Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.
Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.
Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.
Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.
Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.
Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Malam merayap semakin pekat, membawa embusan angin pegunungan yang kering dan dingin menerpa pinggiran kota Los Angeles.
Jarum jam dinding di ruang tengah keluarga Wadde’ hampir menunjukkan pukul sembilan malam ketika Issabelle memutuskan untuk keluar dari kamarnya yang pengap.
Suasana di dalam rumah sudah sunyi; Chloe tampaknya sudah tertidur atau sibuk dengan dunianya sendiri, sementara Sloane masih berada di dapur, menyelesaikan sisa cucian piring dengan gerakan yang sengaja dibuat sepelan mungkin agar tidak menimbulkan kebisingan.
Issabelle berjalan menuju teras depan, mendudukkan dirinya di atas anak tangga semen yang dingin.
Ia mengenakan jaket hoodie hitam polos berukuran longgar yang menutupi seluruh tubuh bagian atasnya, menyembunyikan siluet tubuhnya yang ramping di balik bayangan malam.
Kedua tangannya disembunyikan di dalam saku depan, sementara mata abu-abunya menatap kosong ke arah jalanan aspal di depan rumah yang sepi, hanya sesekali dilewati oleh lampu sorot mobil yang melintas di kejauhan.
Pikirannya masih terasa hambar.
Keheningan dari jaringan komunikasinya dengan Martha di Jerman mulai terasa menjemukan, bukan karena ia takut, melainkan karena ia tidak terbiasa berada dalam kondisi tanpa tindakan seperti ini.
Rasa bosan yang nyata mulai menggerogoti ketenangannya.
KRIET.
Suara pintu depan yang terbuka secara perlahan memecah keheningan malam.
Issabelle tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang keluar; langkah kaki yang pendek dan sedikit tergesa-gesa itu sudah sangat akrab di telinganya sejak sore tadi.
Toby melangkah keluar ke teras.
Anak laki-laki itu tampak terkejut saat mendapati Issabelle sedang duduk di sana di bawah temaram lampu teras yang kuning.
Di dalam pelukan tangan kanannya, Toby membawa sebuah kantung kain kanvas tebal berwarna hijau tua yang tampak penuh dan berat.
Issabelle, yang memang sedang berada di puncak rasa bosannya, mengalihkan pandangannya pada kantung tersebut.
"Apa itu?" tanya Issabelle langsung, suaranya memecah kesunyian malam dengan nada datar namun menuntut jawaban.
Toby sempat ragu sejenak, lalu mengangkat kantung kain itu sedikit lebih tinggi.
"Kotak bekal. Untuk Ayah."
Issabelle mengingat kembali ucapan Sloane di meja makan beberapa jam yang lalu.
Wanita itu mengatakan bahwa Harrison tidak akan pulang karena harus menyelesaikan perbaikan di bengkel hingga larut malam.
"Kau akan mengantarnya?"
Toby hanya mengangguk pendek, wajahnya tampak serius. "Ya. Aku akan mengantarnya ke bengkel. Mom sedang lelah, jadi aku yang pergi."
Sebuah ide mendadak terlintas di dalam kepala Issabelle.
Berada di dalam rumah ini terlalu lama dengan segala drama bisa membuat otaknya tumpul.
Ia membutuhkan pengalihan visual, apa saja, untuk membunuh waktu sebelum hari esok tiba.
"Boleh aku ikut?" tawar Issabelle, nadanya santai seolah-olah ia hanya meminta untuk ditemani berjalan-jalan ke taman belakang.
Toby membelalakkan matanya sedikit, memandang kakak tirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan tidak percaya.
"Aku pakai sepeda. Dan jaraknya sedikit jauh dari sini. Kau... kau tetap mau ikut?"
Issabelle tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia langsung bangkit berdiri dari anak tangga semen, menepuk bagian belakang celana denimnya yang terkena debu, lalu menarik tudung hoodie-nya untuk menutupi rambutnya.
"Ayo."
Di samping rumah, di bawah kanopi kayu, terparkir sebuah sepeda gunung berwarna hitam legam dengan aksen garis-garis merah menyala.
Sepeda itu berukuran cukup besar, dilengkapi dengan suspensi ganda hidrolik di bagian roda depan dan belakang, serta sebuah jok tambahan khusus atau boncengan yang terpasang kokoh di atas roda belakang.
Issabelle memperhatikan sepeda tersebut saat Toby menuntunnya keluar ke halaman.
Matanya yang jeli langsung menangkap logo merek yang terukir di dekat kayuhan pedal: Specialized.
Sebuah senyuman sinis yang sangat tipis terukir di sudut bibir Issabelle.
...****************...
Di sepanjang jalan menuju bengkel, Toby fokus sepenuhnya pada kayuhan sepedanya.
Jalanan pinggiran kota yang agak menanjak membuat anak itu harus mengerahkan tenaga ekstra.
Terutama karena ia harus membonceng tubuh Issabelle yang duduk dengan tenang di belakangnya, kedua tangan gadis itu bertumpu santai pada besi pembatas di bawah jok utama.
Sembari menikmati embusan angin malam yang menerpa wajahnya, Issabelle memanfaatkan waktu ini untuk melakukan analisis terhadap sesuatu yang ia temukan pada keluarga Wadde’.
Untuk ukuran sebuah keluarga yang kepala rumah tangganya selalu berteriak-teriak kekurangan uang.
Mengeluh tentang biaya makan, dan memotong anggaran rumah tangga secara ekstrem sejak kedatangannya, Issabelle mengambil kesimpulan bahwa Harrison ini adalah tipe pria yang sangat aneh.
Sepeda gunung yang saat ini dikayuh oleh Toby bukanlah barang murah; itu adalah seri premium yang harganya bisa mencapai ribuan dolar di toko sepeda berlisensi resmi di pusat kota Los Angeles.
Lebih dari itu, sebelum mereka berangkat tadi, Issabelle sempat melirik ke dalam garasi samping dan melihat ada dua sepeda lain dengan jenis dan merek yang sama mahalnya—milik Sikembar.
Analisis Issabelle menghasilkan satu kesimpulan konkret: Harrison Wadde’ adalah tipe pria yang suka mengeluh dan berteriak tentang kemiskinan di depan istrinya, namun di balik itu, dia adalah seorang pekerja keras yang memiliki ego tinggi.
Pria itu rela memangkas biaya hidup sehari-hari demi membelikan barang-barang mewah bermerek untuk anak-anak kandungnya, semata-mata agar mereka tidak terlihat kalah bersaing dari anak-anak elit di Oakridge High School.
Sebuah bentuk keputusasaan sosial yang sangat terstruktur.
Setelah hampir dua puluh menit berkendara membelah jalanan yang semakin lengang, sepeda yang dikayuh Toby perlahan berbelok memasuki sebuah kawasan industri yang terletak di dekat jalur lintas utama menuju kota.
"Kita sampai," ucap Toby dengan napas yang sedikit memburu, mengerem sepedanya dengan halus tepat di depan sebuah area halaman luas yang dikelilingi pagar kawat tebal.
Issabelle menurunkan kedua kakinya ke atas aspal, pandangannya langsung menyapu pemandangan di depannya.
Alisnya yang rapi seketika mengernyit heran.
"Disini?" gumam Issabelle pelan.
Ekspektasi awal Issabelle tentang "bengkel" milik ayah tirinya adalah sebuah bengkel kecil yang kumuh di sudut gang, tempat berkumpulnya para montir lokal dengan pakaian penuh noda oli hitam, menangani mobil-mobil tua keluaran tahun sembilan puluhan yang mesinnya sudah batuk-batuk.
Namun, realitas yang terpampang di depan matanya malam ini benar-benar menjungkirbalikkan asumsi tersebut.
Bengkel di hadapannya ini berukuran lumayan besar—sebuah bengkel modern berkontruksi dengan pencahayaan lampu halogen putih yang sangat terang benderang.
Papan namanya yang besar di bagian atas bertuliskan Wadde’s Automotive & Performance dengan desain huruf yang profesional.
Hal yang paling mengejutkan adalah deretan kendaraan yang terparkir di dalam maupun di pelataran bengkel tersebut.
Tempat itu sama sekali tidak menangani truk-truk tua atau mobil keluarga yang rusak.
Sebaliknya, di atas pengangkat dan di beberapa sudut ruangan, tampak berjejer beberapa mobil sport mewah dan mobil modifikasi tingkat lanjut—mulai dari Ford Mustang berotot besar, Chevrolet, hingga sebuah Porsche 911 yang kap mesin belakangnya sedang terbuka.
Tempat ini berisik oleh suara desing alat pembuka baut dan dentuman musik rock rendah dari radio kerja di sudut ruangan.
Wah, wah... Harrison memang pelit ternyata, batin Issabelle, sudut bibirnya berkedut menahan rasa geli yang sarkastik.
Pria paruh baya itu semalam berteriak seolah-olah rumah tangganya akan hancur dan kelaparan hanya karena kehadiran satu orang tambahan, padahal jika melihat volume kerja dan jenis kendaraan yang ditangani oleh bengkel ini, Issabelle bisa menebak dengan akurat bahwa tempat ini menghasilkan banyak uang dolar setiap bulannya.
Penghasilan Harrison dari memodifikasi dan merawat mobil-mobil sport mewah milik para elite lokal pastilah sangat fantastis.
Gengsi pria itu di sekolah anak-anaknya ternyata ditopang oleh fondasi bisnis yang nyata, bukan sekadar utang piutang belaka.
Tepat saat mereka hendak melangkah menuju ruangan kantor berkaca pembatas di bagian dalam hanggar tempat sosok Harrison terlihat sedang memeriksa lembar kerja komputer, Issabelle menahan lengan kaus Toby, menghentikan langkah bocah itu.
"Toby," panggil Issabelle, matanya melirik ke arah Harrison yang tampak sangat sibuk di dalam sana.
"Apa ayahmu hanya bekerja sebagai kepala montir di sini? Atau—"
Toby menoleh, menatap Issabelle dengan pandangan bangga yang tidak bisa disembunyikannya.
"Dia pemiliknya. Kami adalah pemilik bengkel ini. Dad yang membangun semua ini dari nol sejak sebelum aku lahir."
Anak laki-laki itu kemudian menyerahkan kantung kain kanvas berisi kotak bekal itu ke tangan kirinya sendiri, lalu menunjuk ke arah bangku tunggu berbahan besi di dekat pintu masuk kantor.
"Kau tunggu di sini saja. Biar aku yang masuk menemui Dad. Dia... dia bisa mengamuk lagi kalau melihat wajahmu malam-malam begini."
"Ya, baiklah," jawab Issabelle pendek, menyetujui saran taktis dari adik tirinya tanpa banyak berdebat.
Toby melangkah pergi, mendorong pintu kaca kantor dengan akrab dan langsung disambut oleh tepukan di bahu oleh Harrison yang raut wajahnya seketika melembut saat melihat putra bungsunya membawa makanan.
Issabelle berjalan menuju bangku tunggu besi, mendudukkan dirinya di sana dengan posisi bersandar yang santai.
Mata abu-abunya bergerak aktif, memperhatikan interaksi para montir muda yang sedang bekerja di bawah kolong mobil Porsche, mendengarkan istilah-istilah teknis tentang pengaturan mesin, sistem pembuangan knalpot, dan suspensi.
Di dalam kepalanya, sebuah pemikiran baru mendadak terbesit dengan sangat kuat.
Soal pekerjaan yang dibahas ibunya dan dirinya sendiri di kamar tadi sore... Aku akan bekerja di sini saja, batin Issabelle, matanya berkilat penuh rencana strategis.
Bekerja di bengkel modifikasi mobil mewah milik ayah tirinya adalah opsi yang sangat sempurna.
Lagi pula, selama masa pelatihannya di Frankfurt di bawah pengawasan instruktur taktis klan, Issabelle sudah sangat terbiasa dengan hal-hal teknis seperti ini.
Ia dilatih untuk membongkar dan merakit kembali mesin kendaraan taktis antipeluru dalam waktu singkat, memahami seluk-beluk mekanis untuk keperluan sabotase, dan mengerti bagaimana mengoptimalkan performa mesin untuk pelarian darurat.
Membantu hal-hal kecil seperti kalibrasi komputer mesin atau manajemen suku cadang di tempat ini akan menjadi hal yang sangat mudah baginya.
Lebih dari itu, bekerja di sini memiliki keuntungan strategis ganda.
Ia bisa mengawasi Harrison secara langsung untuk memastikan pria itu tidak bertindak kasar pada ibunya lagi.
Dan memiliki alibi hukum yang kuat untuk berada di luar rumah hingga larut malam, dan yang paling penting, tempat ini adalah titik temu bagi para pemilik mobil mewah di Los Angeles—termasuk kemungkinan besar, lingkaran anak-anak elite dari Oakridge High School.
Dengan tetap berada di tempat ini, ia bisa mengumpulkan informasi intelijen tentang ekosistem lokal sembari tetap memakai topeng sebagai anak tiri miskin yang rajin membantu usaha keluarga demi sesuap nasi.
Sebuah rencana penyamaran yang tidak akan pernah dicurigai oleh siapa pun, bahkan oleh seorang Navarro Von-riccardo sekalipun.
Issabelle menyandarkan kepalanya pada dinding di belakang bangku, memperhatikan Toby yang mulai tertawa bersama ayahnya di balik kaca kantor.
Senyuman tipis yang penuh dengan kalkulasi dingin kembali terukir di wajah pucatnya.
Permainan di Los Angeles ini perlahan-lahan mulai terasa sedikit lebih menarik dari yang ia duga.
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂