NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Pelukan yang Meredam Dingin

Sreeet!

Lampu sorot dari mobil SUV di ujung gang memotong kegelapan Kamar Nomor Empat.

Cahaya putih yang menyilaukan itu menembus lurus melalui jendela kaca yang retak, menyapu langit-langit berdebu, lalu berhenti tepat di dinding yang mulai dilapisi kristal es tipis. Kamar kosanku yang sempit mendadak terasa seperti ruang pembekuan ikan di pelabuhan.

Di luar, suara derit lantai papan gang tua ini berbunyi nyaring. Krek… krek…

Suara langkah sepatu bot yang berat terdengar sangat dekat. Jantungku berdentum keras, rasanya seperti mau melompat keluar dari rongga dada. Aku menahan napas, menempelkan punggungku erat-eart pada sudut dinding, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipisku meskipun udara di sekitar kami justru membeku.

Brak! Brak! Brak!

"Buka pintunya! Pemeriksaan rutin dari Baron Logistics!"

Sebuah bentakan kasar menggelegar di luar, disusul suara ketukan yang menghantam daun pintu kayu dengan brutal. Mereka tidak mengetuk pintuku. Suara jahanam itu berasal dari Kamar Nomor Tiga—kamar Mak Sumi yang berada tepat di sebelah kosanku. Pasukan keamanan Baron salah sasaran. Mereka salah target penggeledahan dalam kegelapan subuh ini.

"Eh, ada apa ini Pak? Malam-malam begini kok gedor-gedor?" Suara parau Mak Sumi terdengar ketakutan dari balik dinding tripleks yang tipis.

"Diam tua bangka! Kami mencari penyusup pelabuhan! Geledah kolong kasurnya! Periksa lemari!"

Mendengar kekacauan di sebelah, rasa panik langsung mengepung kepalaku. Aku terkunci di kamarku sendiri tanpa punya banyak pilihan.

Tanganku yang gemetar melirik ke arah jendela belakang yang sedikit terbuka di dekat kompor minyak. Ukurannya cukup untuk ukuran tubuhku.

Aku bisa saja kabur sekarang, melompat ke arah rawa-rawa di belakang gang, dan menyelamatkan diriku sendiri dari kejaran orang-orang bersenjata itu.

Namun, begitu aku menoleh ke bawah, niat itu menguap begitu saja.

Kala sedang berlutut di atas lantai semen yang dingin. Kedua tangannya mencengkeram pinggiran kasur lantai yang tipis hingga kuku-kukunya yang tajam merobek kain seprai.

Tubuh besarnya menggigil hebat seperti es batu yang diguncang gempa. Rahapnya mengatup sangat keras sampai terdengar bunyi gemertak gigi yang ngilu. Hawa dingin yang keluar dari pori-pori kulitnya semakin gila, mematikan akal manusia yang tersisa di dalam kepalanya akibat tekanan siklus purnama. Uap beku tebal terus menguar dari sela-sela bibirnya yang memucat.

Dia hampir ambruk, benar-benar sekarat menahan perubahan biologis di tubuhnya.

Kalau aku meninggalkannya sekarang, cowok ini pasti tertangkap. Dan jika dia tertangkap, tamat sudah riwayatku sebagai kaki tangannya. Rasa gengsi yang selama ini kupelihara runtuh seketika di hadapan maut. Aku tidak pernah meninggalkan paket yang sudah kuambil di tengah jalan. Tidak akan pernah.

"Kala… bertahanlah," bisikku lirih, nyaris tak terdengar di antara suara bentakan petugas Baron di sebelah.

Aku merangkak maju, mengabaikan rasa perih di lututku yang bergesekan dengan kristal es di lantai. Aku membuang ketakutanku jauh-jauh.

Didorong oleh insting bertahan hidup yang paling purba, aku bergerak maju dan langsung melingkarkan kedua lenganku di sekeliling dada bidangnya yang lebar.

Aku nekat memeluk tubuh besar Kala.

"Akh!" Aku spontan merintih pelan saat kulitku bersentuhan langsung dengan jaketnya yang membeku. Rasanya seperti memeluk balok es raksasa yang baru dikeluarkan dari gudang pembekuan kargo. Dinginnya luar biasa, sampai-sampai rasa ngilu langsung menjalar ke tulang-tulang rusukku, membuat seluruh badanku ikut bergetar.

Kala tersentak hebat di dalam dekapanku. Geraman rendah kembali lolos dari tenggorokannya, dan tangan besarnya sempat terangkat, hendak mencengkeram bahuku untuk menghempaskanku menjauh. Lapisan sisik perak di sepanjang pelipis matanya berkilat tajam di bawah sapuan lampu sorot luar.

"Jangan bergerak, bodoh! Ini aku!" bisikku ketakutan sambil mempererat pelukanku. Aku menenggelamkan wajahku di dadanya, menekan seluruh kehangatan tubuhku yang penuh keringat dingin ke arah jantungnya yang berdetak lambat dan ganjil. "Kalau kamu bersuara, kita berdua mati di sini."

Kami membeku dalam keheningan yang mencekam selama beberapa detik. Kulitku yang hangat beradu langsung dengan tubuhnya yang sedingin kutub. Perlahan tapi pasti, kehangatan murni dari darahku mulai bekerja seperti penawar racun. Uap beku yang tadinya tebal dan memenuhi Kamar Nomor Empat lambat laun mulai menipis. Kristal es tipis yang merayap di dindingtripleks berhenti menjalar.

Aku bisa merasakan napas Kala yang tadinya menderu kasar seperti mesin mogok, perlahan-lahan mulai teratur. Ketegangan di otot-otot lengannya yang besar berangsur-angsur melunak. Sesuatu di dalam pelukan terdesak ini seolah menenangkan insting liar rawa yang mengacaukan pikirannya. Sepasang matanya yang menyala emas penuh murka lambat laun meredup, menyisakan tatapan asing yang terlihat rapuh dan lelah.

Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, pertahanan Kala runtuh seutuhnya. Kedua tangan besarnya yang kaku perlahan bergerak naik, melingkari pinggangku, membalas pelukanku dengan erat. Dia menundukkan kepalanya yang berat, lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku.

Napasnya yang kini terasa hangat berembus pelan di kulit leherku, mengirimkan sensasi menggelitik yang aneh sekaligus menenangkan. Bau tanah basah dan lumut dari tubuhnya menyelimuti penciumanku. Di tengah kepungan lampu sorot Baron dan ketakutan yang merayap di luar jendela, ada sebuah momen hening yang sangat emosional di antara kami berdua di atas kasur lantai yang sempit ini. Kami saling mencengkeram, saling menyalurkan sisa kehidupan demi bisa lolos dari lubang jarum bernama maut.

Brak!

"Sudah clean! Tidak ada tanda-tanda air rawa atau suhu dingin di kamar ini! Pindah ke kamar berikutnya!"

Suara bentakan dari Kamar Nomor Tiga kembali menarikku ke realitas yang kejam. Suara langkah kaki sepatu bot yang berat itu kembali berderit di atas lantai papan gang. Kali ini, suaranya tidak menjauh ke arah tangga bawah.

Tap… tap… tap…

Langkah kaki mereka bergerak maju, selangkah demi selangkah, semakin mendekati pintu Kamar Nomor Empat. Lampu sorot dari luar bergeser, membuat siluet tubuh kami yang saling berpelukan bergoyang di dinding kamar yang retak. Tanganku mendadak kaku, mencengkeram punggung jaket Kala semakin kuat saat mendengar selot pintu kosanku digoyang kasar dari luar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!