NovelToon NovelToon
DOPAMIN

DOPAMIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:460
Nilai: 5
Nama Author: Key Kastara

Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.

Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.

Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.

Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Efek Kejut

Dentuman musik DJ sudah berhenti, yang tersisa hanya kelap-kelip lampu disko yang redup terang menghalangi penglihatan, aneka sampah, botol minuman, dan perabotan kotor serta kekacauan berserakan di ruangan. Semua orang juga sudah pergi, tinggal Reno yang terkulai lemas di atas sofa dengan baju yang acak-acakan.

Trak!

Brak!

Seseorang melempar dan menendang asbak yang teronggok sembarangan menghalangi jalan di dekat pintu.

"Kekacauan apa ini?" gumam Hardi yang baru saja datang.

"Bedebah sial itu! Reno! Anak brengsek!" teriak Hardi murka saat melihat sang putra terkapar tak berdaya dengan sebuah suntikan yang masih menempel di lengan kirinya.

Prang!

Brakh!

Brukh!

Seperti orang kesetanan, Hardi membanting-banting dan menendangi semua benda yang dilihatnya. Mendengar keributan itu, Susi datang menuruni tangga dengan tergopoh-gopoh.

"Pa, Papih dah pulang?" tanya Susi sembari mematikan lampu disko lalu menyalakan lampu utama.

"Perempuan tak guna! Ngapain aja di rumah! Lihat! Anak biadab itu bikin kekacauan apa!" murka Hardi sembari membanting tas laptop yang sedari tadi digenggamnya ke tubuh Reno yang sedang tak sadarkan diri.

"I-itu, dia bilang ini cuma pesta perayaannya mau tunangan Pap, jangan terlalu keras," bujuk Susi sembari mencoba meraih lengan suaminya mencoba menahannya.

"Jangan terlalu keras? Heh! Otak dungu! Lihat tuh! Anak manja lu pesta miras sama narkoba! Mata lu picik? Kalau sampai beredar info kalau dia pesta gini, bukan cuma hancur kita, perusahaan juga bisa bangkrut gara-gara lu tak becus urus satu anak!" hardik Hardi sembari menekan-nekan telunjuknya di dahi Susi.

"Ma-maaf, Mami juga baru pulang belanja tadi sampai kemaleman. Jadi-"

"Dasar tak guna!" Segala macam sumpah serapah terlontar dari mulut Hardi yang kini beranjak menuju tangga.

"Bereskan kekacauan ini sekarang juga sendiri. Jangan biarkan pembantu masuk hari ini. Kunci bocah dungu itu di kamar. Jangan biarkan tamu manapun masuk sampai besok!" desis Hardi sebelum akhirnya ia melengos menuju kamarnya dengan langkah ditekan.

Susi mematung dengan wajah tak terima.

"Lihat aja. Dia kira dia hebat cuma modal harta rampasan. Reno lebih baik karena dapetin calon istri kaya raya. Awas aja dasar lelaki sampah!" batin Susi dengan mata nyalang menatap punggung Hardi yang menjauh dari pandangannya. Dengan enggan ia pun memunguti satu persatu sampah dan botol minuman. Mengemasi alat-alat suntik dan perabotan kotor.

"Hih! Emang bocah ngeselin! Awas aja kalau bangun nanti!" dengus Susi.

"Emang kelakuan gini kayak siapa? Dasar munafik. Makanya anaknya begini juga ya emang bapaknya modelan gitu," gerundel Susi sembari terus membersihkan ruangan. Mengelap meja, lalu menyapu lantai.

"Hah, beres juga! Sekarang waktunya istirahat, karena besok harus pamerin tas bermerek baru ke nyonya-nyonya perusahaan, hihi," cekikik Susi sambil berjalan menuju tangga.

"Eh, satu lagi," gumamnya sembari menoleh ke arah Reno.

"No! Reno! Bangun ayo pindah!" teriak Susi sambil mengguncang-guncang tubuh sang putra.

"Hih! Mana berat lagi nih bocah! Ya ampun! Makan apa sih!" dengus Susi yang mau tak mau akhirnya menyeret tubuh Reno menuju kamarnya.

Keesokan harinya, Susi sudah bersiap sejak pagi dengan pakaian dan outfit yang mewah. Termasuk tas dan sepatu bermerek yang baru dia beli semalam.

"Hah, emang kalau body goals begini pakai apapun cocok!" monolognya sembari meneliti setiap detail lekuk tubuhnya di depan cermin.

"Nah, beres. Sip! Tinggal pamer ke Nyonya-nyonya sosialita tukang iri! Hihi seheboh apa ya mereka kalau sampai tahu calon mantuku CEO muda–konglomerat kelas atas," selorohnya sambil terkikik-kikik membayangkan hal yang belum terjadi.

"Sebelum berangkat, selfie dulu, cekrik-cekrik!"

Dengan pose berubah-ubah, ia memotret dirinya dengan menampakkan merek tasnya di depan kamera. Setelah cukup lama mengambil foto, Susi pun mengunggahnya di laman story Instagram-nya dengan tulisan: 'Hadiahoo dari calon mantu,–CEO Zevana Hardani'

Setelah puas melihat beberapa like di postingannya itu, ia pun beranjak dari kamarnya menuruni tangga.

Sementara di kantor GZ Corporation, Arka terlihat sedang kebingungan di hadapan layar komputernya. Berkali-kali ia mengetuk-ngetuk meja dengan ujung telunjuknya. Hingga Zevana akhirnya muncul dari balik pintu, barulah ia bangkit lalu mendekat ke meja Zevana.

"Em, permisi Bu ... Itu, laporan dari perusahaan yang dikelola oleh Pak Reno, sepertinya ada yang aneh. Kenapa semua suplai pemasok untuk bahan baku tiba-tiba mogok dan membatalkan kerja sama? Bukankah ini bisa berdampak ke perusahaan kita?" tanya Arka dengan nada frustrasi.

Jelas itu akan berdampak sekali, apalagi Reno sudah mengumbar-umbar informasi bahwa CEO GZ Corporation akan melakukan pertunangan dengannya. Hal itu sudah pasti langsung jadi perbincangan publik–bahkan sudah ada beberapa artikel yang membicarakannya.

"Saya tahu Bu Zevana adalah wanita cerdas, dan saya yakin ada alasan di balik itu. Tapi ... ini sepertinya akan ada efek kejut yang cukup mengkhawatirkan untuk nama baik perusahaan kita. Apalagi ... ternyata ada beberapa artikel yang menuliskan soal latar belakang buruk Pak Reno, seperti ... keterlibatan dalam narkoba dan...." Arka menggantung ucapannya saat melihat wajah Zevana yang memasang ekspresi datar.

"Maafkan saya Bu, saya sangat khawatir. Menikah dan memiliki hubungan itu ... hal yang berbeda dengan kemitraan perusahaan. Saya hanya, teringat mendiang ibu saya. Dia juga wanita cerdas seperti Ibu. Namun karena bertemu dengan manusia yang salah, dia jadi kehilangan arah. Saya memikirkan ini sejak hari itu," desah Arka pada akhirnya. Ia tak bisa lagi menyembunyikan perasaan khawatirnya terhadap Zevana.

"Saya mohon sebagai seorang yang peduli kepada kebaikan Bu Zevana, tolong pertimbangkan lagi soal pertunangan dengan Pak Reno," lirihnya kini dengan wajah menunduk.

"Hah ... Terkadang saya merasa kamu ini sangat membantu. Namun di saat seperti ini, rasanya perhatian yang agak keterlaluan ini mengusik saya," desah Zevana sembari bangkit lalu mendekat ke arah Arka yang berdiri di depan mejanya.

Zevana duduk di atas mejanya, lalu menarik dasi Arka hingga tak ada lagi jarak di antara mereka.

"Setiap kali kamu menunjukkan perhatian seperti ini, apa di dalam sini juga merasakan hal yang sama dengan apa yang diucapkan mulut ini?" tanya Zevana sembari menekan dada kiri Arka lalu menunjuk ujung bibir Arka.

"Saya punya fobia terhadap kata-kata manis Arka, jadi hal seperti itu buat saya adalah racun yang mematikan," gumam Zevana yang kini menopangkan dahinya di dada Arka.

"Tapi setiap kali kamu begitu, rasanya malah ingin terus bersandar tak peduli apa yang kamu katakan itu benar atau tidak. Tulus atau tidak. Seperti, efek dopamin yang membuat candu." Zevana terus berbicara, sementara Arka mematung seolah sesuatu baru saja membiusnya.

Sikap Zevana yang di luar dugaannya, membuatnya kewalahan. Sehingga ia tak mampu memikirkan apapun selain mengontrol detak jantung dan napasnya yang kini berdetak tak karuan.

"B-bu Zevana, tolong jangan seperti ini. Saya khawatir nanti orang salah faham," gagap Arka sembari mencoba menyentuh kedua bahu Zevana lalu mendorongnya dengan hati-hati.

"Sebenarnya yang membuat salah faham itu siapa?" gumam Zevana.

"Saya harap Ibu jangan seperti ini ke sembarang orang, itu berbahaya," imbuh Arka yang kini memalingkan wajah dengan telinga memerah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!