Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.
Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.
Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.
Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.
Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari seseorang
Perempuan itu mengambilnya, menghitung sekilas, lalu tersenyum.
"Ini kuncinya. Kamar nomor 7, di ujung lorong sebelah kiri,"
Will menerima kunci itu. "Terima kasih,"
Ia berjalan menyusuri lorong sempit menuju kamarnya.
Perempuan itu tidak bertanya siapa namanya. Tidak bertanya dari mana asalnya. Hanya tersenyum.
Will merasa sedikit lebih tenang.
Will menuju ke kamarnya. Lorongnya cukup luas, dua orang bisa berpapasan tanpa perlu menyamping.
Lampu minyak di dinding menyala redup, membuat bayangannya ikut bergoyang.
Saat melewati kamar nomor 5, pintu terbuka.
Seorang laki-laki keluar. Tingginya sekitar 140 cm, tinggi normal untuk laki-laki dewasa di dunia ini.
Ia mengenakan jubah cokelat tua, rambutnya acak-acakan, dan matanya sayu seperti baru bangun tidur.
Ia menatap Will sekilas. Will yang tingginya 150 cm sedikit lebih tinggi darinya.
Lalu ia melewati Will tanpa bicara. Tanpa rasa curiga.
Will menghela napas lega dalam hati.
Ia lanjutkan berjalan hingga tiba di kamar nomor 7.
Pintu terbuka setelah kunci diputar.
Di dalam, kamarnya kecil. Hanya ada kasur tipis di pojok, lemari kayu kecil, dan satu jendela dengan tirai tipis yang tidak menutup rapat.
Cahaya senja masuk dari sela-sela kain, jatuh ke lantai kayu yang sudah sedikit usang.
Will masuk, menutup pintu, dan menguncinya dari dalam.
Untuk pertama kalinya hari ini, ia sendirian.
Will duduk di tepi kasur. Matanya menatap kosong ke dinding.
"Besok... mulai mencari," gumamnya.
Ia mengeluarkan kertas pemberian Lola dari kantong, membacanya sekali lagi, lalu menyimpannya kembali.
Will berbaring.
Selimut tipis menutupi tubuhnya yang lelah.
Matanya terpejam.
Malam hari.
Saat Will tidur, ia terbangun kembali.
Bukan karena suara. Bukan karena mimpi buruk.
Tapi ia merasa dirinya diawasi oleh seseorang.
Perlahan, ia duduk. Matanya menyapu seluruh ruangan.
Jendela masih tertutup. Pintu masih terkunci. Tidak ada bayangan. Tidak ada suara napas, selain napasnya sendiri.
Will turun dari kasur. Ia memeriksa setiap sudut. Bawah kasur. Balik lemari. Belakang tirai.
Tidak ada.
"Apa hanya perasaanku?"
Tapi rasa itu tidak hilang. Ia tetap ada. Menggantung di udara seperti kabut tipis yang tidak terlihat tapi terasa.
Will duduk kembali di tepi kasur. Ia memasukkan tangan ke dalam kantong dan mengeluarkan batu komunikasi pemberian Aisa.
Ia menatap batu itu.
Matanya beralih ke jam dinding kecil di atas pintu.
Pukul 2 pagi.
Will ragu.
"Aisa pasti sedang tidur," gumamnya.
"Tapi kalau tidak sekarang, kapan lagi?"
Ia menggenggam batu itu erat.
Lalu menekannya.
Batu itu bergetar tipis. Hangat di telapak tangannya.
"Kak Aisa..." bisiknya pelan.
Diam.
Beberapa detik terasa seperti sejam.
Lalu...
"Will?" Suara Aisa terdengar. Sedikit serak. Seperti baru terbangun.
"Ada apa? Ini tengah malam,"
Will menarik napas.
"Aku merasa ada yang mengawasiku, Kak. Tapi tidak menemukan apa-apa,"
Diam sejenak.
"Kau di mana sekarang?"
"Di kamar penginapan. Sebelah Guild,"
"Kunci pintu?"
"Sudah,"
"Jendela?"
"Sudah,"
Aisa terdengar menghela napas.
"Dengarkan baik-baik,"
Will mengangguk. Padahal Aisa tidak bisa melihatnya.
"Itu bisa jadi hanya perasaanmu. Tapi bisa juga ada seseorang. Kalau kau tidak melihat apa-apa, jangan panik. Tetaplah di kamar. Jangan keluar sebelum subuh,"
"Baik, Kak,"
"Dan Will..."
"Iya?"
"Kalau kau benar-benar dalam bahaya... panggil namaku,"
Batu itu berhenti bergetar.
Will duduk di tepi kasur, menggenggam batu itu, matanya tidak berkedip menatap pintu.
Rasa diawasi itu masih ada.
Tapi sekarang, ia tidak sendirian.
Jam 4 pagi, waktu subuh tiba.
Cahaya biru pucat mulai merambat masuk dari sela-sela tirai jendela.
Langit di luar masih gelap, tapi ada garis tipis warna oranye di ujung cakrawala, tanda malam akan segera berakhir.
Rasa diawasi itu perlahan-lahan menghilang. Seperti kabut yang terkena sinar matahari.
Will yang mengetahuinya langsung merebahkan badannya kembali ke kasur.
Matanya terpejam.
Napasnya mulai teratur.
Tapi tangannya masih menggenggam batu komunikasi itu erat-erat.
Beberapa menit kemudian, ia benar-benar tertidur.
Jam 8 pagi.
Will terbangun.
Bukan karena suara. Bukan karena mimpi buruk. Tapi karena cahaya matahari yang masuk lewat sela-sela tirai, menyorot tepat ke wajahnya.
Ia mengerjap beberapa kali. Matanya masih berat.
Kepalanya berdenyut pelan. Tubuhnya terasa kaku, seperti tidak benar-benar tidur nyenyak.
Hari pertama di penginapan yang tidak menyenangkan sama sekali.
Will duduk di tepi kasur. Ia menatap kosong ke jendela.
Ia masih ingat. Rasa diawasi itu. Dingin. Tidak terlihat. Tapi nyata.
Ia melihat batu komunikasi di tangannya. Masih hangat.
Will menghela napas.
Tidak ada yang bisa dilakukan sekarang. Kecuali melanjutkan rencana.
Ia turun dari kasur, melipat selimut tipis itu, lalu berjalan ke kamar mandi kecil di ujung lorong untuk membasuh wajah.
Air dingin membantu sedikit. Tapi tidak sepenuhnya.
Saat kembali ke kamar, ia mendengar suara dari luar, orang-orang mulai beraktivitas. Suara langkah kaki di lorong. Suara pintu terbuka dan tertutup. Suara resepsionis menyapa tamu yang turun untuk sarapan.
Will membereskan barang-barangnya. Mengembalikan semuanya ke ruang penyimpanan pribadinya lewat kantong.
Ia keluar kamar, mengunci pintu, lalu berjalan menuju area depan.
Perempuan pemilik penginapan tersenyum dari belakang meja.
"Selamat pagi. Sarapan sudah tersedia,"
Will mengangguk pelan. "Terima kasih,"
Ia duduk di bangku panjang dekat jendela. Sepiring bubur hangat dan segelas teh sudah menunggu.
Will makan perlahan.
Hari ini... mulai mencari.
Selesai sarapan, Will beranjak dari bangku. Ia menyimpan piring dan gelas di tempat yang disediakan, lalu melangkah keluar penginapan.
Udara pagi masih sejuk. Matahari belum sepenuhnya naik. Beberapa orang sudah lalu-lalang di trotoar.
Will berjalan menyusuri trotoar menuju Guild. Jaraknya hanya beberapa puluh meter. Tidak butuh waktu lama.
Ia mendorong pintu Guild.
Suara ramai menyambutnya seperti kemarin. Tapi kali ini, Will tidak langsung menuju papan pengumuman.
Ia berdiri di dekat pintu sejenak. Matanya menyapu ruangan.
Perempuan berambut pirang dengan tinggi standar.
Bekerja di Guild dan restoran.
Wajahnya... aku hafal dari gambar di kertas itu.
Will mencari.
Di belakang meja resepsionis, perempuan rambut pendek yang kemarin masih ada.
Di sudut ruangan, beberapa petugas Guild sibuk dengan berkas-berkas. Ada yang rambut cokelat, ada yang rambut hitam.
Will mengerutkan kening.
Mungkin dia belum datang. Atau sedang di belakang.
Ia berjalan mendekati papan pengumuman, berpura-pura melihat misi-misi pemula. Tapi matanya terus mengawasi sekeliling.
Beberapa menit berlalu.
Lalu, dari pintu belakang Guild, sesosok perempuan keluar.
Rambut pirang, dengan tinggi yang sama dengannya. Mungkin, maksud tinggi standar setara dengannya,
Ia membawa tumpukan kertas, berjalan cepat menuju meja resepsionis.
Will berhenti bernapas sejenak.
"Itu dia," gumamnya.
Will mulai mendekatinya, tapi tidak langsung terus terang. Ia ingat pesan Aisa, jangan terlalu terburu-buru, jangan sampai dicurigai
Bersambung...