NovelToon NovelToon
Cleaning The Thorne'S Empire

Cleaning The Thorne'S Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:731
Nilai: 5
Nama Author: Chi Chi chantika

Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.

Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Diundang dan Operasi Debu Strategis

Pagi itu, suasana di kediaman Thorne terasa lebih tegang dari biasanya. Bukan karena Sloane Sterling sedang mengamuk soal debu, melainkan karena Alistair sedang mengadakan pertemuan mendadak di ruang tamu utama.

Dua orang pria berwajah sangar dengan bekas luka di pipi—anggota senior faksi The Iron Crest—duduk di sofa beludru biru Alistair. Mereka membawa aroma tembakau murah dan keringat yang menurut Sloane adalah "polusi udara tingkat tinggi".

"Tuan Thorne, faksi di Selatan mulai tidak sabar. Jika kita tidak menyerang sekarang, mereka akan—"

Suara pintu ruang tamu terbuka dengan bantingan pelan namun tegas. Sloane Sterling melangkah masuk mengenakan sepatu "taktis" barunya yang mencicit di atas marmer. Ia membawa ember plastik dan penyemprot disinfektan.

Alistair mematung. "Nona Sterling, saya sedang dalam pertemuan bisnis tertutup. Harap kembali ke kamar Anda."

Sloane mengabaikan perintah Alistair seolah itu hanya suara angin lalu. Ia berjalan mendekati sofa, menatap salah satu tamu Alistair dengan pandangan yang sangat menghakimi.

"Bisnis? Bisnis apa yang melibatkan bau kaki dan remah biskuit di atas sofa mahalmu?!" Sloane berteriak sambil menunjuk ke arah kaki si gangster yang kotor.

Si gangster yang bernama Victor itu tertegun. Ia meraba pistol di pinggangnya secara refleks. "Siapa pelayan berisik ini, Thorne? Mau aku lubangi kepalanya?"

Alistair berdiri, auranya mendadak berubah menjadi sedingin es. "Turunkan tanganmu dari senjatamu, Victor. Jika kau menyentuhnya, aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa memegang apa pun lagi seumur hidupmu."

Victor menelan ludah, segera menarik tangannya. Ia belum pernah melihat Alistair seprotektif itu.

Sloane sama sekali tidak merasa takut. Ia justru mendekati Victor dan mulai menyemprotkan cairan pembersih ke arah sepatu bot pria itu. "Angkat kakimu! Kau membawa lumpur dari jalanan ke atas karpet Persia ini! Kau pikir berapa lama aku harus menyikatnya kalau sudah kering?!"

"Hei! Apa yang kau lakukan?!" Victor berteriak panik saat celana mahalnya terkena percikan cairan lemon.

"Aku sedang mensterilkanmu! Kau penuh dengan kuman pengkhianatan dan debu kota!" Sloane terus menyemprot dengan semangat. "Dan kau! Pak Bos Kaku! Kenapa kau membiarkan orang-orang berantakan ini masuk? Rumah ini adalah zona bersih, bukan tempat pembuangan sampah!"

Alistair memijat pangkal hidungnya, merasa kepalanya mulai berdenyut. "Nona Sterling, harap... lakukan pembersihan di area lain. Saya akan menyelesaikan ini dalam lima menit."

"Lima menit? Dalam lima menit, kuman-kuman dari sepatu mereka sudah akan membentuk koloni di seluruh ruangan ini!" Sloane tidak menyerah. Ia menyambar kemocengnya dan mulai membersihkan bahu jas Victor. "Diamlah! Kau punya ketombe atau apa? Banyak sekali serpihan putih di jasmu!"

Victor yang biasanya membunuh orang tanpa kedip kini gemetar ketakutan—bukan karena takut mati, tapi karena ia merasa harga dirinya sebagai gangster jatuh karena diperlakukan seperti furnitur berdebu oleh seorang gadis kecil.

Alistair melihat pemandangan itu dan, untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit kasihan pada anak buahnya. "Victor, pertemuan selesai. Pergi dari sini. Kirim laporannya lewat enkripsi."

"Tapi Tuan, kita belum selesai—"

"PERGI SEKARANG SEBELUM DIA MENYIKAT WAJAHMU DENGAN SABUN LANTAI!" Alistair memerintah dengan nada yang sedikit mendesak.

Kedua gangster itu segera bangkit dan melarikan diri seolah-olah sedang dikejar oleh pasukan khusus. Begitu mereka keluar, Sloane langsung menyemprot udara dengan pewangi ruangan dalam jumlah banyak.

"Hah! Akhirnya udara kembali bersih," Sloane menghela napas puas.

Alistair duduk kembali di kursinya, menatap Sloane dengan tatapan datar namun penuh rasa heran. "Nona Sterling, Anda baru saja mengusir dua orang paling berbahaya di London Timur hanya dengan sebotol sabun."

"Bahaya apa? Mereka hanya orang-orang jorok yang butuh mandi," Sloane mendengus. Ia kemudian melihat ke arah Alistair. "Dan kau! Kau membiarkan mereka masuk tanpa menyuruh mereka melepas sepatu?!"

Alistair baru saja akan membela diri ketika ia secara refleks meletakkan jaket jasnya di atas sandaran kursi karena merasa gerah setelah perdebatan tadi.

"ALISTAIR THORNE!"

Alistair langsung berdiri tegak, tangannya secara otomatis mengambil kembali jasnya. "Saya... saya hanya mengetes apakah Anda masih memperhatikan." (Lagi-lagi, sebuah kebohongan yang kaku).

"Jangan coba-coba mengujiku! Gantung jas itu di tempatnya! Dan sekarang, aku lapar. Gara-gara tamu jorokmu itu, aku telat makan siang!" Sloane berkacak pinggang.

Alistair menghela napas. "Saya akan memesan makanan dari—"

"Tidak! Aku ingin mencoba masak lagi! Aku tadi melihat video tutorial membuat sandwich panggang. Kelihatannya tidak mungkin meledak!"

Alistair mematung. Pikirannya langsung memutar memori tentang alarm asap yang berbunyi dua hari lalu. "Secara statistik, kemungkinan ledakan masih di atas lima puluh persen jika Anda yang memegang kompor, Nona Sterling."

"Kau meremehkanku?!" Sloane menantang. "Ayo ke dapur! Aku akan membuktikan bahwa aku bisa membuat sandwich tanpa membakar rumahmu!"

Sepuluh menit kemudian di dapur, Alistair berdiri tepat di samping Sloane, mengawasi setiap gerakannya seperti seorang pelatih militer.

"Oleskan menteganya secara merata, bukan menggumpalkannya seperti itu," Alistair menginstruksikan dengan suara kaku.

"Aku tahu! Ini sedang diratakan!" Sloane mencoba mengoles mentega, tapi karena terlalu bersemangat, pisaunya tergelincir dan menteganya terbang ke arah wajah Alistair.

PLOK.

Gumpalan mentega menempel tepat di pipi kanan Alistair Thorne yang biasanya sangat bersih dan dingin.

Sloane membeku. "Ups..."

Alistair mematung. Ia bisa merasakan mentega yang licin itu mulai meleleh di pipinya. Ia perlahan menoleh ke arah Sloane dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca.

"Nona Sterling... apakah mentega ini merupakan bagian dari taktik serangan Anda?" tanya Alistair dengan nada suara yang sangat datar namun menakutkan.

Sloane bukannya ketakutan, ia justru tertawa meledak. Ia mengambil tisu dan mulai mengelap pipi Alistair dengan kasar sambil tertawa sampai mengeluarkan air mata. "Maaf! Habisnya kau serius sekali! Pipimu sekarang jadi mengkilap seperti lantai marmer!"

Alistair merasakan tangan Sloane di wajahnya. Meskipun Sloane mengelapnya dengan gerakan yang tidak lembut, Alistair merasakan jantungnya kembali berdegup kencang. Ia menatap wajah Sloane yang sedang tertawa lepas, dan tiba-tiba saja, kemarahannya hilang begitu saja.

"Anda... sangat ceroboh," gumam Alistair pelan, matanya tidak lepas dari mata Sloane.

"Dan kau sangat kaku," balas Sloane sambil tersenyum manis setelah selesai mengelap mentega itu. "Tapi setidaknya pipimu sekarang berbau harum mentega."

Alistair tidak menjawab. Ia hanya mengambil spatula dari tangan Sloane. "Menyingkir. Saya akan... menyelesaikan sandwich ini. Demi keselamatan infrastruktur dapur kita."

Sloane duduk di atas meja dapur, mengayunkan kakinya yang memakai sepatu taktis barunya, sambil memperhatikan Alistair memasak. Ia merasa bahwa meskipun pria ini sangat dingin dan kaku, Alistair adalah satu-satunya orang yang tidak pernah benar-benar marah padanya meskipun ia sudah membuat kekacauan.

"Alistair?"

"Ya?"

"Terima kasih sudah tidak menembakku tadi."

Alistair berhenti sejenak, menaruh sandwich ke atas piring. "Menembak Anda akan melanggar protokol efisiensi asisten rumah tangga saya. Saya tidak ingin kehilangan pembersih yang paling galak di London."

Sloane menjulurkan lidahnya. "Bilang saja kau suka aku ada di sini!"

Alistair tidak menjawab, ia hanya menyodorkan piring sandwich yang sudah jadi dengan sempurna. Namun, telinganya yang memerah tidak bisa menutupi apa yang sebenarnya ia rasakan.

To be continued....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!