Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Suasana perlahan mencair, meski masih ada bisik-bisik tersisa.
Alvaro menoleh ke belakang ke arah Melina yang masih diam terpaku, wajahnya pucat pasi.
"Lo gak papa Mel?" tanya Alvaro suaranya melunak.
Melina hanya bisa tersenyum dan mengangguk pelan, meski masih menyimpan rasa takut dan trauma atas ucapan Livia tadi.
"Gak papa kok Al," jawab Melina dengan lembut.
"Makasih ya Al, lo udah mau bela gua," lanjut Melina tersenyum ke arah Alvaro.
Alvaro menghela napas, dan menatap ke langit-langit.
Hatinya merasa sakit dan sesak karena Melina akan menikah dengan Ishan Ganendra, namun saat ini selagi Melina belum resmi menjadi istri orang lain.
Maka sah-sah saja jika Alvaro tetap bersahabat dengan Melina.
"Eh BTW lo mau kemana nih abis ini?" tanya Alvaro.
"Gua mau ke panti, biasa gua mau ngemas barang-barang mau pindah ke rumah keluarga Ganendra," ujar Melina.
Melina mau pergi berlalu, tapi tangannya di tahan oleh Alvaro.
"Gua anter yaa," ujarnya.
"Hah kagak usah," tolak Melina dengan lembut.
"Udah gua anter aja, sekalian gua mau ke rumah Ishan soalnya pengen liat aja sebagai fans," jawab Alvaro sebagai alibi.
"Yaudah deh oke," sahut Melina dengan setuju.
Melina dan Alvaro berjalan menuju parkiran dimana, disana ada mobil Alvaro yang terparkir.
"Gila ya tuh model, berani gitu. Kalo misalnya demen ama Kak Ishan ya nikahin aja ngapain dia labrak lu di kampus."
Alvaro masih jengkel sambil menyetir mobilnya, sementara Melina hanya menghela napas lelah dan tersenyum.
"Udah lah Al, yang penting fokus utama kita ke hidup kita aja. Toh pasti salah satu anak-anak udah rekam paling juga nanti viral," kata Melina.
"Iya juga sih, inget aja nyokap gua pernah bilang, Karma is real."
Keduanya saling tertawa satu sama lain, dan berbincang.
Entah mengapa Melina saat bersama Alvaro, terasa bisa tertawa lepas dan tiada beban. Berbeda jika bersama Ishan yang Melina rasa adalah ketakutan.
Tanpa sadar keduanya sudah sampai di panti asuhan.
Suasana Panti Asuhan terasa begitu emosional dengan perpisahan Melina Khairunnisa.
Melina menghela napas menatap koper yang sudah terisi penuh dengan pakaian dan sedikit kenangan masa kecil yang di milikinya.
Dirinya mengingat saat tumbuh dewasa disini dan hari ini adalah hari kepindahannya, bukan karena usia dewasa bisa di bilang menikah muda.
Di ambang pintu, Bu Pipin berdiri dengan mata berkaca-kaca saat anak asuhnya mau pergi menikah.
Menikah dengan seorang aktor terkenal yang pasti kehidupannya akan terjamin.
Melihat Bu Pipin di ambang pintu, Melina segera menghambur ke pelukan wanita yang sudah di anggap sebagai ibu kandungnya.
Karena dari kecil Melina di rawat oleh Bu Pipin, terlihat Melina memeluk erat wanita itu.
"Bu, makasih ya sudah jadi ibu bagi Mel selama ini. Kalau bukan karena Ibu, Mel nggak tahu akan jadi apa," bisik Melina terisak.
Bu Pipin mengelus rambut Melina yang di ikat setengah dengan lembut, dan memeluknya dengan erat.
"Kamu akan tetap menjadi anak kebanggan ibu, di mana pun kamu berasa selalu ingat rumah ini ya, Nak."
Bu Pipin melepaskan pelukan Melina, tangannya membelai rambutnya dengan lembut.
"Ibu, nanti saat Mel menikah...Ibu harus datang ya sebagai orangtua Mel, karena Mel cuman punya ibu dan adik-adik panti," pinta Melina dengan tulus.
Setelah berpamitan dan bersalaman dengan adik-adik panti yang menangis melepas kepergian kakak mereka.
Melina menarik napas dalam dan langsung melangkah keluar rumah.
Kenangan akan masa kecilnya disini berkelebat begitu saja, dan teringat akan dulu Bu Pipin mendidiknya menjadi gadis mandiri.
Di depan gerbang panti asuhan.
Alvaro sudah menunggu di depan gerbang dengan mobilnya.
Pemuda itu tetap setia menunggu gadis yang di cintainya, dirinya mengamati soal masalah tadi.
Jika suatu saat Melina bercerai, dirinya sudah siap menerima jandanya.
Kenapa dirinya berpikir buruk seperti itu.
"Ya allah maafkan hamba sudah berpikir buruk begini," ucapnya.
Tak lama Melina mengetuk kaca mobil tepat di dalam ada Alvaro.
Hal yang membuat Alvaro terbuyar akan lamunannya.
"Eh Mel," ucap Alvaro segera keluar mobil.
Alvaro keluar dari dalam mobil dan segera membantu Melina memasukan koper ke bagasi dan mengantarnya menuju kediaman Ganendra.
Sepanjang perjalanan, Melina hanya diam dengan mata yang sembab.
Melina memandang jalan dengan perasaan campur aduk.
"Woy Mel?" tegur Alvaro.
"Ngomong apa?" lanjut Alvaro yang sok asik dan berusaha mencairkan suasana.
"Iya kenapa Al," jawab Melina dengan nada lembut namun ada seraknya.
Alvaro berusaha bercanda membuat Melina tersenyum, karena ini senyum terakhirnya sebelum Melina bersama pria lain.
Namun, canda tawa mereka sirna saat mereka sampai di depan sebuah rumah megah dengan pilar-pilar tinggi megah.
Tak lupa lantai marmer yang berkilau dan gerbang yang menjulang tinggi dan mewah.
"Bujut buneng rumahnya mewah bener Mel, wajar sih Aktor."
"Mau masuk? sekalian minta foto ama Mas Ishan?" tawar Melina.
"Kagak dah Mel, takut nanti masuk portal lambe turah lagi," tolak Alvaro seolah dirinya tahu.
"Lu ikut portal lambe turah, dih cowok suka juga lu gosip."
Melina tertawa sambil bercanda dengan Alvaro.
"Yaudah lain waktu deh Mel, semoga nanti offline kuliah biar gua bisa ngobrol ama lu."
"Ciee yang mau jadi bini artis!" ucap Alvaro menyetir mobil sambil tertawa.
Begitu Melina masuk gerbang sambil menggeret koper.
Lalu di depan pintu besar baru saja melangkahkan kakinya di depan pintu rumah mewah itu.
Ishan Ganendra muncul di balik pintu dengan wajah marah.
Penampilannya mengenakan baju lengan pendek memakai tulisan promosi film terbarunya yang bertajuk “The Unknown” dan celana jeans gelap.
Melina sempat kaget melihat Ihsan berdiri menatapnya seperti itu.
Tanpa sepatah kata pun, Ihsan langsung maju dan menarik paksa tangan kanan Melina.
"Aw! Sakit, Mas Ishan!" rintih Melina.
Buku-buku yang di dekap hampir saja terjatuh karena tarikan kasar itu.
Ishan tak peduli dengan rintihan Melina, seolah gadis itu baru saja melakukan kesalahan fatal.
"Kamu diam dan ikut saya!" ucap Ishan.
"Mas ampun jangan kaya gini sakit!" rintih Melina sekali lagi.
Terlihat bekas cengkraman tangan Ishan di tangannya, bisa di bayangkan seberapa kuat cengkraman tangan pria itu padanya.
*
*
*
*
*
*