NovelToon NovelToon
Di Panggil Ras Iblis Kedunia Lain

Di Panggil Ras Iblis Kedunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:699
Nilai: 5
Nama Author: Agung Noviar

Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 ZETA DITUDUH

Matahari mulai tenggelam, menyisakan semburat jingga yang perlahan tertutup pekatnya malam di Kerajaan Beltrum. Di tengah hiruk-pikuk kota, Zeta berdiri mematung sambil menatap sekantong koin emas di tangannya.

"Akhirnya aku paham konsep sihir ini. Selanjutnya pasti bakal lebih terbiasa," gumam Zeta pada dirinya sendiri. Namun, sedetik kemudian wajahnya berubah panik. "Tapi... uang ini buat apa? Aku lapar, tapi aku lupa tanya Putri Stella di mana aku harus menginap! Sial, sial, sial!"

Zeta mengacak rambutnya frustrasi. Warga sekitar yang lewat hanya bisa tertawa kecil melihat pemuda itu mengomel sendiri seperti orang gila. Mengingat luka yang ia berikan pada Lytia, Zeta merasa terlalu malu dan tidak enak hati untuk kembali ke rumah keluarga Lytia.

"Aku cari tempat makan 24 jam saja lah," batinnya. Matanya kemudian tertuju pada sebuah kedai tua dengan papan kayu bertuliskan huruf iblis kuno. Berkat mata Naha, ia bisa membacanya dengan jelas: 'Kedai Taring Hitam Buka Sepanjang Malam'.

Begitu melangkah masuk, suasana langsung berubah drastis. Ruangan itu penuh sesak dengan ras iblis bertubuh kekar, petualang veteran dengan bekas luka di wajah, dan para pekerja tambang yang sedang melepaskan penat. Bau daging panggang dan bir memenuhi udara.

Aduch, apa aku salah masuk kedai kenapa isinya kaya preman? Zeta membeku di pintu. Namun, sebelum ia sempat berbalik, suara tawa menggelegar menyambutnya.

"Oho! Lihat ini! Ada anak muda yang punya nyali masuk ke sini!" seru seorang pria berotot besar sambil mengangkat gelasnya. "Sudah setahun lebih tidak ada anak muda yang berani menginjakkan kaki di kedai ini. Duduklah, Nak! Pesan apa saja, nikmati malammu! Hahaha!"

Zeta hanya bisa tertawa canggung sambil menggaruk tengkuknya, lalu duduk di pojok meja kayu yang kasar.

Di Sisi Lain Kota... Lytia berjalan gontai menuju rumahnya. Biasanya, di sampingnya selalu ada Zeta yang berisik, cerewet, dan sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan aneh tentang dunia ini. Sekarang, hanya ada suara langkah kakinya sendiri di atas jalan setapak yang sepi.

Kenapa rasanya sesepi ini? bisik hatinya. Sesampainya di rumah, kedua orang tuanya menyambut dengan raut bingung. "Lytia? Kamu pulang sendiri? Di mana Zeta? Apa dia sudah di berikan tempat tinggal oleh putri?" tanya ibunya cemas.

Jantung Lytia seolah mencelos. Jadi dia tidak ke sini? Dia pasti benar-benar marah padaku, pikirnya sedih.

"I-iya, Bu. Dia sudah dapat tempat tinggal sendiri," jawab Lytia berbohong demi menutupi rasa bersalahnya. Saat makan malam, suasana menjadi tegang ketika ayahnya melihat perban yang melilit lengan dan pundak

Lytia. "Astaga, Lytia! Apa yang terjadi? Kenapa tubuhmu penuh luka begini?"

Lytia terdiam sejenak, menatap piringnya dengan tatapan kosong. "Tenang, Bu, Ayah... tadi saat melawan monster, aku kurang perhitungan saat mengeluarkan sihir api. Aku terkena ledakanku sendiri. Ini luka ringan."

Ibunya mendekat dan mengusap bahu Lytia dengan lembut. "Lain kali hati-hati, Nak. Ibu sangat khawatir.

Kamu adalah satu-satunya Anak kami." Lytia hanya tersenyum tipis, namun dia teringat pertempuran nya dengan Zeta.

Kabar Buruk dari Lembah Nox.

Di kamar yang remang-remang, Lytia duduk di pinggir tempat tidurnya. Ia menatap langit malam dari balik jendela. Dia Kepikiran Zeta yang sudah ia sakiti dia takut Zeta akan berkhianat. “Nyesal banget aku buat dia sangat marah” ucap Lytia

"Aku benar-benar keterlaluan," bisik Lytia sambil meremas jemarinya. "Dia sudah berjuang, tapi aku malah menghinanya."

Sementara itu, di Kedai Taring Hitam, suasana yang tadinya ceria berubah menjadi serius. Zeta, yang sedang asyik mengunyah daging panggangnya, mendadak berhenti saat telinganya menangkap percakapan antara pemilik kedai dan seorang pelanggan veteran.

"Lembah Nox belum akan tenang," ucap si penjual sambil mengelap gelas kayu. "Sisa dua hari lagi sebelum manusia-manusia itu menyerang kembali. Aku dengar, Kerajaan Zetobia akan menurunkan kartu as mereka:

Empat Ksatria Suci dan sang Jenderal Besar."

Pelanggan di depannya tersentak hingga hampir menjatuhkan minumannya. "Hah? Serius? Maksudmu Jenderal Tharos si 'Pedang Suci' itu? Manusia yang punya tiga elemen dan bisa menyatukan sihir ke pedangnya?"

"Benar," sahut si penjual dengan wajah mendung. "Kalau mereka benar-benar turun, Lembah Nox akan jatuh. Jalur ekonomi kita akan terputus total dan malah Ibu Kota Beltrum akan runtuh."

Seorang pembeli lain menimpali dengan nada pesimis, "Jenderal Lytia mungkin bisa menahan Empat Ksatria Suci itu , tapi melawan Tharos? Itu mustahil. Kita hanya bisa berharap pada 'Ksatria Dunia Lain' yang dipanggil Putri Stella. Apakah dia benar-benar bisa jadi kartu as kita, atau cuma sekadar harapan palsu?"

Zeta tertegun. Sendok di tangannya terasa berat. Mendengar namanya atau setidaknya gelarnya disebut sebagai harapan terakhir seluruh ras iblis, membuat jantungnya berdegup kencang.

Jenderal Tharos... Tiga elemen...Zeta membatin.Ia teringat masa lalunya di bumi. Dulu, setiap kali orang tuanya bertengkar hebat, Zeta selalu memakai headphone, masuk ke kamar, dan bersembunyi dari kenyataan. Namun di sini, di dunia ini, tidak ada kamar untuk bersembunyi. Jika ia lari, kerajaan ini hancur, Lytia akan kalah, dan jalan pulangnya ke dunia asalnya akan tertutup selamanya.

"Aku harus serius," Zeta mengepalkan tangannya di bawah meja. "Aku tidak boleh banyak bicara kosong lagi. Kalau aku tidak jadi lebih kuat dari si Tharos itu, aku akan mati di sini dan tidak akan pernah bisa pulang. Hancur sudah kalau aku cuma jadi beban." Tekad, Mimpi Buruk, dan Amarah Warga. Zeta sempat tertidur di meja kedai. Dalam lelapnya, ia terjebak dalam mimpi buruk yang terasa sangat nyata. Di sebuah padang yang penuh mayat, ia berhadapan dengan seorang pria yang menggenggam pedang bercahaya menyilaukan mungkin itu adalah sang "Pedang Suci" Tharos. Hanya dalam satu tebasan yang bahkan tak sempat ia lihat, dada Zeta terbelah.

"TIDAAAKKK!" Zeta tersentak bangun, napasnya memburu.

Paman penjual kedai yang sedang bersiap membuka kedainya di pagi buta itu menghampirinya. "Wah, mimpi buruk ya, Nak? Tidurmu tidak tenang sekali. Mau sarapan? Spesial untukmu, gratis."

"Terima kasih, Paman. Tapi aku akan tetap bayar," sahut Zeta sambil mengusap wajahnya yang berkeringat. Namun, saat Zeta mendongak, cahaya matahari pagi masuk melalui jendela dan menerangi wajahnya dengan jelas. Paman penjual itu terpaku. Matanya yang tadinya ramah perlahan menyipit, dipenuhi kecurigaan.

"Anak muda... matamu," suara paman itu berubah berat. "Mata kirimu ungu gelap... dan mata kananmu... itu bukan mata ras iblis. Itu mata manusia! Siapa kau sebenarnya?!"

Zeta tersedak, keringat dingin mulai mengucur. "Ppaman, ini tidak seperti yang kau pikirkan..."

"BAJINGAN! Keluar kau!" Paman itu membanting serbetnya dan berteriak sekuat tenaga. "MATA-MATA! ADA MATA-MATA DARI ZETOBIA DI SINI!"

Zeta terpaksa berlari keluar, namun kerumunan warga dan para petualang yang semalam minum bersamanya sudah berkumpul. Suasana yang tadinya hangat kini berubah menjadi lautan amarah.

"Lihat matanya! Dia manusia! Dia pasti mata-mata yang dikirim untuk menghancurkan kita dari dalam!" teriak paman penjual itu sambil menunjuk Zeta dengan marah. Zeta berusaha tetap tenang meski kakinya gemetar. "Dengarkan aku! Aku bukan mata-mata! Aku Ksatria dari dunia lain yang dipanggil oleh Putri Stella dan Raja Iblis untuk membantu kalian!"

"PEMBOHONG!" sahut seorang warga. "Ritual pemanggilan pasti memanggil kesatria dari ras yang sama! Tidak mungkin kesatria kami adalah manusia rendahan sepertimu! TANGKAP DIA!"

Zeta menggigit bibirnya. Sial, aku harusnya tetap berada di wilayah dekat rumah lytia karena mereka sudah tau aku pernah bersama jendral Lytia. Warga sipil di wilayah ini belum pernah melihatku! batinnya frustrasi. Ia tidak mungkin melukai warga yang hanya sedang ketakutan karena perang.

"Maaf semuanya, aku tidak ingin ada yang terluka!" Zeta merentangkan tangannya, memusatkan imajinasinya pada elemen angin dan tanah di sekitarnya. "Sihir Angin: Sand Mist!" Wuuussshhh! Hembusan angin kencang bercampur debu pasir meledak dari bawah kaki Zeta, membutakan pandangan semua orang di pasar itu. Di balik kabut tebal itu, Zeta berhasil kabur sekrang dia bingung harus kemana.

“Huaaah… akhirnya aku berhasil kabur,” gumamnya pelan. “Aku sekarang di gerbang 3 istana… tapi habis ini ke mana, ya?” engak mungkin aku ke rumah Lytia aku masih gak enak sama ortunya dan apa lagi belum baikan dengan Lytia” guman Zeta. Ia menoleh ke arah luar tembok. Matanya menyipit, lalu

wajahnya sedikit berbinar.

“Aah, iya. Di Luar gerbang 3 kan dekat hutan,” katanya pada diri sendiri. “Kalau begitu, aku keluar dari Gerbang kerajaan dulu.”

Saat Zeta hendak melewati gerbang 3 di sisi tembok, seorang penjaga menghentikannya.

“Maaf,” ucap penjaga itu waspada. “Kau ingin ke mana? Kenapa tidak bersama Jenderal Lytia seperti kemarin?”

Zeta berusaha tenang, meski jantungnya masih berdetak cepat.

“Jenderal Lytia sedang sakit,” jawabnya. “Jadi aku ingin berlatih sendiri di hutan. Sekalian membasmi monster.”

Penjaga itu menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan.

“Hm… silakan. Tapi jangan kabur dari kerajaan.”

“Tentu,” jawab Zeta singkat.

Ia pun melangkah keluar. Tak lama kemudian, Zeta telah berada di dalam hutan, sekitar satu kilometer dari gerbang 3 kerajaan.

“Huaaah…” Zeta menarik napas panjang. “Saatnya melatih kemampuanku.”

Ia mengepalkan tangan, merasakan aliran sihir di dalam tubuhnya.

“Aku akan berkembang jauh lebih cepat,” katanya penuh keyakinan. “Dengan imajinasi yang pernah kumainkan di game dan kulihat di film… aku bisa menciptakan sihir angin sesuai kehendakku sendiri.” Senyum liar terukir di wajahnya. “Hahahaha… saatnya masuk hutan” Sementara itu, di wilayah warga tempat keributan sebelumnya terjadi, suasana masih panas. Orang-orang berkumpul dengan wajah kesal dan bingung.

“Ke mana bajingan itu pergi?” seru salah satu warga.

“Sialan! Dasar mata-mata Zetobia!” teriak yang lain. “Pantas saja ada anak muda berani masuk ke kedai-ku. Ayo, kita laporkan ke istana!”

Namun sebelum mereka bergerak, langkah kaki teratur terdengar mendekat. Putri Stella muncul bersama Laksamana Airon dan dua pengawal kerajaan.

Namun Beberapa waktu sebelumnya saat Putri Stella dan Laksmana Airon Belum turun ke kawasan masyarakat, Putri Stella mendapatkan laporan.

“Putri,” kata salah satu pengawal, “saat kemarin kesatria dunia lain bertarung dengan Jenderal Lytia, kami mengecek hutan dan menemukan mayat Minotaur.”

“Minotaur?” Stella mengerutkan kening.

“Ya, Putri. Bukankah itu aneh? Seharusnya Minotaur berada di Hutan Lembah Nox. Jaraknya jauh dari Hutan gerbang 3 kerajaan.”

Putri Stella terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan.

“Benar… aku juga merasa ada yang aneh. Saat perang di Lembah Nox berlangsung, jumlah monster yang muncul jauh lebih sedikit dari biasanya.”

Ia menatap ke luar jendela, matanya tajam penuh pemikiran.

“Mungkin… mereka berlarian ketakutan dan mencari hutan lain.”

“Panggil Laksamana Airon,” perintahnya. “Aku ingin mengecek hutan itu lagi.” perintah Putri Stella

Kini, Putri Stella, Laksamana Airon, dan dua pengawal berdiri di tengah wilayah warga yang ribut.

“Ada apa ramai-ramai di sini?” tanya Putri Stella lembut namun tegas. “Tadi kami mendengar ada keributan.”

Seorang warga maju dengan wajah penuh emosi.

“Putri! Ada manusia muda bermata aneh! Kami yakin dia mata-mata Zetobia yang ingin menghancurkan

kerajaan dari dalam!”

Putri Stella dan Airon saling bertatapan.

Bukankah itu… Zeta? “Warna matanya apa?” tanya Stella pelan.

“Mata kirinya ungu gelap,” jawab warga itu cepat, “dan mata kanannya seperti manusia biasa.”

Putri Stella menghela napas panjang.

“Huuuh…Dia bukan mata-mata,” ucapnya “Dia adalah manusia dari dunia lain yang kami panggil sebagai kesatria kerajaan. Namanya Zeta.” Warga warga terkejut.

“Hah!? Kesatria dunia lain… tapi dia manusia!?”

“Kenapa tuan putri memanggil manusia?” seru yang lain panik. “Apa jangan-jangan kerajaan mulai jatuh dan akan diambil alih Zetobia!?”

Putri Stella tersenyum kaku, sedikit bingung menghadapi reaksi mereka. Tiba-tiba Laksamana Airon melangkah maju. Suaranya meninggi dan menggema.

“DENGAR SEMUA!” Kerumunan langsung terdiam.

“Gulungan pemanggil itu didapat Putri Stella dari Zetobia saat perang. Itu senjata legendaris dan sangat berbahaya. Karena itulah Putri mengambilnya agar Zetobia tidak menggunakannya duluan”

Airon menatap tajam ke arah warga.

“Zeta sudah membuat perjanjian dengan kerajaan ini. Jika ia membawa kedamaian, ia akan dipulangkan ke dunia asalnya!” Nada suaranya semakin keras.

“Dan apa yang kalian lakukan hari ini bisa membuatnya membenci kerajaan ini. Paham sekarang!?”

Wajah para warga langsung pucat.

“Maaf… maafkan kami, Putri… seharusnya kami bertanya baik-baik…”

Putri Stella menghela napas dengan kesal.

“Huh, dasar kalian.”

Ia lalu bertanya, “Di mana dia sekarang?”

“Dia menghilang,” jawab warga itu. “Tadi dia terpojok… lalu lenyap dengan hembusan angin yang sangat kencang.”

Salah satu pengawal berkata pelan, “Apa mungkin dia pergi ke rumah Jenderal Lytia, Putri?”

“Mungkin,” jawab Stella. “Dia juga belum hafal denah kerajaan.”

Putri Stella menatap ke arah hutan di kejauhan.

“Kalau begitu… kita harus segera mengecek kondisi hutan.” Angin berembus pelan seakan menjadi pertanda bahwa sesuatu tengah bergerak, jauh di balik pepohonan gelap tempat Zeta memulai latihannya.

1
Pak Heru2025
lanjut thor
T28J
karena keren saya kasih anda /Rose//Rose//Rose/
Frando Wijaya
oh? cerita yg menarik...tpi nanti aja gw baca...krn ada novel lain yg gw blom baca
Zetavia: yeeyyy makasih kakk 😍😍
total 1 replies
Pak Heru2025
💪 lanjut min
Zetavia: siappp kakkk
total 1 replies
Pak Heru2025
lanjut
Zetavia: okee kakk
total 1 replies
Pak Heru2025
lanjut min
Alia Chans
semangat thort👈
Zetavia: makasih kakk
total 1 replies
Juun
kerjasama airon sama lytia keren hebattt
Juun
😍😍😍😍
Wawan
Semangat ✍️
T28J
kereeen 👍
Juun
wahh gilaaaaaaa asik bangettt
Zetavia: terima kasih 💪🙏😍
total 1 replies
Juun
keren dah
Juun
kalo di buat anime bagus loh ini
Juun
asikk bangettttt makin penasaran😍
Juun
suka banget biasanya pahlawan lawan raja iblis ini beda🤣
T28J
Zeta ... Zeta 🤣
T28J
mampir kemari,
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍
Zetavia: terima kasih kak boleh tuhh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!