buat yang perempuan, dan dua kamar di sisi kanan buat yang laki-laki," jelas Wisnu memberi komando.

​Kanaya mengangguk setuju. Ia langsung memilih kamar perempuan bagian depan bersama dua mahasiswi lainnya. Begitu masuk ke dalam kamar, Kanaya segera meletakkan tas ransel dan kantong belanjaan dari Alfamart tadi ke sudut ruangan, lalu merebahkan dirinya sejenak di atas kasur kapuk yang sudah dilapisi seprai bersih. Rasanya begitu lega bisa melepas lelah setelah perjalanan panjang.

​Sementara itu, di sisi kanan rumah, Arman masuk ke kamar laki-laki bagian belakang bersama dua teman lainnya. Setelah menurunkan dua kardus berat yang sejak tadi dipikulnya hingga membuat bahunya memar kemerahan, Arman duduk di tepi ranjang. Rumah ini memang cukup luas, tetapi dengan pembagian seperti ini, ia tahu bahwa selama satu bulan ke depan, ia akan sering berpapasan dengan Kanaya di ruang tengah atau area dapur.

​Arman menghela napas panjang, menatap dinding kamar yang sepi, bersiap menguatkan hatinya untuk hari-hari penuh kecanggungan yang akan segera dimulai.

"Baik, Adik-adik sekalian. Tugas saya mengantar sudah selesai. Silakan bersih-bersih dan istirahat dulu, pasti badannya pegal semua," ujar Pak Subroto ramah, berdiri di ambang pintu depan setelah memastikan semua fasilitas rumah berfungsi dengan baik. "Nanti malam atau besok pagi, staf saya akan ke sini lagi untuk membantu koordinasi jadwal dengan warga sekitar."

​Wisnu maju untuk menjabat tangan Pak Kades dengan takzim. "Baik, Pak Kades. Terima kasih banyak atas sambutan dan fasilitas poskonya. Kami sangat berterima kasih."

​"Sama-sama, Mas Wisnu. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi saya atau perangkat desa ya. Mari, selamat sore," pamit Pak Kades seraya melangkah pergi bersama stafnya, meninggalkan area halaman posko.

​Setelah kepergian Pak Kades, keheningan desa langsung terasa menyelimuti rumah tersebut. Kanaya melangkah keluar ke teras depan untuk menghirup udara sore yang mulai mendingin. Saat memandangkan pandangannya ke sekeliling, ia baru menyadari posisi posko mereka yang sebenarnya.

​Rumah yang mereka tempati ini letaknya lumayan terpencil dan renggang dari pemukiman warga lainnya. Jarak ke rumah tetangga terdekat dipisahkan oleh hamparan luas sekitar enam petak sawah yang menghijau. Jika malam tiba, tempat ini dipastikan akan sangat sepi, hanya menyisakan suara jangkrik dan gemercik air irigasi.

​"Sepi banget ya, Nay," sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang.

​Kanaya menoleh dan mendapati Wisnu sudah berdiri di dekat pintu pembatas teras, ikut menatap hamparan sawah di depan mereka.

​"Iya, Kak. Lumayan jauh ternyata dari rumah warga yang lain," sahut Kanaya pelan, merapatkan jaketnya karena angin sore berembus semakin kencang, membuat rambut sebahunya sedikit berantakan.

​"Tapi nggak apa-apa, justru aman buat kita koordinasi kelompok biar nggak mengganggu ketenangan warga kalau kita rapat malam-malam," ujar Wisnu menenangkan, memberikan senyuman andalannya yang hangat. "Kamu kalau butuh apa-apa atau merasa kurang nyaman dengan kondisi poskonya, bilang ke aku ya."

​Kanaya mengangguk kecil. "Iya, Kak Wisnu. Terima kasih."

​Di dalam rumah, tepatnya di balik jendela ruang tengah yang sedikit terbuka, Arman berdiri mematung. Ia bermaksud ke dapur untuk mengambil air minum, namun langkahnya terhenti saat melihat interaksi Kanaya dan Wisnu di teras.

​Melihat posisi rumah yang cukup terisolasi di tengah sawah ini, ada rasa khawatir yang terselip di hati Arman mengenai keamanan anak-anak perempuan, terutama Kanaya. Namun, melihat betapa sigap dan perhatiannya Wisnu di samping perempuan itu, Arman perlahan menunduk. Ia sadar, tugas untuk menjaga Kanaya kini sudah bukan lagi menjadi porsinya.

1
Himna Mohamad
lanjut kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!