Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan Dalam Sangkar-2
Ciuman kali ini tidak sekasar semalam, namun tetap agresif dan penuh tuntutan kepemilikan yang mutlak. Batara melumat bibir manis Sonya, menghisapnya dengan dalam seolah ia sedang kehausan di tengah gurun pasir. Sonya terkesiap, tubuhnya terdorong ke depan akibat tarikan kuat Batara. Untuk menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh tercebur ke dalam air bathtub, kedua tangan kecil Sonya refleks memegang erat dada bidang Batara yang licin oleh sabun. Ia bisa merasakan detak jantung Batara yang kuat dan stabil di bawah telapak tangannya.
Sonya pasrah, membiarkan suaminya merampas sisa pasokan udaranya hingga kepalanya terasa pening. Gairah yang dingin namun membakar dari Batara perlahan meruntuhkan dinding pertahanannya.
Tiba-tiba, Batara menyudahi ciuman itu. Belum sempat Sonya meraup oksigen, Batara berdiri dari dalam bathtub, membiarkan air mengguyur tubuhnya. Dengan satu gerakan yang sangat kuat dan tak terduga, ia mengangkat tubuh mungil Sonya dalam gendongannya, lalu mendudukkan gadis itu di atas meja marmer kecil yang terletak di dekat cermin besar kamar mandi.
"T-Tuan... Ah... Jangan lakukan itu..." rintih Sonya panik saat menyadari arah tindakan Batara. Meja marmer yang dingin bersentuhan langsung dengan kulit paha bagian belakangnya, menciptakan kontras yang mengejutkan dengan suhu tubuh Batara yang panas.
Namun Batara tidak mendengarkan satu pun permohonan istrinya. Sisi mafianya yang posesif dan penuh dominasi telah tersulut sepenuhnya oleh kehadiran Sonya yang begitu dekat. Dengan gerakan kasar yang menuntut kepatuhan, tangan Batara mencengkeram bagian depan baju tidur sutra yang dikenakan Sonya, lalu merobeknya hingga terlepas dari tubuh gadis itu.
Sonya menjerit kecil, mencoba menutupi dirinya, namun Batara dengan cepat mengunci kedua tangan Sonya ke atas. Pria itu mencondongkan tubuhnya, menekan leher Sonya sedikit dengan lengan atasnya, memberikan sensasi semi-tercekik yang membuat Sonya mendongak pasrah, meraup napas dengan susah payah.
"Sa-sakit, Tuan... lakukan perlahan. Aku mohon..." bisik Sonya dengan suara yang terputus-putus, matanya menatap memohon pada wajah tampan Batara yang kini dipenuhi kabut gairah yang pekat.
Mendengar rintihan parau istrinya, kilat di mata Batara sedikit melunak, meskipun gerakannya tetap terasa dominan dan tegas. Di atas meja marmer kecil itu, di bawah siraman cahaya lampu kamar mandi dan sisa uap air yang hangat, Batara kembali menuntut haknya sebagai seorang suami. Setiap sentuhannya terasa seperti badai yang menggulung, kaku dan tanpa banyak kata manis, namun di balik itu semua, cara Batara menopang punggung Sonya agar tidak terbentur dinding kaca memperlihatkan bentuk kepemilikan yang teramat posesif. Ia tidak ingin berbagi, dan ia tidak ingin wanita ini hancur di tangannya, meski ia mengklaimnya dengan cara yang penuh kuasa.
Satu jam kemudian, suasana di dalam kamar mandi telah kembali tenang, menyisakan suara napas mereka yang masih teratur pendek-pendek.
Sonya berdiri di depan cermin dengan wajah yang merah padam dan kulit yang terasa panas membakar. Rasa malu yang luar biasa besar menghujam dinding hatinya saat ia harus berdiri diam membiarkan Batara memakaikan baju tidur katun yang baru dan kering ke tubuhnya. Jari-jari besar Batara yang kaku tampak canggung saat memasukkan kancing-kancing baju tidur Sonya satu per satu, sebuah pemandangan yang terasa sangat kontras dengan kekejamannya di luar sana. Batara melakukannya dalam diam, tanpa ekspresi, namun tatapannya tak pernah lepas dari tubuh Sonya yang dipenuhi tanda kepemilikannya.
Setelah selesai mengurus Sonya, Batara berbalik dan mulai mengambil baju tidur satin hitam miliknya sendiri dari atas gantungan.
Saat pria itu baru saja hendak menyandangkan kain hitam itu ke bahunya, sebuah gerakan kecil menghentikan aktivitasnya. Sebuah tangan yang kecil dan halus, yang masih gemetar karena sisa olahraga panas mereka sebelumnya, menahan lengan kekar Batara.
"Tu-tunggu sebentar, Tuan..." ucap Sonya dengan suara yang sedikit bergetar, pandangannya menunduk ke lantai marmer, tidak berani menatap langsung mata suaminya.
Batara menurunkan kembali baju tidurnya, menoleh perlahan dengan sebelah alis yang terangkat. "Ada apa?" tanya suaranya yang berat dan datar.
Sonya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia membalikkan badannya, melangkah dengan sedikit tertatih menahan rasa perih di bagian bawah tubuhnya menuju ke arah lemari obat kecil yang tertempel di dinding dekat pintu keluar. Dengan tangan yang masih canggung, ia mencari sesuatu di dalam sana hingga akhirnya menemukan sebotol kecil cairan antiseptik Betadine dan beberapa buah cotton bud.
Sonya kembali berjalan mendekati Batara. Ia menunjuk ke arah punggung tegap suaminya dengan gerakan ragu-ragu. "Luka di punggung Tuan... harus diobati. Darahnya... darahnya bisa memicu infeksi jika terkena kain baju tidur," cicit Sonya dengan nada suara yang penuh rasa bersalah dan kecemasan yang tulus.
Batara menatap botol kecil di tangan Sonya, lalu menatap wajah istrinya yang masih merona kemerahan. Keheningan panjang kembali tercipta di antara mereka. Sifat kaku Batara membuatnya enggan untuk menerima perhatian dari siapa pun, namun ada sesuatu pada sorot mata bulat Sonya yang membuat pertahanannya runtuh.
Tanpa suara, Batara membalikkan tubuhnya, membelakangi Sonya dan memberikan akses penuh pada punggungnya yang terluka.
Sonya menghela napas pelan. Ia membuka tutup botol Betadine, menuangkan sedikit cairan berwarna cokelat pekat itu ke ujung cotton bud. Dengan sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang menyentuh barang pecah belah yang paling berharga di dunia, Sonya mulai mengoleskan obat itu pada lima jalur luka cakar di punggung Batara.
Ssshh...
Batara mendesis rendah, tubuhnya sedikit menegang saat rasa perih yang tajam dari cairan antiseptik itu menyengat luka-lukanya yang terbuka.
"Maaf, Tuan... Maaf, aku sungguh tidak sengaja melukai Tuan semalam," bisik Sonya cepat dengan nada panik, buru-buru meniup luka tersebut dengan embusan napasnya yang hangat untuk mengurangi rasa perih yang dirasakan suaminya. Tiupan lembut dari bibir Sonya di kulit punggungnya yang polos menciptakan sensasi menggelitik yang aneh di dada Batara, membuat jantung sang mafia berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.
"Diam dan selesaikan saja," jawab Batara dingin, mencoba menutupi gejolak asing yang mulai merayapi hatinya.
Sonya kembali melanjutkan tugasnya dalam keheningan yang terasa jauh lebih hangat dari sebelumnya. Ia mengolesi setiap jengkal luka dengan penuh ketelatenan hingga seluruh guratan merah itu tertutup rapat oleh obat. Rasa bersalahnya sedikit berkurang melihat luka itu kini telah bersih.
"Sudah selesai, Tuan..." ucap Sonya pelan setelah membuang bekas cotton bud ke tempat sampah.
Batara membalikkan tubuhnya dengan cepat. Sebelum Sonya sempat melangkah mundur untuk membereskan obat, Batara sudah terlebih dahulu merengkuh pinggang mungil Sonya, menariknya mendekat hingga tubuh mereka kembali menempel tanpa jarak.
Batara menundukkan kepalanya dan mencium bibir Sonya. Ciuman kali ini sama sekali tidak memiliki unsur kekasaran atau tuntutan fisik yang menyakitkan. Itu adalah ciuman yang lambat, dalam, dan berlangsung cukup lama. Batara melumat bibir Sonya dengan kelembutan yang tersembunyi di balik kekakuannya, seolah ia sedang menyalurkan rasa terima kasih dan kepemilikan yang mendalam yang tidak mampu ia ucapkan melalui kata-kata. Sonya terbuai, memejamkan matanya dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan ciuman suaminya, melupakan sejenak statusnya sebagai tawanan.
Batara menyudahi ciuman itu dengan perlahan, menatap mata Sonya yang tampak berkabut oleh emosi dengan jarak yang sangat dekat.
"Itu kompensasi atas apa yang telah kamu perbuat pada punggungku," ucap Batara dengan suara yang rendah dan serak, namun ada nada kepuasan yang samar di dalamnya.
Wajah Sonya kembali memanas. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Batara melepaskan pelukannya, lalu dengan cepat mengenakan baju tidur satin hitamnya sebelum menuntun Sonya berjalan keluar dari kamar mandi menuju ke arah ranjang besar mereka.
Begitu tubuhnya menyentuh kasur empuk, Sonya langsung membalikkan badannya membelakangi Batara, mencoba mencari jarak aman di ujung ranjang. Namun, baru saja ia memejamkan mata, sepasang lengan kekar yang besar berbulu halus langsung melingkar di pinggangnya dari arah belakang. Batara menarik tubuh Sonya dengan paksa hingga punggung gadis itu menempel sempurna pada dada bidangnya yang hangat. Batara memeluknya dengan sangat erat, mengunci pergerakannya sepenuhnya di dalam dekapan posisinya yang posesif.
Sonya merasa terkepung dan tidak nyaman dengan kedekatan yang terlalu intens ini. Ia mulai meronta kecil, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Batara di perutnya. "Tuan... lepas... saya tidak bisa bernapas dengan baik jika dipeluk seperti ini... mohon lepaskan..." ringkih Sonya.
Cengkeraman tangan Batara di pinggang Sonya justru semakin mengeras, menghentikan seluruh pergerakan istrinya dalam sekejap. Batara mendekatkan bibirnya ke telinga Sonya, mengembuskan napasnya yang hangat di kulit leher gadis itu, mengirimkan getaran dingin yang menakutkan sekaligus mendebarkan.
"Tidur, Sonya. Atau aku akan meniduri dirimu sekali lagi di atas ranjang ini sampai pagi," ancam Batara dengan suara baritonnya yang sangat rendah dan dingin, sarat akan keseriusan yang tidak bisa diganggu gugat.
Ancaman itu seketika membuat seluruh tubuh Sonya membeku. Mengingat bagaimana perkasanya pria di belakangnya ini saat menuntut haknya sebelumnya, Sonya tahu Batara tidak sedang bercanda. Rasa takut akan rasa sakit fisik yang baru membuat ia langsung menghentikan seluruh rontaan tangannya.
Sonya memejamkan matanya erat-erat, menahan napasnya sejenak sebelum mengembuskannya perlahan. Ia memutuskan untuk menyerah kalah, membiarkan dirinya tenggelam di dalam pelukan erat sang penguasa The Inferno. Di balik rasa takutnya yang masih tersisa, Sonya tidak bisa memungkiri bahwa dada bidang Batara yang hangat di punggungnya memberikan rasa aman yang aneh di tengah lingkungan Wilayah Maldav yang kejam ini.
tp semoga aj dy gx ke makan jeraat licik si thalita ,,
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭