NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10

***

Ruang kerja Putra Mahkota Valerieth adalah sebuah ruangan yang didominasi oleh kayu ek hitam dan aroma lilin yang tajam. Di dindingnya, peta-peta militer besar tergantung, dipenuhi dengan tanda-tanda merah yang melambangkan penaklukan. Di tengah ruangan itu, Arthur Valerius de Valerieth duduk di balik meja besarnya, jemarinya yang panjang mengetuk permukaan kayu dengan irama yang membosankan.

Pintu terbuka tanpa suara. Ajudan pribadinya, Sir Kaelen, melangkah masuk dan membungkuk dalam.

"Yang Mulia, Duke Kaelric von Eisenhardt telah tiba di gerbang istana. Beliau meminta audiensi segera terkait Putri Mahkota," lapor Sir Kaelen dengan nada hati-hati.

Arthur tidak mendongak. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang meremehkan. "Mertuaku yang terhormat akhirnya merasa perlu untuk menagih barang dagangannya?"

"Duke tampak... tidak sabar, Yang Mulia. Beliau membawa pengawalnya sendiri dari Utara."

"Biarkan dia masuk," perintah Arthur dingin. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi tinggi, matanya yang biru gelap berkilat. "Tapi ingatkan dia, bahwa di tanah Valerieth, dia hanyalah seorang subjek, bukan penguasa salju yang bisa memerintah sesuka hati."

Arthur tahu kunjungan ini pasti akan terjadi. Selama empat bulan terakhir, ia telah memutus semua jalur komunikasi keluar dari Istana Sayap Timur. Surat-surat dari Utara ditahan, kurir-kurir diinterogasi, dan tak seorang pun diizinkan mendekati Lilianne. Baginya, Lilianne bukan lagi seorang Eisenhardt; gadis itu adalah bagian dari dirinya, sebuah harta yang ia curi dari dunia dan ia kunci rapat-rapat.

Duke Kaelric menyetujui pernikahan ini demi aliansi militer dan kekuasaan. Bagi Arthur, itu adalah transaksi yang adil. Eisenhardt mendapatkan perlindungan takhta, dan Arthur mendapatkan Lilianne. Transaksi selesai. Kepemilikan telah berpindah tangan.

**

Sementara itu, jauh dari ketegangan di ruang kerja utama, Istana Sayap Timur bermandikan cahaya matahari sore yang hangat. Kamar itu tidak lagi terasa seperti makam. Berkat kehadiran Lisa, ruangan itu kini memiliki denyut kehidupan.

Lilianne duduk di kursi malas yang dilapisi beludru empuk di dekat balkon. Tangannya yang mungil memegang sebuah buku sejarah tebal, namun matanya tidak tertuju pada tulisan di sana. Ia sedang mendengarkan Lisa yang duduk bersimpuh di dekat kakinya, menjahit pakaian bayi kecil dari kain flanel lembut.

"Jadi, kau bilang Lady Isolde masih mencoba mendekati balairung utama setiap kali Arthur mengadakan rapat?" tanya Lilianne, suaranya tenang namun ada nada geli yang terselip.

Lisa mengangguk cepat, tangannya tetap lincah memainkan jarum. "Benar, Yang Mulia. Tapi setiap kali ia mencoba masuk, penjaga gerbang mengusirnya dengan alasan perintah langsung dari Putra Mahkota. Kabarnya, wajah Lady Isolde sampai memerah seperti mawar layu karena malu di depan para bangsawan lain."

Lilianne tertawa kecil suara tawa yang sudah lama tidak terdengar. Mendengar kabar dari dunia luar adalah satu-satunya pelariannya. "Dia tidak pernah belajar. Arthur tidak menyukai wanita yang memohon-mohon perhatian."

"Dunia di luar sana sedang sibuk membicarakan Anda, Yang Mulia," lanjut Lisa, suaranya merendah. "Banyak rumor yang beredar karena Anda tidak pernah muncul di perjamuan manapun selama empat bulan ini. Ada yang bilang Anda sakit parah, ada yang bilang Anda sengaja disembunyikan karena kecantikan Anda yang terlalu luar biasa."

Lilianne mengelus perutnya yang membuncit. "Biarkan mereka berbisik, Lisa. Rumor adalah senjata yang bagus jika kita tahu cara menggunakannya."

"Tapi Yang Mulia..." Lisa berhenti menjahit dan menatap Lilianne dengan cemas. "Apakah Anda tidak merasa lelah? Terkurung di sini hanya dengan buku dan pelayan rendahan seperti saya? Anda adalah seorang Putri Mahkota, Anda seharusnya berdiri di samping Yang Mulia Arthur saat menerima tamu, bukannya di balik dinding tinggi ini."

Lilianne menatap ke arah taman kecil di bawah balkon. "Terkadang, Lisa, keamanan adalah bentuk penjara yang paling manis. Arthur berpikir dia mengurungku untuk melindungiku dari dunia. Tapi dia tidak sadar, bahwa dengan mengurungku di sini, dia justru memberiku waktu untuk mempelajari setiap celah di dalam kerajaannya melalui buku-buku ini."

Lilianne mengambil selembar kertas yang terselip di dalam bukunya sebuah peta jalur distribusi air istana yang ia pelajari secara diam-diam. "Jika aku berada di perjamuan, aku hanya akan menjadi pajangan. Di sini, aku sedang membangun fondasi."

**

Di sisi lain istana, Duke Kaelric von Eisenhardt berdiri tegak di hadapan menantunya. Aura dingin dari Utara seolah bertabrakan dengan aura kejam dari Valerieth.

"Empat bulan, Arthur," ujar Duke Kaelric, suaranya berat dan penuh otoritas. "Empat bulan tanpa sepatah kata pun dari putriku. Aku mengirimnya ke sini untuk menjadi Putri Mahkota, bukan untuk menjadi tawanan perang."

Arthur menyesap anggur merah dari cawannya dengan santai. "Lilianne sedang mengandung, Duke. Kondisinya sangat rapuh. Aku hanya memastikan bahwa tidak ada gangguan luar yang bisa membahayakan nyawa anakku dan istriku."

"Menghalangi ayahnya sendiri untuk melihatnya bukanlah bentuk perlindungan, itu adalah penghinaan!" Duke Kaelric memukul meja. "Kaelric von Eisenhardt tidak akan tinggal diam jika darahnya diperlakukan seperti pajangan yang dikunci di lemari emas."

Arthur bangkit dari kursinya, matanya berkilat berbahaya. "Lilianne adalah Valerius de Valerieth sekarang. Dia adalah milikku sepenuhnya. Jika kau ingin menanyakan kabarnya, kau sudah mendapatkannya: dia sehat, dia cantik, dan dia sedang mengandung ahli waris tahta. Apa lagi yang kau butuhkan? Uang? Pasukan? Aku akan memberikannya selama kau tidak mencoba mencampuri urusan di dalam kamarku."

Duke Kaelric menyipitkan mata. Ia melihat obsesi yang tidak sehat dalam nada bicara Arthur. Ia mengenal pria di depannya seorang panglima yang tidak akan membiarkan apapun yang menjadi miliknya lolos.

"Kau pikir kau bisa menjinakkan serigala Utara dengan mengurungnya di sangkar?" bisik Kaelric. "Lilianne memiliki darahku. Dia akan menghancurkan sangkar itu jika dia mau."

"Maka biarkan dia mencoba," balas Arthur dengan seringai kaku. "Tapi untuk saat ini, dia tampaknya cukup menikmati sangkar yang aku buatkan. Dia meminta buku, dia menanam bunga, dan dia menyambutku dengan senyum setiap malam. Mungkin, Duke, dia sebenarnya lebih bahagia di sini bersamaku daripada di Utara yang membeku bersamamu."

**

Malam itu, Arthur kembali ke Istana Sayap Timur dengan suasana hati yang sedikit terusik oleh pertemuan dengan mertuanya. Namun, begitu ia membuka pintu kamar dan mencium aroma lavender serta melihat Lilianne yang sedang tertidur di kursi malas dengan buku di pangkuannya, amarahnya memudar.

Ia mendekat, mengangkat Lilianne dengan sangat hati-hati dan memindahkannya ke ranjang. Lilianne terbangun sedikit, matanya yang perak mengerjap menatap suaminya.

"Anda sudah pulang, yang mulia?" gumamnya serak.

"Tidurlah, Lili," bisik Arthur, mengecup keningnya. "Ayahmu datang berkunjung tadi."

Lilianne menegang sesaat, namun ia dengan cepat menyembunyikan reaksinya.

"Benarkah? Apa yang dikatakannya?"

"Hanya urusan politik yang membosankan," bohong Arthur sambil membelai pipi Lilianne. "Dia mengirim salam untukmu. Tapi aku bilang padamu bahwa kau terlalu lelah untuk menerima tamu."

Lilianne tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak patuh namun penuh rahasia. "Terima kasih telah menjagaku, Yang Mulia. Aku memang merasa sangat lelah belakangan ini."

Arthur memeluk Lilianne dari belakang, tangannya berada di atas perut Lilianne yang membuncit. "Hanya aku yang kau butuhkan, Lili. Ingat itu."

"Tentu, yang mulia. Hanya Anda."

Di bawah bantal, Lilianne meraba kunci emas dari Kaisar. Esok hari, Lisa akan membawakannya informasi lebih lanjut tentang apa yang dibicarakan ayahnya dan Arthur melalui para penjaga yang bisa disuap dengan keramahan.

Lilianne menyadari satu hal: Arthur sedang membangun dinding untuk melindunginya, namun dinding itu juga memberikan Lilianne perlindungan dari mata-mata musuh untuk menyusun rencananya sendiri. Jika Arthur ingin dia menjadi dunianya, maka Lilianne akan memastikan bahwa dia adalah penguasa mutlak dari dunia kecil itu, dan suatu hari nanti, dunia yang lebih besar di luar sana.

"Tidurlah, Suamiku," bisik Lilianne dalam hati. "Karena saat aku bangun besok, bidakku akan melangkah lebih jauh."

****

Bersambung...

1
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
Erni Wati
cerita nya keren tp kok sepi ya?
Lilia_safira: kurang update author nya
total 2 replies
Erni Wati
semangat thor,,,💪💪💪
Heresnanaa_: maaciw kaka🥹🫂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!