Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Miskin Itu Takdir
Ternyata tindakan Faza memberi nilai asal kepada Dira berbuntut panjang. Dira yang sebelumnya tidak pernah mendapat nilai dibawah 90 di mata pelajaran Miss Panda. Jelas menimbulkan rasa curiga Miss Panda.
“Apakah tugas ini beneran milik Dira? Kenapa nilainya 85?”
“Sepertinya aku harus mengecek kembali tugas milik Dira untuk memastikan kebenaran nilai ini.”
Karena rasa yakin dengan kemampuan yang dimiliki oleh Dira. Miss Panda secara hati-hati memutuskan mengoreksi kembali hasil tugas Dira.
Hingga akhirnya rasa kaget bercampur tidak percaya tergambar jelas di wajah Miss Panda. Nilai milik Dira sangat jauh dari yang tertulis di kertas.
“Hasil pekerjaan Dira betul semua. Seharusnya Dira mendapatkan nilai 100,” tutur Miss Panda melihat nilai yang ia berikan.
“Kenapa bisa nilai yang seharusnya 100 tertulis 85? Apakah ada orang lain selain Sisil yang secara diam-diam tidak menyukai Dira di kelas?” gumam Miss Panda bertanya-tanya.
“Sepertinya aku harus memanggil Dira dan membicarakan hal ini berdua saja. Jangan sampai karena masalah ini, Dira tidak mendapatkan keadilan atas prestasi yang dimilikinya.”
Setelah merapikan hasil pekerjaan seluruh peserta didik. Miss Panda menuju ke kelas Dira.
Sebagai seorang wali kelas sekaligus tenaga pendidik. Jelas Miss Panda bertanggung jawab tentang masalah yang terjadi saat ini. Apalagi menyangkut ketidakadilan di depan matanya.
“Jangan sampai permintaanku secara pribadi kepada Mas Satria dan juga Papa untuk menjadi wali kelas mereka tidak membuahkan hasil. Aku harus menyelesaikan permasalahan yang terjadi.” Tampak sekali Miss Panda tidak tenang.
“Aku sangat yakin sekali jika di dalam yayasan ini telah terjadi permasalahan pelik. Dan aku harus mendapatkan secepatnya.
Sudah diketahui banyak orang, jika keluarga Miss Panda merupakan donatur terbesar serta memiliki pengaruh kuat di yayasan maupun masyarakat. Status keluarga konglomerat serta rata-rata pejabat pemerintah yang masih berkuasa hingga saat ini. Membuat Miss Panda bisa dengan mudah mendapatkan keinginannya.
Salah satunya menyelidik keputusan Sisil saat menggantikan Dira yang gagal mengikuti seleksi kejuaraan olimpiade. Caranya dengan menjadi wali kelas Sisil dan Dira. Tujuannya jelas agar bisa menyelidiki hal kotor apa yang telah terjadi di yayasan keluarganya.
Tok… tok!
“Apakah ada yang bisa saya bantu, Miss?” tanya cepat guru mata pelajaran melihat kedatangan Miss Panda di kelas Dira.
“Izin Bu, saya ingin meminta waktu untuk Dira sebentar. Ada hal penting ingin saya bicarakan dengannya.”
“Oh maaf Miss Panda. Dira saat ini berada di ruangannya Pak Husni.”
“Ke ruangan pak Husni?” tanya Miss Panda menampilkan wajah kaget.
“Betul, Miss Panda.”
Kening Miss Panda mengkerut dalam mendengar penuturan rekan kerjanya. Jika sudah menghadap ke Pak Husni. Jelas telah terjadi sesuatu hal tanpa sepengetahuan dirinya.
Karena alasan inilah Miss Panda memutuskan ke ruangan Pak Husni. Jangan sampai dirinya kembali kecolongan.
***
Sedangkan di kantor Pak Husni, tampak Wilona menatap dalam, tajam serta senyum licik melihat Dira dihadapannya. Sedangkan Dira memilih menunduk saat mendengar permintaan perempuan paruh baya di hadapannya.
“Bagaimana Dira? Apakah kamu bersedia mengalah kembali untuk Sisil?” tanya Wilona mencoba menyakinkan.
“Untuk tahun ini biarkan Sisil yang menjadi lulusan terbaik dengan cara menekan prestasi maupun nilai tugas dan harianmu,” tutur Wilona.
Dira hanya diam mendengar penuturan Wilona. Karena belum mendapatkan hasil yang diinginkan. Wilona kembali melanjutkan serangan melalui mulut manisnya.
“Jika kamu bersedia, Tante sangat berterima kasih padamu. Dan Tante akan memberikan apapun sebagai hadiah ucapan terima kasih untukmu,” ucap Wilona kembali Agar rencananya untuk Sisil berhasil dengan cara menyingkirkan Dira secara perlahan.
Diamnya Dira, membuat Wilona yang kesabarannya hanya setipis tisu kembali menekan remaja di hadapannya.
“Dira, tolonglah Tante untuk membahagiakan Sisil. Tolong Tante sekali ini saja. Tante janji tidak akan pernah merepotkanmu lagi.”
Sebagai seorang istri dari pejabat yang haus validasi. Jelas hal macam ini sangat biasa Wilona lakukan. Berperilaku sangat sopan dengan nada bicara lembut dan penuh kehangatan sudah menjadi makannya.
Tujuannya jelas untuk mendapatkan simpati dari orang-orang yang menjadi targetnya. Seperti Dira yang tidak tega melihat seorang ibu memohon-mohon demi putrinya.
“Dira, bukankah kamu saat ini membutuhkan pengobatan untuk ibumu? Tante bisa mengupayakan agar ibumu bisa sembuh dari penyakit kejiwaannya.”
Dira yang sebelumnya menundukkan kepalanya. Langsung mengangkat wajahnya saat Wilona secara terang-terangan mengungkit kondisi kejiwaan Nimas.
Jantung Dira serasa ingin lepas dari tempatnya saat mendengar ucapan Wilona. Rasa segan yang sebelumnya dirasakan oleh Dira saat melihat pengorbanan seorang ibu untuk putrinya, langsung hilang dalam sekejap. Ketika Wilona menyinggung kesehatan kejiwaan ibunya.
“Maaf Tante, untuk kali ini saya tidak bisa membantu. Saya juga memiliki mimpi yang harus dicapai. Jika memang Sisil ingin mendapatkan keinginannya. Seharusnya Sisil lebih berusaha lagi. Sebab, tidak ada pencapaian tanpa adanya usaha.”
Krek.
Wilona mengepal kuat telapak tangannya hingga kukunya memutih setelah mendengar penuturan Dira. Urusan yang ia rasa akan selesai cepat karena dirinya harus keluar negeri. Justru harus tersendat karena penolakan terang-terangan yang diutarakan oleh Dira.
“Dira, apakah kamu tega membuat seorang Ibu sedih atas kegagalan pencapaian putrinya?”
Meskipun rasa kesal menggelayuti Wilona. Tapi, rasa kesal itu tetap harus dirinya tahan. Karena lagi-lagi citra perempuan baik-baik dari keluarga terhormat harus tetap terlihat. Meskipun kenyataannya Wilona ingin sekali memaki Dira.
“Sama sekali tidak, Tante. Justru penolakan yang saya berikan, karena memandang Anda sebagai seorang Ibu yang berjuang untuk masa depan putrinya,” jawab Dira.
“Sebab, tidak selamanya seorang Ibu selalu berada di samping putrinya. Terkadang ada salah satunya pergi terlebih dahulu, atau justru kedua.”
‘Sialan perempuan miskin ini. Bisa-bisanya dia sumpahin aku maupun Sisil mati duluan. Ternyata memang benar yang Sisil katakan. Jika dia memang sosok perempuan licik dan berbahaya,’ geram Wilona dalam hatinya.
“Jika memang tujuan Tante bertemu dengan saya membicarakan masalah ini. Saya mohon maaf menolak keinginan Tante. Saya ijin undur diri, permisi.”
Dira cepat-cepat berdiri dari tempat duduknya. Lalu berjalan menuju ke pintu keluar ruangan Pak Husni. Karena berada di satu ruangan dengan Wilona, membuat Dira kesulitan bernapas.
“Dira,” panggil cepat Wilona yang berhasil menghentikan langkah kaki Dira.
“Iya, Tante.”
“Miskin itu takdir. Tapi, gak tahu terima kasih itu adalah pilihan. Dan kamu memilih menjadi sosok durhaka yang tidak peduli dengan hati seorang Ibu,” desis Wilona.
Penekanan atas perkataan yang keluar dari mulut Wilona membuat Dira langsung terdiam tidak percaya. Sosok ibu-ibu sosialita yang sering bercengkrama dengan orang-orang penting. Justru memberikan kata-kata yang tidak seharusnya keluar saat keinginannya tidak terpenuhi.
Bukannya langsung membalas kata-kata kasar Wilona. Justru Dira membalas dengan senyuman di wajahnya.
Karena tahu sifat asli dari Wilona yang dulu Dira kira sangat bijaksana dan juga mengayomi. Justru sangat berbeda jauh dari kenyataan.
Namun, ketenangan yang ditunjukkan oleh Dira dengan senyuman di wajah cantiknya. Justru memicu api amarah Wilona yang sudah ditahan sejak lama.
“Kenapa kamu tersenyum, Dira?” tanya Wilona menekan suaranya.
“Apakah ada yang membuatmu bahagia? Karena telah merendahkan harga diriku serta menggagalkan keinginan putriku?” geram Wilona mulai lepas kendali.
“Maaf, jika senyum saya membuat Tante kurang nyaman," jawab Dira.
"Jika kedatangan Tante untuk membahas hal ini. Saya sudah memberikan jawaban atas permintaan Tante. Saya minta maaf jika tidak bisa mengikuti keinginan Tante. Saya pamit, selamat siang.”
Karena berlama-lama berada di satu ruangan dengan Wilona membuat Dira sesak nafas. Sehingga Dira memutuskan keluar dari ruangan Pak Husni.
Tapi, karena umpan sudah ada di depan mata. Tentu saja Pak Husni tidak ingin kehilangan tangkapannya dalam genggaman. Pak Husni mencari cara apapun agar Dira menyetujui permintaan Wilona.
“Dira, tunggu dulu!”
“Iya Pak Husni, ada apa?” tanya Dira dengan kening mengkerut dalam saat tiba-tiba keberadaan Pak Husni. Dira jelas sama sekali tidak menyangka jika obrolan antara dirinya dengan Wilona dalam pengawasan Pak Husni.
“Jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan! Tawaran dari Bu Wilona tidak ada salahnya. Bisa kamu pertimbangkan baik-baik.”
Senyum di sudut bibir Wilona saat mendengar ucapan Pak Husni. Jelas membuat Dira menyadari satu hal yang baru dirinya ketahui.
‘Apakah diriku satu-satunya yang menjadi korban kekuasaan orang berpengaruh? Apakah ada orang lain yang juga merasakan seperti diriku?’ batin Dira tidak menyangka dengan kebenaran yang dirinya ketahui saat ini.
“Biaya kuliah tidaklah murah. Bukankah kamu memiliki keinginan untuk menjadi seorang dokter. Bu Wilona dengan kerendahan hati menawarkan memberikan pertolongan. Tolong niat baik ini jangan sampai kamu...”
Ceklek
Suara pintu yang terbuka secara tiba-tiba mengalihkan perhatian semua orang dalam ruangan. Hingga ucapan Pak Husni terhenti saat itu juga.
Bahkan, mata Wilona melotot dengan nafas tertahan saat melihat sosok perempuan di hadapannya.
“Maaf, saya kurang sopan membuka pintu Anda secara tiba-tiba,” ucap Miss Panda sambil tersenyum menatap Wilona dan Pak Husni secara bergantian.
“Sepertinya percakapan yang terjadi antara Pak Husni dan Bu Wilona kepada Dira sangat serius. Hingga suara ketukan pintu yang saya lakukan berulang kali tidak terdengar,” tutur Miss Panda dalam satu serangan tanpa berkedip sama sekali.
Ada satu kekhawatiran yang dirasakan oleh Wilona maupun Pak Husni saat ini. Jika Miss Panda mendengar percakapan yang diselimuti penekanan maupun ancaman untuk Dira. Tentu akan menjadi masalah besar untuk mereka kedepannya. Sebab, keluarga Miss Panda pemegang saham paling besar dan memiliki pengaruh kuat.
Ceritanya keren 👍