Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1-Bayang-Bayang
Langit di atas Eltra Celestia selalu bersinar dengan keagungan yang konstan. Pantulan cahaya mentari dari puncak Katedral Agung yang berlapis emas putih menyinari jalan-jalan marmer ibu kota, menciptakan ilusi kedamaian abadi. Namun, di puncak menara tertinggi, kedamaian itu baru saja retak.
"Ini... " Mata Lusputh terbelalak lebar. Tangan kanannya yang dipenuhi kerutan usia gemetar hebat saat mencengkeram tongkat sihir kunonya.
"Ada apa, Tuan Lusputh?" tanya seorang pendeta muda yang mengenakan jubah putih suci di sampingnya, suaranya sarat akan kecemasan.
Sang petinggi Kardinal tidak langsung menjawab.
Jari-jarinya semakin erat memeluk kayu kuno penyalur mana miliknya. Jantungnya, yang telah berdetak selama ratusan tahun melampaui usia manusia normal, tiba-tiba berdegup kencang—sebuah reaksi naluriah terhadap ancaman. Jauh di arah perbatasan dengan wilayah Varkass, ia merasakan sebuah getaran yang tidak wajar.
Bukan sekadar ledakan Mana biasa, melainkan sesuatu yang asing. Sesuatu yang tidak tertulis dalam naskah-naskah terlarang, tentang kebangkitan kekuatan yang melampaui logika dunia ini.
"Ini buruk... Kita harus adakan rapat segera," gumam Lusputh pelan. Suaranya serak, berat oleh beban sejarah yang selama ini ia pikul sendirian di pundaknya.
Satu jam kemudian, suasana di dalam Ruang Sidang memanas hingga ke titik didih. Ruangan melingkar dengan arsitektur megah itu terbagi menjadi dua kubu yang saling berhadapan: para pendeta Katedral yang berjubah putih bersih di satu sisi, dan para bangsawan dengan pakaian sutra serta perhiasan berlian yang berkilau di sisi lain.
"Energi itu terlalu berbahaya untuk diabaikan, Duke Franscov!" seru seorang petinggi katedral, suaranya bergema kuat di bawah kubah tinggi.
"Itu tidak ada di teks manapun, kebangkitan dari sesuatu yang mengancam. Kita harus segera mengirimkan unit investigasi ke perbatasan Varkass!"
Hening sejenak. . .
Duke Franscov, seorang pria paruh baya dengan kumis tipis yang dipelintir rapi, hanya mendengus remeh. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi beludru empuk, memainkan cincin emas di jemarinya dengan gerakan malas yang menghina.
"Sesuatu yang mengancam? Hmm.." Ia mendengus sombong.
"Kalian hanya menebar dongeng lama untuk menakuti rakyat, Pendeta," balas Franscov dengan nada sinis yang tajam.
"Mengirim pasukan ke perbatasan Varkass di saat tensi politik sedang tinggi adalah pemborosan uang. Siapa yang akan menjamin keamanan jalur perdagangan kami jika prajurit dikirim hanya untuk meredam kekhawatiran kalian?!" Ucapnya kesal, wajahnya perlahan memerah padam karena amarah yang tertahan.
Para bangsawan lain bergumam setuju, menciptakan kebisingan yang mendukung argumen sang Duke. Bagi mereka, fenomena magis hanyalah gangguan bagi pundi-pundi kekayaan. Jika tidak ada keuntungan materi yang nyata, mereka tidak akan sudi menggerakkan satu pion pun.
Trek...
Suara kursi yang berderit memutus perdebatan itu.
Lusputh, yang sedari tadi menutup mata di kursi kebesarannya, perlahan berdiri. Kelopak matanya terbuka, menyingkap pupil yang menatap langsung ke arah Duke Franscov dengan intensitas yang mengerikan.
Hening...
Seketika, ruangan itu menjadi sunyi dan senyap, hawa dingin mencekik keberanian para bangsawan.
"Duke," suara Lusputh tenang, namun mengandung wibawa yang sangat berat, menekan dada siapa pun yang mendengarnya.
"Kau bicara tentang uang dan keuntungan. Tapi, apa kau lupa siapa yang memberi legitimasi pada gelar bangsawanmu di mata rakyat?"
Franscov sedikit menegang. Bahunya kaku, namun ia mencoba tetap terlihat tegar.
"Apa maksudmu?"
"Rakyat Eltra Celestia adalah domba yang taat. Mereka bergerak atas dasar iman," Lusputh mulai berjalan perlahan, langkahnya mantap. Tongkatnya mengetuk lantai marmer dengan bunyi Tuk! yang menggema tajam di kesunyian itu.
"Jika besok pagi aku mengumumkan dari altar tertinggi bahwa garis keturunan Franscov telah dikotori oleh bisikan sesat..." Ucapnya sambil terus berjalan mendekat.
Tuk... Tuk... Tuk...
Lusputh kini berdiri tepat di samping Franscov.
Bayangannya yang panjang dan gelap menutupi meja para bangsawan seperti awan badai yang siap meledak.
"Dalam hitungan jam, rakyat yang kau anggap remeh akan membakar rumah-rumah kalian. Mereka akan menuntut 'penyucian' atas nama iman. Bukankah kau sudah tahu? Di kerajaan ini, suara Katedral adalah hukum yang absolut. Apa kau benar-benar ingin kehilangan seluruh kekuatan politikmu hanya karena enggan meminjamkan beberapa kompi prajurit?"
Wajah Duke Franscov memucat seketika, seputih kertas. Ia tahu itu bukan sekadar gertakan kosong. Lusputh memiliki kuasa untuk menghancurkan reputasi siapa pun hanya dengan satu kalimat khotbah di mimbar katedral. Kejahatan bisa dimaafkan oleh hukum, tapi label "sesat" adalah vonis mati sosial di Eltra Celestia.
"Cukup... cukup, Kardinal," Franscov berdehem payah, mencoba memungut sisa-sisa harga dirinya yang telah runtuh di lantai marmer.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia akhirnya menjawab,
"Kami tentu saja mendukung keselamatan kerajaan, dan pasukan...." Franscov menelan ludah sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Pasukan akan segera dipersiapkan."
Lusputh mengangguk pelan, wibawanya sangat tenang seolah-olah dia sudah tahu hasil dari rapat itu.
Rapat pun dibubarkan.
Beberapa jam berlalu, Duke Franscov menyapu kasar alat tulis di atas meja kerjanya hingga terpental ke lantai.
"Siaaal... Tua bangka keparat!" teriaknya, meluapkan rasa frustrasi yang memuncak.
"Awas saja, akan kubalas perbuatanmu suatu saat nanti." Jemarinya bergetar hebat saat mencengkeram pinggiran meja, menyalurkan amarah yang tertahan.
"Duke... Maaf... Apa yang terjadi?" tanya seorang pelayan yang bersujud gemetar di hadapan Franscov.
Franscov meraih cerutu dengan sisa-sisa amarah yang masih membara, lalu menyulut lintangan tembakau itu perlahan.
"Tak usah banyak tanya. Siapkan pembunuh bayaran. Aku sudah muak, fuuuh..." Ia mengembuskan asap pekat dari sela bibirnya.
Pelayan itu bergidik ngeri, nyaris tak berani mengangkat wajah untuk menatap sang majikan.
"Tu... Tuan... Apa yang ingin Anda lakukan?" tanya pria itu dengan suara yang kian bergetar.
Franscov terdiam sejenak, membiarkan kepulan asap cerutu memudar dengan sendirinya di udara. Perlahan, seringai tipis muncul di wajahnya.
"Heh... Mari kita bermain-main sedikit, Pak Tua," gumamnya pada dirinya sendiri di tengah atmosfer ruangan yang kian mencekam.
Sore harinya, gerbang besi ibu kota yang berat terbuka lebar. Suara terompet perak memecah keheningan senja, mengiringi barisan pasukan berkuda dengan zirah berlapis perak dan berkilau tajam keluar dari kota. Di atas kuda-kuda mereka, bendera dengan simbol Dewa Lama berkibar gagah tertiup angin kencang. Pasukan itu bergerak secepat kilat, memacu kuda mereka menuju perbatasan Varkass.
Di barisan depan, mereka membawa alat deteksi Mana tingkat tinggi yang terus berdenyut, mencoba melacak sisa-sisa energi dari arah reruntuhan kuno di perbatasan.
Di atas menara katedral, Lusputh memperhatikan debu yang mengepul di kejauhan. Matanya menatap dengan pandangan misterius ke arah barat—ke tempat di mana Alice, sang dewi yang belum menyadari takdirnya.
"Temukan energi itu," bisik Lusputh pada angin yang menderu.
"Sebelum faksi lain menyadari ada Kekuatan ini."
cape😅